Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Adrian
Adrian memijat pelipisnya yang berurut kencang. Keputusan untuk kembali ke Desa Jarian sudah bulat, namun dia tahu dia tidak bisa melangkah sendiri. Ada satu kepingan lagi yang harus dipastikan yaitu Bagas. Teman seperjuangannya saat menghadapi teror masa lalu itu juga mendapatkan gangguan yang sama, sebuah sinyal kuat bahwa kutukan ini mengincar siapa saja yang berhasil selamat dari tanah Jarian.
Tanpa membuang waktu, Adrian kembali mencari kontak di ponselnya. Berkat teknologi, jarak Jakarta dan Jerman semudah itu. Mengingat perbedaan waktu, Adrian berharap panggilan internasional ini tidak mengganggu temannya itu, atau justru sebaliknya malah membangunkannya dari tidurnya.
Panggilan tersambung. Tidak butuh waktu lama hingga suara Bagas terdengar di ujung telepon, serak dan sarat akan kecemasan yang belum reda.
"Halo, Ian? Ada kabar apa? Sumpah, aku baru bangun dan perasaanku makin gak enak setelah kita teleponan kemarin," ujar Bagas langsung, tanpa basa-basi.
"Gas, aku baru saja telepon Kang Kosim di desa." Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap.
"Kang Kosim? Terus? Apa katanya, Ian?" Nada suara Bagas meninggi, ada desakan yang kentara di sana.
"Firasat kita benar. Makam tua di puncak bukit Jarian amblas sebulan lalu setelah badai. Ikatan kutukan yang dibuat Aki Sukra dulu melemah. Desa Jarian sekarang mulai kembali tergangu, dan makhluk itu mulai kembali menampakan diri. Bisa saja mereka mengincar kita, Gas. Mencari orang-orang yang dulu pernah selamat untuk dijadikan inang baru. Itu alasan kenapa Arya diganggu dan kamu ikut dimimpikan di Jerman." Adrian menjelaskan dengan nada gemetar.
Hening sejenak di seberang sana. Adrian bisa mendengar deru napas Bagas yang memburu melalui speaker ponselnya. Sasaat, ruangan kerja Adrian kembali terasa mencekam.
"Jadi, hal itu benar-benar bangkit lagi, terus sekarang rencana kamu apa, ian? Kita gak bisa cuma diam nunggu giliran, kan?” bisik Bagas, suaranya bergetar ngeri mengingat trauma masa lalu mereka.
"Aku, Dinda, dan Arya akan kembali ke Desa Jarian besok pagi. Kutukan ini harus diputus sampai ke akarnya. Kang Kosim bilang kita harus mencari tahu cara mengatasinya, dan aku butuh petunjuk langsung dari Aki Sukra atau setidaknya mencari tahu apa yang ditinggalkannya di sana. Kami akan menginap di rumah panggung Kang Kosim," jawab Adrian tegas.
"Ian, kamu gila?! Membawa Dinda dan Arya ke sarang mereka?" Bagas setengah berteriak, terkejut dengan keputusan nekat temannya itu.
"Mereka sudah tahu keberadaan ku, Bagas! Kemarin siang Dinda melihat Sinta di dalam rumah ini. Bau tanah kuburan Jarian ada di dapur kami. Diam di sini sama saja tidak menyelesaikan masalah. Kami harus menghadapi ini." Adrian memotong dengan keteguhan yang tidak kuat.
Mendengar situasi yang ternyata jauh lebih darurat dari dugaannya, Bagas terdiam. Detik berikutnya, terdengar suara gesekan kain dan barang-barang yang dipindahkan dengan tergesa-gesa dari seberang telepon. Bagas tampaknya sedang bangkit dari tempat tidurnya.
"Oke. Gak ada pilihan lain. Ian, jangan berangkat sendirian. Sebagai teman yang tahu persis apa yang terjadi dulu, aku gak akan biarkan kamu menghadapi ini cuma sama Dinda dan Arya.", kata Bagas, suaranya kini berubah menjadi dingin dan penuh tekad. "
"Maksudmu, Gas?" Adrian bertanya tentang maksdu dari Bagas.
"Aku pulang sekarang. Aku cari penerbangan pertama dari Frankfurt ke Jakarta hari ini juga. Begitu sampai di bandara, aku gak akan mampir ke rumahmu, aku langsung sewa mobil dan menyusul kalian ke Desa Jarian." Bagas sambil merapihkan barang-barangnya.
Adrian tertegun. "Gas, tapi pekerjaanmu di sana bagaimana? "
"Persetan dengan kerjaan, Ian! Ini soal nyawa Arya, soal keselamatan kita semua! Dulu kita berhasil lolos bersama, dan Aki Sukra mengorbankan banyak hal untuk menyelamatkan kita. Sekarang giliran kita yang selesaikan. Tunggu aku di Jarian. Jangan ambil tindakan gegabah sebelum aku sampai di rumah Kang Kosim." potong Bagas emosional.
Rasa hangat sekaligus lega sedikit mengikis rasa dingin di dada Adrian. Di tengah kepungan kegelapan ini, dia tahu dia memiliki sahabat yang siap bertaruh nyawa bersamanya.
"Baik. Hati-hati di jalan, Gas. Kemasi barang peninggalan dari desa yang sempat kamu bawa dulu, kalau ada. Kita ketemu di rumah panggung Kang Kosim," ucap Adrian.
"Baik yan. Jaga Arya dan Dinda baik-baik. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Adrian menurunkan ponselnya. Kamar kerja itu kembali senyap, namun kini ada seberkas kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya. Dia berdiri, melangkah keluar ruangan menuju kamar tidur utama untuk menemui istri dan anaknya. Persiapan harus segera dilakukan. Besok, perjalanan menuju pusat mimpi buruk itu akan dimulai.