NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Sebagian besar adegan Meilan adalah adegan malam, ketika Adira mengobati luka Marlon sambil memberikan kata-kata penghiburan dengan lembut. Hal itu sesuai dengan karakternya sebagai seorang dokter yang hangat dan penuh perhatian.

Untuk menonjolkan perbedaan antara Adira dan Adea, sekaligus memberi Zoya lebih banyak porsi tampil di layar, Rahengga secara khusus menambahkan beberapa adegan interaksi antara kakak beradik tersebut.

Hari ini, adegan yang akan diambil adalah salah satunya.

Karena mereka berperan sebagai saudara, gaya pakaian keduanya dibuat berbeda namun tetap selaras. Karakter Adea yang cenderung dingin dan tenang lebih sering mengenakan warna-warna seperti misty blue, deep green, atau maroon. Sementara Adira tampil dengan warna-warna pastel yang lembut dan hangat.

Keduanya sama-sama memiliki paras yang luar biasa, sehingga saat berdiri berdampingan, pemandangan itu benar-benar memanjakan mata. Bahkan Rahengga, yang sejak awal tidak menyukai Meilan, tetap tidak bisa menyangkal bahwa wanita itu memang sangat cantik.

Adegan yang akan diambil hari ini adalah sebagai berikut:

Di siang hari, saat mencari petunjuk kasus, Marlon terluka akibat taktik licik sang psikopat. Demi melindungi Adea, ia terkena tembakan di bagian dada. Meski lukanya tidak kritis, kejadian itu tetap membuat situasi menjadi tegang.

Adira, yang merasa Adea terlalu ceroboh, sangat tidak puas dengan kejadian tersebut. Setelah selesai mengobati luka Marlon, ia pergi menemui Adea untuk meluapkan kekesalannya. Menurutnya, sebagai polisi Adea seharusnya lebih waspada dan tidak gegabah saat menjalankan tugas.

“Kalau hari ini hanya luka ringan, bagaimana kalau lain kali nyawanya benar-benar melayang karena kelalaianmu?” itulah inti kemarahan Adira.

Namun, Adea menanggapinya dengan dingin.

Bagi seorang polisi, terluka saat bertugas adalah hal yang biasa. Lagi pula, keberanian mereka hari ini berhasil membawa petunjuk penting dalam penyelidikan. Tidak ada misi yang benar-benar aman. Memang, Adea mengakui dirinya terlalu nekat, tetapi jika bukan karena keberaniannya mengambil risiko, penyelidikan tidak akan berkembang secepat itu.

Menurut Adea, itulah gunanya sebuah tim… melindungi satu sama lain di tengah bahaya.

Dan orang yang belum pernah benar-benar menghadapi situasi hidup dan mati tidak akan mengerti perasaan mereka.

Mendengar jawaban Adea yang dingin dan nyaris tanpa emosi, mata Adira memerah karena marah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik pergi.

Itu adalah interaksi pertama sekaligus terakhir mereka sebelum hubungan keduanya berubah dingin seperti orang asing.

Seiring perkembangan kasus, penyelidikan mereka terus bergerak maju hingga akhirnya Adea gugur dalam misi terakhir.

Setelah semua berakhir dan dendamnya terbalaskan, Marlon memilih pergi meninggalkan kota kelahirannya... kota yang dipenuhi terlalu banyak Kenangan buruk.

Ia pergi sendirian ke sebuah kota kecil yang asing, hidup dalam kesunyian.

Namun semua orang tahu… Adira diam-diam pergi mengikuti Marlon, merasa iba terhadap hidup pria itu yang begitu menyedihkan.

Begitu Rahengga memberi aba-aba, “Action!”

Adira yang diperankan Meilan segera berjalan mendekati Adea. Dengan riasan bernuansa peach yang lembut, wajah kecilnya tampak semakin manis dan cantik. Ia menatap Adea dengan raut penuh amarah sebelum berkata dengan nada tidak senang,

“Kenapa kau bisa seceroboh itu?”

Sebelum Adira berbicara, Adea yang diperankan Zoya sedang membelakangi dirinya sambil menatap rembulan. Mendengar suara itu, tubuhnya menegang sesaat.

Ia menoleh sedikit, memperlihatkan garis samping wajahnya yang sehalus giok. Di bawah cahaya bulan yang redup, matanya tampak berkabut dan dingin. Sesaat kemudian, suara Adea terdengar pelan… dingin, tanpa emosi, namun begitu merdu hingga enak didengar.

“Kenapa kamu begitu bersimpati pada Marlon? Kalau dia tidak melindungiku, berarti akulah yang akan tertembak.”

“Kau…” Adira tampak sesak napas mendengar jawaban datar itu. Wajah cantiknya memerah karena emosi. “Kau terlalu ceroboh saat menjalankan misi! Kau hampir membunuh rekan satu timmu sendiri karena kelalaianmu! Bagaimana bisa kau tidak merasa bersalah sedikitpun?!”

Adea akhirnya berbalik sepenuhnya menghadap Adira.

Wajahnya sangat indah, tetapi sorot matanya begitu dingin dan tak berperasaan hingga membuat orang merasa tertekan. Dengan suara rendah, ia berkata,

“Menjalankan misi memang penuh risiko. Misi mana yang tidak berbahaya? Hari ini Marlon terluka, besok mungkin giliranku yang terluka. Apa menurutmu saat aku mengambil resiko itu, aku sendiri tidak mempertaruhkan nyawaku?”

Tatapan Adea semakin tajam.

“Kalau bukan karena Marlon terbawa emosi pribadinya sendiri, rencana kami tidak akan tertunda dan musuh tidak akan menjadi waspada. Jadi kesalahan yang kau tuduhkan padaku itu sejak awal muncul karena ketidak profesionalan nya sendiri.”

Ia melangkah mendekat perlahan.

“Dan kalau bukan karena aku cukup nekat mengambil risiko itu, kami tidak akan mendapatkan petunjuk sebesar ini. Jadi… apa sebenarnya yang kamu tahu? Kamu bahkan tidak berada di tempat kejadian.”

Adira terdiam, tercekik oleh kata-kata Adea. Namun wajahnya masih dipenuhi ketidakpuasan. Ia menghentakkan kaki sebelum menatap Adea dengan mata memerah.

“Tapi dia orang yang dulu kau cintai! Dia sedang terluka sekarang! Apa kau tidak merasa kasihan sedikitpun padanya? Bagaimana bisa… bagaimana bisa kau sedingin ini?”

Mendengar itu, Adea tertawa pelan… tawa yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

“Dingin?” suaranya rendah dan tajam. “Siapa sebenarnya yang dingin di sini?”

Perlahan, tatapannya berubah semakin menyeramkan.

“Seseorang yang menemaninya selama bertahun-tahun ditinggalkan begitu saja karena tidak lagi berguna bagi obsesinya. Demi balas dendam, dia menghalalkan segala cara.”

Adea menatap lurus ke arah Adira.

“Lalu sekarang aku yang bersikap profesional justru disalahkan hanya karena satu kesalahan, padahal semua ini berawal dari ketidakprofesionalannya sendiri.”

Suara Adea semakin dingin.

“Kasihan? Kenapa aku harus kasihan?”

Saat mengucapkan kalimat terakhir, aura membunuh yang pekat seolah menyelimuti tubuhnya.

“Dia terluka? Itu memang pantas dia dapatkan.”

Tatapannya setajam bilah pedang. Untuk sesaat, Adira sampai mundur selangkah karena ketakutan. Baru ketika tersadar, Adea sudah membalikkan tubuhnya lagi dan tidak lagi menatapnya.

Meilan sendiri sempat terpaku oleh tatapan penuh niat membunuh dari Zoya tadi. Hampir secara refleks, ia mengucapkan dialog terakhirnya,

“Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”

Setelah itu, Adira langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!