"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Rangga melangkahkan kaki meninggalkan jembatan penyebrangan itu. Langkahnya berat, pikirannya masih kacau balau setelah pertemuan singkat dengan Meysa. Gadis itu selalu punya cara untuk membuatnya merasa bersalah, meskipun ia tidak pernah mau mengakuinya. "Urus saja kehidupanmu, jangan mengurusi kehidupan orang lain, terlebih orang itu tidak mencintaimu," ucapnya tadi pada Meysa. Kini kata-kata itu justru berputar di kepalanya seperti pisau yang menusuk perlahan.
Ia berjalan menyeberangi jalan raya yang mulai sepi. Beberapa mobil melaju dengan kecepatan sedang, lampu-lampu mulai menyala karena senja berganti malam. Rangga tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Matanya hanya menatap lurus ke depan, menuju trotoar di seberang yang gelap. Rasanya ia sudah lelah, dan ingin segera sampai di apartemen..
Tapi takdir berkata lain.
Saat Rangga hampir sampai di tengah jalan, dari arah kiri melaju sebuah mobil hitam dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lampu depannya menyilaukan, mesinnya menderu keras seperti binatang buas yang kelaparan. Rangga sempat menoleh, dan melihat silau itu, sempat merasakan jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik. Namun tubuhnya tidak keburu untuk menghindar.
BRAKKK!
Benturan itu terdengar mengerikan. Tubuh Rangga terpental ke depan. Darah mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi aspal yang masih hangat terkena terik tadi siang. Matanya terpejam.
"ASTAGA! ADA YANG KETABRAK!" teriak seorang ibu-ibu yang baru saja turun dari angkutan umum.
"Tu mobil nggak berhenti, Pak! Kabur!" sahut bapak-bapak yang sedang berjualan gorengan di pinggir jalan.
Suasana langsung berubah kacau. Beberapa orang berlari mendekati korban, yang lain sibuk memegang ponsel menelepon ambulans, ada juga yang mencoba merekam kejadian. Kerumunan mulai terbentuk, berkerumun di sekitar tubuh Rangga yang tak bergerak.
"Kasihan, mukanya hancur, Pak," panik seorang perempuan sambil menutup mulutnya.
"Masih muda lagi, masih pakai jaket bagus. Anak orang kaya mungkin," timpal yang lain.
Tidak jauh dari lokasi kejadian, Renal baru saja selesai membeli bensin di pom dekat pertigaan. Ia sedang melaju pelan dengan motornya, helm masih terpasang rapat, ketika ia melihat kerumunan orang di tengah jalan. Lampu darurat beberapa ponsel menyala, menciptakan titik-titik terang di tengah kegelapan yang mulai turun. "Ada apa, ya?" gumamnya sambil memperlambat laju motornya.
Ia memarkirkan motor di pinggir jalan, turun dengan cepat.
"Ada apaan, Pak?" tanya Renal pada seorang bapak yang berdiri paling depan dengan wajah cemas.
"Ada kecelakaan, Orang ketabrak mobil, tapi mobilnya udah kabur. Nggak sempat dilihat platnya. Orangnya parah, mukanya banyak darah," jawab bapak itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kasihan, masih muda. Kayak anak kuliahan," tambah seorang ibu di sampingnya.
Renal mengangguk pelan, lalu mendorong tubuhnya masuk ke tengah kerumunan. "Maaf, permisi. Saya lewat, permisi."
Langkahnya terhenti ketika matanya melihat sosok yang tergeletak di aspal. Postur tubuh yang tidak asing bagi Renal, iapun berjongkok untuk memastikan siapa yang menjadi korban tabrak lari itu. Wajah dengan penuh luka tapi ia tetap mengenalinya. Matanya membelalak...
"RANGGA!!!"
Renal berteriak histeris. Ia menggoyangkan tubuh sahabatnya dengan lembut, takut melakukan kesalahan. "Ga... Rangga... bangun," Beberapa orang di kerumunan ikut terenyuh
Renal tidak membuang waktu sedetik pun. Tangannya yang masih gemetar merogoh saku celana, mengambil ponsel, Ia menekan nomor darurat dengan jari yang sulit dikendalikan, sekali salah tekan, dua kali salah tekan, hingga akhirnya sambungan tersambung. "Halo! Tolong ambulan! Ada kecelakaan di Jalan Raya Pahlawan, dekat pom bensin pertigaan! Parah! Lukanya parah!" teriaknya ke dalam ponsel.
Lima belas menit terasa seperti satu abad. Renal duduk di pinggir jalan dekat tubuh Rangga yang masih tak bergerak, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, matanya tidak berkedip memperhatikan naik turun dada sahabatnya yang mulai tidak teratur.
Beberapa warga masih berkerumun, ada yang membawa handuk bersih untuk menekan luka di pelipis Rangga, ada yang sibuk berdoa dengan mata terpejam. Seorang ibu paruh baya meraih tangan Renal dan menggenggamnya erat. "Yang sabar ya Nak, Tuhan pasti menjaga dia," ucapnya.
Akhirnya sirene ambulan terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat, hingga sebuah mobil ambulan putih berhenti tepat di samping kerumunan. Dua paramedis turun dengan gerakan cepat, membawa tandu dan kotak P3K. "Minggir, minggir! Kasih jalan!" perintah salah satu dari mereka. Renal didorong pelan ke belakang, tapi matanya tidak pernah lepas dari Rangga.
Ia melihat bagaimana paramedis itu memeriksa detak jantung, bagaimana mereka membalut luka di kepala Rangga dengan perban darurat, bagaimana tubuh sahabatnya diangkat dengan hati-hati ke atas tandu. "Dia perlu operasi segera," ucap paramedis itu pada rekannya. "Bawa ke RS Harapan Bunda, terdekat."
Renal mengikuti ambulan itu dari belakang menggunakan motornya. Jaketnya terbang diterjang angin malamn Ia tidak berani membayangkan skenario terburuk, tapi bayangan itu tetap datang dengan begitu saja, "Lo nggak boleh mati, Ga," gumam Renal di dalam helmnya. "Lo masih punya utang sama gue. Masih inget? Utang es krim pas SMA. Lo nggak boleh mati sebelum bayar itu."
Sesampainya di Rumah Sakit Harapan Bunda, Rangga langsung digotong ke ruang UGD. Para perawat dan dokter sibuk berlarian, infus dipasang, alat-alat medis berbunyi nyaring, dan Renal hanya bisa berdiri di sudut ruangan, mematung seperti patung yang kehilangan jiwa.
Matanya masih menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat setelah Rangga masuk ke dalam. Lalu ia sadar ia harus memberi tahu keluarga Rangga. Jarinya yang gemetar membuka kontak panggilan, menekan nama "Om Soerya"
Telepon diangkat setelah tiga kali dering. Suara Raden Soerya terdengar tegas seperti biasa, "Renal? Ada apa, Nak? Om masih sibuk dengan pekerjan." Suaranya sedikit terganggu karena memang di tengah pertemuan penting dengan beberapa mitra bisnis.
"Om... Om... Rangga... kecelakaan," Renal berbicara tersendat,"Dia ketabrak mobil... orangnya kabur. Sekarang Rangga ada di RS Harapan Bunda, Om. Dia di ruang operasi... lukanya parah."
Sunyi di seberang sana. Hanya beberapa detik, tapi terasa seperti satu menit penuh. Kemudian terdengar suara kursi terbanting, suara langkah tergesa-gesa, suara Raden Soerya yang berteriak pada seseorang di sampingnya, "Hentikan rapatnya! Batalin semuanya!"
Di ruang rapat yang megah itu, Raden Soerya berdiri dengan wajah pucat. Kertas-kertas proposal berserakan di meja, beberapa mitra bisnis saling pandang kebingungan. Ia tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya satu, anak laki-laki satu-satunya yang tersisa dari almarhumah istrinya, sedang terbaring di ruang operasi dengan nyawa di ujung tanduk.
*
Di apartemen. Meysa duduk di sofa ruang tamu dengan tangan menggenggam erat bajunya.. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya, jika Rangga pulang terlambat, ia akan mendengar suara bantingan pintu atau langkah kaki berat di lorong. Tapi malam ini, apartemen terasa sangat sunyi..
"Tadi ia hampir melakukan hal bodoh di jembatan itu, dan sekarang dia belum juga pulang" kata Meysa sambil berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Rangga.
"Mas... Mas Rangga? Apa sudah pulang?"
Tetapi tidak ada jawaban...
Meysa mulai merasakan gelisah, saat itu juga pintu apartemen terbuka, Pak Soerya yang datang dan mengajak Meysa untuk ikut bersamanya, ia belum sempat memberitahu gadis itu, karena pak Soerya tidak mau jika Meysa merasa panik seperti dirinya..
Dengan langkah tergesa-gesa Meysa mengikuti langkah pak Soerya....
"Kamu harus ikut Ayah Meysa, karna ini menyangkut nyawa suamimu!" ucap Pak Soernya
Deghhh!!
Seketika Meysa berhenti berjalan, ia berdiam saat mendengar ucapan Pak Soerya beberapa detik yang lalu..
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey