Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.
Foto itu tidak hanya menampilkan pintu. Di sana... di dalam permukaan transparan yang berwarna biru itu, terdapat sesuatu.
Siluet samar, namun jelas bukan pantulan. Bentuknya menyerupai seseorang, duduk diam di atas batu besar.
Menghadap lurus ke arah kamera, seolah sedang menatap balik ke arahnya.
Zee terdiam membeku, tangannya sedikit menegang menggenggam kamera.
"Itu..." gumamnya pelan.
Cahaya biru di pintu itu kembali berdenyut. Lebih kuat, dan dalam.
Zee perlahan mengangkat pandangannya dari foto itu, menuju pintu yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Namun... Di sana tidak ada apa-apa, semuanya jelas terlihat kosong. Hanya permukaan kayu dengan cahaya biru yang mengalir di sisinya.
Tidak ada siluet, bayangan, dan tidak ada siapapun.
Zee menelan ludahnya pelan. Perasaan dingin merambat di punggungnya.
Dan untuk pertama kalinya, rasa penasaran itu bercampur dengan sesuatu yang lain.
Lia melangkah sedikit mendekat. "Apakah ada sesuatu yang tidak sesuai, Nona?" tanyanya tenang.
Zee tidak langsung menjawab, Dia masih menatap pintu itu. Lalu perlahan, Dia mengangkat kembali kamera di tangannya.
Menatap gambar itu sekali lagi. Siluet itu... masih di sana, diam, tidak bergerak, dan terasa hidup.
Zee menarik napas dalam, pandangan matanya kembali tajam. "Sepertinya... ada sesuatu di dalam sana." ucapnya pelan.
Angin berhembus pelan. Namun suasana terasa semakin sunyi. Dan pintu itu, kini tidak lagi sekedar transparan.
Zee menatap Lia, A3, dan A4 secara bergantian. Sorot matanya tampak serius, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Ayo, kita ke sana sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya pelan.
Tanpa banyak tanya, mereka berempat berjalan menuju gazebo yang berada di tengah taman bunga.
Angin berembus lembut, menggoyangkan kelopak-kelopak bunga yang bermekaran, namun suasana di antara mereka terasa tegang.
Setelah duduk, Zee langsung membuka pembicaraan. Dia mengeluarkan sebuah foto dari sakunya... gambar yang baru saja Dia ambil lalu meletakkannya di atas meja.
"Coba kalian perhatikan ini," kata Zee menunjuk bagian tertentu pada foto itu. "Di dalam gambar ini terlihat seseorang... meskipun samar. Padahal sebelumnya, kita semua melihat dengan jelas bahwa di depan pintu itu kosong. Dan pintunya juga belum kita buka."
Lia mengernyit, menatap foto itu lebih dekat. "Benar, Nona... Saya juga melihatnya. Dan entah kenapa, saya merasa ada sesuatu yang besar sedang menunggu Nona di sana."
A3 mengangguk setuju. "Apa yang dikatakan Lia benar, Nona."
"Dan sebelum Nona serta Lia masuk ke dalam pintu itu, kita juga harus mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan." sambung A4 dengan nada tegas.
Zee terdiam sejenak, mencerna semua ucapan mereka. "Kalian benar... tapi apakah kalian tahu apa sebenarnya yang ada di balik pintu itu?"
"Tidak tahu, Nona," jawab mereka serempak.
Zee mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang. "Kalau begitu... kita persiapkan diri sebaik mungkin. Ayo, kita ke Plaza Mall."
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di Zee Plaza Mall. Tempat itu tampak seperti dunia yang berbeda... penuh dengan berbagai kebutuhan, seolah mampu menyediakan apa pun yang mereka inginkan.
Mereka mulai mengumpulkan perlengkapan: sebuah tenda, beberapa roti, dua pisau kecil, air minum, serta dua buah senter. Semua barang itu dimasukkan ke dalam ransel kecil milik Zee dan Lia.
Sementara itu, barang-barang yang lebih besar dan berat. Seperti karung beras, peralatan masak, perlengkapan berburu, mie instan, dan kebutuhan lainnya di simpan dalam ruang penyimpanan milik Zee.
Setelah memastikan semuanya cukup, mereka kembali ke pintu misterius itu.
Zee berdiri di depannya, menatap lekat-lekat. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan antara rasa penasaran dan firasat yang tidak menentu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. perlahan, Zee menggenggam tangan Lia. "Kita masuk bersama. Jangan sampai terpisah."
Lia mengangguk, menggenggam balik tangan Zee dengan erat.
Di belakang mereka, A3 dan A4 hanya bisa memperhatikan dengan waspada. Zee mengangkat tangannya, lalu mendorong pintu itu.
Dalam sekejap, tubuh Zee dan Lia terserap ke dalamnya, menghilang tanpa jejak.
Saat kesadaran mereka kembali, keduanya sudah berada di tempat yang sama sekali berbeda.
Sebuah hutan lebat terbentang di hadapan mereka. Pepohonan tinggi menjulang, daunnya rapat hingga sinar matahari hanya menembus dalam garis-garis tipis. Udara terasa lembap dan dingin, membawa aroma tanah dan dedaunan basah.
Zee menatap sekeliling, waspada. "Kita... benar-benar sudah masuk," gumamnya pelan.
Di tempat lain, kehidupan berjalan seperti biasa.
Di sebuah rumah kecil di kaki pegunungan, Sofia baru saja selesai membantu kedua orang tuanya menanam bibit pohon buah. Keringat masih membasahi dahi mereka, namun wajah-wajah itu tampak puas.
Hari masih pagi, sekitar pukul sepuluh. Matahari bersinar hangat, menyinari ladang sederhana di sekitar rumah mereka.
Sofia menghela napas, lalu menoleh pada kedua orang tuanya. "Ayah, Bunda... dia mau ke hutan sebentar, mencari sayur liar."
Ayahnya mengangguk, meski sedikit khawatir. "Iya, Nak. Tapi hati-hati. Jangan terlalu jauh masuk ke dalam hutan."
"Iya, Ayah," jawab Sofia dengan senyum kecil.
Dia berlari masuk ke dalam rumah, lalu mengambil keranjang anyaman nya. Setelah itu, dia berjalan menuju tepi hutan.
Langkahnya perlahan. Sofia masih berada di pinggir hutan, belum berani masuk terlalu dalam. Matanya menyapu sekitar, mencari daun-daun liar yang bisa dipetik.
Sofia menghentikan langkahnya sejenak. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap ke dalam hatinya, seperti terdapat sesuatu di dalam hutan itu yang memanggilnya.
Bukan suara yang terdengar jelas, melainkan dorongan halus yang sulit dijelaskan.
Dia menelan ludah, lalu menatap ke dalam hutan yang semakin gelap di balik ribunnya pepohonan.
Rasa ragu sempat muncul. Namun entah mengapa, kakinya justru melangkah masuk lebih dalam.
Semakin jauh dia berjalan, suasana hutan terasa semakin sunyi. Hanya suara dedaunan yang bergesekan dan sesekali kicauan burung yang terdengar samar.
Setelah beberapa saat, Sofia merasa lelah. Di tengah hutan itu, Dia menemukan sebuah batu besar. permukaannya cukup datar, seolah memang bisa digunakan untuk beristirahat.
Sofia memanjat batu itu perlahan, lalu duduk di atasnya. Dia menghela napas panjang, mencoba mengembalikan tenaganya.
Angin sepoi-sepoi berembus, membuat rambutnya sedikit berantakan.
Dari atas batu itu, pandangannya mengarah lurus ke sebuah pohon besar yang rindang. Batangnya kokoh, dengan cabang-cabang yang menjulur luar, menaungi area di sekitarnya.
Sofia menatap pohon itu cukup lama. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda. Dan saat itulah... matanya menangkap sesuatu, sebuah cahaya samar... namun jelas terlihat.
Cahaya itu muncul di samping pohon besar tersebut, berpendar lembut di antara bayang-bayang dedaunan.
Warnanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk membuatnya mencolok di tengah suasana hutan yang teduh.
Sofia menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang Dia lihat. "Itu... apaan ya?" gumamnya pelan.
Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat. Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa takut.
Tanpa sadar, Sofia berdiri dari atas batu itu, matanya tak lepas dari cahaya misterius tersebut.
Sesuatu di dalam dirinya seolah berkata dia harus mendekat.
Tiba-tiba... Muncul sesuatu yang besar di samping pohon itu, yang membuatnya hampir pingsan di tempat.