NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 – Pelanggan yang Tidak Biasa

Tiga hari setelah kunjungan Pak Surya, kehidupan di warung kembali berjalan normal.

Setidaknya terlihat normal.

Para pekerja proyek masih menjadi pelanggan utama.

Paket hemat masih menjadi menu favorit.

Kerja sama dengan minimarket Rudi masih berjalan lancar.

Dan pesanan dari kantor kecamatan telah selesai tanpa masalah.

Namun Arga mulai menyadari sesuatu.

Lingkungan di sekitar mereka perlahan berubah.

Bukan perubahan besar yang langsung terlihat.

Melainkan perubahan kecil yang terjadi sedikit demi sedikit.

Lebih banyak kendaraan melintas.

Lebih banyak orang asing datang ke kawasan tersebut.

Lebih banyak bangunan yang mulai diperbaiki.

Tanda-tanda yang mungkin diabaikan orang lain.

Tetapi tidak oleh Arga.

Karena sekarang ia tahu bahwa perubahan besar biasanya diawali oleh perubahan-perubahan kecil seperti itu.

Pagi itu, warung sedang ramai ketika sebuah mobil putih berhenti di seberang jalan.

Bukan mobil mewah.

Namun cukup mencolok dibanding kendaraan yang biasa parkir di sekitar proyek.

Dua orang pria turun.

Mereka tidak langsung masuk ke warung.

Sebaliknya, mereka berdiri beberapa saat sambil memperhatikan lingkungan sekitar.

Kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan kamera.

Memotret jalan.

Memotret bangunan kosong.

Memotret beberapa lahan di sekitar kawasan.

Arga memperhatikan tanpa berkata apa-apa.

Beberapa bulan lalu, ia mungkin tidak akan peduli.

Sekarang berbeda.

Ia mulai belajar bahwa setiap orang datang dengan tujuan.

Dan orang yang membawa kamera ke kawasan yang sedang berkembang biasanya bukan wisatawan.

"Apa yang kamu lihat?"

Suara Maya terdengar dari samping.

"Dua orang itu."

Maya ikut menoleh.

"Oh."

"Kamu juga merasa aneh?"

"Mereka sudah memotret hampir lima menit."

Arga mengangguk.

Ternyata bukan hanya dirinya yang memperhatikan.

Namun mereka tidak membahasnya lebih jauh.

Karena pelanggan terus berdatangan.

Pekerjaan tetap harus dilakukan.

Menjelang siang, dua pria tersebut akhirnya masuk ke warung.

Salah satunya memesan kopi.

Yang lain membeli beberapa gorengan.

Kemudian mereka duduk di meja pojok.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Namun beberapa menit kemudian, salah satu dari mereka memanggil Arga.

"Mas."

"Iya?"

"Warung ini sudah lama buka?"

Pertanyaan sederhana.

Namun Arga langsung teringat Pak Surya.

Pola yang hampir sama.

"Sudah cukup lama."

Pria itu mengangguk.

"Pelanggan ramai."

"Syukurlah."

Kemudian pria tersebut mulai bertanya tentang hal-hal lain.

Mayoritas pelanggan.

Jam ramai.

Perkembangan kawasan.

Pertanyaan yang terdengar santai.

Tetapi terlalu spesifik untuk dianggap kebetulan.

Setelah sekitar sepuluh menit, mereka membayar dan pergi.

Namun sebelum keluar, salah satu dari mereka berkata,

"Kawasan ini akan berbeda dalam beberapa tahun."

Lalu tersenyum.

Kemudian pergi begitu saja.

Sore harinya, Arga mengantar pasokan gorengan ke minimarket Rudi.

Begitu masuk, ia langsung menceritakan kejadian tersebut.

Tak disangka, Rudi justru tertawa.

"Akhirnya mulai banyak yang datang."

"Kamu tahu mereka?"

"Tidak."

"Lalu?"

Rudi menunjuk ke arah jalan utama.

"Kalau sebuah daerah mulai menarik perhatian, orang-orang seperti itu akan bermunculan."

"Orang seperti itu?"

"Investor kecil."

"Pemburu lokasi usaha."

"Broker tanah."

"Pemilik toko."

"Macam-macam."

Arga mengangguk pelan.

Masuk akal.

Kalau kawasan ini memang sedang berkembang, tentu banyak pihak yang mulai mencari peluang.

Namun ada satu hal yang membuatnya penasaran.

"Kenapa mereka tertarik dengan warung kami?"

Rudi tersenyum.

"Kamu masih berpikir mereka datang untuk warungmu?"

Arga mengernyit.

"Bukan?"

"Mungkin sebagian."

"Lalu?"

Rudi melihat ke luar minimarket.

"Mereka datang untuk melihat apakah kawasan ini hidup."

Jawaban itu membuat Arga terdiam.

Karena semakin dipikirkan, semakin masuk akal.

Warung ramai.

Minimarket ramai.

Pekerja proyek banyak.

Lalu lintas meningkat.

Semua itu menjadi indikator bahwa sebuah kawasan memiliki aktivitas ekonomi.

Dan aktivitas ekonomi berarti peluang.

Saat kembali ke warung, Arga memikirkan ucapan Rudi.

Untuk pertama kalinya, ia melihat usaha keluarganya dari sudut pandang berbeda.

Selama ini ia selalu melihat warung sebagai tujuan.

Sesuatu yang harus diselamatkan.

Sesuatu yang harus dikembangkan.

Namun bagi orang luar, warung itu mungkin hanya salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.

Bagian kecil dari kawasan yang sedang tumbuh.

Pemikiran tersebut membuatnya semakin memahami cara berpikir Damar dan Pak Surya.

Mereka tidak hanya melihat satu usaha.

Mereka melihat seluruh ekosistem.

Sore menjelang malam, sebuah masalah kecil muncul.

Dan masalah itu datang dari sumber yang tidak diduga.

Maya.

"Mas."

"Iya?"

"Aku membuat kesalahan."

Nada suaranya terdengar serius.

Arga langsung menoleh.

"Apa yang terjadi?"

Maya menyerahkan buku pencatatan stok.

Setelah memeriksanya beberapa detik, Arga menemukan masalahnya.

Pesanan minuman minggu lalu tercatat dua kali.

Akibatnya jumlah stok di catatan berbeda dengan jumlah fisik.

Untungnya selisihnya tidak besar.

Dan lebih penting lagi, kesalahan tersebut ditemukan sebelum pemesanan berikutnya dilakukan.

"Aku benar-benar tidak sengaja."

Kata Maya pelan.

Arga tidak langsung menjawab.

Kemudian ia tersenyum.

"Kamu tahu bagian terbaiknya?"

"Apa?"

"Kita menemukannya."

Maya terlihat bingung.

Namun Arga melanjutkan.

"Dulu kesalahan seperti ini mungkin tidak akan diketahui."

"Lalu?"

"Sekarang kita punya sistem yang bisa menemukannya."

Perlahan ekspresi Maya mulai berubah.

Ia memahami maksudnya.

Kesalahan memang tidak menyenangkan.

Tetapi sistem yang mampu menemukan kesalahan jauh lebih baik daripada sistem yang berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Malam itu, setelah warung tutup, Arga duduk bersama ayahnya di depan rumah.

Sudah lama mereka tidak mengobrol berdua seperti ini.

Biasanya selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Atau pelanggan yang harus dilayani.

Namun malam itu cukup tenang.

"Kamu berubah banyak."

Kata ayahnya tiba-tiba.

Arga menoleh.

"Berubah?"

Ayahnya mengangguk.

"Dulu kamu hanya berpikir tentang sekolah."

"Lalu?"

"Sekarang kamu memikirkan banyak hal."

Arga tersenyum kecil.

Kalau saja ayahnya tahu alasan sebenarnya.

Namun tentu saja ia tidak bisa menjelaskan.

Sebaliknya, ia bertanya,

"Ayah menyesal tidak mengembangkan warung lebih awal?"

Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam cukup lama.

Kemudian pria itu menghela napas.

"Dulu Ayah hanya berpikir bagaimana bertahan sampai besok."

Jawaban yang sangat jujur.

Dan justru karena itu terasa berat.

Karena banyak orang hidup seperti itu.

Bukan karena tidak punya mimpi.

Tetapi karena terlalu sibuk bertahan hidup.

"Ayah tidak menyesal."

Lanjut ayahnya.

"Tapi Ayah senang sekarang kita punya kesempatan."

Arga menatap warung kecil mereka.

Lampunya sudah dimatikan.

Pintu sudah tertutup.

Namun tempat sederhana itu telah mengubah banyak hal.

Bukan hanya keuangan keluarga.

Tetapi juga cara mereka memandang masa depan.

Sebelum tidur, Arga membuka buku catatannya sekali lagi.

Lalu menulis satu kalimat baru.

Perubahan tidak selalu datang dalam bentuk peluang.

Ia berhenti sejenak.

Kemudian melanjutkan.

Kadang perubahan datang dalam bentuk orang-orang yang mulai memperhatikan kita.

Arga menatap tulisan itu beberapa saat.

Karena ia tahu.

Kunjungan Pak Surya.

Kedatangan investor kecil.

Pertanyaan dari orang-orang asing.

Semua itu bukan kebetulan.

Kawasan mereka benar-benar sedang berubah.

Dan cepat atau lambat, perubahan tersebut akan membawa tantangan baru.

Tantangan yang mungkin jauh lebih besar daripada pesanan seratus paket.

Namun kali ini, Arga tidak merasa takut.

Karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa bahwa keluarganya tidak lagi sekadar bertahan menghadapi perubahan.

Mereka mulai menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!