Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Mencari Sui
“Benarkah?” Kaget bercampur senang, terlihat jelas di wajah Yvone. Untuk sesaat ia melupakan masalahnya dengan Arsen.
“Ya, tapi berita buruknya, aku tidak tahu pasti titik lokasinya, karena asistenmu ini berpindah-pindah tempat,” kata Yuna yang membuat kening Yvone spontan mengkerut.
Daniel memperhatikan dari samping, entah dengan siapa istri majikannya ini menelpon? Daniel tidak ingin tahu, tetapi setelah dipikir, bila ia tahu, akan lebih baik.
“Apa maksudmu?” Yvone sama sekali tidak memahami ucapan Yuna.
“Dia bekerja di Klub malam di daerah Pardon Selatan. Kau cari saja,” kata Yuna.
“Baiklah.”
“Hei aku belum selesai bi…”
Tut
Yvone menutup panggilan secara sepihak. Ia menggenggam ponselnya kuat-kuat, memantapkan niatnya. Lalu ia menoleh ke belakang.
“Kau, ikut aku,” kata wanita itu sembari melangkah menjauh.
Daniel merasa terkejut sekaligus bingung. Ia segera menyusul Yvone. “Nyonya kita mau ke mana?”
Padahal Arsen akan datang untuk menjemput wanita itu, tetapi Yvone malah mengajaknya pergi.
“Kau akan tahu setelah sampai.” Yvone melempar kunci mobil ke arah Daniel yang segera ditangkap olehnya. “Kau yang menyetir. Kita ke daerah Pardon Selatan.”
“Apa? Untuk apa kita ke sana?” Daniel merasa tidak asing dengan daerah tersebut.
“Jangan banyak bicara, menyetir saja yang benar.”
Perjalanan menempuh jarak yang cukup jauh, hingga memakan waktu satu jam dengan kecepatan penuh. Tidak ada percakapan yang berarti selama perjalanan.
Yvone tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu juga dengan Daniel. Beberapa menit kemudian, kendaraan yang dikendarai oleh Daniel mendekati daerah yang dimaksud oleh Yvone.
Daniel segera menepikan kendaraannya dan memarkirkannya di tempat yang jauh dari pintu masuk kawasan.
“Kenapa kau memarkirkan mobil di sini? Kenapa tidak masuk saja?” tanya Yvone.
Daniel melirik istri majikannya lalu berkata, “Nyonya akan tahu setelah masuk.”
Setelah mengatakan itu, Daniel mendorong pintu, lalu melangkah keluar.
Yvone melotot mendengarnya, “Beraninya dia membalikkan ucapanku.”
Melupakan rasa kesalnya, Yvone segera turun dan melangkah mendahului Daniel. Keduanya lantas melangkah memasuki kawasan Pardon Selatan yang dimaksud oleh Yuna.
Yvone berdiri di ambang pintu masuk dan seketika tertegun untuk beberapa saat.
“Apa-apaan ini?” Yvone melihat klub malam berjajar di sepanjang jalan tersebut.
Daniel melirik ke arah Yvone. “Jadi bagaimana, Nyonya. Untuk apa sebenarnya kita kemari?” tanya Daniel. “Bukankah di pusat kota banyak klub malam, kenapa harus jauh-jauh kemari?”
“Diam kau!” Yvone segera mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Yuna. Tetapi tidak mendapatkan jawaban. “Ah…sial!”
Tiba-tiba beberapa orang pria muncul dari balik bangunan. Pria berpakaian serba hitam itu menghadang jalan Yvone dan Daniel.
Yvone menatap mereka, cukup terkejut. Ia dapat melihat orang itu berjumlah sekitar 8 orang. Masing-masing memiliki gambar seni di bagian leher. Sepertinya mereka adalah gangster.
“Apa mereka penunggu tempat ini?” bisik Yvone sembari mencondongkan tubuhnya ke samping.
“Penjaga, bukan penunggu, Nyonya.” jawab Daniel.
Yvone mendecak. “Ah, sama saja.”
“Hanya anggota yang diizinkan memasuki kawasan ini,” kata pria berkumis tipis. Pria itu berdiri di barisan paling depan. Usianya sekitar 40 tahunan. “Apa kalian bisa menunjukkan kartu keanggotaan?” tanya pria itu.
Daniel sudah mengetahui aturan wilayah ini.
Mayoritas wilayah tersebut dipenuhi oleh klub malam mewah dan kasino eksklusif, tempat alunan musik menghentak berpadu dengan gelak tawa serta hiruk-pikuk para pengunjung dari berbagai penjuru.
Sementara Yvone yang sama sekali tidak mengetahui itu, hanya berniat untuk melumpuhkan mereka dan masuk secara paksa.
“Kita hajar mereka, Daniel,” ucap Yvone pelan.
“Itu bukan ide bagus, Nyonya,” balas Daniel.
“Lalu bagaimana?” tanya Yvone lagi.
“Ikuti cara saya.” Daniel lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, sebuah kartu berwarna emas. Lalu menunjukkannya ke arah pria berkumis itu.
Pria itu maju satu langkah untuk melihat dengan jelas kartu itu. Detik selanjutnya, pria itu berkata, “Lalu bagaimana dengan Nona ini?” tanya pria itu.
“Dia adalah pacarku, jadi dia akan masuk denganku,” kata Daniel yang membuat Yvone seketika melotot.
“Pacar?” ucap Yvone tidak setuju.
“Ikuti saja, Nyonya,” bisik Daniel lalu melangkah lebih dulu.
Yvone menatap punggung pria itu. “Dia pikir dia siapa?” gerutu Yvone. Ia lantas melangkah menyusul Daniel dan melewati para penjaga itu.
“Daniel, dari mana kau dapat kartu itu? Kau sungguh menjadi anggota mereka?” Sejak tadi, Yvone penasaran soal itu. Seperti ia telah meremehkan Daniel selama ini.
“Tentu saja tidak, itu adalah kartu anggota wilayah, dan perlu kartu itu untuk memasuki salah satu klub malam di sini,” jawab Daniel. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu menatap Yvone. “Jadi sebelah mana tempat yang akan Anda kunjungi?” tanya Daniel.
Yvone menepuk kening, soal itu, ia belum mendapatkan kabar dari Yuna karena nomor wanita itu tidak bisa dihubungi.
“Emmm…soal itu, aku belum bisa memastikan,” kata Yvone.
Daniel meneliti wajah Yvone yang tampak kebingungan. “Sebenarnya Anda punya tujuan ‘kan?”
Lama terdiam, akhirnya Yvone berpikir untuk mengatakan semuanya. “Aku mencari seseorang bernama Sui, menurut informasi dia berada di salah satu klub malam di sini,” jawab Yvone.
“Seperti yang Anda lihat, ada banyak klub malam di sini. Anda harus pastikan yang mana tempatnya.”
Yvone terpejam, harusnya ia memastikannya terlebih dahulu, tetapi semua sudah terlanjur.
“Karena sudah di sini, sebaiknya kita periksa satu persatu,” ucap Yvone sembari mengayunkan langkah menuju salah satu klub malam.
Ia membuka ponsel, lalu menunjukkan potret Sui. “Lihat ini baik-baik, dia adalah Sui, jadi sebaiknya kita berpencar.”
Daniel hanya meliriknya sekilas kemudian berkata, “Tidak, saya akan tetap di sisi Nyonya. Tempat ini tidak seperti klub malam pada umumnya, Nyonya akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya Anda lihat.”
Daniel melangkah maju terlebih dahulu, lalu Yvone mengekor di belakangnya. Benar saja, baru saja masuk, Yvone disuguhkan dengan pemandangan erotis.
Yvone segera membalikkan diri dari pemandangan itu.
“Sialan!” umpatnya.
Daniel melihat Yvone dan menahan senyum.
“Apa tidak ada tempat lain? Kenapa harus melakukannya di sini?” protes Yvone. Ia memang terbiasa pergi ke tempat seperti ini, bahkan sudut paling gelap sekalipun, tetapi tidak pernah melihat yang seperti ini.
“Seseorang yang terkurung nafsu tidak perlu memikirkan itu, Nyonya. Sebaiknya fokus pada tujuan kita.”
Semakin masuk ke dalam, Yvone melihat sesuatu yang semakin tidak wajar. Satu wanita bermain dengan banyak pria. Begitu juga sebaliknya. Parahnya lagi hubungan sesama jenis juga tak luput dari penglihatan Yvone.
“Sialan. Bagaimana mungkin Sui ada di tempat seperti ini?” gumam Yvone.
Yvone kembali melangkah, jauh lebih dalam memasuki bangung. Tatapan buas para pria seketika menghujam ke arahnya. Membuat Yvone meningkatkan kewaspadaan.
Satu persatu tempat telah dikunjungi oleh Yvone dan Daniel, tetapi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Sui. Daniel terus saja menggerutu. Sementara Yvone merasa ingin menyerah.
Sementara waktu semakin larut.
“Satu tempat lagi, jika tidak ada kita pulang,” ucap Yvone.
Daniel melirik tajam. “Dari tadi juga berkata begitu terus,” gerutu pria itu. Daniel melangkah lebih dulu.
“Dia berani menggerutu di depanku.”
Yvone hendak menyusul Daniel, saat tiba-tiba terdengar sebuah teriakan seorang wanita.
“Lepaskan! Kalian mau bawa aku ke mana?”
Yvone merasa tidak asing dengan suara itu. Ia menoleh dan melihat seorang wanita diseret oleh beberapa pria, baru saja keluar dari salah satu klub malam.
“Sui?”