"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: SIHIR ANGIN DALAM KOTAK BERISIK
Pintu kamar mandi marmer itu terbuka perlahan, mengeluarkan gumpalan uap hangat yang beraroma lavender surgawi. Alurra melangkah keluar dengan kaki telanjang, jubah mandi beludru milik Nael tampak terlalu besar di tubuh mungilnya hingga tenggelam, menyisakan pundak putihnya yang sedikit mengintip nakal.
Rambut emasnya yang panjang menjuntai basah kuyup, meneteskan air ke lantai kayu jati yang mahal. Ia berjalan menghampiri Nael yang sedang duduk kaku di tepi ranjang sembari menatap ponselnya—berusaha keras mengalihkan pikiran dari bayangan bidadari di balik pintu tadi.
"Nael... lihat! Aku sudah wangi seperti bunga di taman langit!" seru Alurra riang. Ia langsung menjatuhkan bokongnya di karpet bulu tepat di depan kaki Nael, mendongak dengan mata berbinar. "Tapi kepalaku berat sekali. Air dewa matahari tadi ternyata berat ya kalau menempel di rambut?"
Nael menunduk, menatap Alurra yang kini bersandar di lututnya. Ia meraih handuk kering, hendak membantu mengeringkan rambut itu secara manual, tapi Alurra langsung menepis tangannya pelan.
"Ih, jangan pakai kain kasar itu! Nanti rambutku rontok," protes Alurra dengan bibir mengerucut. "Pangeranku, gunakan sihir anginmu! Ayo, tiup rambutku dengan kekuatan batinmu sampai kering dan berkilau lagi. Masa bidadari harus menggosok-gosok kepala seperti mencuci baju?"
Nael mematung. Sihir angin? batinnya masygul. Jangankan sihir angin, bersuara saja ia tidak mampu.
Nael menghela napas, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju meja rias. Ia mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam pekat dengan kabel panjang. Hairdryer.
Alurra mengamati benda itu dengan waspada. "Apa itu? Senjata baru? Bentuknya seperti moncong naga hitam kecil. Nael, kau mau membakar kepalaku ya?"
Nael menggeleng sabar. Ia menunjuk ke arah stopkontak, lalu menekan tombol on.
WUUUUUSSSSSHHHHHHH!
Suara bising mesin pengering rambut itu memenuhi kamar. Alurra spontan melompat berdiri, ia bersiap memasang kuda-kuda bertarung, tangannya sudah mengeluarkan pendar cahaya ungu.
"HEI! NAGA HITAM ITU BERTERIAK! DIA MAU MENYERANGKU!" Alurra berteriak lantang, suaranya mencoba mengalahkan kebisingan hairdryer.
Nael segera mematikan mesin itu. Keheningan kembali melanda. Ia menatap Alurra dengan tatapan "tolong-percaya-padaku", lalu ia mengarahkan moncong hairdryer itu ke telapak tangannya sendiri, menyalakannya sebentar untuk menunjukkan bahwa itu hanya angin hangat yang keluar.
Alurra mendekat dengan ragu. Ia menyentuh ujung hairdryer itu dengan telunjuknya. "Ini... sihir manusia? Kenapa berisik sekali? Apa setannya sedang marah di dalam kotak ini?"
Nael menarik napas panjang, ia menulis cepat di ponselnya: "INI BUKAN SETAN. INI ALAT PENGERING. ANGINNYA HANGAT, TIDAK SAKIT. DUDUKLAH."
Alurra membaca tulisan itu, lalu kembali duduk di karpet dengan wajah cemas. "Baiklah... tapi kalau naga ini mencoba menggigit telingaku, aku akan mengubahnya jadi asbak, ya!"
Nael kembali menyalakan mesin itu pada mode paling pelan. Dengan jemarinya yang panjang dan lentik, ia mulai menyisir helai demi helai rambut emas Alurra yang basah sembari mengarahkan angin hangat dari hairdryer.
Merasakan sentuhan tangan Nael di kulit kepalanya, Alurra perlahan rileks. Ia memejamkan mata, kepalanya bergerak mengikuti arah tangan Nael.
"Hmm... lumayan juga sihir berisik ini," gumam Alurra pelan, hampir seperti dengkuran kucing yang nyaman. "Nael, tanganmu hangat. Jauh lebih enak daripada sihir angin di langit yang dingin. Kau belajar dari mana?"
Nael tidak menjawab, ia hanya terus menyisir rambut itu dengan sangat lembut. Ia tertegun sendiri melihat bagaimana helai-helai rambut itu perlahan kering dan berkilau seperti benang emas murni. Harum sampo lavender bercampur dengan aroma alami Alurra benar-benar menguji pertahanan batinnya.
"Nael," panggil Alurra tiba-tiba, suaranya melembut.
Nael mematikan hairdryer. Keheningan kamar terasa lebih pekat sekarang.
"Tadi... di dalam bak air ungu itu, aku berpikir," Alurra berbalik, menatap Nael yang masih memegang pengering rambut. "Dunia ini bising. Banyak kotak berisik, burung besi berisik, dan orang-orang jahat yang membawa besi pelontar api. Tapi kenapa... saat bersamamu, rasanya tenang sekali?"
Nael terdiam. Ia menatap mata ungu Alurra yang begitu dalam dan jujur.
"Apa karena kau tidak bisa bicara?" Alurra menyentuh jakun Nael dengan ujung jarinya. "Orang-orang di langit selalu bicara sombong. Dewa Matahari itu bahkan bicara tiga hari tiga malam tanpa henti cuma untuk memuji dirinya sendiri. Tapi kau... kau bicara lewat matamu. Dan matamu bilang... kau kesepian ya?"
Deg. Jantung Nael seperti berhenti berdetak sesaat. Belum pernah ada yang berani—atau mampu—membaca kekosongan di dalam dirinya dengan begitu telanjang.
Nael segera menjauhkan tangannya, ia meletakkan hairdryer kembali ke meja dengan gerakan kaku. Ia mengambil ponselnya, hendak mengetik sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan, tapi Alurra lebih cepat.
Ia menarik jubah mandi Nael, memaksa pria itu kembali menunduk menatapnya.
"Nael, dengar ya," Alurra tersenyum, senyum yang kali ini tidak bar-bar, melainkan sangat manis. "Karena aku sudah mengeringkan rambut di rumahmu, dan karena kau sudah melihatku mandi—eh, hampir melihatku mandi—kau adalah pangeranku selamanya. Jangan coba-coba mencari wanita kota yang bicaranya berisik, oke? Aku akan menjahit mulut mereka kalau mereka mendekatimu!"
Nael hanya bisa menghela napas pasrah, namun ada sedikit tawa kecil di matanya yang tersembunyi. Ia kembali menulis: "RAMBUTMU SUDAH KERING. SEKARANG TIDURLAH. SAYA AKAN TIDUR DI SOFA."
"APA?! SOFA?!" Alurra langsung berdiri tegak, jubah mandinya hampir melorot jika ia tidak segera menahannya. "Tadi di burung besi janjinya apa? Satu kamar! Satu ranjang! Aku tidak mau tidur sendirian! Kalau naga hitam berisik tadi keluar lagi bagaimana?!"
Nael memijat pelipisnya. Hairdryer itu sudah mati, Alurra, batinnya frustrasi. Namun melihat tatapan Alurra yang mendadak ketakutan (entah sungguhan atau akting), Nael tahu ia telah kalah telak malam ini.
...****************...
aku suka namanya Nael ....