Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan
Alan berdiri di pinggir jalan raya dengan napas memburu. Kepalanya berputar hebat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Di bawah terik matahari Purworejo yang mulai menyengat, dia celingukan mencari kendaraan yang bisa membawanya ke Bruno secepat mungkin.
"Aduh, ojek mana sih di jam segini?" umpat Alan sambil berkali-kali menyeka keringat di dahinya.
Sebuah motor bebek tua tiba-tiba berhenti di depannya. Pengendaranya seorang pemuda lokal berkaus oblong hitam yang bolong di bagian bahu, menatap Alan dengan heran. "Nyari apa, Mas? Kok kayak orang bingung gitu?"
"Mas, Mas! Tolong anterin saya ke desa Bruno bisa nggak? Penting banget ini, Mas. Buru-buru!" ujar Alan setengah memohon.
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Wah, Bruno? Jauh itu, Mas. Naik gunung kita. Motor saya kuat apa nggak ya? Mana bensinnya mepet lagi."
Alan langsung merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah, dan menyodorkannya ke depan muka pemuda itu. "Ini buat bensin sama ongkosnya, Mas. Cukup kan? Tolong banget, istri sama anak saya lagi dalam bahaya."
Melihat lembaran uang merah tersebut, mata si pemuda langsung berbinar. "Wah, kalau demi keluarga mah gas, Mas! Ayo naik, pegangan yang kenceng ya. Nama saya kris, Mas."
"Gua Alan. Cepetan ya, Kris!" Alan langsung melompat ke jok belakang. Motor bebek itu langsung menderu, knalpotnya mengepulkan asap tipis saat mereka mulai melaju membelah jalanan kota menuju arah perbukitan.
Rencana Licik yang Sempurna
Sementara itu, di sebuah sudut kota Purworejo yang agak tersembunyi, ketiga preman yang tadi meneror rumah Budhe Sum sedang berkumpul di sebuah warung remang-remang. Si rambut gondrong bertato naga, yang ternyata bernama tigor, sedang sibuk menempelkan handphone ke telinganya.
"Halo, Bos Riko? Iya, ini Tigor," ucapnya dengan nada yang dibuat se-sopan mungkin, jauh dari kesangarannya yang tadi pagi.
Di seberang telepon, suara Riko terdengar renyah, diiringi denting es batu dalam gelas dari dalam ruangan ber-AC di Jakarta. "Gimana? Udah beres urusan di Bruno?"
"Beres banget, Bos! Sesuai arahan sampeyan sama Mbak Monique. Kita acak-acak dikit pagarnya, terus kita sebut nama si Alan pahlawan kesayangan itu. Wah, si ceweknya langsung pucat, Bos. Mukanya kelihatan marah banget pas kita sebut si Alan numbalin dia," lapor Tigor sambil terkekeh.
"Bagus. Akting kalian natural, kan? Nggak ada warga yang curiga?" tanya Riko memastikan.
"Aman, Bos. Kita langsung cabut sebelum warga sekitar sempat ngumpul. Intinya, sekarang si cewek pasti mikir si Alan itu beneran bawa sial dan punya utang sama bos preman," jawab Tigor bangga.
"Kerja bagus. Duit sisanya udah gua transfer ke rekening lu. Inget, abis ini kalian tiarap dulu. Jangan muncul di sekitaran Bruno atau kota Purworejo buat beberapa hari. Kalau si Alan nyariin, biarin dia kayak ayam kehilangan induk," perintah Riko sebelum menutup telepon.
Tigor tersenyum lebar, lalu menatap kedua temannya. "Makan besar kita hari ini, Cuy! Duit dari Jakarta udah cair!"
Di Bruno, suasana di rumah Budhe Sum masih terasa tegang, meskipun fisik rumah itu sudah kembali tenang. Kang Parman baru saja selesai membetulkan engsel pagar bambu yang hampir lepas dengan beberapa lilitan kawat tebal.
"Wis beres, Mbak Xarena. Sementara gini dulu, sing penting pintunya bisa dikunci rapat," kata Kang Parman sambil mengelap keringat dengan handuk kecil di lehernya.
"Matur nuwun sanget ya, Kang. Sekali lagi maaf merepotkan," sahut Xarena yang sedang menggendong Ciara. Anak kecil itu sudah berhenti menangis, namun matanya masih sembap dan tangannya menggenggam erat kerah baju ibunya.
"Yaa ndak apa-apa. Tapi kalau boleh saran, kalau emang ada masalah sama orang kota, mending diselesaiin baik-baik, Mbak. Kasihan Ciara kalau harus ketakutan kayak tadi," ucap Kang Parman tulus sebelum ber pamitan pulang.
Setelah Kang Parman pergi, Xarena duduk di kursi kayu teras. Pikirannya berkecamuk. Rasa bersalah kepada Budhe Sum dan Ciara bercampur aduk menjadi kebencian yang mendalam kepada Alan.
"Nduk, kamu beneran mau di sini terus?" tanya Budhe Sum yang keluar membawa secangkir teh jahe hangat. "Budhe bukannya ngusir, tapi kalau orang-orang tadi balik lagi membawa massa yang lebih banyak, Budhe takut kita ndak bisa apa-apa."
Xarena menggeleng kuat-kuat. "Nggak, Budhe. Aku nggak bakal lari lagi. Ini tempat tinggal kita. Yang harusnya pergi dari sini itu Alan! Dia yang bawa penyakit ke sini, dia yang harus tanggung jawab."
Belum sempat Budhe Sum membalas perkataan Xarena, suara deru mesin motor bebek tua terdengar berhenti tepat di depan pagar. Jantung Xarena langsung berdegup kencang. Ia mengira para preman itu kembali.
Namun, sosok yang turun dari motor tersebut justru membuat darahnya mendidih. Itu Alan.
Alan turun dengan napas tersengal-sengal, kaus polonya basah kuyup oleh keringat, dan rambutnya acak-acakan karena diterpa angin pegunungan tanpa helm. Setelah memberikan uang tambahan kepada Kris yang menunggunya di pinggir jalan, Alan langsung setengah berlari memasuki halaman rumah.
"Xarena! Lu nggak apa-apa? Ciara mana?!" seru Alan panik, matanya liar memeriksa kondisi teras rumah.
Melihat kedatangan Alan, Xarena langsung berdiri dari kursinya. Tatapan matanya begitu menusuk, sedingin es namun menyiratkan kemarahan yang siap meledak.
"Ngapain kamu ke sini lagi, Alan?" tanya Xarena, suaranya pelan namun bergetar hebat. "Belum puas kamu lihat rumah ini hampir dihancurin?"
"Xarena, demi Tuhan, gua nggak tahu apa-apa soal preman yang dateng ke sini tadi pagi! Gua berani sumpah!" Alan mengangkat dua jarinya ke udara, mencoba mendekat namun Xarena langsung mundur selangkah, melindungi Ciara di belakang punggungnya.
"Jangan sebut nama Tuhan dari mulut kamu yang penuh kebohongan itu, Lan!" bentak Xarena, air matanya mulai mengalir lagi. "Preman-preman itu tadi nyebut nama kamu! Mereka bilang kamu punya utang besar sama bos mereka di kota, dan kamu sengaja lari ke desa ini buat numbalin aku sama Ciara! Kamu mau jadi pahlawan kesiangan, kan?!"
"Gua baru nyampe Purworejo semalem, Ren! Utang apa? Bos yang mana? Gua bahkan baru deal kontrakan kecil deket alun-alun tadi pagi!" Alan mencoba membela diri, frustrasinya sudah mencapai puncaknya. "Ini pasti ada yang nggak beres. Ada yang sengaja fitnah gua!"
"Halah! Nggak usah bikin cerita fiksi lagi!" potong Xarena kejam. "Dulu Monique udah pernah peringatin aku kalau kamu itu bakal halalkan segala cara demi ambisi kamu. Sekarang aku tahu maksudnya. Kamu sengaja umpetin masalah busuk kamu di Jakarta, terus lari ke sini seolah-olah kamu pria malang yang mau tobat!"
Alan terpaku. Mendengar nama Monique disebut, sebuah kepingan puzzle mendadak terpasang di kepalanya. Riko. Monique. Ini pasti kerjaan mereka berdua untuk menghancurkan sisa hidupnya dan menjauhkannya dari Xarena.
"Ren, dengerin gua dulu... Ini jebakan Riko sama Monique! Mereka yang kirim preman itu buat misahin kita!" Alan memohon, melangkah maju satu tapak.
"Cukup, Alan! Pergi dari sini sekarang!" teriak Xarena histeris, membuat Ciara kembali mulai merengek ketakutan. "Kalau dalam hitungan ketiga kamu nggak angkat kaki dari halaman rumah ini, aku bakal teriak biar warga kampung sini gebukin kamu sampai mati! Satu... dua..."
Alan menatap Xarena yang sudah benar-benar tertutup rapat oleh dinding kebencian. Dia tahu, dalam kondisi seperti ini, penjelasan apa pun hanya akan terdengar seperti bualan di telinga wanita itu. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Alan perlahan mundur.
"Gua bakal pergi, Ren. Tapi gua bakal buktiin kalau gua nggak se-bajingan yang lu pikir," bisik Alan lirih.
Dia berbalik dengan langkah gulai, kembali menaiki motor bebek Kris yang sudah menunggunya dengan wajah cemas. Motor itu kemudian melaju pergi, meninggalkan kepulan debu dan takdir yang kini tampaknya sudah terkunci rapat dalam skenario jahat yang tak kasat mata.