Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pawang
Shanum sudah mengikat rambutnya asal terkesan longgar, "jadi apa yang bener ahhh elah, laper gue Ndu...kapan boleh balik ini?" ia mencoret kata yang sempat ditulis, bahkan...seperti biasa, gadis ini membuat grafiti di belakang buku notes miliknya itu yang telah penuh, bukan lagi namanya melainkan...
Sudut Bung Tomo...ia poles dengan memiringkan ujung pensil agar setiap hurufnya memiliki gradasi warna abu. Jemima sempat melihatnya, "bagus Num, buat spot photobooth." Tunjuk Mima yang kemudian menunjukan itu pada Pandu.
"Cocok. Jadikan!"
Jemima menjepit hidungnya saat Canza baru saja masuk seusai latihan membawa serta peluh dan bau matahari lalu ia membuka topinya, semakin saja Mima membuat gestur muntahnya sambil mendorong kacamata.
"Nih si Bolang baru balik! Bau petualangan atau perjuangan, mas?" Lutfi baru kembali dari kantin dengan membawa dua cup es jeruk. Canza tertawa, "bau lelaki nih!"
"Bau mo nyet, emang." Hardik Mima. Mungkin jika orang lain Canza akan tersinggung, tapi Mima...entahlah, ia sama sekali tak keberatan justru....
"Coba cium, mi..." ia menyerahkan topinya yang membuat Jemima berpindah tempat.
"Mau itu Ndu!" tunjuk Shanum, "ngga ada konsumsi apa gimana sih ini? Ya ampun, ketua panitianya pelit amat..."
"Belum apa-apa udah mau nyalip uang jalan, Num..." tawa Vero, "kalo jadi pejabat gimana, tuh?"
"Gue ngga minat masuk kabinet Indonesia somplak, gue ngga mau jadi wanita karir juga, maunya jadi wanita yang ngabisin duit laki buat beli skin care, zumba, paling cuma anter anak sekolah terus gosipan sambil mukbang sama emak emak TK..." jawab Shanum.
Chika tertawa, "cita-cita mu sungguh mulia sayangkuhhh..."
Lutfi tergelak, "kalo bisa mah spek laki Shanum yang bok3rnya aja emas, ya Num?"
Shanum mengangguk, "betul."
Savero tertawa, "parah. Entar gue bilangin Naka...kalo spek laki Shanum tukang emas, biar dia tutup percetakan, alih profesi..."
Pandu yang tengah serius mendorong kepala Shanum, "ntar gue kasih es jeruk, ah bawel! Tapi kerja dulu."
Shanum meraih pulpen dan notenya, "buruan, gimana jadinya nih konsep acara puncak?! Kelamaan jari gue kapalan nahan pulpen." sewotnya, fokusnya itu buyar dan terganggu dengan yang ada di ujung sana, pandangannya berkali-kali jatuh ke arah pintu masuk, ngobrolin apa sih, lama banget! Anteng banget! pasti bahas masa lalu..
Bahkan Daffa saja yang menjadi penghubung Rea dan Naka tadi sudah kembali dan berdiskusi dengannya, dengan panitia lain tentang konsep acara.
Frizka masuk dengan senyum yang sulit diartikan orang lain namun dipahami teman-temannya sambil menenteng lumpia basah, "mauuu!" Chika menyambutnya lebih dulu.
"Hey, mas-mas ketos lagi pacaran ya di luar? CLBK ngga sih? Ndu...buruan, cepe gocap kan kalo tau gosip Naka lebih dulu dari Mak Buti?" ajak Frizka membuat ketiga teman Naka itu tertawa renyah, "elahhh, siapa emang cewek Naka?"
"Tuh Rea..." tunjuk Frizka ke arah luar, "Lo bertiga aja yang ngga ngeuh, sobat sendiri Deket sama cewek."
Canza sempat merangkak demi melihat ke luar dimana jauh terhalangi beberapa tiang Naka memang sedang bicara dengan Rea, "oh, dibilangin bukan. Gue bilang juga Naka sukanya Shanum..."
Si empunya nama justru tak begitu menggubris, hanya sejenak menghentikan gerakan tangannya lalu melanjutkannya lagi.
Ada rasa senang jika Naka sudah seterbuka itu pada ketiganya, tapi...apa yang sedang dilakukan Naka sekarang, membuat moodnya terlanjur jatuh.
Savero, mencium aroma lumpia basah itu perutnya ikut-ikutan lapar, "gue ke kantin dulu lah..." nyatanya tak cukup hanya se-cup es jeruk saja perutnya diisi. Mesti satu truk jeruk plus kulit-kulitnya sekalian.
Lutfi dan Canza ikut beranjak dari ruang OSIS.
"Eh!!!" Shanum menjeda tugasnya lalu beranjak menyusul, "Nzaaa! Titip!" teriak Shanum.
"Apaan?! Separuh hati? Pretttt!"
Jemima tertawa, "emang si alan kan orang itu."
"Nza...gue aus, laper ihhh!" karena jaraknya yang menjauh, dan Shanum enggan untuk menyusul makanya ia berteriak-teriak. Dari pandangannya ia juga melihat jika di ujung sana Naka terlihat masih asik berdiskusi dengan Rea, tepatnya kini keduanya sudah mengobrol santai...Shanum berdecih menatap malas, sengaja banget! Ia masuk kembali ke dalam.
Rea masih cekikikan disana, entah apa yang dibahas, hanya saja Shanum semakin muak melihatnya.
"Naka emangnya masih disana ya, kok anteng banget ngobrolnya sampe ngga balik-balik, mentang-mentang bukan ketua panitia...apa justru udah balik?" tanya Jemima.
"Tasnya masih disitu." tunjuk Chika ke arah tas Naka diantara tumpukan tas lain.
"Lagi nostalgia sama Rea..." jawab Daffa menyahut.
Pandu yang baru saja santai kini baru bisa angkat bicara, "nostalgia apaan, semasa jadi finalis abang none? Atau pas kelas X?" makin saja obrolan ini membuat Shanum berdebar, sebentar lagi lava pijar siap meledak.
"Oh, emang sekelas dulu ya?" tanya Jemima kini.
Pandu, si paling tau dan si paling google ini mengangguk, "dulu malah sering di ship-ship in sama temen sekelasnya. Gue tau soalnya temen gue sekelas sama mereka."
Shanum mendelik mendengarkan obrolan teman-temannya itu dengan perasaan campur aduk.
"Emang couple goals kayanya kalo jadi." Angguk Frizka.
Srekkk!
"Yahh..." refleks Shanum melihat kertas yang tengah ia beri gradasi pensil sobek sebab ia yang terlalu keras mewarnainya.
"Lah, diapain itu kertas sampe sobek begitu ?"
Shanum beranjak, "mau jajan lah gue!" Bahkan ia hampir memakai sepatunya, tapi di luar dugaan justru Lutfi sudah kembali sendirian dengan membawa satu cup es jeruk dan kebab, "Num...nih, kiriman dari hamba Allah!"
Shanum terdiam, begitupun mereka yang ada di ruangan termasuk Pandu, "siapa Fi, hamba Allah, so-soan misterius banget!"
Shanum menerima itu sementara yang lain mulai bertanya-tanya.
"An jirrr, siapa?!" heboh Chika, Frizka dan Jemima. Sementara Adit ia menatap Pandu, Naka?? Seriusan?
*Mari pulang, marilah pulang...marilah pulang bersama-sama*!!! Chika tertawa menutup pintu ruang OSIS untuk kemudian Adit yang kini menguncinya.
Shanum berjalan duluan bersama teman-temannya, benar-benar meninggalkan Naka di belakang bersama yang lain.
"Num, udah pesen ojek belum? Atau mau gue anter?" tanya Pandu.
"Lah, Ndu...terus gue gimana? Nunggu Lo anter Shanum atau gue duluan dianter?" tanya Chika.
"Kita dempet 3 aja gimana?" tawar Pandu.
Jemima tertawa, "Chika di depan ya kaya bocah yang pake bangku tambahan."
Shanum bergidik, Chika tertawa.
"Gue naik ojol aja kaya biasa." Bahkan Shanum sudah menunjukan aplikasi untuk bersiap memesan.
*Drrtt*...
Shanum tiba-tiba menurunkan dan mendekap ponsel itu sendiri melihat pesan yang masuk, untung saja teman-temannya tak melihat notifikasi pop up yang masuk.
**Mainaka**
*Tunggu di deket motor gue*.
**Shanum**
*Engga usah. Gue udah pesen ojek*.
**Mainaka**
*Batalin*.
**Shanum**
*Udah terlanjur deket. Anter aja Rea* 🤗
Dan sejurus kemudian, Naka justru memanggil Pandu, "Ndu...gue mau ngomong sama Lo sama yang lain.."
Shanum menoleh ke arah Naka yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya, "ngomong apa?" bukan Pandu, bukan pula Chika meski kemudian Pandu dan yang lain ikut penasaran.
"Selama ini sebenernya---"
Shanum membeliak. Disaat semua terhenti dan senyap sejenak, Shanum justru menghentakkan kakinya dua kali, membuat kehebohan sendiri disana, "gilaaa ya...jam berapa sih ini, gue rapat sampe pegel banget kaki, ngerasa ngga sih?"
"Apa sih Num, heboh banget?!"
"Gimana Ka? Lanjut.."
Shanum melotot lalu mengetik kembali dengan kilat.
**Shanum**
*Oke...gue batalin*.
.
.
.
.
"