“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tempat yang Perlahan Digantikan
Alvian menunduk sebentar. Lalu berkata pelan, “Tadi… kalau Al jatuh…” Ia berhenti sejenak. “…Om pasti pegang, 'kan?”
Fahri tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak.
“Iya,” jawabnya akhirnya. Pelan. Pasti. “Om pegang.”
Alvian mengangguk kecil. Senyum itu kembali muncul. Kali ini… lebih kecil. Namun cukup untuk membuatnya tidak lagi menoleh ke arah gerbang.
Ayza berdiri di pinggir lapangan.
Sejak tadi… ia tidak benar-benar bernapas dengan tenang. Matanya tidak pernah lepas dari satu titik.
Alvian.
Dan pria di sampingnya.
Fahri.
Setiap tarikan tambang itu seperti ikut menarik sesuatu di dalam dadanya. Kuat. Menyesakkan.
Saat Alvian hampir kehilangan keseimbangan, jantungnya seperti ikut jatuh.
Namun detik berikutnya… Fahri menahan. Menopang. Tanpa berkata apa-apa. Dan Alvian… tetap berdiri. Tetap bertahan.
Napas Ayza tertahan. Ia tidak tahu… sejak kapan matanya mulai memanas. Yang ia tahu, anaknya tidak sendiri. Meski bukan dengan orang yang seharusnya.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Bukan karena marah. Tapi karena… ada rasa yang lebih sulit dijelaskan.
Lega… dan sekaligus perih.
Di tengah sorak-sorai orang tua lain, ia justru terdiam. Tatapannya tidak berpindah. Melihat bagaimana Alvian menoleh ke Fahri. Melihat bagaimana bocah itu tersenyum.
Senyum itu… begitu lepas. Begitu tulus. Dan justru karena itu, dada Ayza terasa seperti diremas pelan.
Karena senyum seperti itu… seharusnya hanya muncul untuk satu orang.
“Harusnya… kamu yang ada di sana,” gumamnya lirih dalam hati.
Bukan Fahri. Bukan siapa pun. Tapi, ayahnya.
Ia mengedip cepat. Menahan sesuatu yang hampir jatuh. Tidak di sini. Tidak sekarang.
Namun saat Alvian tertawa kecil di sana… dan tanpa sadar sedikit mendekat pada Fahri, sesuatu di dalam dirinya… benar-benar retak.
Bukan karena Fahri salah. Justru karena… ia melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang lain.
Dan sejak lomba itu dimulai… Ayza baru menyadari satu hal.
Yang perlahan berubah… bukan lagi hubungan mereka sebagai suami istri. Tapi sesuatu yang seharusnya tidak pernah tergantikan.
Tempat itu, yang dulu hanya milik seorang ayah… kini… perlahan mulai diisi oleh orang lain.
***
Di dalam mobil Kaisyaf. Tatapan pria itu masih tertuju pada putranya dan Fahri.
Tarikan tambang dimulai. Dan Fahri menarik. Menahan. Menjaga. Seperti… seperti yang seharusnya seorang ayah lakukan.
Jari-jari Kaisyaf menekan setir lebih kuat. Sampai buku-buku jarinya memucat.
Namun ia tidak bergerak. Tidak keluar. Tidak menghampiri. Hanya… melihat.
Melihat bagaimana anaknya bertahan di atas pundak pria lain.
Melihat bagaimana Fahri menjaga keseimbangannya… tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Lalu, lomba itu berakhir. Tarikan terakhir dilepas. Tubuh-tubuh yang tadi tegang perlahan mengendur.
Dan saat itu, Alvian menoleh. Ke arah Fahri. Senyum kecil itu akhirnya muncul. Lepas. Ringan. Seolah semua tegang tadi… hilang begitu saja.
Dan tanpa sadar, bocah itu sedikit condong ke depan. Ke arah Fahri. Lebih dekat. Percaya. Nyaman.
Dan di saat itu, sesuatu di dalam dada Kaisyaf… terasa seperti ditarik paksa.
Bukan karena cemburu. Bukan juga karena marah. Tapi karena, itu adalah tempatnya.
Dan ia sendiri yang memilih untuk tidak berada di sana.
Napasnya keluar pelan. Berat. Matanya masih tertuju ke satu titik itu.
“Bagus…” gumamnya pelan.
Entah untuk siapa.
Untuk Fahri. Atau untuk dirinya sendiri yang sedang meyakinkan sesuatu.
Tangannya perlahan melepas setir. Namun tidak untuk keluar. Ia justru bersandar ke kursi.
Tetap di tempatnya. Seolah ada garis yang tidak boleh ia lewati. Dan hari ini, ia memilih… tetap berada di sisi yang lain.
Ia menyalakan mesin mobil. Tatapannya kembali dingin. Terkunci. Seolah semuanya tadi… tidak pernah terjadi.
Mobil itu perlahan bergerak. Menjauh. Dari tempat di mana seharusnya ia berada.
***
Usai lomba, suasana masih riuh. Beberapa anak tertawa, sebagian lain sibuk menceritakan kemenangan mereka.
Fahri berdiri di dekat Alvian. Tangannya masih sesekali menepuk pelan bahu bocah itu.
Langkah seseorang mendekat.
“Maaf…” suara seorang pria terdengar ragu, tapi antusias. “Anda Fahri Al-Fadhli, 'kan?”
Fahri menoleh.
Pria itu menatapnya lekat, seolah memastikan. “Pembalap nasional yang masuk lima besar di balap Asia itu?”
Beberapa orang tua lain mulai menoleh. Memerhatikan.
Fahri mengangguk kecil. “Iya.”
“Masya Allah… ternyata benar,” ucap pria itu, senyumnya melebar. “Anda lebih tampan dari yang di layar.”
Beberapa ibu-ibu mulai berbisik pelan.
“Itu dia?”
“Iya, kayaknya benar deh…”
“Yang kemarin masuk balap Asia itu, 'kan?”
Fahri tersenyum tipis. Sedikit canggung, tapi tetap ramah. “Terima kasih, Pak.”
“Prestasi Anda itu luar biasa,” lanjut pria tadi. “Masuk lima besar di balap Asia… itu kebanggaan, lho.”
Fahri menggeleng pelan. “Baru lima besar, Pak. Belum podium.”
“Lima besar itu sudah luar biasa,” potong pria itu cepat. “Sebagai fans, saya bangga.”
Bisik-bisik makin terdengar.
“Gila… ternyata dia…”
“Gak nyangka ketemu di sini…”
“Aku juga fansnya…”
Di samping Fahri, Alvian berdiri diam. Matanya menatap pria di sebelahnya itu. Lama.
Biasanya… ia sudah tahu. Om Fahri hebat. Tapi mendengar orang lain mengatakannya seperti itu… rasanya berbeda.
Dadanya terasa hangat. Kecil. Tapi jelas.
Tanpa sadar, tangannya sedikit mendekat. Menyentuh sisi baju Fahri. Pelan. Seolah… ingin memastikan pria itu benar-benar ada di sana.
“Boleh… minta foto bareng, Mas?” tanya pria itu lagi.
Fahri tersenyum.
“Tentu, Pak.”
Ia sedikit bergeser, memberi ruang. Pria itu berdiri di sampingnya, seseorang lain langsung membantu mengambil foto.
Klik.
Beberapa orang lain mulai mendekat. Minta foto. Menyapa. Fahri melayani dengan sabar.
Dan di tengah keramaian itu… Alvian berdiri di sampingnya. Tidak mengatakan apa-apa. Namun kali ini… ia tidak menjauh.
***
Seorang anak di samping Alvian menepuk lengannya pelan. “Al… ternyata Om kamu hebat, ya.”
Alvian menoleh. Lalu… tersenyum. Kecil, tapi bangga. “Iya.”
Anak itu melanjutkan, polos seperti biasa. “Ayahku bukan pembalap. Tapi aku suka naik motor sama Ayah. Di depan.” Ia tertawa kecil. “Seru banget.”
Alvian diam.
“Kalau kamu… sudah pernah naik motor sama Om kamu?”
Alvian menggeleng pelan.
Anak itu mengerucutkan bibir. “Wah… sayang sekali.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa tertinggal.
Beberapa orang tua mulai pamit. Keramaian perlahan berkurang. Satu per satu, orang yang tadi meminta foto mulai meninggalkan tempat itu.
Kini, suasana jauh lebih tenang.
Alvian menatap Fahri. “Om…”
Fahri menunduk. “Iya?”
“Om ke sini pakai apa?”
“Motor,” jawab Fahri ringan. “Tadi buru-buru. Takut terlambat… tapi tetap aja telat.” Ia tertawa kecil.
Mata Alvian langsung berbinar.
“Boleh Al pulang bareng Om?” Kalimat itu keluar cepat. Penuh harap.
Fahri tidak langsung menjawab. Tatapannya… beralih ke Ayza.
Alvian mengikuti arah itu. Ia menoleh ke ibunya. “Umi…” suaranya melembut. “Boleh, ya?”
Tangannya menarik pelan ujung hijab Ayza. Wajahnya menengadah. Mata itu… jernih. Memohon. Tanpa paksaan, tapi sulit ditolak.
Ayza terdiam.
...🔸🔸🔸...
...“Kehadiran yang kosong lebih menyakitkan saat ada orang lain yang mengisinya.”...
...“Yang hilang bukan langsung pergi, tapi pelan-pelan tergantikan.”...
...“Seorang anak tidak berhenti berharap… sampai ia mulai menerima.”...
...“Ia tidak kehilangan ayahnya hari itu… ia hanya belajar hidup tanpa menunggunya.”...
...“Beberapa posisi tidak direbut… hanya ditinggalkan terlalu lama.”...
...“Kadang, yang datang bukan yang ditunggu, tapi yang akhirnya tinggal.”...
...“Yang hilang bukan langsung pergi, tapi pelan-pelan tergantikan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.