Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan
Di atas dahan pohon raksasa yang rimbun, Lin Chen menekan napasnya hingga ke titik terendah. Tatapannya sedingin es, mengamati pembantaian yang terjadi di pelataran batu berlumut di bawahnya.
"Sialan! Kenapa ada Binatang Iblis Tingkat 2 tahap awal di pinggiran pegunungan?!" umpat Wang Teng sambil memuntahkan darah. Seragam abu-abunya telah koyak, memperlihatkan zirah dalam bersisik perak yang penyok di bagian dada.
Di depannya, Kera Berlengan Empat itu meraung buas. Tingginya mencapai tiga meter, dengan otot-otot yang menonjol seperti bongkahan batu granit. Tiga mayat murid Keluarga Wang tergeletak tak bernyawa dengan tubuh hancur di sekitar monster itu. Hanya tersisa Wang Teng dan dua pengikutnya yang gemetar ketakutan.
Binatang Iblis Tingkat 2 setara dengan kultivator Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7 hingga 9. Kera ini, meskipun masih di tahap awal, memiliki pertahanan fisik yang jauh melampaui manusia.
"Tuan Muda, kita harus mundur! Monster ini sedang melindungi harta karunnya, ia akan membunuh siapa saja yang mendekat!" teriak salah satu pengikut Wang Teng dengan panik.
"Mundur? Buah Kondensasi Tulang itu tepat ada di depan mata! Dengan buah itu, aku pasti bisa menembus Bintang 8 dan menginjak-injak Keluarga Lin di Turnamen Kota bulan depan!" Mata Wang Teng memerah penuh keserakahan. Ia menarik pedang panjangnya dan berteriak, "Kalian berdua, tahan monster itu dari kiri dan kanan! Aku akan mencari celah!"
Kedua pengikut itu pucat pasi, namun tidak berani membantah. Mereka menerjang maju dengan senjata terhunus. Kera Berlengan Empat tertawa mengejek, mengayunkan dua lengannya yang setebal batang pohon.
Brak! Brak!
Tanpa ada perlawanan yang berarti, senjata kedua pengikut itu patah berkeping-keping, dan tubuh mereka terlempar menghantam tebing karang, mati seketika.
Namun, pengorbanan mereka memberi Wang Teng celah setengah detik.
"Mati kau, Binatang Bodoh! Pedang Angin Pembelah Awan!"
Wang Teng melompat ke udara, memusatkan seluruh Qi Bintang 7-nya ke bilah pedangnya. Sebuah tebasan cahaya biru melesat dan menebas lurus ke arah dada kiri Kera Berlengan Empat.
Crass!
Darah hitam menyemprot deras. Pedang Wang Teng berhasil menembus jantung monster itu. Kera raksasa itu meraung melengking, dilanda rasa sakit yang tak tertahankan. Dalam detik-detik terakhir kematiannya, monster itu mengamuk, mengayunkan keempat lengannya secara membabi buta dan menghantam tubuh Wang Teng di udara.
Bruk!
Wang Teng terhempas keras ke tanah berbatu, tulang rusuknya terdengar patah berderak. Ia memuntahkan darah berkali-kali. Kera Berlengan Empat di depannya akhirnya ambruk ke tanah dengan dentuman keras, tak lagi bernapas.
Pelataran air terjun itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara gemuruh air.
Wang Teng tertawa serak sambil mencengkeram dadanya. Ia memaksakan diri untuk berdiri, menyeret kakinya selangkah demi selangkah mendekati celah air terjun di mana Buah Kondensasi Tulang itu bersinar menggoda.
"Hahaha! Pada akhirnya... aku yang menang. Buah ini milikku!" tawanya pecah, dipenuhi kebanggaan.
Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh tanaman spiritual itu, sesosok bayangan turun dari langit tanpa suara, mendarat dengan ringan tepat di antara Wang Teng dan buah tersebut.
Tawa Wang Teng terhenti secara tiba-tiba. Ia mendongak, matanya melebar saat melihat wajah remaja yang berdiri santai di depannya.
Pakaian yang compang-camping, rambut basah, dan luka-luka dangkal. Meski terlihat berantakan, aura yang dipancarkan remaja itu setajam pedang yang baru diasah.
"Lin Chen?! Si Sampah dari Keluarga Lin?!" Wang Teng berseru tak percaya. "Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah meridianmu sudah cacat?"
Lin Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aku dengar semboyan dunia kultivasi adalah belalang sembah menangkap jangkrik, burung oriole mengintai dari belakang. Terima kasih telah membunuh kera itu untukku, Tuan Muda Wang."
Wajah Wang Teng memerah karena marah. "Kau berani merampokku?! Seorang cacat sepertimu berani mencari mati di hadapanku?! Bahkan jika aku terluka parah, membunuh sampah sepertimu hanya butuh satu jari!"
Wang Teng memaksakan sisa-sisa Qi di Dantiannya, mengarahkan telapak tangannya untuk menghancurkan kepala Lin Chen.
Lin Chen bahkan tidak berkedip. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, memusatkan energi emas dari Meridian Naga, dan menyambut serangan itu dengan telapak tangan yang memancarkan kilat biru redup.
Tapak Guntur Pecah!
BAM!
Dua telapak tangan berbenturan.
Ekspektasi Wang Teng untuk melihat lengan Lin Chen hancur berantakan musnah seketika. Sebaliknya, kekuatan ledakan yang luar biasa ganas menyapu lengannya sendiri. Tulang-tulang lengan kanan Wang Teng remuk dari pergelangan hingga bahu seperti ranting kering yang diinjak gajah.
"ARGGGHHH!" Wang Teng menjerit melengking, terpelanting ke belakang dan jatuh berlutut. Matanya dipenuhi teror dan ketidakpercayaan. "Kekuatan fisik ini... Kau... kau berada di Bintang 6?! Mustahil! Kau telah menipu semua orang!"
"Tebakan yang bagus, tapi kau tidak punya kesempatan untuk menceritakannya kepada siapa pun," ucap Lin Chen dingin.
Ia melangkah maju, tangannya mencengkeram leher Wang Teng dan mengangkatnya ke udara layaknya mengangkat seekor ayam.
"Kau tidak bisa membunuhku! Jika ayahku tahu kau membunuhku, Keluarga Wang akan meratakan Keluarga Lin sampai rata dengan tanah!" ancam Wang Teng dengan napas tersengal-sengal.
"Di Pegunungan Kabut Darah ini, jutaan tulang telah terkubur. Menambah satu mayat lagi bukanlah masalah besar," bisik Lin Chen di telinga Wang Teng. Cengkeramannya menguat, mematahkan leher pemuda itu dengan suara krak yang renyah.
Mata Wang Teng membelalak kosong. Sang jenius Keluarga Wang mati di tempat yang tak dikenal, oleh tangan seseorang yang selama ini ia sebut sampah.
Lin Chen melemparkan mayat Wang Teng ke sungai beraliran deras di bawah air terjun, membiarkan arus menghilangkan jejaknya. Ia kemudian berbalik, mengambil Buah Kondensasi Tulang beserta tanaman akarnya, dan menyeret bangkai Kera Berlengan Empat masuk ke dalam gua dangkal di balik tirai air terjun.
"Kerja bagus. Kau tidak ragu mencabut rumput hingga ke akarnya. Belas kasihan hanya akan mengundang balas dendam di masa depan," puji Mo Xuan dari dalam lautan kesadarannya.
Lin Chen tidak membuang waktu. Ia duduk bersila di samping bangkai kera. Pertama, ia menggunakan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga pada mayat monster tersebut. Energi sisa dari Binatang Iblis Tingkat 2 mengalir masuk bak ombak besar, merebus darah Lin Chen.
Selanjutnya, ia menelan Buah Kondensasi Tulang ke dalam mulutnya. Buah itu meleleh menjadi cairan sejuk, bergejolak menembus tenggorokannya menuju Dantian.
"Murnikan!" batin Lin Chen berteriak.
Seni Pemakan Surga Sembilan Naga berputar dengan kecepatan maksimal. Energi panas dari kera dan energi dingin dari buah spiritual bertabrakan di dalam Meridian Naganya. Jika itu adalah meridian biasa, tubuh kultivator pasti sudah meledak. Namun, Meridian Naga justru menyerap ledakan energi itu dengan rakus, menggunakannya untuk memperkuat tulang, otot, dan kulit Lin Chen hingga ke tingkat seluler.
Bum!
Lapisan penghalang di tubuhnya pecah.
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7!
Energinya belum habis. Cairan perak dari Buah Kondensasi Tulang terus membungkus kerangka Lin Chen, mengubah tulangnya menjadi seputih giok dan sekeras baja murni. Qi di Dantiannya terus membengkak dan memadat.
Tiga jam kemudian, diiringi suara letupan kecil dari dalam tulangnya...
Bum!
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 8!
Lin Chen perlahan membuka matanya. Segumpal udara keruh yang ia hembuskan meluncur tajam seperti anak panah, menembus batu dinding gua sedalam beberapa sentimeter. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan monumental yang bisa meremukkan gunung kecil.
Loncatan dari Bintang 6 langsung menuju Bintang 8 dalam semalam adalah sesuatu yang melanggar hukum alam. Namun, inilah tirani dari Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.
Di luar gua, hujan badai telah reda. Cahaya matahari fajar mulai menyinari kanopi hutan, membias menembus embun pagi.
Hari Ujian Klan telah tiba.
Lin Chen berdiri tegak. Sisa-sisa kepolosan remajanya telah hilang sempurna, digantikan oleh ketenangan mematikan seorang raja yang siap menuntut takhtanya.
"Lin Lang, Tetua Pertama... sudah saatnya kalian membayar hutang kalian," gumam Lin Chen. Bayangannya melesat keluar dari balik air terjun, melesat bagai anak panah menuju arah Kota Awan Merah.