- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.
- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.
- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: ANCAMAN YANG SEMAKIN NYATA
Ain langsung menceritakan semua yang terjadi pada Nova. Mendengar itu, Nova juga terkejut dan takut.
"Ya Tuhan... ternyata masih ada orang lain yang jadi korban Hamid. Kita benar-benar tidak tahu apa-apa ya Ain," kata Nova dengan wajah pucat.
"Benar Nov. Dia sangat marah, sangat membenci kita. Dia bilang kita penyebab kehancuran hidupnya. Aku takut Nov, aku takut dia akan melakukan hal buruk sama kita atau sama anak-anak kita," jawab Ain cemas.
Mereka memutuskan untuk melaporkan hal ini ke kepolisian, tapi karena belum ada tindakan kekerasan yang nyata, polisi hanya bisa menasihati dan meminta mereka lebih berhati-hati.
"Bu, kami belum bisa menangkap orang itu kalau belum ada bukti atau kejadian yang membahayakan nyawa. Tapi kami akan awasi dan siap membantu kapan saja," kata petugas polisi.
Hari-hari berlalu semakin menegangkan. Ancaman Sari semakin menjadi-jadi. Ia mulai menyebarkan berita-berita lama tentang masa lalu Ain dan Nova ke mana-mana, bahkan menambah cerita yang tidak benar agar terlihat semakin buruk. Ia bilang Ain dan Nova adalah wanita yang jahat, yang sengaja merebut suami orang, yang menghancurkan hidup wanita lain demi kesenangan sendiri.
Awalnya orang-orang tidak percaya, tapi karena cerita itu diulang-ulang terus, perlahan sebagian orang mulai ragu dan berubah sikap. Ada yang mulai menjauh, ada yang mulai berbisik-bisik, bahkan ada yang mulai menghina lagi secara terang-terangan.
Nama baik yang sudah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun, perlahan mulai ternoda kembali. Ain sedih sekali, ia merasa semua usahanya untuk berubah menjadi sia-sia. Tapi ia tidak menyalahkan siapa pun, ia tahu semua ini adalah akibat dari dosa masa lalunya, dan ia harus menerimanya sebagai bagian dari hukuman.
Namun Sari tidak berhenti hanya sampai di situ. Ia mulai mengincar anak-anak mereka. Suatu hari saat Rian pulang sekolah, seorang wanita menghampirinya dan memberikan permen.
"Nak, ini ambillah. Ini dari teman lama ibumu. Bilang sama ibumu, hutang masa lalu harus dibayar sekarang, tidak bisa lari lagi," kata wanita itu sambil tersenyum menyeramkan lalu pergi.
Rian pulang dengan wajah takut, menceritakan semua itu pada ibunya. Ain langsung gemetar hebat, ia tahu Sari sudah mulai bergerak ke tahap yang lebih berbahaya. Ia tidak akan membiarkan anaknya terluka, ia akan melakukan apa saja demi melindungi anaknya
Ain tidak mau terus-menerus ketakutan dan menunggu hal buruk terjadi. Ia memutuskan untuk mencari Sari dan bicara baik-baik, menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Nova awalnya melarang, takut Ain celaka, tapi Ain bersikeras.
"Ini masalahku Nov, aku yang buat dosa, aku yang harus selesaikan. Aku tidak mau terus hidup dalam ketakutan, aku tidak mau anakku terancam karena kesalahanku sendiri," kata Ain tegas.
Dengan bantuan beberapa orang yang tahu sedikit tentang masa lalu Sari, akhirnya Ain menemukan tempat tinggalnya. Sebuah gubuk kecil yang reyot di pinggir hutan, jauh dari keramaian.
Saat Ain sampai di sana, Sari sedang duduk di depan gubuk, menatap kosong ke kejauhan. Wajahnya terlihat semakin tua dan kusam, penuh penderitaan.
"Mau apa kamu datang ke sini? Mau menghina aku lagi? Mau lihat betapa hancurnya hidupku sekarang?" tanya Sari tanpa menoleh.
"Bu Sari, saya datang bukan untuk menghina atau berkelahi. Saya datang untuk bicara, untuk mendengarkan semua keluh kesah Ibu, dan untuk meminta maaf dengan tulus," jawab Ain lembut.
Ain duduk di sebelah Sari, meski wanita itu terlihat tidak mau menerima kehadirannya.
"Bu Sari, saya tahu saya salah besar. Saya tahu saya sudah terlibat dengan pria yang sudah menyakiti hati Ibu, meski saya tidak tahu keberadaan Ibu saat itu. Saya tahu rasa sakit yang Ibu rasakan sangat luar biasa, rasa dikhianati, rasa dibuang seperti sampah, rasa kehilangan segalanya... saya juga pernah merasakannya Bu, saya tahu betapa sakitnya itu."
Ain menangis sambil menceritakan semua yang pernah ia alami: bagaimana ia dibohongi, bagaimana ia merasa hina dan malu, bagaimana ia kehilangan anaknya dulu, bagaimana ia hampir tidak punya harga diri lagi di hadapan orang lain.
"Saya tidak minta dimaafkan Bu, karena saya tahu kesalahan saya terlalu besar. Tapi saya mohon, jangan libatkan anak-anak kita dalam masalah ini. Mereka tidak bersalah sama sekali. Kalau Ibu mau marah, mau benci, mau lampiaskan semua amarahnya... lampiaskan sama saya saja, jangan sakiti anak-anak. Mereka adalah nyawa yang paling berharga buat saya dan Bu Nova," kata Ain sambil bersujud di depan Sari.
Sari yang mendengar semua cerita Ain, perlahan air matanya mengalir. Amarah yang selama ini membakar hatinya perlahan mulai mendingin. Ia melihat ketulusan di mata Ain, melihat rasa penyesalan yang begitu dalam. Ia sadar, Ain juga korban, sama seperti dirinya. Yang paling jahat dan pantas dibenci hanyalah Hamid, yang sudah menghancurkan hidup mereka bertiga.
"Aku... aku juga salah," kata Sari pelan. "Aku terlalu lama menyimpan dendam, sampai aku lupa bagaimana rasanya hidup dengan tenang dan damai. Aku benci Hamid, tapi aku malah menyakiti orang lain yang juga tidak bersalah sepenuhnya. Maafkan aku juga Ain... maafkan aku yang sudah menakut-nakuti kamu dan anakmu selama ini."
Dua wanita yang dulu sama-sama hancur karena cinta palsu yang sama, akhirnya saling memeluk dan menangis bersama-sama, melepaskan semua rasa sakit, amarah, dan dendam yang sudah tertimbun bertahun-tahun. Hati mereka yang keras perlahan menjadi lembut kembali, dan kedamaian mulai masuk lagi ke dalam hati mereka.
Sejak hari itu, Sari tidak lagi mengganggu Ain dan Nova. Bahkan perlahan ia mulai mau bergaul dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ain sering datang menjenguknya, membawakan makanan dan keperluan sehari-hari, juga membantunya mencari pekerjaan yang layak. Ain merasa ini adalah cara terbaik untuk menebus dosanya, membantu wanita yang paling menderita akibat perbuatan Hamid.
Nova juga ikut membantu. Awalnya ia masih merasa agak takut dan canggung, tapi setelah melihat ketulusan Sari yang benar-benar sudah berubah dan menyesal, ia pun mulai menerima kehadirannya. Ketiga wanita itu, yang dulunya saling membenci atau tidak saling kenal, kini menjadi saling mengerti dan mendukung satu sama lain.
Mereka sering berkumpul bersama, bercerita tentang masa lalu, saling menguatkan dan menyemangati. Sari menceritakan betapa indahnya masa mudanya, betapa ia mencintai Hamid dengan sepenuh hati, dan betapa hancurnya ia saat dikhianati. Ain dan Nova juga menceritakan pengalaman pahit mereka, rasa malu, rasa bersalah, dan perjuangan mereka untuk bangkit kembali.
Dari cerita-cerita itu, mereka semakin sadar bahwa cinta yang tidak didasari kejujuran dan kebenaran tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Cinta yang didapat dengan cara yang salah, dengan menyakiti orang lain, pada akhirnya hanya akan membawa kehancuran bagi semua pihak.
Sari yang dulunya pendiam, pemarah, dan penuh dendam, kini perlahan berubah menjadi wanita yang lembut, sabar, dan penuh kasih sayang. Ia sering membantu Ain di sekolah, mengajar anak-anak yang kurang mampu, atau membantu Nova mengurus pekerjaan rumah tangga. Orang-orang di sekitar awalnya kaget melihat kedekatan mereka, tapi setelah mengetahui seluruh cerita, semua merasa terharu dan semakin menghormati ketiga wanita itu.
Namun, tidak semua orang bisa menerima masa lalu mereka. Masih ada sebagian orang yang terus mengungkit, menghina, dan menyebarkan berita buruk. Tapi kali ini Ain, Nova, dan Sari sudah tidak lagi peduli. Mereka sudah menerima diri mereka apa adanya, sudah memaafkan diri sendiri dan orang lain, sehingga kata-kata orang lain tidak lagi bisa melukai hati mereka.
"Biarkan mereka bicara apa saja," kata Sari suatu hari. "Kita sudah membuktikan dengan perbuatan kita bahwa kita bisa berubah menjadi wanita yang baik dan berguna. Itu lebih penting daripada pendapat orang lain yang tidak tahu apa-apa."