Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tell Me Why
Sore merayap turun dengan perlahan, merajah langit dengan semburat jingga keemasan. Balkon mansion Raphael terbuka lebar, menampilkan hamparan siluet pepohonan yang tampak seperti lukisan. Raphael bersandar di kursi rotan yang nyaman, satu tangan memutar gelas whiskey, memperhatikan bias cahaya sore yang menembus cairan amber itu. Sementara di depannya, dua pria tengah berdiri, yakni Renzo dan Reynard. Masing-masing dengan raut tegang yang jarang muncul di wajah mereka.
"Dia benar-benar sudah gila," Renzo membuka suara pertama, terdengar tenang namun sungguhan ia menyimpan geram. "Morrigan menekan salah satu media nasional untuk menerbitkan artikel investigasi tentang kematian ayah. Dia bilang punya bukti medis dan saksi yang bisa menjatuhkan kita bertiga."
Raphael bereaksi hanya dengan mengangkat alisnya, tapi tidak menatap Renzo. Hanya memutar gelasnya lebih cepat. "Bukti medis? Saksi? Itu tidak mungkin. Semua sudah kubersihkan."
Renzo mengedikkan bahu, ekspresinya gelap. "Mungkin memang bersih, tapi dia punya koneksi sekarang. Menurut tangan kananku di Richmond, Morrigan bekerja sama dengan seseorang. Kepala kartel Amerika–Italia. Bukan pemain kecil. Orang ini memegang jaringan perjudian ilegal dan perdagangan narkoba lintas negara. Bisnis Morrigan di Virginia cuma kedok. Citra sosialnya memang rapi, tapi uangnya mengalir dari bawah tanah."
Reynard yang sedari tadi bersandar di pagar balkon menatap langit, angkat bicara. "Itu menjelaskan kenapa dia begitu berani menantang kita di depan umum sekarang. Morrigan bukan hanya sekedar ancaman hukum buat kita, tapi ancaman sistem juga. Kalau dia pakai pengaruh kartel itu untuk menyerang kita, permainan ini berubah total."
Raphael meneguk whiskey-nya, menatap pantulan dirinya sendiri di permukaan gelas kaca itu. "Aku sudah tahu Morrigan licik, tapi berani menggandeng mafia?" Ia tertawa sinis. "Itu langkah bunuh diri. Dia tak akan bisa mengendalikan orang-orang itu selamanya."
"Masalahnya bukan dia yang dikendalikan," balas Renzo cepat. "Dia justru memanfaatkan mereka. Posisinya sekarang kuat. Punya dana, pengaruh, dan opini publik di pihaknya. Orang-orang masih menganggap Morrigan sebagai pewaris sah yang ditelantarkan keluarga Walter. Dan sayangnya, secara hukum, dia memang sah. Meski lahir dari perselingkuhan ayah dengan simpanan sialan itu, setelah kelahirannya, ayah menikahi ibunya secara resmi. Jadi, darah Walter mengalir penuh di dirinya, dan itu membuat narasinya semakin kuat sekaligus berbahaya bagi kita."
Reynard mengembuskan napas berat, menatap kedua saudaranya. "Dan jika dia berhasil membuka kasus itu ke publik, kita semua habis. Bukan hanya reputasi, kita akan masuk penjara. Semua yang dibangun ayah, dan yang kita rebut darinya, jatuh ke tangannya."
Tampak geram, Raphael menghentakkan gelas di tangannya ke meja, suara dentumnya tajam mengoyak sore yang sendu. "Berhenti memanggilnya ayah! Aku muak mendengarnya!" Wajahnya menegang dengan gurat marah yang gelap. Baik Renzo maupun Reynard tahu, kebencian Raphael terhadap Rudolf jauh lebih dalam dari keduanya, membekas.
"Pria brengsek itu sudah mati pun tetap menyusahkan kita," gumamnya pelan. "Ia meninggalkan satu replika dirinya, bedebah kecil yang sekarang ingin mengotori tanganku dengan darah yang sama busuknya."
Raphael mengerling, senyum sinis merekah di bibirnya. "Kau salah, darah selalu opsi paling gampang," katanya dingin, "tapi kali ini aku tak mau mengotori tangan kecuali benar-benar perlu. Kita bisa membunuh reputasinya terlebih dahulu."
Renzo memiringkan kepalanya, menatapnya tajam. "Kau bicara soal propaganda, brother?"
"Ya." Raphael menjawab tegas. "Kita bongkar siapa Morrigan sebenarnya. Tunjukkan bahwa bisnis-nya di Virginia cuma façade untuk pencucian uang dan aktivitas gelap."
Peran mereka jelas. Renzo turun tangan di lapangan untuk memobilisasi anak buahnya, jaringan club, pelanggan setia, dan koneksi mafia pria itu agar menekan infrastruktur kriminal Morrigan—menyusup ke jaringan perjudian ilegal, mengganggu jalur distribusi narkoba, mengintimidasi kaki tangan, serta menyalurkan bocoran strategis ke media bawah tanah. Ia juga mengatur agar dokumen-dokumen yang tampak otentik bocor tepat waktu untuk membuat panik lawan.
Reynard berperan untuk merapikan semuanya menjadi bukti yang meyakinkan publik, menelusuri aliran dana , menyusun laporan audit palsu yang rapi, memakai jaringan mitra di sektor pengembang sebagai kedok transaksi dan menyiapkan saksi ahli yang bisa memaparkan skema perdagangan narkoba secara meyakinkan.
Raphael menatap mereka dingin. "Renzo, buat mereka panik. Ganggu aliran uang dan logistiknya. Reynard, jadikan narasi kita tak terbantahkan di meja publik dan pengadilan opini. Aku akan menangani media, menyuntik cerita ke outlet yang tepat dan menutup ruang gerak Morrigan. Jika perlu, kita potong sumber pendanaannya sebelum dia sempat menyerang balik."
Setelah diskusi panjang itu, tak ada lagi yang bicara. Hanya senja yang terus menua, menatap tiga pria Walter yang kembali menyusun dosa baru di bawah cahaya yang semakin meredup.
...•••...
Reynard memperhatikan dari jauh, Raphael berdiri di balkon, separuh tubuhnya terselubung kabut asap tembakau yang mengepul di udara malam. Pria itu belum beranjak sejak diskusi mereka berakhir, seolah terpaku pada pemandangan gelap di hadapannya. Di atas meja marmer, beberapa puntung rokok berserakan, sementara botol bir di tangannya tinggal separuh isi.
Reynard menarik napas pelan lalu melangkah mendekat. Raphael hanya melirik sekilas, tatapan datarnya seperti biasa, sulit terbaca.
“Masih di sini, huh?" Reynard bersandar di pagar balkon di sebelahnya. "Kupikir kau sudah naik ke kamar atau setidaknya memecat beberapa staf hanya karena anggur mereka tak sesuai seleramu."
Raphael mengangkat alis tanpa menoleh. "Kupikir kau sudah terbang kembali ke San Francisco."
"Untuk sementara aku akan tinggal di New York," jawab Reynard tenang. "Ada proyek dengan mitra yang harus kuselesaikan. Lagi pula, aku ingin memastikan semuanya berjalan mulus setelah keputusan kita tadi."
Raphael hanya mengangguk, tidak berniat memperpanjang pembicaraan. Ia meneguk birnya lagi, menatap lurus ke arah horizon bak tengah mencoba mencari sesuatu di balik kabut malam.
Reynard mengenal tatapan itu, tatapan kosong yang justru berisik oleh pikirannya sendiri. Ia sudah tumbuh dengan melihat ekspresi serupa di wajah Raphael setiap kali pria itu menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan palsunya.
"Ada apa?" tanyanya akhirnya. "Kau jarang terlihat setenang ini. Biasanya itu pertanda buruk."
Raphael tidak menjawab. Ia mengisap rokok terakhirnya dalam-dalam, kemudian menekannya keras-keras di asbak, meninggalkan bekas abu yang berantakan. "Tidak ada," jawabnya singkat.
Reynard tersenyum miring, bukan karena percaya, melainkan karena tahu pasti itu sebuah kebohongan. "Sejak kapan Raphael Walter kehabisan kata-kata?"
"Sejak semua orang di sekitarku tak perlu tahu apa yang kupikirkan."
Kalimat itu dingin, seperti sebuah ejekan bebalut sarkas, tapi Reynard justru menangkap gurat getir di baliknya. Sejak kecil, Raphael memang dibentuk menjadi sosok yang tak mengenal keluh. Rudolf Albertino Walter, ayah mereka, mendidiknya seperti mendidik tentara. Begitu keras, kaku, dan tanpa ada ruang bagi sedikit celah yang bernama kelemahan.
Pria tidak menangis. Pria tidak minta tolong. Pria tidak mengeluh.
Kalimat itu seperti mantra yang tertanam di kepala Raphael sejak ia berusia sepuluh tahun. Ajaran Rudolf tentang maskulinitas—bahwa laki-laki sejati tak boleh menunjukkan kelemahan—telah menjadikannya seseorang yang lebih sering menahan perasaan daripada meluapkannya dalam bentuk-bentuk yang dicap terlalu feminin. Apalagi ia anak sulung. Kini, di usianya yang matang, doktrin itu telah menjelma menjadi dinding baja yang menutup rapat segala yang ia rasakan di dalam.
Reynard tahu, Raphael bisa tampak tenang bahkan ketika dunia runtuh di sekelilingnya. Tapi diamnya malam ini terasa lain. Terlalu lama dan kosong.
"Jadi," ujar Reynard akhirnya, berniat menggoda iseng, mencoba memecah ketegangan, "Wanita mana kali ini yang membuatmu kehilangan selera hidup? Biasanya kalau kau tampak segundah ini, penyebabnya satu.. aktifitas ranjang yang buruk."
Raphael menoleh perlahan, menatap adiknya dengan ekspresi datar. Sekilas, wajahnya berubah, ada sesuatu yang bergetar di sana, entah kemarahan atau sekedar rasa muak. Tapi seperti biasa, ia cepat menutupinya dengan sikap arogan khasnya.
"Tidak ada satu pun wanita yang tidak puas denganku," jawabnya pelan, angkuh seperti biasa. "Aku tidak pernah gagal di ranjang, Reynard. Mereka semua tahu siapa yang memegang kendali."
Reynard terkekeh kecil, meski tatapannya tetap tajam menembus kebekuan di mata sang kakak. "Mungkin benar. Tapi kendali bukan selalu berarti tenang, bukan?"
Raphael tidak menjawab. Ia hanya meneguk kembali botol bir di tangannya, memandangi refleksi langit yang semakin gelap. Dalam diamnya, ada sesuatu yang tidak terselesaikan. Dan Reynard sepertinya tahu, malam itu bukan tentang Morrigan, bukan tentang bisnis, bukan tentang politik keluarga. Ada sesuatu yang jauh lebih pribadi yang sedang disembunyikan Raphael. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum berani mengakuinya.
Hening menyelimuti balkon untuk beberapa menit. Raphael masih berdiri di tempat yang sama, bahunya tegang, matanya menatap jauh ke arah lampu kota yang mulai berkelap-kelip.
Tiba-tiba ia bersuara, terdengar ada keraguan yang melintas sekilas di dalam nadanya. "Menurutmu, Reynard... apa yang membuat seorang wanita begitu sulit untuk mencapai puncak dan luluh sepenuhnya saat berhubungan dengan seorang pria?"