Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar Janji
"Kebiasaan banget, kalau udah berdua aku dilupain!" Ujarnya seraya memasang wajah cemberut
"Siapa juga yang lupain kamu, gimana sama model barunya?" Tanya Raina
"Aman, kita tinggal bikin foto shoot biar lebih gampang pasarinnya"
Raina mengangguk, "Ya udah nanti aku coba cari fotografer buat nanganinya"
"Aku punya kenalan fotografer, nanti aku kabarin"
"Aahh, mas calon. Kamu memang yang terbaik" Maryam mengangkat dua ibu jarinya
"Makasih banget ya Syafiq, kamu selalu punya solusi untuk setiap masalah!" Raina tersenyum
"Sama-sama" Syafiq senang jika dirinya diperlukan "Ya udah aku kekampus dulu, ada kelas siang soalnya"
"Jangan jelalatan liatin mahasiswi yang cantik-cantik ya pak dosen!" Maryam memberi peringatan
Syafiq hanya menggelengkan kepalanya "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Sahut dua gadis berwajah cantik itu
Sementara itu dikantor, Kevin berulang kali mengecek ponselnya. Entah apa yang ia tunggu sejak tadi
Pesan yang ia kirimkan sejak semalam belum juga di jawab. Sejak tadi Raina tidak mengabarinya atau sekedar bertanya
"Tuan, malam ini kita ada pertemuan bisnis" Evan membacakan jadwal atasannya itu
"Kamu atur saja!" Kevin malas untuk membahas apapun, pikirannya penuh akan sikap cuek istrinya itu
Kevin tidak kembali kerumah, ia memilih untuk membersihkan diri di penthouse. Ia akan lihat sampai dimana sikap cuek istrinya itu
Sebuah hotel berbintang menjadi tempat diselenggarakannya acara para pebisnis kalangan atas
Ditempat itu, Kevin berbaur dengan para rekan bisnisnya. Pengusaha muda itu mulai menyapa sesama rekan bisnisnya
"Apa kabar tuan Kevin" Sapa seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan
"Baik tuan Robert, tuan sendiri?"
"Saya baik, sangat baik" keduanya terkekeh "Maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahan anda, saya sangat menyesal!"
"Tidak masalah tuan Robert, saya juga sudah terima hadiahnya"
"Dimana istri anda? Saya jadi penasaran secantik apa nyonya Argantara!"
"Anda bisa saja" Kevin terkekeh lalu keduanya duduk hingga seorang pelayan datang membawa dua gelas minuman
"Silahkan!"
"Saya tidak minum alkohol" Tolak Kevin
"Ini kadar alkoholnya rendah, Nyonya Argantara tidak akan tahu"
Keduanya tertawa lalu Kevin menenggak minuman miliknya. Setelahnya barulah keduanya kembali bercakap
Kevin merasakan kepalanya pusing, pandangannya juga memburam. Beberapa kali ia menggeleng agar kesadarannya kembali
"Saya permisi dulu tuan Kevin, senang bertemu dengan anda" Tuan Robert mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Kevin
Kevin kembali duduk, keringat mulai membasahi keningnya. Tubuhnya terasa panas, ia kembali melihat gelas yang telah kosong
Ia memaksakan diri untuk bangkit, tanpa berpamitan terlebih dahulu, pria tampan itu berlalu meninggalkan acara. Ia tahu apa yang kini ia inginkan
Mobil melaju dengan Kevin yang mulai kehilangan kendali akan dirinya. Kevin menatap bangunan didepannya, kenapa ia kembali kerumah dan bukannya ke penthouse
Tanpa menunggu lama, ia masuk kedalam rumah. Dengan langkah gontai pria itu menuju kamarnya
Pintu dibuka dengan kasar, Raina yang berada didalam kamar terlonjak. Wajahnya terlihat panik karena tubuhnya yang hanya berbalut handuk
Ia pikir jika sang suami tidak akan kembali kerumah, itu kenapa ia lebih bersantai. Wanita cantik itu berusaha untuk terlihat berani sambil mencengkram handuk miliknya
"Mas, kamu pulang?" Suaranya terdengar bergetar
"Tolong aku Rain" Tatapan Kevin yang terlihat berbeda membuat Raina merasa takut, suaminya seperti seseorang yang berada dalam pengaruh obat
"Kamu kenapa mas?" Raina semakin ketakutan saat Kevin menggenggam tangannya yang tengah mempertahankan handuk putih itu "Mas sadar!"
Percuma saja, kini handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya kini teronggok di atas lantai. Raina masih mencoba meloloskan diri namun tenaganya tidak cukup
Tubuhnya dihempas diatas tempat tidur lalu Kevin mengukung. Cairan bening mulai luruh saat sang suami mulai menyusuri setiap lekuk tubuhnya
"Jangan mas" Raina memejamkan matanya saat sang suami mulai bermain di area leher "Mashh"
Malam itu, Raina kehilangan segalanya ditangan suaminya sendiri. Janji Kevin jika dirinya tidak akan merenggut kesucian istrinya hingga mereka berpisah nyatanya dilanggar begitu saja
Kevin menggeliat, ia melihat jam yang terdapat diatas nakas lalu memijat kepalanya yang terasa berdenyut
Begitu kesadarannya kembali, ia melihat disamping kanan namun Raina sudah tidak berada disana. Ya, istrinya memang terbiasa bangun pagi
Kevin berpikir, semoga saja apa yang ia pikirkan tidak benar. Semoga saja bayangan semalam saat ia merenggut kesucian istrinya itu hanya mimpi
Kevin menyibak selimut, pria tampan itu mengusap wajahnya saat melihat noda merah diatas sprei berwarna putih
"Sial" Kevin mengumpat lalu meraih ponsel yang terdapat diatas nakas "Halo Evan, saya punya pekerjaan untuk kamu"
Telepon ditutup saat sang asisten telah menyanggupi. Kevin menuju kamar mandi, pakaiannya juga telah siap dan ia segera mengenakannya
Pria tampan itu keluar kamar, menuju ruang makan karena istrinya jelas berada di sana. Sesampainya disana, Kevin melihat jika wanita itu tengah menata menu sarapan dengan dibantu oleh tiga orang pelayan wanita
"Rain" Raina membeku. Astaga, jantungnya berdetak tidak karuan saat mendengar suara suaminya
Bayangan akan kejadian semalam tiba-tiba terlintas di kepalanya, Raina membalik diri lalu menatap sang suami. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja
"Mas Kevin butuh sesuatu?" Tanya Raina
"Saya mau bicara tentang kejadian semalam" Astaga, Raina baru saja ingin melupakan kejadian itu, sang suami malah mengingatkan "Semalam itu aku.."
"Waah sarapannya keliatan enak benget" Suara Cynthia membuat obrolan sepasang suami istri itu terhenti
"Selamat pagi Mah, Pah" Sapa Raina
"Selamat pagi sayang" Cynthia dan Renaldi menyahut "Kamu kenapa sayang? Sakit? Muka kamu keliatan pucet"
Perhatian Cynthia lalu tertuju pada cara jalan menantunya saat Raina mendekat kearah meja makan
"Rain gak pa-pa kok Mah" Wanita cantik itu berusaha untuk tersenyum
"Sekarang Mama tau, pasti gara-gara Kevin kan" Cynthia melirik kearah putranya yang diam saja "Mama seneng karena kalian udah mau menerima pernikahan kalian"
"Memangnya ada apa Mah?" Tanya Renaldi yang memang tidak mengerti
"Aduuh Papa, sebentar lagi kita punya cucu loh"
Uhhuk
Kevin tersedak, karena saat sang ibu mengatakan itu saat dirinya tengah menyesap teh nya
"Waah, akhirnya yaa Mah"
Pasangan suami istri itu terlihat bahagia, andai mereka tau jika malam itu terjadi karena Kevin yang dikuasai oleh obat
"Kamu sebaiknya dirumah saja! Istirahat!" Ujar Kevin pada sang istri, Raina memang menyempatkan diri untuk mengantar sang suami hingga ke beranda depan
"Aku baik-baik aja"
"Cara jalan kamu mengundang perhatian!" Raina terbelalak, bagaimana bisa suaminya bicara sefrontal ini
"Memangnya kenapa dengan cara jalanku?" Raina pura-pura tidak mengerti
"Aku minta maaf Rain, semalam itu aku benar-benar tidak sadar"