NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Mengerti

Begitu mobil berhenti di depan teras, Cassie tidak menunggu Liam membukakan pintu. Ia segera keluar, bergumam pelan tentang tugas kuliah yang harus segera diselesaikan, dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Ia bersyukur suasana rumah sepi, Jino dan Marco pasti masih di kantor atau sedang mengurus sisa keperluan logistik. Cassie tidak sanggup jika harus memasang wajah ceria di depan mereka sekarang.

​Di ruang tamu yang sunyi, Cassie berdiri di balik tirai jendela yang sedikit terbuka, tanpa sengaja mencuri dengar percakapan di luar.

​"Aku antar ya. Hari sudah mulai gelap," suara Liam terdengar berat, penuh nada tanggung jawab atau mungkin rasa bersalah yang sedang ia alihkan.

​"Tidak perlu, Liam," sahut Amanda lembut. Suaranya terdengar begitu tenang.

"Mobilku kan ada di sini. Aku bisa pulang sendiri. Kau masuklah, urus Cassie. Dia sepertinya sangat terganggu dengan ucapanmu tadi."

​Amanda menyentuh lengan Liam sekilas, sebuah gerakan yang sangat sopan namun penuh perhatian.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, dan jangan biarkan dia salah paham. Aku datang ke sini untuk membantumu, bukan untuk merusak apa yang sudah kau bangun."

​Liam hanya terdiam, menatap Amanda dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Masuklah, Liam. Aku akan mengabari jika ada perkembangan lagi dari kementerian," pungkas Amanda. Ia kemudian berjalan menuju mobil putihnya yang terparkir anggun, masuk ke dalam, dan melaju pergi dengan sangat tenang.

​Dari balik jendela, Cassie merasa dadanya semakin sesak. Amanda benar-benar sosok wanita yang pengertian, begitu sempurna hingga rasanya tidak nyata. Dia tidak egois, tidak memaksa, bahkan justru mengingatkan Liam untuk mempedulikan Cassie.

​Justru kebaikan itulah yang membuat Cassie merasa kalah telak.

Jika Amanda jahat, Cassie bisa marah. Jika Amanda kasar, Cassie bisa melawan. Tapi bagaimana cara melawan seseorang yang begitu baik dan selalu menempatkan kepentingan Liam di atas segalanya?

***

Liam melangkah perlahan menuju kamar Cassie, langkah beratnya bergema di koridor yang sunyi. Ia berhenti di depan pintu kayu itu, menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian yang biasanya tak pernah ia butuhkan hanya untuk bicara. Dengan satu ketukan pelan, ia membuka pintu.

​Ia mendapati Cassie sedang duduk di tepi tempat tidur, membelakanginya. Bahu gadis itu tampak kaku.

​"Cassie," panggil Liam rendah. Ia mendekat dan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Soal di mobil tadi... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu untuk menyakitimu. Aku hanya belum bisa sepenuhnya mengontrol emosiku saat masa lalu itu tiba-tiba muncul di depanku."

​Liam sudah bersiap untuk mendengar Cassie berteriak, menangis, atau setidaknya menyuruhnya keluar. Ia tahu Cassie punya hak untuk meledak.

​Namun, Cassie justru berbalik perlahan. Tidak ada air mata di wajahnya. Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah senyum yang meski terlihat rapuh, tetap tampak sangat tenang.

​"Aku tidak marah, Liam," ucap Cassie lembut. Suaranya stabil, meski ada getaran kecil yang ia sembunyikan sekuat tenaga.

​Liam mengerutkan dahi, merasa heran. "Kau... tidak marah? Setelah apa yang aku katakan tadi?"

​Cassie menggeleng. "Untuk apa? Hubungan kalian memang sudah berakhir lama sekali, kan? Wajar kalau melupakan seseorang yang pernah berarti butuh waktu. Lagipula tidak ada alasan bagiku untuk marah pada orang sebaik dia."

​Kata-kata Cassie terdengar sangat logis, sangat dewasa. Namun, bagi Liam, ketenangan itu justru terasa lebih menyakitkan daripada amarah. Ia bisa melihat Cassie sedang berusaha keras mengubur rasa sakit hatinya di bawah tumpukan alasan rasional.

​"Cassie, kau boleh marah jika kau merasa sakit hati," Liam melangkah maju, mencoba meraih tangan Cassie.

​Cassie menarik tangannya pelan, berpura-pura merapikan bantal di sampingnya.

"Aku tidak apa-apa, Liam. Aku hanya sedikit lelah karena kuliah tadi. Sebaiknya kau istirahat juga, kau pasti lelah mengurus berkas-berkas dengan Amanda seharian."

​Liam terpaku di tempatnya. Cassie tidak menyerangnya dengan kata-kata, tapi sikap maklum yang Cassie tunjukkan justru membangun tembok yang jauh lebih tinggi di antara mereka.

Cassie memilih untuk mengalah pada kesempurnaan Amanda, dan itu membuat Liam merasa jauh lebih bersalah daripada sebelumnya.

***

Liam berbaring di kamarnya sendiri, menatap langit-langit, namun pikirannya tertahan di kamar Cassie.

Jawaban Cassie yang "terlalu pengertian" justru menghantui Liam lebih parah daripada mimpi buruk mana pun.

​Liam tahu Cassie sedang berbohong pada perasaannya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, Cassie melakukan itu karena dia merasa harus bersaing dengan standar kesempurnaan yang dibawa Amanda.

​Sekitar jam dua pagi, Liam tidak tahan lagi. Ia bangkit, keluar dari kamarnya, dan mendapati lampu dapur masih menyala kecil.

Di sana, ia melihat Cassie sedang duduk di kursi bar, memandangi segelas air putih yang belum disentuh.

​"Belum tidur?" suara Liam memecah keheningan.

​Cassie tersentak, lalu segera memasang wajah netralnya. "Hanya haus, Liam."

​Liam berjalan mendekat, tapi ia tidak berhenti di meja. Ia berdiri tepat di depan Cassie, menghalangi pandangannya.

"Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja, Cassie. Aku lebih suka kau melemparku dengan gelas daripada kau bicara seolah kau memaklumiku tadi."

​Cassie menunduk, bibirnya bergetar sedikit. "Lalu aku harus bagaimana? Amanda datang membawa solusi untuk masalahmu yang paling berat. Dia dewasa, dia tenang, dia tahu cara bicara dengan menteri, dia tahu segalanya tentangmu. Kalau aku marah, aku hanya akan terlihat seperti anak kecil yang tidak tahu berterima kasih di matamu, kan?"

​"Kau tidak akan pernah terlihat seperti itu," bantah Liam keras. Ia memegang kedua bahu Cassie, memaksa gadis itu menatapnya.

"Dengarkan aku. Aku salah karena mengatakan hal itu di mobil. Tapi alasan aku tertarik padamu, alasan aku menjemputmu di Raven's Gate, dan alasan aku menginginkanmu di hidupku adalah karena kau bukan Amanda."

​Cassie menatap mata Liam yang tampak frustrasi.

​"Aku tidak butuh orang lain yang mengerti bisnisku atau bisa bicara dengan menteri jika itu artinya aku harus kehilanganmu," lanjut Liam, suaranya kini merendah.

"Amanda adalah masa lalu yang aku selesaikan dengan cara yang salah. Tapi kau... kau adalah pilihanku yang sekarang. Jangan pernah merasa kau harus menjadi tenang atau lembut seperti dia hanya supaya aku mencintaimu."

​Cassie terdiam, benteng pertahanan yang ia bangun sepanjang sore akhirnya runtuh. Setitik air mata jatuh di pipinya.

​Liam menarik Cassie ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang. Cassie akhirnya menangis pelan di dada Liam, melepaskan semua sesak yang ia tahan sejak di mobil tadi.

Liam menangkup wajah Cassie dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap air mata yang tersisa di pipi gadis itu sebelum ia menunduk dan menciumnya.

​Ciuman itu tidak seperti biasanya yang menuntut, kali ini terasa dalam, penuh kerinduan, dan seolah membawa pesan bahwa hanya Cassie yang ada di pikirannya saat ini.

Liam ingin membuktikan secara nyata bahwa kehadiran Amanda tidak mengubah apa pun dalam perasaannya. Tangannya berpindah ke pinggang Cassie, menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka di tengah dapur yang remang itu.

​Napas Cassie memburu, ia sempat terbuai dalam ciuman itu, merasakan kehangatan dan kekuatan Liam yang selalu membuatnya merasa terlindungi.

Namun, di tengah ciuman yang mulai memanas itu, logika Cassie tiba-tiba berteriak.

​"Liam... tunggu," bisik Cassie terengah-engah, mencoba menjauhkan wajahnya sedikit meski tangannya masih mengalung di leher pria itu.

​Liam tidak berhenti begitu saja, ia beralih mencium rahang Cassie dengan suara rendah yang serak. "Kenapa?"

​"Jino... dan Marco," gumam Cassie waspada, matanya melirik ke arah koridor yang gelap menuju kamar-kamar anak buah Liam.

"Mereka bisa bangun kapan saja."

​Liam menghentikan gerakannya sejenak, ia mendengus geli, dahi mereka masih bersentuhan.

"Mereka sudah tidur seperti kerbau setelah seharian bekerja. Aku yakin Jino tidak akan bangun bahkan jika ada ledakan di halaman depan."

​"Tetap saja," Cassie mendorong dada Liam pelan, mencoba bersikap tegas meski wajahnya sudah merah padam.

"Kau tahu Jino punya hobi muncul di waktu yang paling tidak tepat. Aku tidak mau jadi bahan ledekan dia saat sarapan besok pagi."

​Liam menatap mata Cassie, melihat kilat kekhawatiran yang lucu di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya.

"Baiklah. Kau menang kali ini. Tapi jangan harap kau bisa kabur besok pagi."

​Ia mencium dahi Cassie lama.

Liam menggandeng tangan Cassie, mengantarnya kembali ke depan pintu kamarnya.

​"Tidurlah. Jangan pikirkan Amanda lagi. Hanya aku dan kau, mengerti?" ucap Liam tegas sebelum akhirnya melepaskan tangan Cassie.

​Cassie mengangguk, masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

1
Donna
Malah fokus ke kesalahan oranglain
Ella Elli
yeehh🤣
Ella Elli
dih malah jadi Cassie yang minta maaf 😒
npd jangan2 nih si liam
Rosna Wati
pergi dari rumahnya liam..
Ella Elli
Sampe lupa kemaren abis ngapin sama Cassie 😌
Ella Elli
Emang dasarnya gamon 😭
Ella Elli
OMG
Ella Elli
🤣🤣
Donna
Yaudah lah sama Amanda aja, sama2 udah dewasa juga kan
Donna
Si Liam ini cowo ter plin plan
Donna
bisa-bisanya
Donna
terlalu aman bahasanya 🤣
Four Forme: kurang berani gtu ya 🙈
total 1 replies
Donna
ini lagi anu kah?🤣
Donna
akal akalan
Donna
yang mulai bawa bawa masa lalu siapaaaaa
Donna
tuh kan masih cinta si liam mah
Donna
hadeuh
Harley
/Curse//Curse/
Harley
kirain part ini penuh dengan rasa ngambang gitu, endingnya aman 🙂👍
Harley
/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!