Haikal Sebastian Keano, tidak menyangka bahwa wanita yang telah melakukan cinta satu malam dengannya adalah calon istri kakaknya, Ghisell Carissa Adelardo. Karena yang mereka lakukan disaat mereka sedang sama-sama mabuk.
Padahal sang kaka, Rafael, begitu sangat mencintai Ghisell, dan Ghisell juga mencintai Rafael, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah.
Lalu bagaimana kisah mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
"Wanita itu Ghisell, calon iparku."
Perkataan Haikal bagaikan petir yang menggelegar, sangat mengejutkan. Begitu menusuk dan menikam sampai ulu hati. Bagaimana bisa Haikal telah membuat calon iparnya hamil padahal pernikahan kakaknya dan Ghisell tinggal menghitung hari.
Bara tak bisa menahan emosinya, bagaimana bisa Haikal membuat hamil calon istri kakaknya sendiri. Namun Karin berusaha untuk menahannya, dia seorang ibu, sesalah apapun anaknya, seorang ibu tidak ingin anaknya terluka meski oleh suaminya sendiri.
"Bagaimana bisa kamu menghamili calon istri kakakmu, Haikal? Masih banyak wanita di luar sana, tapi kenapa harus Ghisell?" Bara mengatakannya dengan nafas tersenggal menahan amarah, sementara Karin terus memeluknya, menahan tubuh itu.
"Tenangkan dulu hati kamu, Pa. Jangan emosi seperti ini."
"Bagaimana bisa aku tidak emosi? Bagaimana caranya kita menghadapi semua ini?" Bara masih tidak bisa meredamkan amarahnya.
Sementara Haikal hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca, sambil bersimpuh di lantai, dia sudah mempersiapkan diri jika mama dan papanya akan memukul dirinya, dia berhak mendapatkan itu.
"Tapi kamu ingat kan , Pa, Haikal tidak tau siapa Ghisell, malah saat waktu kita datang ke rumah Ghisell, Haikal malah pergi untuk menemui wanita yang di ceritakannya itu, dan ternyata wanita itu Ghisell." Karin mencoba untuk menjelaskan dengan apa yang dia cerna selama ini dari cerita Haikal mengenai wanita yang dicintainya.
"Pukul saja aku, Pa. Haikal pantas menerima hukuman itu!" lirih Haikal, "Jika tau wanita itu adalah Ghisell aku tidak akan mengejarnya, aku baru tau hari ini. Ghisell tidak salah, dia tidak tau apa-apa, malah waktu itu dia mabuk berat. Semua ini aku yang salah. Maafkan Haikal, Ma, Pa." Tanpa terasa air matanya mengalir, baru kali ini dia melihat ayahnya semarah itu, semua ini karena kesalahannya.
Bara mencoba menenangkan diri, dia mengatur nafas dengan pelan, dia seorang ayah, pastinya sangat kesulitan untuk memutuskan semua ini. Haikal harus bertanggung jawab. Tapi bagaimana dengan Rafael yang sangat mencintai calon istrinya? Mereka berdua adalah jagoannya, dia sulit untuk memutuskan atas siapa yang berhak atas Ghisell.
Bara segera berdiri, dia belum bisa mengatakan apapun, "Sudah malam, kita bahas ini besok bersama Rafael. Papa harus berpikir dengan matang dengan keputusan yang harus di ambil olehmu. Ini sangat berat, Haikal." Bara mengatakannya dengan mata berkaca-kaca, dia meninggalkan Haikal dan Karin yang masih berada di ruang tengah.
Haikal tidak tega melihat Karin yang nampak begitu sendu, Karin berusaha dengan kuat agar air matamya tidak terjatuh, dia merasa sedih karena masalah ini akan menimbulkan perselisihan kedua anaknya.
Haikal meneteskan mata, dia bersujud di kedua telapak kaki Karin. "Maafkan Haikal, Ma. Haikal sudah membuat mama dan papa kecewa. Bahkan Haikal telah membuat masalah yang besar sepeti ini."
Karin membantu Haikal berdiri, dia menghapus air mata anak bungsunya itu "Kita harus selesaikan masalah ini besok. Apapun yang terjadi, mama harap kamu dan kakakmu tetap menjalin hubungan persaudaraam dengan baik."
...****************...
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
Ghisell yang masih saja menangis, dia segera menghapus air matanya, kemudian dia membuka pintu kamar. Dia melihat sang mama tersenyum padanya. Namun senyuman itu memudar saat memperhatikan wajah anaknya yang terlihat sendu.
"Sayang, kamu habis nangis?"
"Nggak ko, Ma." Tetap saja Ghisell tak bisa menahan air matanya padahal dia sudah sekuat tenaga untuk menahannya.
Ghea langsung memeluk Ghisell membiarkan Ghisell menangis dipelukannya, dia mengusap lembut rambut Ghisell, begitu terdengar suara isakan tangis Ghisell menggema di kamar itu.
"Kenapa kamu menangis seperti ini? Cerita sama mama! Biasanya Ghisell suka cerita!"
Namun Ghisell enggan bercerita, dia hanya bisa nangis terisak didalam dekapan mamanya. Dia sangat takut, takut mama dan papanya akan marah dan kecewa jika mereka tau bahwa dirinya kini telah berbadan dua.
"Hmm... ya udah kalau Ghisell gak mau cerita gak apa-apa. Setiap masalah pasti punya solusi, kalau gak kuat menghadapinya bicara sama mama, biar mama bantu."
Tiba-tiba Ghisell merasa mual, dia melepaskan sang mama, dan berlari ke kamar mandi yang tersedia di kamar itu. Kebetulan ada wastafel tempat cuci tangan disana.
"Huekkk...Huekkkk."
Ghea mengikutinya ke kamar mandi, dia memijat tengkuk leher Ghisell dengan lembut.
"Kamu sakit, sayang? Mama panggil dokter dulu ya."
Namun Ghisell menahan tangan sang mama saat mau meronggoh saku dia gaunnya.
"Gak usah, Ma. Ghisell baik-baik aja kok."
"Baik gimana? Tadi muntah begitu."
"Ng-nggak, Ma. Ghisell gak apa-apa. Ghisell ngantuk, mau istirahat dulu."
Ghea terpaksa keluar dari kamar anaknya, walaupun hatinya penuh tanda tanya dikepalanya. Ghea berjalan menuju kamarnya sambil terus memikirkan sang anak. Ghisell akhir-akhir ini bertingkah agak aneh, yang biasanya susah makan jadi doyan makan dan sekarang dia muntah-muntah, juga terlihat murung. Bahkan dia nampak ketakutan saat dia bilang mau memanggil dokter. Membuat Ghea mengutuk dirinya sendiri dengan semua yang dipikirannya itu.
Gibran memeluk sang istri dari belakang, dia dari tadi terdiam duduk di tepi ranjang. "Kenapa bengong terus dari tadi?"
"Ghisell..."
"Kenapa dengan Ghisell?"
Ghea menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin cerita tentang apa yang ada dipikirannya, dia sangat mempercayai Ghisell, Ghisell gak mungkin begitu. "Oh nggak, nggak apa-apa kok. Tadi Ghisell muntah-muntah, aku mau panggil dokter, tapi Ghisell gak mau." Ghea mengatakannya dengan nada khawatir.
"Ya udah telepon aja Dokter Anton. Nanti kalau keadaaan Ghisell makin parah gimana? Bahaya kalau muntah-muntah terus."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...