"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 18
Sudah hampir tiga minggu Dinda tinggal kembali di rumah orang tuanya.
Rumah tangganya dengan Ervin masih menggantung tanpa arah yang jelas. Tidak ada kata cerai secara resmi, namun hubungan mereka sudah retak terlalu dalam untuk disebut baik-baik saja.
Sedangkan Ervin—Pria itu masih terus mencoba mendekatinya. Kadang datang ke butik hanya untuk mengantarkan makanan.
Kadang menghubunginya tengah malam dengan suara lelah, sekadar memastikan Dinda sudah tidur atau belum.
Kadang hanya mengirim pesan singkat seperti: Aku kangen rumah.
Dan bodohnya, setiap membaca pesan seperti itu, hati Dinda masih terasa nyeri. Karena rumah yang dimaksud Ervin adalah dirinya. Namun kini semuanya sudah berubah.
“Din, pelanggan fitting jam tiga udah datang!” seru salah satu pegawai butik dari arah depan.
“Iya, bentar!”
Dinda segera menyimpan iPad miliknya sebelum berjalan keluar ruang desain. Hari itu butik cukup ramai, membuat dirinya sedikit lupa pada kekacauan hidupnya sendiri.
Setidaknya, pekerjaan mampu membuat pikirannya lebih tenang.
“Mbak Dinda, bagian belakang gaunnya agak longgar,” keluh seorang pelanggan sambil berdiri di depan cermin besar.
“Coba saya lihat dulu ya, Kak.”
Dengan cekatan, Dinda membantu merapikan bagian pinggang gaun tersebut. Tangannya bergerak lincah seperti biasa, meski pikirannya sebenarnya cukup lelah sejak beberapa hari terakhir.
Sebuah suara pria membuat tubuh Dinda refleks menoleh.
Dan lagi-lagi—Raka.
Pria itu berdiri di ambang pintu butik dengan wajah yang jauh berbeda dari biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab, dan kemeja hitam yang dikenakannya terlihat kusut.
Dinda langsung mengernyit.
“Raka?”
Namun pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong. Seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu berat.
“Gue butuh bantuan lo, Din.” Kalimat itu sukses membuat perasaan Dinda berubah tidak nyaman.
Selama mengenal Raka, pria itu bukan tipe laki-laki yang mudah meminta tolong. Dan fakta bahwa hari ini ia datang dengan wajah sehancur itu—membuat Dinda langsung merasa ada sesuatu yang serius.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Raka mengusap wajahnya kasar sebelum menghela napas panjang. “Bisa ikut gue sekarang?”
“Sekarang banget, Ra?” tanya Dinda memastikan.
“Iya.” Raka mengangguk mantap.
Dinda menatap pria itu cukup lama. Sorot matanya terlihat benar-benar lelah. Dan entah kenapa, Dinda tidak sanggup menolak.
“Aku izin Bu Indri dulu.”
*****
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung sangat hening. Hanya suara hujan kecil dan gesekan wiper mobil yang terdengar sepanjang jalan.
Sedangkan Dinda duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik Raka yang fokus menyetir dengan wajah tegang.
“Aku takut nanya...” lirih Dinda pelan. “Tapi sebenarnya ada apa?”
Untuk beberapa detik, Raka terdiam. Sampai akhirnya pria itu menjawab dengan suara serak.
“Mantan istri gue kecelakaan." Raka berucap dengan nada datar nan dingin.
Seketika mata Dinda membulat. “Mantan istri?”
Raka mengangguk kecil. “Dia meninggal satu jam lalu.”
Deg.
Tubuh Dinda langsung membeku di tempat. Ia tidak tahu harus merespon apa.
Selama ini dirinya memang tidak pernah tahu banyak soal kehidupan pribadi Raka setelah mereka berpisah bertahun-tahun lalu.
Ia hanya tahu pria itu pernah menikah. Dan sekarang—mantan istri Raka meninggal dunia.
“Aku turut berduka...” bisiknya lirih.
Namun pria itu hanya tersenyum hambar. “Aku bahkan belum sempat benci sepenuhnya sama dia.”
Kalimat itu terdengar begitu rumit, begitu penuh luka. Dan Dinda bisa merasakannya.
“Dia ninggalin satu anak perempuan, Din...” lanjut Raka pelan. Jantung Dinda langsung berdegup pelan. “Umurnya baru sebelas bulan.”
Hati Dinda mencelos mendengarnya.
Mobil perlahan memasuki area rumah sakit. Sedangkan pikiran Dinda mulai dipenuhi banyak pertanyaan. Kenapa Raka membawanya kesini? Dan kenapa pria itu terlihat sehancur ini?
Begitu mobil berhenti, Raka langsung turun lebih dulu. Langkahnya cepat menuju ruang rawat VIP di lantai dua.
Dinda mengikuti dari belakang dengan perasaan campur aduk. Sampai akhirnya—langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan.
Dan saat itu juga—ia mendengar suara tangisan bayi kecil dari dalam sana. Tangisan mungil, rapuh, dan menyayat hati.
Perlahan, Raka membuka pintu ruangan tersebut. Dan untuk pertama kalinya—Dinda melihat sosok bayi perempuan kecil itu.
Bayi mungil dengan rambut halus kecoklatan dan mata bulat besar yang kini dipenuhi air mata. Pipi kecilnya memerah karena terus menangis dalam gendongan seorang perawat.
“Dia nggak berhenti nangis dari tadi, Pak,” ujar sang perawat lembut.
Tatapan Dinda langsung terpaku pada bayi tersebut. Entah kenapa—dadanya terasa sesak. Bayi itu kecil sekali. Sangat kecil. Dan kini... Ia harus kehilangan ibunya.
“Namanya siapa?” tanya Dinda lirih tanpa sadar.
Untuk sesaat, Raka terdiam sebelum menjawab pelan—“Glenka.”
Nama itu terasa begitu lembut di telinga Dinda. Sedangkan bayi kecil itu masih terus menangis tanpa henti.
Tanpa sadar, langkah Dinda mendekat perlahan.
“Mau coba digendong, Mbak?” tanya sang perawat.
Awalnya Dinda ragu. Namun entah kenapa, tangannya justru terulur dengan sendirinya. Dan begitu tubuh kecil Glenka berpindah ke pelukannya—ajaibnya, tangisan bayi itu perlahan mereda.
Ruangan mendadak hening. Bahkan Raka terlihat terpaku menatap pemandangan di depannya.
Sedangkan Dinda sendiri membeku. Karena bayi kecil itu tiba-tiba menggenggam ujung cardigan miliknya erat, seolah takut ditinggalkan.
Dan anehnya—hati Dinda langsung terasa hangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
“Dia tenang...” bisik Raka pelan dengan mata yang mulai memerah.
Sedangkan Glenka perlahan menyandarkan kepalanya di dada Dinda. Terlihat sangat nyaman dan sangat tenang. Seolah sudah mengenal wanita itu sejak lama.
Air mata Dinda jatuh begitu saja.
Karena untuk pertama kalinya setelah rumah tangganya hancur—ia kembali merasakan sesuatu hidup di dalam hatinya.
Tanpa membuka suara, wanita itu mulai menimang tubuh kecil Glenka, keluar dari ruang rawat.
Sungguh, Dinda tak sampai hati menyaksikan jasad ibu kandung Glenka, yang notabenenya adalah mantan istri Raka.
“Mamanya Glenka orang seperti apa?” tanya Dinda pelan beberapa saat kemudian.
Saat itu mereka berada di ruang tunggu rumah sakit. Glenka tertidur di pangkuan Dinda setelah hampir satu jam menempel padanya.
Sedangkan Raka duduk di sebelah wanita itu dengan wajah lelah. “Kita nikah karena dijodohin,” jawab pria itu jujur.
Dinda terdiam mendengarkan.
“Kita nggak pernah benar-benar cocok.” Raka tertawa kecil hambar. “Dia lebih cinta pekerjaannya dibanding rumahnya sendiri.”
“Terus Glenka?”
“Aku dan susternya yang lebih sering urus.” Kalimat itu sukses membuat Dinda menoleh. Raka mengusap wajahnya perlahan.
“Dia bahkan nggak terlalu suka nyentuh anak.” Entah kenapa, pengungkapan dari pria itu membuat hati Dinda terasa nyeri mendengarnya.
Sedangkan Glenka kecil masih tertidur damai di pelukannya. Sesekali bibir mungil bayi itu bergerak kecil seperti sedang bermimpi.
Terlihat lucu—sangat lucu.
“Dia cantik banget,” lirih Dinda tanpa sadar. Dan kalimat sederhana itu justru membuat mata Raka memerah.
Karena sudah lama sekali—tak ada yang mengatakan hal hangat tentang putrinya.
“Lo tahu hal paling nyebelin?” gumam pria itu pelan.
“Hm?” Dinda bergumam dengan kedua mata yang masih lekat memandangi wajah manis bayi di gendongannya.
“Dia selalu anteng kalau digendong perempuan.” Raka terdengar kesal mengucapkan hal tersebut.
Dinda terkekeh kecil. “Berarti dia nyaman sama perempuan.”
“Bukan.” Raka menatap lurus ke arah Glenka. “Kayaknya dia nyaman sama lo.”
Deg.
Jantung Dinda berdetak aneh. Dan sebelum dirinya sempat menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering.
Mas Ervin Calling.
Seketika suasana berubah canggung. Tatapan Raka turun pada layar ponsel Dinda. Sedangkan wanita itu langsung ragu untuk mengangkatnya.
Namun panggilan itu terus berbunyi.
“Angkat aja,” ujar Raka pelan.
Dengan perasaan tidak nyaman, Dinda akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
“Din, kamu dimana?” Suara Ervin terdengar cukup panik dari seberang sana.
“Aku di rumah sakit.”
“Rumah sakit?” nada bicara pria itu langsung berubah tegang. “Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Terus ngapain disana?”
Dinda terdiam sejenak. Tatapannya turun pada Glenka yang masih tertidur nyaman di pelukannya.
Entah kenapa—dadanya terasa hangat.
“Aku lagi gendong bayi.”
Dan kalimat sederhana itu—entah mengapa langsung membuat dada Ervin terasa sesak untuk pertama kalinya.