Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Langkah kaki kelima anggota tim gamers itu terdengar beriringan di atas lantai kayu pinus yang masih baru. Sesuai dengan pengawalan ketat yang dipimpin langsung oleh kapten mereka, Axel memilih meja panjang yang terletak di sudut paling ujung ruangan. Posisi meja ini sangat strategis, langsung menghadap ke jendela kaca besar dengan pemandangan danau yang berkilau dengan cahaya matahari siang, sekaligus memberikan privasi yang cukup dari pengunjung kafe lainnya.
Axel langsung menggeser kursi kayu di sisi paling dalam, dekat dinding. "Kamu duduk di sini, Jasmine," perintahnya dengan nada suara yang rendah dan tidak menerima bantahan. Jasmine cuma bisa mengangguk pasrah, lalu segera duduk di tempat yang ditunjuk. Begitu Jasmine duduk, Axel langsung mengambil tempat tepat di sebelah kirinya. Tindakan spontan itu seolah-olah menegaskan sebuah tindakan pelindung yang sengaja dibangun sang kapten agar gadis itu berada dalam jangkauan amannya, terisolasi dari gangguan luar, terutama dari sang pemilik kafe yang ramah itu.
Di hadapan mereka, tiga abang lainnya mulai mengambil posisi duduk. Ilias memilih kursi di depan Jasmine, sementara Kenzie duduk di hadapan Axel. Bryan, dengan tingkat keaktifan yang masih berada di puncak, langsung menjatuhkan dirinya di kursi paling ujung dekat koridor, menjadikannya orang yang paling dekat dengan jalur lalu lalang pelayan.
"Gila, estetik parah sih ini tempat," gumam Bryan, matanya bergerak liar menatap dekorasi langit-langit kafe yang dipenuhi oleh gantungan bunga kering dan lampu-lampu tumbler kecil yang belum dinyalakan. "Kalau gue buka live streaming di sini, kira-kira viewer gue bakal naik drastis gak ya? Secara, latar belakangnya mawar-mawar senja gini, kontras banget sama muka gue yang mirip pro player garis keras."
"Bryan, fokus dulu. Tolong simpan ponsel lo itu sebentar," tegur Kenzie dengan pembawaannya yang selalu gentleman dan rapi. Dia membetulkan posisi duduknya, merapikan kemeja kasualnya, lalu menatap lembar menu kecil berlapis kayu yang sudah tersedia di tengah meja. "Kita ke sini untuk menemani Jasmine memenuhi janjinya pada pemilik kafe, bukan untuk membuat konten pribadi lo."
"Tahu nih Bryan. Lagipula, kalau lo live streaming di sini, yang ada ibu-ibu di sebelah itu malah ngira lo lagi jualan obat, bukan main game," timpal Ilias sambil tersenyum geli. Ketabahan dan kesabaran Ilias sebagai anggota memang selalu menjadi penyejuk di tengah kepribadian tim yang sangat bertolak belakang satu sama lain.
Jasmine yang mendengarkan interaksi itu hanya bisa tersenyum tipis di balik potongan poni tipisnya. Kehadiran mereka berempat, meski sangat berisik dan kadang memalukan, entah bagaimana berhasil sedikit mengurangi rasa canggung yang sempat bersarang dihatinya sejak menginjakkan kaki di kafe ini. Paling tidak, fokusnya kini terbagi, tidak melulu memikirkan dejavu aneh tentang aroma bunga chamomile dan masa lalunya yang buram.
"Maaf membuat kalian menunggu agak lama."
Suara bariton yang sangat kasual itu tiba-tiba terdengar dekat. Liam sudah berdiri di ujung meja mereka. Dia membawa sebuah papan klip kecil dengan selembar kertas kosong dan sebuah pulpen perak yang dijepitkan di jemarinya. Siang ini, tanpa coretan spidol konyol di wajahnya, penampilan Liam benar-benar mencerminkan sosok pria matang berusia 30 tahun yang penuh karisma. Kemeja putihnya yang bersih digulung rapi hingga batas siku, memamerkan pergelangan tangan yang kokoh, sementara apron hitam berbahan kanvas melingkari pinggangnya dengan pas. Liam memberikan senyuman ramah yang sangat profesional kepada mereka semua, namun sepasang matanya yang peka sempat melirik sekilas ke arah posisi duduk Axel yang sangat mepet dengan Jasmine. Senyuman miring yang penuh arti kembali terukir tipis di sudut bibir Liam selama kurang dari satu detik sebelum kembali ke mode ramah.
"Jadi, teman-temannya Jasmine, sudah memutuskan mau mencoba ramuan bunga apa hari ini? Sebagai catatan, dalam rangka grand opening Floraison, semua menu minuman kami diracik khusus menggunakan kelopak dan kuncup bunga kering segar dari taman depan," jelas Liam dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
"Gila, menunya estetik banget, Kak! Tapi jujur, perut gue ini perut lokal," sahut Bryan super random, mencondongkan badannya ke depan dengan wajah tanpa dosa. "Kak Liam, di kafe bunga yang sangat anggun ini, ada menu seblak rasa mawar atau batagor kuah ekstrak melati gak? Soalnya gue tadi baru beli seblak di luar tapi belum kenyang-kenyang banget."
Mendengar pertanyaan ajaib itu, Ilias langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras, sementara Kenzie refleks berdehem panjang sambil memijat pelipisnya yang mendadak pening karena kelakuan Bryan. Jasmine sendiri langsung menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, merasa ingin menghilang dari tempat duduknya saat itu juga.
Namun, di luar dugaan, Liam justru tertawa renyah. Suara tawanya terdengar sangat merdu dan lepas, memenuhi sudut meja mereka. "Hahaha, menarik sekali idenya. Seblak mawar dengan tingkat kepedasan level lima belas sepertinya bisa dipertimbangkan untuk menu eksperimen bulan depan. Tapi untuk siang yang terik ini, bagaimana kalau mencoba menu Lavender Blue Citrus saja? Rasanya asam segar, cocok untuk mendinginkan kepala yang terlalu banyak berpikir."
"Wah, boleh deh, Kak! Rekomendasi dari abang barista tampan tidak boleh ditolak," jawab Bryan bersemangat, langsung setuju tanpa pikir panjang.
Kenzie kemudian mendongak, menatap Liam dengan senyuman sopan khasnya. "Maaf atas kelakuan teman kami, Kak Liam. Saya pesan Rose Crimson Tea satu ya. Manisnya sedikit saja."
"Dan saya pesan Earl Grey Jasmine Blossom, Kak. Hangat saja," sambung Ilias dengan nada suara yang penuh kesopanan seorang abang dewasa.
"Dicatat," ucap Liam cekatan, jemarinya menari dengan rapi di atas kertas catatan menggunakan pulpen peraknya. Setelah mencatat pesanan tiga cowok itu, pandangan Liam beralih sepenuhnya menatap ke arah Jasmine yang masih setia meringkuk canggung di sudut kursi. Tatapan matanya melembut secara drastis. "Kalau kamu gimana, Jasmine? Mau coba Chamomile Milkyway lagi kayak kemarin siang? Biar lingkaran hitam di bawah mata kamu karena kebanyakan main game itu bisa sedikit mendingan."
Mendengar perhatian kecil yang diberikan Liam secara khusus kepada Jasmine, atmosfer di sekitar meja itu mendadak drop drastis menjadi sangat dingin. Axel yang sejak tadi diam memperhatikan dengan tatapan menusuk, tiba-tiba mengetukkan jari telunjuknya dengan keras di atas permukaan meja kayu. Tok! Suaranya terdengar sangat tegas dan memotong kalimat Liam seketika.
"Dia pesan teh manis hangat saja. Dan untuk saya, Americano hitam tanpa gula. Tolong dibuat secepatnya," potong Axel dengan nada suara yang luar biasa dingin, datar, dan penuh penekanan, menyiratkan rasa cemburu serta sikap protektif yang tidak bisa dia sembunyikan lagi di depan umum.
Mendengar interaksi itu, Bryan, Ilias, dan Kenzie langsung saling pandang dengan ekspresi wajah yang mendadak tegang. Mereka tahu betul kalau kapten mereka yang berusia 27 tahun itu sudah berada dalam mode tidak bersahabat jika suaranya sudah berubah serendah itu.
Namun, Liam sama sekali tidak kelihatan terintimidasi, tersinggung, atau gentar. Sebagai seorang psikolog matang, Liam justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam netra mata Axel dengan senyuman tipis yang sangat tenang dan santai. Dia bisa membaca dengan sangat jelas dinamika emosi cemburu, rasa memiliki yang berlebihan, dan benteng pertahanan yang sedang dibangun oleh sang jagoan game di depannya ini.
"Maaf sekali, Mas Kapten," ucap Liam dengan nada bicara yang sengaja ditekankan secara kasual, namun memiliki intonasi yang sangat kuat menantang dominasi Axel di meja itu. "Di kafe Floraison ini, kami tidak menyediakan kopi hitam standar atau teh manis biasa yang bisa mas temukan di warung pinggir jalan. Semua minuman di sini harus memiliki unsur sari bunga. Jika Mas Kapten menyukai rasa yang pahit, kuat, dan pekat untuk menenangkan pikiran, saya sangat merekomendasikan Black Orchid Coffee. Bagaimana?"
Axel memicingkan matanya tajam, rahangnya tampak mengeras mendengar jawaban tenang dari pria itu. Jeda keheningan yang sangat kaku kembali merayap di antara kedua cowok tegap tersebut selama beberapa detik.
"Yaudah, itu saja. Pastikan tidak ada tambahan gula sedikit pun," jawab Axel akhirnya dengan suara ketus yang ketat.
"Tentu saja. Dan untuk Jasmine, aku akan buatkan Chamomile Milkyway versi khusus yang lebih manis, tanpa kafein, biar tidurnya nanti malam bisa lebih nyenyak," ujar Liam lembut, mengabaikan tatapan membunuh dari Axel. Sebelum membalikkan badannya, Liam sempat mengedipkan sebelah matanya secara kilat ke arah Jasmine dengan gerakan yang sangat iseng dan jahil, membuat wajah Jasmine seketika memerah sempurna sampai ke batas telinganya.
Begitu sosok tinggi Liam melangkah pergi menuju balik meja barista, Bryan langsung mencondongkan seluruh badannya ke depan meja dengan mata yang membelalak lebar karena antusias.
"Woi, Kak Axel! Gila, aura pemilik kafenya kuat banget!" bisik Bryan dengan volume suara yang sebenarnya masih sangat jelas terdengar di area sudut itu. "Lo kayak lagi tanding lawan final boss di turnamen internasional tahu gak! Tegang banget gue sampai lupa cara napas pas kalian tatap-tatapan tadi!"
"Bryan, diam atau jersi tim lo gue sita seminggu, dan lo latihan fisik sendirian malam nanti," ancam Axel tanpa menoleh, suaranya sedingin es kutub utara, membuat Bryan langsung buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat dengan gerakan tangan mengunci ritsleting imajiner.
Kenzie menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bryan, lalu beralih menatap Jasmine dengan pandangan peka. "Tapi harus gue akuin, Kak Liam itu orang yang sangat menarik. Cara dia berbicara dan mengendalikan situasi menunjukkan kalau dia bukan orang sembarangan. Pembawaannya sangat matang."
"Betul," timpal Ilias, pandangannya beralih menatap punggung Liam di kejauhan yang sedang sibuk meracik minuman. "Jasmine, kamu benar-benar baru kenal dia kemarin pagi? Cara dia menatap kamu... seperti dia sudah tahu banyak hal tentang kamu sejak lama. Tatapannya sangat dalam dan peka, khas orang yang terbiasa membaca emosi manusia."
Jasmine yang ditanya seperti itu merasa jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Dia meremas ujung kardigan rajut kremnya dengan canggung, mencoba mencari kata-kata yang tepat agar tidak membuat Axel semakin meradang di sampingnya. "Iya, Kak Ilias. Aku baru benar-benar ketemu sama dia kemarin pagi karena insiden gak sengaja di tepi danau. Aku... aku juga gak tahu kenapa dia bersikap seakrab itu."
Jasmine sengaja menyembunyikan bagian tentang rasa dejavu familier yang selalu dia rasakan setiap kali mencium aroma kafe ini atau melihat senyuman jahil Liam. Dia takut jika dia menceritakan hal itu, Axel akan bertindak lebih jauh dan melarangnya keluar rumah sama sekali. Namun, sebelum obrolan serius di antara para abang itu bisa berlanjut lebih dalam untuk menginterogasi Jasmine, sebuah pekikan nyaring dan suara langkah kaki yang serampangan dari arah pintu belakang kafe mendadak menghancurkan seluruh atmosfer serius dan tegang di sudut ruangan tersebut dalam sekejap mata.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏