Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Dua minggu menghabiskan waktu di Mesir benar-benar membuat ikatan antara sang Gus dan istrinya semakin lekat. Dari menjelajahi eksotisnya Piramida Giza, menyusuri Sungai Nil di malam hari, hingga sesi-sesi tambahan yang hampir setiap malam mereka lakukan di kamar hotel tanpa kenal ampun, semuanya berjalan sempurna.
Namun, masa liburan ajaran baru pesantren telah usai. Liburan honeymoon yang panjang itu harus berakhir. Sore itu, pesawat yang membawa mereka dari Kairo akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Indonesia.
Begitu keluar dari pintu kedatangan, hawa panas khas Indonesia langsung menyambut mereka. Celina berjalan sambil sesekali memegangi pinggangnya, sementara tangan kirinya menggandeng erat lengan Zuhair. Di samping mereka, sebuah troli penuh koper dan beberapa kardus berisi air zam-zam serta kurma ajwa didorong oleh petugas bandara.
"Hahhh... akhirnya balik ke tanah air juga, Gus. Kangen banget gue sama seblak, bosen di sana makannya kebab ama nasi kebuli mulu," keluh Celina sambil membetulkan letak khimar moka-nya yang sedikit bergeser.
Zuhair yang tampak sangat segar dengan kemeja koko kasual dan kacamata hitamnya hanya terkekeh rendah. "Kamu ini, baru sampai yang dicari langsung makanan pedas. Ingat, perutnya harus dijaga dulu, siapa tahu doa kita di depan Ka'bah kemarin sudah dikabulkan."
Mendengar ucapan suaminya, Celina reflek menyentuh perutnya sendiri yang terasa sedikit lebih hangat belakangan ini. Wajahnya langsung merona merah. "Iya deh, iya. Nanti nunggu jadwal halangan gue lewat dulu baru gue tes."
Di depan pintu keluar terminal, sebuah mobil Ndalem ternyata sudah menunggu. Bukan cuma supir pesantren yang menjemput, tapi di samping mobil, terlihat sosok Raka yang sudah rapi memakai baju koko kemeja dan peci hitam, berdiri berdampingan dengan Athira yang tampak sangat anggun dengan gamis serasi. Pengantin baru itu sengaja datang untuk menyambut kepulangan mereka.
"Woy! Pengantin umroh-Mesir baru balik nih!" teriak Raka heboh sambil melambaikan tangannya tanpa tahu malu di tengah kerumunan bandara.
Celina langsung melepaskan gandengannya dari Zuhair dan berlari kecil menghampiri sahabatnya. "Raka! Athira! Gila, lo berdua jemput gue?"
Raka langsung pasang pose sombong sambil membetulkan pecisnya. "Iyalah! Kurang berbakti apa coba gue sebagai sahabat sekaligus santri teladan? Gimana? Oleh-oleh buat gue mana nih? Air zam-zam satu galon ada kan?"
"Sialan lo, baru ketemu langsung nagih oleh-oleh!" Celina menoyor bahu Raka pelan, membuat Athira yang berdiri di samping Raka tertawa kecil sambil menyalami Celina dengan takzim.
Zuhair berjalan mendekat, menyalami Raka dengan jabat tangan erat khas laki-laki lalu memberikan pelukan hangat. "Bagaimana kabarmu, Raka? Sudah jadi imam yang baik selama dua minggu ini?"
"Alhamdulillah, Gus. Aman terkendali! Berkat didikan kilat dari antum sebelum nikah, malam-malam saya di kamar tidak pernah garing," bisik Raka dengan kedipan mata nakal yang langsung membuat Zuhair tersenyum miring penuh arti.
"Raka! Mulutnya ya, di depan Gus dilarang mesum!" tegur Athira dengan wajah yang langsung memerah, mencubit pinggang suaminya gemas.
"Aduh! Sakit, Sayang! Tuh kan, Gus, istri saya sekarang ketularan galaknya Celina," adu Raka sambil mengusap pinggangnya, memicu tawa renyah dari mereka semua di pelataran bandara.
Zuhair merangkul pinggang Celina dengan protektif, menatap sahabat istrinya itu dengan pandangan berwibawa. "Ya sudah, ayo kita langsung balik ke pesantren. Abi dan Ummi pasti sudah menunggu di Ndalem. Kita sambung ceritanya di rumah."
Rombongan kecil itu pun segera merapikan barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan menuju pesantren, mobil itu dipenuhi dengan canda tawa, cerita perjalanan spiritual, hingga godaan-godaan nakal antar dua pasang suami istri baru tersebut. Celina menatap keluar jendela mobil dengan perasaan yang membuncah penuh rasa syukur; Jakarta yang kelam telah benar-benar tertinggal jauh di belakang, dan kini hidupnya telah pulang ke tempat yang penuh berkah.
Sesampainya di kompleks pesantren, mobil Ndalem berhenti tepat di depan halaman rumah utama. Suasana pesantren yang semula sepi karena libur panjang kini mulai kembali hangat dengan kedatangan beberapa santri senior yang mencicil balik ke asrama.
Begitu turun dari mobil, Raka dengan sigap membantu menurunkan koper-koper besar milik Zuhair dan Celina. Namun, ada yang aneh dengan gerak-gerik Athira. Perempuan berdarah Yaman itu berjalan sangat pelan, tangannya sesekali bertumpu pada lengan Raka, dan wajahnya terlihat agak pucat namun memancarkan aura yang sangat berseri-seri.
Celina yang peka sebagai sesama perempuan langsung menyipitkan matanya. Ia berjalan mendekati Athira setelah menyalami Abi dan Ummi yang sudah menyambut mereka di teras Ndalem.
"Thir, lo kenapa? Kok lemes banget kelihatannya? Mabuk darat pas jalan ke bandara tadi?" tanya Celina sambil merangkul pundak sahabat barunya itu.
Athira melirik Raka sambil tersenyum malu-malu, pipinya yang putih porselen langsung bersemu merah muda. "Bukan mabuk perjalanan, Cel..."
Raka yang lagi megangin koper langsung naruh kopernya asal-asalan ke lantai. Cowok Jakarta itu langsung pasang muka super tengil, bangga, sekaligus haru yang bercampur aduk jadi satu. Dia jalan mendekat ke arah Zuhair dan Celina sambil berkacak pinggang.
"Gak usah tebak-tebak buah manggis lo, Cel! Biar gue, sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab dunia akhirat, yang mengumumkan berita negara ini," cerocos Raka dengan suara lantang sampai beberapa santri yang lewat menengok.
"Gaya lo, Rak! Tinggal ngomong aja pake pidato segala!" sahut Celina geregetan.
Raka merangkul pinggang Athira dengan sangat hati-hati dan protektif, lalu menatap Zuhair dan Celina bergantian. "Alhamdulillah, Gus... Cel... hasil 'latihan mandiri' gue selama dua minggu ditinggal umroh ternyata tidak mengkhianati hasil. Kemarin pas tes... garisnya dua, men! Dokter bilang udah jalan empat minggu!"
"HAH?! SERIUS LO, RAK?!" Celina melotot kaget, matanya hampir keluar. Dia langsung memeluk Athira dengan heboh sampai Athira agak terhuyung pelan. "Gilaaa! Tokcer banget lo, Thir! Berarti pas resepsi kemarin sebenernya udah jadi ya?!"
"Ih, Celina... malu, dilihat santri," bisik Athira sambil menyembunyikan wajahnya di dada Raka karena digoda habis-habisan oleh Celina.
Zuhair yang mendengar berita gembira itu langsung tersenyum lebar. Ia menepuk pundak Raka dengan mantap, menjabat tangan sahabat istrinya itu dengan erat. "Masya Allah, barakallahu laka, Raka. Allah titipkan amanah lebih cepat kepada kamu. Jaga Athira baik-baik, emosi perempuan hamil itu jauh lebih sensitif."
"Siap, Gus! Sekarang aja gue udah faham betul artinya sabar. Tiap malem kerjaannya minta mangga muda depan rumah Abi, untung gak ketahuan santri pas gue manjat," adu Raka sambil terkekeh, membuat Abi dan Ummi yang ikut mendengar dari teras langsung tertawa renyah dan mengucap syukur.
Di tengah kehebohan dan ucapan selamat itu, Zuhair perlahan melirik ke arah Celina. Tatapan matanya melembut, namun ada gurat kilatan gairah dan harapan yang sangat dalam di sana. Zuhair melangkah mendekat, lalu merangkul pinggang Celina dari belakang, menempelkan tubuh tegapnya ke punggung istrinya.
Zuhair menunduk, berbisik sangat rendah tepat di balik khimar moka Celina, hanya untuk didengar oleh istrinya sendiri.
"Sahabat kamu sudah duluan, Cel..." bisik Zuhair, suaranya serak dan sarat akan makna tersembunyi. "Berarti mulai malam ini, jadwal ikhtiar kita di Ndalem harus lebih 'padat' lagi dari yang di Mesir kemarin. Saya tidak mau kalah dari Raka."
Muka Celina seketika meledak merah padam mendengar bisikan maut dari suaminya yang mendadak dalam mode predator lagi setelah menginjakkan kaki di rumah. Ia langsung menyikut perut Zuhair pelan sambil menahan senyum malunya. "Zuhair! Malu ama pengantin baru, ih!"
Zuhair hanya menaikkan sebelah alisnya dengan senyum miring andalannya, siap melanjutkan kompetisi membuat baby di kamar mereka malam nanti.