"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Residu yang Tak Pernah Padam
Residu yang Tak Pernah Padam
Malam di rumah besar ini terasa seperti kuburan. Tanpa Gavin, tanpa Mbak Siska, bahkan tanpa omelan Mama, aku merasa seperti pajangan usang yang berdebu. Aku duduk di meja makan, menatap piring sisa makan malamku sendiri.
“Jangan terlalu egois, Arum.”
“Lo ngerusak hidup semua orang.”
Suara-suara itu berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku berniat berubah. Sumpah, aku ingin minta maaf pada Bella, ingin merelakan Raka, dan ingin melupakan Gavin. Tapi apa balasannya? Aku dikucilkan seolah aku adalah wabah penyakit. Bella menatapku seperti aku ini kotoran, dan Raka... Raka yang dulu memujaku sekarang membuang muka.
"Oke. Kalau kalian mau aku jadi orang jahat, maka aku akan jadi orang jahat yang paling kalian benci," gumamku sambil meremas tisu di tangan.
Rasa menyesal itu tiba-tiba menguap, berganti dengan ego yang terluka. Kalau Gavin bisa pergi dengan Mbak Siska tanpa kata pamit yang layak, kenapa aku harus menjaga perasaan orang lain? Terutama Bella, yang merasa sudah memenangkan piala bernama Raka.
Esok Harinya - Perpustakaan Kampus
Aku tahu jadwal mereka. Setiap Selasa sore, Raka dan Bella akan belajar di pojok perpustakaan yang remang-remang. Aku datang dengan penampilan yang berbeda. Tidak ada lagi dandan berlebihan. Aku hanya memakai kemeja putih tipis yang sengaja dibuka dua kancing atasnya dan celana jins ketat. Rambutku diikat asal, memperlihatkan leher jenjangku yang putih.
Aku melihat mereka. Bella sedang asyik mencatat, sementara Raka duduk di sampingnya, fokus pada laptop. Bella sesekali manja, menyandarkan kepalanya di bahu Raka.
Aku berjalan melewati mereka, lalu pura-pura menjatuhkan tumpukan buku tepat di samping meja mereka.
"Aduh!" pekikku pelan.
Raka refleks mendongak. Matanya bertemu denganku. Ada kilatan rasa bersalah, iba, dan... ketertarikan yang belum padam sepenuhnya.
"Arum? Lu nggak apa-apa?" Raka berdiri hendak membantu.
"Raka, biarin aja. Dia punya tangan kan?" suara Bella ketus tanpa menoleh.
Aku tersenyum tipis, tipe senyum yang hanya bisa dilihat oleh Raka. "Nggak apa-apa, Rak. Gue bisa sendiri. Maaf ya ganggu waktu pacarannya."
Aku membungkuk perlahan untuk mengambil buku-buku itu. Aku sengaja membelakangi Bella dan menghadap tepat ke arah kaki Raka di bawah meja. Kemejaku yang longgar tersingkap, memberikan pemandangan yang aku tahu akan membuat napas Raka tercekat.
Raka menelan ludah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun.
Saat aku berdiri, Bella menatapku tajam. "Udah selesaikan 'pertunjukannya'? Mending lo pergi, Rum. Raka lagi fokus."
"Iya, Bel. Galak amat sih," sahutku lembut. Aku berjalan melewati Raka, dan saat tanganku berada di belakang punggung Bella, aku sengaja menjatuhkan jariku ke punggung tangan Raka yang berada di pinggir meja.
Aku tidak hanya menyentuh. Aku mengelusnya perlahan dengan ujung kuku, sebuah gerakan sirkular yang sangat intim, lalu meremas jemarinya singkat sebelum akhirnya melepaskannya.
Raka tersentak, tapi dia tidak menarik tangannya. Dia mematung, menatapku dengan mata yang mulai menggelap.
Sepuluh Menit Kemudian - Area Loker
Aku berdiri di balik deretan loker yang sepi, menunggu. Benar saja, lima menit kemudian, Raka muncul dengan alasan ke kamar mandi pada Bella.
Wajahnya tampak gelisah. Napasnya pendek-pendek. "Rum, apa-apaan tadi di meja?"
Aku mendekat, menyudutkannya ke loker besi yang dingin. Aku tidak menyentuhnya dengan tangan, tapi aku berdiri sangat dekat hingga ujung dadaku nyaris bersentuhan dengan dadanya.
"Gue cuma mau minta maaf, Rak. Tapi kayaknya Bella benci banget sama gue. Gue kesepian di rumah... Gavin pergi, Mama pergi..." aku bicara dengan nada yang sangat rapuh, mataku menatap bibirnya. "Cuma lo yang gue punya, Rak. Tapi sekarang lo juga udah punya penjaga baru yang galak."
"Rum, jangan gini... gue sama Bella udah—"
"Udah apa? Udah cinta? Yakin?" aku berbisik tepat di depan bibirnya. Aku mengangkat tanganku, pura-pura merapikan kerah bajunya, tapi jemariku sengaja masuk ke balik kerah, menyentuh kulit lehernya yang panas. "Tangan lo gemetar, Rak. Dan gue bisa denger jantung lo mau copot."
Aku menunduk, sengaja menghembuskan napas panas di perpotongan lehernya, tempat yang dulu sering aku cium. "Gue kangen kita yang dulu. Pas nggak ada Bella yang ngatur-ngatur lo. Pas lo cuma liat gue sebagai satu-satunya ratu lo."
Raka mengerang pelan, sebuah suara frustrasi yang tertahan. Tangannya bergerak ragu, ingin mendorongku tapi justru berakhir mencengkeram pinggangku dengan kuat.
"Lu jahat, Rum... lu ngerusak segalanya," bisik Raka parau.
"Gue nggak ngerusak, Rak. Gue cuma mau ambil yang emang punya gue," aku tersenyum licik. Aku sedikit menjauh, tapi sebelum pergi, aku menekan lututku di antara kedua pahanya, memberikan tekanan yang sangat sugestif yang membuat Raka memejamkan mata rapat-rapat.
"Balik sana ke Bella. Kasihan dia nungguin," ucapku sambil mengedipkan mata.
Aku berjalan pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Raka yang masih bersandar di loker, mencoba mengatur napas dan... menutupi bagian depannya yang sudah jelas menunjukkan reaksi hebat atas godaanku. Aku tahu, malam ini Raka tidak akan bisa tidur nyenyak. Bayanganku akan menghantui setiap inci pikirannya, jauh lebih kuat daripada kehadiran Bella di sampingnya.
Rasa puas mengalir di nadiku. Kalau Gavin tidak bisa kumiliki sekarang, maka aku akan menghancurkan ketenangan Bella dulu. Biar dia tahu, Arum yang dipojokkan adalah Arum yang paling berbahaya.
Aku sempat menoleh ke belakang sebelum benar-benar berbelok di ujung lorong. Raka masih di sana, tidak bergerak satu senti pun. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya mencengkeram pinggiran loker dengan sangat kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Aku tahu persis apa yang dia rasakan; perpaduan antara gairah yang meledak dan rasa berdosa yang menghantam harga dirinya.
Aku merogoh ponsel di saku celanaku, lalu mengetik pesan singkat sembari berjalan menuju parkiran.
Arum: "Rak, kancing kemeja lo yang kedua dari atas copot pas gue rapihin tadi. Jangan sampe Bella liat ya, nanti dia curiga lo abis 'ngapain' sama gue. See you tomorrow, Prince."
Aku tertawa rendah melihat centang dua biru yang muncul hampir seketika. Aku bisa membayangkan Raka yang panik memeriksa kancingnya—yang sebenarnya sama sekali tidak copot. Aku hanya ingin menanamkan benih paranoia di otaknya.
Begitu sampai di parkiran, aku melihat Bella sedang berjalan terburu-buru menuju area loker, wajahnya tampak cemas karena Raka terlalu lama di kamar mandi. Kami berpapasan tepat di depan pintu otomatis.
Aku berhenti, menatapnya dengan senyum paling ramah yang bisa kupalsukan. "Raka ada di belakang, Bel. Tadi dia kelihatan agak... sesak napas. Mungkin AC perpustakaannya terlalu dingin buat dia."
Bella menghentikan langkahnya, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Lo abis ngomong sama dia?"
"Ngomong? Nggak kok. Gue cuma lewat," sahutku sambil mengg
edikkan bahu santai. Aku mendekat ke telinga Bella, membisikkan sesuatu yang cukup untuk membuatnya membeku. "Jagain Raka baik-baik ya, Bel. Cowok itu kalau udah pernah ngerasa 'makanan mewah', biasanya bakal susah puas kalau cuma dikasih 'jajanan pasar'."
Tanpa menunggu balasan dari mulutnya yang sudah menganga siap memaki, aku melenggang pergi menuju mobilku. Aku bisa merasakan tatapan tajam Bella menusuk punggungku, tapi aku tidak peduli.
Malam ini, rumah yang sunyi itu tidak akan terasa terlalu sepi lagi. Karena aku tahu, di tempat lain, ada seorang pria yang sedang berjuang mati-matian menghapus bayangan sentuhanku dari kulitnya, dan ada seorang wanita yang mulai gila karena rasa curiga.
Gavin mungkin sudah membuangku ke sudut gelap, tapi aku baru saja menemukan mainan baru untuk menghabiskan waktu selama dia pergi. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan menjadi pihak yang menangis di pojokan.
jngan y thor