Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Dan Kenangan Yang Mengganggu
Aku tak ingat sejak kapan persisnya sosok Aldo mulai memenuhi isi kepalaku. Yang aku tahu pasti, adalah bahwa sejak aku pulang dari pertemuan di kafe Kemang kemarin, pikiranku tak sanggup berhenti memutar ulang segala hal tentangnya. Setiap kata yang terucap dari bibirnya, setiap senyum tipis yang ia berikan, hingga setiap kali ia menatapku dengan sepasang mata coklat gelap yang teduh dan tenang itu—semuanya terus berputar di ingatan, seolah tak mau pergi.
Hal itu sungguh mengganggu.
Sangat mengganggu, bahkan.
Bukankah aku baru saja berpisah dari Reza? Seharusnya, saat ini aku sedang dilanda kesedihan mendalam akibat patah hati. Seharusnya aku menghabiskan waktu dengan memeluk guling sambil menangis tersedu‑sedu, mendengarkan lagu‑lagu yang syairnya penuh kesedihan, serta menulis puisi‑puisi panjang yang meratapi rasa kehilangan.
Namun nyatanya, apa yang kulakukan justru sebaliknya. Aku duduk diam di depan layar komputer, membuka dokumen kosong yang siap kuisi, dan tanpa sadar jari‑jariku bergerak sendiri di atas papan ketik. Tertulis jelas di sana:
“Aldo. Laki‑laki bermata coklat gelap yang selalu tersembunyi di balik kacamata bingkai bulat yang tipis. Suaranya pelan dan rendah, berat namun lembut—persis seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang benar‑benar mau memperhatikan.”
Aku tersentak kaget saat sadar akan apa yang baru saja kutulis. Tanganku berhenti bergerak mendadak.
“Apa‑apaan ini, Tari?” tegurku dalam hati, penuh rasa malu dan kesal pada diri sendiri. “Kamu baru saja berkenalan dengannya kemarin. Belum sepenuhnya melupakan masa lalu, belum pulih dari luka hati, dan sekarang malah sibuk memikirkan dia? Jangan sampai kamu terlihat seperti wanita yang mudah jatuh hati dan murah begitu saja.”
Segera aku berniat menghapus kalimat‑kalimat itu, namun anehnya jari‑jariku terasa berat dan enggan bergerak. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk memaksakan diri menekan tombol penghapus berulang kali, hingga akhirnya layar kembali bersih dan kosong seperti semula.
Aku pun menutup penutup laptop dengan kasar.
Baiklah, lebih baik aku berhenti menulis hari ini. Pikiran sedang tak menentu, tak ada gunanya memaksakan diri.
***
Pukul 15.30 sore, di kamar kosanku.
Aku sedang asyik membaca novel Laskar Pelangi—buku wajah untuk tugas mata kuliah Sastra Bandingan—ketika ponselku yang tergeletak di samping kasur tiba‑tiba bergetar pelan. Layarnya menyala, memunculkan pesan masuk.
Dari pengirim: Aldo
“Tari, bolehkah kita bertemu jam lima sore nanti? Di kafe langgananku yang pernah kuceritakan. Bagaimana menurutmu?”
Jantungku seketika berdegup lebih cepat dan kencang dari biasanya. Aku membaca pesan itu berulang kali—satu kali, dua kali, tiga kali—seolah‑olah ingin memastikan bahwa tulisan itu nyata ada di sana, bukan sekadar bayangan akibat mataku yang lelah karena sering begadang belakangan ini.
Tapi ini benar‑benar nyata. Aldo mengirim pesan. Aldo ingin bertemu denganku lagi.
Aku meletakkan kembali ponsel ke atas meja, lalu bangkit berdiri dari kasur, berjalan mendekati jendela kamar, dan menatap langit yang terbentang di luar sana. Langit sore ini tampak penuh awan tebal berwarna kelabu, menggantung rendah persis seperti gumpalan kapas yang basah kuyup. Awan‑awan itu bergerak sangat lambat, seolah enggan berjalan, dan dari kejauhan samar terdengar suara guruh yang bergemuruh perlahan, memberi tanda yang jelas.
Hujan sebentar lagi pasti akan turun.
Dan aku akan bertemu Aldo di tengah suasana yang mendung seperti ini.
Sungguh pemandangan yang terasa begitu romantis, pikirku dengan nada sinis dalam hati. Persis seperti adegan‑adegan di film cerita India yang selalu disukai Mama.
Namun, betapa pun aku berusaha bersikap acuh tak acuh, jemariku ternyata sudah bergerak sendiri menuliskan balasan, lebih cepat daripada kemampuan otakku untuk berpikir panjang.
“Boleh. Jam lima aku sudah siap.”
Tak sampai beberapa detik, balasan darinya sudah masuk kembali.
“Baik. Aku yang menjemput ya? Kamu sedang ada di kamar kosan, kan?”
“Iya, aku ada di sini. Tapi… apakah kamu sudah tahu di mana letak kosku?” tanyaku, sedikit heran.
“Ibu kamu sudah beritahu alamatnya pada Ibuku, lalu Ibu menyampaikannya kepadaku. Jadi aku sudah tahu persis tempatnya.”
Aku menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Sungguh, para Ibu ini benar‑benar tak pernah bisa melepaskan tangan dari urusan anak‑anaknya. Seolah‑olah tak ada satu hal pun yang boleh terjadi tanpa sepengetahuan mereka.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu di depan gerbang saja ya.”
“Siap. Sampai jumpa sebentar lagi.”
Aku meletakkan kembali ponselku, lalu berjalan menuju lemari plastik tua milikku—yang engselnya sudah retak dan agak longgar itu. Kubuka pintunya perlahan, lalu mataku menelusuri satu per satu isi lemari: deretan baju yang kususun rapi menggantung di sebelah kiri, tumpukan buku‑buku tebal kuliah di sudut kanan bawah, serta beberapa kotak tempat sepatu yang tersimpan di bagian paling dasar.
Sekali lagi aku menghela napas, kali ini dengan perasaan bimbang.
“Ingat ya Tari, ini bukan kencan,” tegurku pada diri sendiri di depan cermin kecil. “Ini hanya pertemuan biasa antarmanusia. Kita hanya akan mengobrol sebentar, tak ada yang istimewa. Tak perlu bersusah‑payah berdandan berlebihan.”
Namun, di balik tekad itu, tanganku seolah punya keinginan sendiri. Aku akhirnya memilih blus berwarna merah marun—warna yang menurutku membuat kulitku tampak lebih cerah dan segar—dipadukan dengan celana jeans panjang berwarna hitam yang membuat kakiku terlihat lebih jenjang dan rapi. Untuk alas kaki, aku mengambil sepatu kets berwarna putih yang masih terlihat baru, karena jarang sekali aku memakainya selama ini.
Di depan pantulan cermin, aku menatap sosok perempuan muda yang tampak berdiri di sana. Rambut panjangku sedikit bergelombang di bagian ujung, wajahku terlihat agak pucat—mungkin karena kurang tidur belakangan ini—namun mataku… mataku tampak berbinar cerah. Sebuah cahaya yang seharusnya tak ada, karena katanya aku sedang patah hati dan bersedih.
“Dasar pandai berbohong pada diri sendiri,” gumamku pelan. “Sebenarnya kamu tak sedang bersedih karena berpisah dengan Reza, Tari. Kamu justru merasa lega. Kamu baru saja sadar, bahwa apa yang selama ini kamu sebut cinta… ternyata hanyalah sekadar kebiasaan belaka.”
Aku segera menggelengkan kepala, berusaha membuang segala pikiran yang mulai melayang itu. Tanganku meraih payung lipat berwarna merah marun—payung yang sama persis yang kubawa kemarin, benda yang menjadi saksi bagaimana Aldo bisa menganalisis hal‑hal kecil dengan ketelitian yang mengerikan namun mengagumkan.
“Payung yang baru saja dilipat biasanya masih agak basah dan lipatannya belum rapi. Tapi payungmu ini sudah kering sempurna dan teratur. Artinya kamu sudah ada di sana sepuluh menit lebih awal.”
Senyumku merebah tak terasa saat teringat kembali ucapannya itu. Aku terbayang kembali caranya berbicara, caranya mengamati segala sesuatu dengan begitu teliti, dan caranya membuatku merasa sedikit canggung namun di saat yang sama… merasa dihargai sebagai manusia.
“Kenapa kamu malah tersenyum sendiri begini?” tanyaku dalam hati, lalu segera aku hapus senyum itu dari wajah. Kupaksakan raut mukaku kembali menjadi datar dan biasa saja. “Kamu hanya butuh teman mengobrol, itu saja, Tari. Tak ada yang lain.”
***
Pukul 16.45 sore. Aldo sudah ada di depan kosanku.
Aku mengetahuinya karena pesan singkat darinya masuk tepat saat aku sedang merapikan rambut terakhir kali.
“Aku sudah menunggu di depan gerbang. Naik mobil sedan hitam. Turunlah dengan santai saja, tak perlu terburu‑buru.”
Segera aku menyambar tas selempang coklatku, memastikan payung dan ponsel sudah ada di dalamnya, lalu melangkah keluar kamar. Aku menuruni tangga beton yang permukaannya mulai terasa licin karena percikan air hujan, hingga sampai ke gerbang depan kosan.
Di sana, terparkir rapi sebuah mobil sedan berwarna hitam di pinggir jalan. Mesinnya tetap menyala, terdengar suara dengungan halus yang tenang dari balik kap depannya. Lampu‑lampu kecil kendaraan itu menyala lembut, memantulkan cahaya ke permukaan aspal yang mulai basah dan bergenangan air akibat rintik hujan yang turun makin sering.
Aldo segera turun dari kemudi. Ia sama sekali tidak membawa payung, sehingga tak lama rambut hitamnya sudah sedikit basah terkena air hujan. Hari ini ia mengenakan jaket jeans biru—sama seperti kemarin—namun dipadukan dengan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih dan celana kain panjang berwarna hitam yang rapi.
“Masuklah, cepat masuk,” ajaknya sambil membukakan pintu penumpang untukku. “Nanti kamu malah kedinginan kalau berlama‑lama di luar.”
Aku tersenyum kecil, lalu segera melangkah masuk ke dalam mobil.
***
Di dalam mobil.
Udara di dalam kabin terasa hangat dan nyaman, sangat kontras dengan udara luar yang mulai menusuk dingin karena turunnya hujan. Samar tercium wangi pewangi ruangan beraroma bunga lavender—lembut saja, tidak terlalu menyengat hingga mengganggu pernapasan. Saat pertama kali duduk, jok kulit hitam itu terasa agak dingin menyentuh kulit, namun perlahan‑lahan menjadi hangat seiring dengan suhu tubuhku sendiri.
Aldo kembali masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu hingga tertutup rapat, lalu menyalakan pembersih kaca depan. Karet kaca itu bergerak maju‑mundur dengan irama yang tetap dan teratur—kreek… kreek… kreek…—suara yang berulang namun justru menenangkan hati, persis seperti detak jam dinding tua yang setia berjalan.
“Di mana sebenarnya letak kafe langgananmu itu?” tanyaku, memecah keheningan sejenak.
“Masih di sekitaran Kemang,” jawabnya santai sambil mengatur posisi duduk. “Tidak jauh dari tempat kita bertemu kemarin sore.”
“Tempat… kita… kemarin,” ulangku pelan, menekan sedikit kata‑katanya. “Sudah jadi ‘kita’ ya? Secepat itukah?”
Aldo tersenyum tipis sambil menoleh sekilas ke arahku. “Maafkan ya. Aku bicara terlalu cepat dan terbiasa.”
“Tak apa‑apa kok,” jawabku pelan. “Aku hanya… belum terbiasa saja. Dengan adanya seseorang yang baru, yang tiba‑tiba menjadi bagian dari hariku.”
Aldo mengangguk mengerti. “Wajar sekali rasanya. Kita memang masih saling asing, kan?”
“Namun anehnya… kamu tak terasa asing sama sekali di mataku.”
“Memangnya kenapa begitu?” tanyanya lagi, penasaran.
Aku menatap wajahnya dari samping. Dari sudut pandangku ini, garis wajahnya tampak lebih tegas daripada yang kuingat sebelumnya. Hidungnya mancung, rahangnya agak kotak dan kuat, serta ada bekas luka kecil yang tipis melintang di atas alis kirinya—sesuatu yang membuat penampilannya terlihat lebih berkarakter dan maskulin.
“Mungkin karena kamu terlalu penuh percaya diri,” jawabku akhirnya.
Aldo tertawa kecil, bahunya tampak naik‑turun pelan. “Percaya diri… ataukah percaya pada proses kehidupan?”
“Apa bedanya kedua hal itu?”
“Kalau percaya diri itu artinya kamu yakin dirimu sanggup melakukan segala sesuatu sendirian,” jelasnya tenang. “Tapi kalau percaya pada proses, artinya kamu yakin bahwa apa pun hasil yang nanti kau terima, pasti ada pelajaran berharga yang bisa kamu ambil dari sana.”
Aku terdiam sejenak, membiarkan kata‑katanya itu meresap masuk dan dipikirkan dengan saksama.
“Aldo…” panggilku lirih.
“Iya?”
“Apakah kamu memang selalu bicara seperti ini kepada semua orang? Penuh makna, seolah‑olah sedang berfilsafat terus?”
Ia kembali tertawa renyah. “Maafkan lagi ya. Kebiasaan buruk seorang pengajar yang sulit hilang.”
“Setidaknya dengan begini kamu tak pernah membosankan,” kataku sambil ikut tersenyum.
“Terima kasih banyak. Itulah pujian yang paling indah dan berkesan yang pernah kuterima selama ini.”
Kami berdua pun tertawa bersama—tawa yang ringan, mengalir begitu saja tanpa beban, membuat suasana hangat di dalam mobil itu terasa makin nyaman dan akrab.
***
Kafe Senjakala, pukul 17.15 sore.
Kafe ini ternyata berukuran kecil saja, kira‑kira sekitar empat kali enam meter persegi. Dindingnya terbuat dari susunan bata yang sengaja dibiarkan tampak, lalu dicat berwarna putih bersih. Di sejumlah sudut ruangan, dinding itu dipenuhi rak‑rak kayu berisi tumpukan buku‑buku bekas, sementara tanaman hias gantung menjuntai indah dari langit‑langit. Lampu‑lampu gantung berwarna kuning keemasan menerangi seluruh ruangan, menciptakan suasana hangat yang sangat kontras dengan pemandangan langit kelabu dan hujan yang makin deras di luar sana.
“Jadi, inikah tempat favoritmu?” tanyaku sambil memandangi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu.
“Betul. Tempatnya sepi, musiknya enak didengar, dan rasa kopinya lumayan nikmat,” jawab Aldo. Ia lalu menunjuk ke arah meja kasir di sudut ruangan. “Lihat orang yang ada di balik meja itu? Namanya Rendra. Dulu teman sekelasku saat kuliah.”
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk. Seorang pria berbadan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, berambut keriting panjang sebahu yang diikat sembarangan, berkacamata berbingkai tebal, serta mengenakan kemeja coklat sederhana, sedang sibuk mengurus mesin pembuat kopi. Ia tampak sangat serius, mengukur suhu air dengan termometer kecil seakurat mungkin—persis seperti ilmuwan yang sedang melakukan penelitian penting di laboratoriumnya.
“Dulu dia lulusan jurusan Arsitektur ITB,” cerita Aldo lagi. “Pernah menjadi juara lomba rancang bangun tingkat nasional sebanyak dua kali. Namun akhirnya ia memilih jalan hidupnya untuk membuka kedai kopi seperti ini saja.”
“Memangnya kenapa dia berubah haluan begitu?”
Aldo mengangkat bahunya santai. “Katanya begini: ‘Merancang bangunan gedung itu membosankan, Aldo. Jauh lebih seru dan menantang merancang rasa secangkir kopi agar orang yang meminumnya merasa bahagia.’ ”
Aku tersenyum mendengarnya. “Unik sekali pendapatnya.”
“Memang dia orangnya unik. Dan sedikit… agak berbeda dari orang kebanyakan.”
“Persis seperti sahabatnya yang satu ini,” sambungku cepat.
Aldo menatapku sambil tersenyum geli. “Wah, apakah kamu sedang menyindir aku, Tari?”
“Hanya sekadar berkomentar apa adanya saja,” jawabku santai.
“Baiklah, baiklah, aku terima komentarmu itu,” katanya sambil mengangguk mengalah.
Kami segera memesan minuman—Americano tanpa gula untuk Aldo, dan teh bunga chamomile hangat untukku—lalu memilih tempat duduk di sudut paling belakang yang berdekatan dengan jendela besar. Dari sini, kami bisa melihat jelas bagaimana rintik hujan membasahi daun‑daun tanaman hias yang ada di halaman depan kedai. Butiran air menempel di kaca, lalu bergerak turun membentuk pola‑pola indah yang selalu berubah setiap detiknya.
“Nah, begini rasanya lebih tenang,” kata Aldo memulai percakapan kembali sambil menyerupai kopinya perlahan. “Sekarang kita ada di tempat yang santai, tak ada tekanan dari orang tua, tak ada kewajiban apa‑apa. Hanya kita berdua saja yang ada di sini.”
“Hanya kita berdua,” ulangku pelan, membenarkan ucapannya.
Aldo meletakkan kembali cangkirnya ke meja. “Ada yang ingin kamu ceritakan? Atau tanyakan apa saja?”
“Kamulah yang mulai duluan saja,” jawabku.
“Membahas tentang apa?”
“Apa saja… yang ingin kamu ceritakan.”
Aldo terdiam sejenak, matanya kembali tertuju ke arah luar jendela di mana hujan turun makin deras. Suara rintiknya terdengar bertalu‑talu di atap—seperti irama gendang yang dimainkan secara alami, kadang cepat, kadang lambat, namun selalu menenangkan hati.
“Dulu… aku pernah punya kekasih,” katanya tiba‑tiba, dengan suara yang menjadi jauh lebih pelan dan serius dari sebelumnya. “Namanya Clarissa. Kami berpacaran sekitar tiga bulan lamanya, saat aku masih menempuh pendidikan S2 di Bandung.”
Hatiku seketika berdegup makin kencang. Aku sama sekali tak menduga ia akan membuka pembicaraan dengan hal yang sedalam dan sepribadi ini.
“Clarissa…” ulangku lirih, mencoba mengingat nama itu.
“Iya. Clarissa. Dia wanita yang cantik, cerdas, dan penuh ambisi besar dalam hidupnya. Kami pun dipertemukan dan dijodohkan oleh kedua keluarga kami masing‑masing.”
“Jadi… kamu pun pernah dijodohkan juga?” tanyaku takjub.
Aldo tersenyum getir, ada rasa pahit yang tampak tersirat di sana. “Iya. Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan turun‑temurun di keluarga besar kami. Reza kakakku dijodohkan, aku pun dijodohkan, hampir semua anak muda di sana selalu diatur jalan hidupnya.”
“Lalu… hubungan kalian berakhir?”
“Kami berpisah karena ternyata kami tak saling cocok satu sama lain,” jawabnya perlahan. “Dia menginginkan aku menjadi sosok yang sebenarnya bukanlah diriku. Dia berharap aku mau pindah menetap di Jakarta, meninggalkan pekerjaan yang kucintai dan sedang kujalani, lalu hidup hanya sebagai ‘suami dari Clarissa Nathania’—seorang wanita yang bercita‑cita menjadi tokoh terkenal dan berpengaruh di media sosial.”
Aku mengernyitkan dahi sedikit. “Menjadi terkenal?”
“Ya. Clarissa ingin menjadi sosok yang dikagumi banyak orang. Sedangkan aku… aku hanya ingin hidup menjadi diriku sendiri, melakukan apa yang aku yakini benar dan bermanfaat, tanpa perlu pura‑pura.”
“Terus bagaimana kelanjutannya?”
“Akhirnya kami berpisah. Akulah yang memutuskan hubungan itu duluan,” cerita Aldo. “Clarissa sangat marah saat itu. Sangat kecewa dan tersinggung. Dia bilang aku telah mempermalukannya di depan keluarga dan kenalannya.”
Aldo berhenti sejenak, menarik napas panjang, pandangannya masih tertuju pada butiran air hujan yang mengalir di kaca jendela.
“Jujur saja… aku tak pernah menyesali keputusanku untuk mengakhiri hubungan itu,” lanjutnya dengan suara mantap namun lembut. “Tapi aku sangat menyesali caraku melakukannya saat itu. Aku terlalu dingin. Terlalu kaku dan tegas tanpa belas kasihan. Aku kurang memikirkan perasaannya, kurang berusaha mengerti sudut pandangnya.”
Aku terdiam, berusaha memahami segala rasa yang tersirat dalam ceritanya itu.
“Apakah kamu benar‑benar menyesal, Aldo?” tanyaku pelan.
“Menyesali keputusannya? Tidak sama sekali,” jawabnya tegas. “Tapi aku belajar satu hal berharga dari kejadian itu: bahwa keputusan yang benar sekalipun, jika dilakukan dengan cara yang salah, tetap akan melukai hati orang lain dan meninggalkan penyesalan.”
Aku menatap wajahnya lekat‑lekat. Di balik ketenangan dan kacamata bulatnya itu, aku seolah bisa melihat adanya bekas luka lama—luka yang tak terlihat mata, namun nyata ada dan membentuk kepribadiannya seperti sekarang ini.
“Aldo…” panggilku pelan.
“Iya?”
“Aku… aku juga belajar sesuatu dari ceritamu ini.”
“Apa yang kamu pelajari?”
“Bahwa ternyata kamu tidak seburuk dan sekeras yang aku bayangkan sebelumnya.”
Aldo tertawa mendengarnya—tawa yang kali ini terdengar tulus dan ringan, membuat garis‑garis wajahnya tampak jauh lebih lembut dan bersahabat. “Lho? Memangnya kamu membayangkan aku sosok yang buruk sejak awal?”
“Aku tak tahu harus membayangkan apa,” jawabku jujur. “Lagipula kan kamu adik kandung dari mantan kekasihku. Wajar saja kalau aku merasa was‑was.”
“Alasan yang sangat masuk akal,” akunya sambil mengangguk.
“Dan ingatlah… aku baru saja berpisah dari kakakmu kemarin sore.”
“Aku sudah tahu hal itu.”
“Dan sejujurnya, sampai detik ini aku belum sepenuhnya bisa melupakan masa lalu itu.”
“Aku pun sudah paham betul hal itu.”
“Kalau begitu… kenapa rasanya…” aku menggantungkan kalimatku sejenak, ragu melanjutkan.
Aldo menatapku lekat. Sepasang mata coklatnya yang teduh bertemu tepat dengan pandanganku, penuh kesabaran dan ketenangan. “Kenapa rasanya apa, Tari? Katakan saja apa yang ada di hatimu itu.”
Aku menggigit bibir bawahku sebentar, menahan rasa malu yang menjalar. “Kenapa rasanya… aku merasa begitu nyaman saat bersamamu? Padahal seharusnya aku tak boleh merasa seperti ini, kan?”
Aldo tersenyum tipis, senyum yang menenangkan sekaligus meyakinkan. “Karena aku tak pernah menekanmu untuk menjadi apa pun. Karena aku tak pernah memintamu mengubah diri menjadi orang lain agar sesuai keinginanku. Karena aku hanya… ada di sini, mendengarkanmu dan bersamamu apa adanya.”
“Aldo…”
“Dengarkan aku, Tari,” potongnya lembut namun tegas. “Aku takkan berbohong padamu. Aku memang merasa tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi aku takkan pernah memaksakan apa pun juga. Kamu butuh waktu untuk menyembuhkan diri dan mengenal dirimu sendiri kembali. Dan aku bersedia menunggu, selama waktu yang kamu butuhkan.”
Aku terdiam terpaku. Kata‑katanya itu menembus tepat ke dalam hatiku, menyentuh sisi terdalam yang selama ini tak pernah kuakui—bahwa aku sangat membutuhkan seseorang yang tak terburu‑buru, yang tak menuntut apa‑apa, yang cukup hanya ada dan mendengarkan.
“Terima kasih…” ucapku lirih, hampir tak terdengar.
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk… mau menjadi dirimu sendiri di hadapanku.”
Aldo tersenyum makin lebar. “Kalau begitu, simpan saja ucapan terima kasih itu. Suatu hari nanti kamu boleh mengembalikannya padaku.”
Satu jam berlalu begitu saja, hingga akhirnya rintik hujan mulai mereda dan perlahan berhenti sama sekali.
Kami masih duduk di tempat yang sama, terus mengobrol tentang segala hal—mulai dari buku yang kami sukai, film yang pernah kami tonton, jenis musik yang kami dengar, hingga mimpi‑mimpi besar yang jarang kami ceritakan pada orang lain.
Aldo bercerita tentang keinginannya yang besar: suatu hari nanti ia ingin menulis sebuah buku. Bukan buku teks ilmiah yang berat tentang psikologi forensik, melainkan tulisan tentang kehidupan—tentang kisah‑kisah manusia yang ia temui dalam perjalanan hidup dan pekerjaannya, serta tentang berbagai kejadian yang telah mengubah cara pandangnya melihat dunia.
Sebaliknya, aku pun bercerita tentang cita‑citaku: ingin sekali suatu hari nanti bisa menerbitkan novel karyaku sendiri. Bukan sekadar kisah percintaan biasa yang hanya membuat hati berdebar sebentar, melainkan tulisan yang benar‑benar membuat pembaca berpikir, merenungkan makna hidup, dan bertanya dalam hati: “Apa yang akan kulakukan jika aku ada di posisi tokoh cerita ini?”
“Kita harus saling mengingatkan satu sama lain,” kata Aldo serius namun hangat. “Supaya kita tak pernah lupa dan melalaikan mimpi‑mimpi besar kita itu.”
“Baiklah,” jawabku antusias. “Ingatkan aku kalau aku mulai malas menulis.”
“Dan ingatkan aku kalau aku mulai menjadi terlalu serius dan kaku.”
“Sepakat!” jawabku mantap.
Kami pun tertawa bersama lagi.
Dan di dalam dadaku, terasa ada sesuatu yang baru mulai tumbuh perlahan. Sangat pelan, tak terburu‑buru, namun nyata ada. Persis seperti tunas muda yang mulai muncul ke permukaan tanah setelah diguyur hujan panjang, setelah melewati badai, dan setelah tanah yang kering akhirnya mendapatkan air kehidupan kembali.
Mungkin aku tak perlu terburu‑buru menentukan segala sesuatu.
Mungkin aku hanya perlu membiarkan semuanya berjalan apa adanya, mengalir dengan sendirinya.
Seperti air hujan yang jatuh turun ke bumi.
Seperti waktu yang terus berjalan maju tanpa pernah berhenti.
Dan aku pun mulai berani berharap, perlahan saja.