Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.
Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.
Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.
Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.
Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.
Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rena adik sepupuh ipar jauh
Kaki kecil terus melangkah melaju kearah jalan pulang. mereka sampai di rumah pak juragan Harto. mengucapkan salam, masuk kedalam.
"Eh ini siapa? Cantik dan chubby!" Ucap Bu asri.
"Kamu baru datang dari kota ya?" Timpal pak juragan Harto.
"Iya Tante, om. Aku dari kota. Aku Rena Victor. cucu dari nenek Dahlia. " Jawab Rena.
"Owalah! ternyata cucu Bu Dahlia, berarti keponakan ku juga." Ucap pak juragan Harto.
"Hmm..
"Om, om Harto? dan ini Tante Ningsih?" Ucap Rena.
"Iya, ini om Harto. Tapi ini bukan Tante Ningsih. Dia Tante Asri istri baru om." Jawab pak juragan Harto menjelaskan.
"Iya Rena, ibu kandungku sudah meninggal setelah melahirkan ku. Ibu asri ibu sambung ku, ibu aku cinta sekarang. Ibu kandung kak Asep." Timpal Selly ikut menjelaskan.
"Oh...
"Jadi aku dengan Asep, adik sepupuh ipar!" Ucap Rena merasa kecewa.
"Bisa di sebut seperti itu. Hi hi" ucap Selly tertawa.
"Hais..
"Cita citaku putus sebelum tercapai." Ucap Rena kecewa.
"Ada apa? Kenapa nona Rena merasa kecewa seperti itu?" Tanya Bu asri pelan .
"Dia menyukai kak Asep, bahkan sudah berniat mendekatnya, ternyata kita dengan dia saudara jauh." Jawab Selly pelan.
"Hi hi..
Keponakan ku ini seperti ibunya, terlalu berinisiatif mengejar pria walaupun masih kecil." Ucap pak Harto.
"Sudah nak, kamu masih kecil. Jangan membahas soal percintaan. Ini juga bagi kalian semua. sebaiknya kalian fokus belajar saja. " Nasehat pak Harto.
"Baiklah. Tapi kita menjadi ipar sepupu tidak buruk. " Ucap Rena menatap wajah tampan Asep tersenyum.
Mendekatkan mulut kecilnya,dan membisikkan sesuatu.
"walaupun ipar, kita bisa main gila gilaan masa depan."
"ini..
Tegun Asep tubuhnya merinding mendengar bisikan itu. Seperti bisikan setan kang adik sepupuh ipar.
Adzan ashar terdengar, mereka berangkat ke mushola menunaikan ibadah sholat berjamaah.
Sedangkan Rena dan Abdul tetap di rumah bermain ular tangga.
"Nona Rena, menurut mu bagaimana kehidupan di kota ada listrik. enak tidak bermain ponsel yang kamu miliki." Ucap Abdul penasaran sambil melempar dadu dengan malasnya di lantai.
Dadu berputar sesaat berhenti menunjukkan angka 4, dia menjalankan bidaknya empat langkah dengan malas.
"Tergantung situasi, di kota sangat rumit, banyak sekali kasus pembullyan."
Rena mengambil dadu dan melempar pelan di lantai menunjukkan angka 5 .
"Tentang ponsel, itu juga tidak terlalu penting. Di daerah tertentu yang tidak memiliki sinyal dan listrik, ponsel hanya bisa bermain permainan seperti ini. Tapi main sendirian." Tambahnya sambil menggerakkan bidaknya melangkah 5 petak.
"Kamu turun mendapatkan kepala ular." Ucap Abdul.
"Baiklah." Jawab Rena menaruh bidaknya di ke ekor ular berada.
"Iya Abdul, kamu jangan merasa iri dengan kehidupan di kota. Terkadang hidup di desa sangat bahagia dan tentram. Itu sebabnya setelah libur hari ujian Nasional, aku ke rumah nenekku hanya sekedar berlibur menghilangkan rasa trauma. Mencari ketenangan." Ucap Rena .
"Oh..
"Ternyata serumit itu hidup di kota, aku kira sangat menyenangkan." Ucap Abdul mengambil dadu lagi lalu melemparkannya.vdan mendapatkan angka 3.
"Rencananya setelah dewasa lulus SMA, aku akan mencari pekerjaan di kota." Ucapnya lagi sambil menjalankan bidaknya.
"Hore aku menang, aku sangat beruntung sekali." Ucap Abdul merasa senang memenangkan permainan.
"Sungguh beruntung hidup mu, permainan kecil saja sangat beruntung." Guman Rena.
"hidup di kota ingin enak harus memiliki pekerjaan bagus dan menjadi kaya. Agar kamu bisa di hormati."
"namun tidak semua berjalan lancar walaupun kamu sudah berhasil. Ada saja masalah datang. Contohnya seperti ku, hidup ku enak. Tapi tidak beruntung masalah jodoh, ayah ibuku juga tidak terlalu memperhatikan ku." ucap Rena.
"Hmm..
"ternyata kamu masih kecil sudah serumit itu." ucap Abdul merasa kasihan dan tahu apa yang dirasakan oleh Rena.
"andai saja, ada SMA di desa ini. Aku akan lanjutkan sekolah ku disini. Pasti hidup ku tenang bersama nenek dan kakek ku disini." Guman pelannya.
"sabar, mungkin ada waktunya. Tunggu satu tahun lagi. Mungkin aku, Selly dan Asep akan kesana melanjutkan pendidikan." ucap Abdul.
"benarkah!" ucap Rena.
"aku tidak berbohong, kita sudah sepakat. Aku dan lainnya akan melanjutkan ke SMA 67 kota Tani." jawabnya.
"baguslah, aku akan mendaftar di sana. Kebetulan tempat tinggal ku di kota dekat dengan sekolah itu." ucapnya bahagia.
"aku tunggu kehadiran kalian disana, kita akan berkumpul lagi." tambahnya.
Tak lama pintu terbuka, suara orang mengucapkan salam terdengar.
Abdul menjawab salamnya.
"Akhirnya mereka pulang juga!"
Guman bersemangat Rena beranjak berdiri dan menghampiri mereka untuk menyambut.
"Sudah kita masuk, ibu akan membuat makanan untuk kalian." Ucap Bu asri melangkah masuk .
"Benarkah Tante, Rena sudah lapar dari tadi." Ucap Rena penuh semangat.
"Tentu nak, Tante akan buatkan makanan enak untuk mu juga." Jawab Bu asri.
"Kalian duduk saja dulu di sini, om ke kamar. Bu asri kedapur."pinta pak juragan Harto.
"Baik Tante, om." Jawab patuh Rena. Dia bergegas duduk bersama yang lainnya.
Tak lama makanan sudah di buat, Asep dan lainnya bergegas di ruang makan.
"Terimakasih Tante, terlihat masakan Tante sangat enak. Aromanya wangi sekali."
"Sama sama, jika Nona Rena suka ambil yang banyak." Jawab Bu asri.
"Sudah, kalian makan saja. Ibu akan menemui om di kamar, mungkin akan istirahat dulu. Tante terasa lelah." Ucap Bu Asri.
"Baik!" Jawab Rena.
Asep dan lainnya hanya mengangguk kepalanya saja sebagai jawaban.
Bu asri melangkah pergi, masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di samping suaminya.
"Iya Mas, mas berniat membeli televisi setelah listrik sudah ada? " Tanya Bu asri menatap lekat wajah suaminya di samping.
"Iya mama, rencananya besok. Mas beli di kota. Di desa ini belum ada orang menjual televisi. itu pun Jika listrik sudah selesai di pasang secara merata di seluruh desa ini." Jawabnya terbaring santai di tempat tidur.
"Kalau begitu, mama ikut. Aku penasaran ingin melihat suasana kota." Ucapnya.
"Baiklah, sekalian kita jalan jalan, mas akan kenalkan mu pada keluarga mas."jawabnya.
"Tapi bagaimana dengan Kedua anak kita? Kita ke kota minimal 2-3 hari. Mereka lagi menjalankan ujian semester akhir. Mas denga , kedua anak kita akan mengikuti olimpiade matematika tingkat kecamatan setelah selesai ujian." Tambahnya bingung.
"Iya juga, kedua anak kita tidak bisa ikut. Mereka tetap tinggal disini." Ucap Bu asri.
"Satu lagi mas, kapan mas mengajariku ilmu komputer. Aku ingin sekali belajar hal seperti itu." ucapnya .
"Jika mami tidak keberatan, jika benar kita ke kota. Mas sekalian mengajari mu di sana."
"Langkah pertama mas, akan mengajarkan pengenalan dasar komputer dulu." Jawabnya.
"Baik mas, entar kita lakukan itu. Sebelum itu kita istirahat dulu, kita nanti runding kan pada kedua anak kita. Jika mereka keberatan kita pergi, kita berangkat tunggu mereka selesaikan lomba nya dulu. Sekalian kita liburan di hari libur sekolah mereka." Ucapnya.
"Hm..
"Baiklah, kita runding besok." Membalikan badannya memeluk istrinya.
"Mas, mulai terbiasa. Mama merasa senang." Ucap Bu asri membalas memeluk suaminya.
"Tentu, tidak perlu lama menghilangkan rasa canggung mas pada mu. Tubuh mu terasa nyaman di peluk." Jawabnya.
Sedangkan di ruang makan, mereka sudah selesai makan.
"Sudah selesai, ayo kita kita kembali ke ruang tamu." Ucap Nona Rena beranjak berdiri. membersikan tangannya dari noda makan yang menempel.
"Sudah, kakak ke kamar dulu, kalian main saja." Ucap Asep melangkah menuju kamarnya dan masuk kedalam.
"Aku pulang saja, nanti setelah selesai sholat isya, aku datang lagi untuk belajar bersama."
"Wassalamu'alaikum.." ucap Abdul melangkah pergi.
"Walikumsalam.." jawab Selly.
"Iya Rena, bagaimana dengan mu. Tetap disini atau pulang. Mungkin nenekmu mencari mu." Ucap Selly.
"HM..
"Aku pulang saja, mungkin juga kamu sedang ada yang di kerjakan." Jawabnya.
"Aku pergi!" Tambahnya melangkah pergi.
Rena bukan seorang muslim, dia memiliki keyakinan beda. Itu sebabnya dia tidak menjawab dan mengucapkan salam. Dan tidak ikut ke mushola tadi.
"Huh..
"Dia memang cantik, Asep juga sudah memujinya."
"Tapi..." Ucapnya terhenti sebentar.
"Asep adalah milik ku, tidak ada seorang pun memilikinya." Ucapnya lagi.
Membalikan badannya melangkah ke kamarnya.