NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Ketika Kulkas Kehilangan Kendali

Di dalam kabin mobil, lagu bergenre 𝘭𝘰-𝘧𝘪 mengalun pelan. Sael bersandar di kursinya, mengembuskan napas lega setelah seharian berkutat dengan dokumen dokumen yang menguras otak.

"Capek banget ya?" tanya Aeros lembut. Tangan kirinya yang bebas langsung bergerak, mengusap puncak kepala Sael sebelum akhirnya turun dan menggenggam jemari gadis itu.

Sael menoleh, menatap profil samping wajah Aeros. "Lumayan, Kak. Tapi langsung hilang sih begitu keluar kantor dan lihat Kak Aeros udah di lobi."

Aeros terkekeh renyah, Ia membawa punggung tangan Sael ke depan bibirnya, mengecupnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Jujur saja, Sael masih belum terbiasa dengan 𝘱𝘩𝘺𝘴𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘵𝘰𝘶𝘤𝘩 yang dilakukan Aeros, tapi ia menyukainya.

"Pintar ya sekarang pacarku kalau ngomong. Ketularan siapa, hmm?" goda Aeros.

"Ketularan cowok kulkas yang colokannya baru dicabut semalam," sahut Sael cepat, membalas kalimat Aeros tempo hari yang langsung disambut tawa lepas dari pria di sampingnya.

Mobil SUV hitam itu membelah jalanan yang mulai gelap. Genggaman tangan Aeros sama sekali tidak terlepas.

"Oh iya, Kak, menu baru apa yang Kakak masak di kafe malam ini?" tanya Sael penasaran, teringat ucapan Aeros pada Arka siang tadi.

Aeros melirik Sael sekilas dengan binar jenaka. "Sebenarnya... nggak ada menu baru. Aku cuma masak creamy mushroom pasta kesukaanmu di dapur kafe sebelum jemput kamu tadi."

Sael tertegun, matanya membelalak lucu. "Eh? Jadi... yang tadi siang itu cuma alasan Kakak aja?"

"Nggak sepenuhnya alasan. Aku emang masak itu khusus buat kamu," Aeros menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Ia menatap Sael dengan tatapan yang begitu dalam. "Tapi soal pamer ke teman sekantormu itu... iya, itu sengaja."

Sael mengerucutkan bibirnya, menyembunyikan rona merah yang kembali menjalar di pipinya. "Kak Aeros nyebelin."

"Biarin," jawab Aeros jujur. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mendekat ke arah Sael, "Tujuh tahun aku milih diam dan ngalah sama keadaan, Sael. Sekarang, setelah kamu ada di sini, aku nggak akan ngasih celah sedikit pun buat cowok lain. Aku mau semua orang tahu kalau kamu punya aku."

Sael menahan napasnya. Tatapan Aeros malam ini begitu mempesona dimatanya, Alih-alih malu-malu, Sael justru memajukan tubuhnya, lalu dengan berani mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi kiri Aeros.

𝘤𝘶𝘱

"Iya, Kakak sayang. Aku punya Kak Aeros," bisik Sael pelan, lalu buru-buru menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi dan memalingkan wajah ke jendela luar, menyembunyikan senyumnya yang sudah tidak bisa ditahan lagi.

Aeros sempat terpaku sesaat, memegang pipinya yang masih terasa hangat. Detik berikutnya, senyum bahagia terukir di wajah tampannya. Ia kembali melajukan mobil saat lampu berubah hijau, mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Sael.

Mobil SUV hitam itu akhirnya berbelok masuk ke area parkir belakang kafe yang lebih sepi. Aeros mematikan mesin mobil, ia baru saja hendak melepaskan sabuk pengamannya ketika ia merasakan genggaman tangan Sael pada jemarinya justru mengencang.

Pria itu mengurungkan niatnya, lalu menoleh ke samping.

Gadis itu menunduk, memperhatikan tautan jemari mereka sambil menggigit bibir bawahnya gelisah. Ada sesuatu yang tampak mengganjal di benaknya.

"Kenapa, Sael? Ada yang sakit?" tanya Aeros lembut, nada khawatirnya langsung keluar.

Sael menarik napas panjang, lalu menegakkan tubuh, dan menatap lurus ke dalam manik mata cokelat pria di hadapannya.

"Aeros," panggil Sael lirih.

Satu kata itu meluncur begitu saja. Tanpa embel-embel "Kak".

Aeros seketika terpaku. Gerakannya mengunci, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Selama belasan tahun mengenal Sael, panggilan "Kak Aeros" sudah seperti bagian dari identitasnya di telinga gadis itu.

Mendengar namanya disebut secara langsung oleh Sael dengan suara selembut itu mendatangkan desiran aneh yang jauh lebih dahsyat daripada semua gombalan yang ia lontarkan seharian ini.

"Sael... kamu panggil apa tadi?" tanya Aeros, suaranya mendadak serak, memastikan ia tidak salah dengar.

Wajah Sael sudah merah padam. "Aeros," ulangnya, kali ini dengan nada yang lebih mantap dan jelas.

Aeros menaikkan sebelah alisnya, mencoba meredakan debar jantungnya yang mendadak menggila. "Kenapa? Bosan panggil 'Kakak'?"

"Bukan bosan," cicit Sael, jemarinya bergerak gelisah di dalam genggaman Aeros.

"Coba bilang sekali lagi," bisik Aeros rendah, jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter.

Sael menahan napas, matanya bergetar menatap sepasang bibir Aeros yang berada begitu dekat di depannya. "Aeros..."

"Ya, Sael?" jawab Aeros lembut, ibu jarinya bergerak pelan, mengusap pipi Sael dengan penuh perasaan.

"Aku... aku sayang kamu, Aeros."

Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, Aeros tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan yang dalam di kening Sael, lalu turun ke kedua pipinya yang merona, sebelum akhirnya membawa Sael ke dalam pelukan yang begitu erat.

Aeros menyembunyikan senyum lebarnya di ceruk leher Sael, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang kini sudah sepenuhnya menjadi miliknya.

Sael membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di leher Aeros sambil tersenyum lepas.

Detik berikutnya, tawa Sael pecah begitu saja di dalam kabin mobil.

"Pwahahaha! Ya ampun, Kak Aeros! Muka Kakak lucu banget!" Sael tertawa lepas sampai matanya menyipit, memegangi perutnya yang mendadak kaku karena terlalu banyak tertawa. "Aduh, maaf, maaf! Aku nggak kuat lagi nahan!"

Aeros mengerjap, otaknya sempat loading selama beberapa detik sampai akhirnya ia menyadari satu hal, ia baru saja dikerjai habis-habisan. Semburat merah di telinganya yang tadinya karena salah tingkah, kini berubah menjadi rasa gemas yang luar biasa.

"Sael..." panggil Aeros, suaranya merendah, mencoba memasang wajah datar andalannya, meski gagal total karena sudut bibirnya juga ikut berkedut ingin tersenyum. "Jadi yang tadi itu cuma bohongan?"

"Nggak bohongan soal sayangnya! Itu beneran!" sahut Sael cepat di sela sisa tawanya, mencoba membela diri sebelum pacarnya itu benar-benar merajuk. Ia menghapus air mata kecil di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa. "Tapi soal manggil nama langsung... iya, itu cuma buat ngeliat reaksi Kakak aja. Habisnya dari pagi Kak Aeros pinter banget bikin aku salah tingkah terus di depan Papa, Mama, sama Arka. Adil dong, sekarang gantian aku yang bikin Kakak mati kutu."

Aeros menghela napas panjang, bersandar kembali ke kursinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Namun, sebuah senyuman pasrah akhirnya terukir di wajah tampannya. Ia melirik Sael yang kini menatapnya dengan binar mata jenaka yang sangat usil.

"Pinter ya sekarang balas dendamnya," ucap Aeros, nada suaranya terdengar pura-pura kesal. Tanpa aba-aba, tangan kanan Aeros bergerak maju, mencubit kedua pipi Sael dengan gemas sampai bibir gadis itu mengerucut lucu.

"A-Auh! Kak Ae-wos! Sakit!" protes Sael tidak jelas karena pipinya masih ditarik.

"Biarin. Sanksi karena udah mainin jantung pacar sendiri malam-malam," goda Aeros. Setelah melepaskan cubitannya, ia tidak langsung menjauhkan tangannya. Ibu jarinya mengusap lembut bekas kemerahan di pipi Sael akibat ulah jahilnya sendiri.

Aeros memajukan tubuhnya lagi, menatap Sael dengan tatapan intens yang membuat tawa gadis itu langsung lenyap seketika, digantikan oleh debaran familier yang kembali berpacu.

"Tapi jujur... jantungku hampir copot tadi pas kamu panggil nama langsung," bisik Aeros, suaranya kembali terdengar berat dan seksi di telinga Sael.

"Jadi, mendingan jangan sering-sering digunain senjatanya. Bahaya buat kesehatan aku."

Sael menggigit bibir bawahnya, kembali merasa kalah telak dalam urusan ini. Ia memukul pelan lengan Aeros. "Ih, Kak Aeros mah! Yaudah, ayo turun, katanya mau makan pasta? Aku udah lapar tahu!"

Aeros tertawa renyah, merasa menang karena berhasil mengembalikan rona merah di wajah Sael. Ia mengacak pucuk kepala Sael dengan sayang sebelum membuka pintu mobil. "Iya, ayo turun."

1
Fazira
Aeros tsundere banget
Fazira
Bisa aja kamu ros..
Fazira
Belum jadi pacar aja cemburuan, Aeros Aeros
Fazira
Arka ini lucu juga
Fazira
Pak Surya🤣🤣
Fazira
😍😍
Fazira
Sael 🫶
Fazira
Karakter Sael keren😍
Fazira
Aeros 💞💞
Fazira
Suka banget sama pembawaan suasananya. Feelnya langsung dapat dari bab ini. Semangat terus ya lanjutin ceritanya 💪👍
Skyline Scribe: Makasih, Kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!