"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kalimat zikir terus bergulir di dalam hati Arash, menjadi satu-satunya jangkar waras yang mengikat jiwanya pada realitas.
Air pancuran yang menghantam punggung dan rambutnya kini tak lagi terasa dingin, melainkan sedingin es batu yang mulai mematirasakan kulitnya.
Napas Arash berembus membentuk kabut putih tipis di udara malam yang kian mencekam.
Tepat saat jam ghaib memperkirakan waktu beralih ke pukul satu malam, atmosfer di sekitar hutan bambu itu mendadak mati.
Suara jangkrik, derit katak, dan desau angin yang sejak tadi bersahutan seketika senyap.
Kesunyian yang tercipta bukanlah kesunyian yang menenangkan, melainkan keheningan absolut yang biasa mendahului datangnya sebuah bencana besar.
Bau wangi melati yang sempat samar-samar tercium, kini mendadak membusuk, berganti menjadi aroma anyir darah yang teramat pekat hingga membuat lambung Arash bergejolak mual.
Kreeekkk…
Suara patahan ranting pohon besar di atas kepalanya terdengar begitu nyaring.
Arash mempertegas pejaman matanya.
Dia menolak untuk mendongak, namun radar batin indigonya yang telah meledak paksa menyajikan visualisasi ghaib yang teramat nyata di dalam kegelapan kepalanya.
Di atas dahan pohon beringin yang melintang tepat di atas pancuran, sesosok makhluk dengan rupa genderuwo raksasa sedang bergelayut terbalik.
Tubuhnya hitam legam, dipenuhi bulu-bulu lebat sekaku ijuk penyapu. Sepasang matanya yang sebesar cangkir menyala merah saga, menatap lurus ke arah ubun-ubun Arash yang basah.
Air liurnya yang kental, berbau busuk bangkai tikus, menetes satu demi satu, jatuh tepat beberapa senti di samping lutut Arash yang bersila.
“Bocah ingusan… lancang sekali kamu mengusik ketenangan tempat ini…”
Sebuah suara ghaib yang teramat berat dan bergetar hebat bergema langsung di dalam rongga dada Arash.
Tekanan energi negatif yang dibawa oleh suara itu begitu kuat, seolah-olah ada tangan ghaib berukuran raksasa yang sedang meremas jantung Arash dari dalam.
Arash tersedak napas, dadanya mendadak sesak, dan detak jantungnya berpacu dalam ritme gila.
Tubuhnya yang tanpa busana dada bergetar hebat menahan gempuran hawa intimidasi tersebut.
Namun, itu barulah permulaan.
Dari balik rimbunnya semak-semak hutan bambu, terdengar suara gesekan kain yang diseret di atas tanah basah.
Satu, dua, lalu belasan.
Detik berikutnya, indra keenam Arash menangkap pemandangan yang sanggup membuat manusia normal kehilangan akal sehatnya dalam sekejap.
Belasan pocong dengan kain kafan yang robek-robek, dipenuhi noda tanah kuburan murni dan darah hitam yang mengering, mulai bermunculan. Mereka tidak melompat, melainkan melayang tegak lurus, mengitari batu tempat Arash bersila dalam formasi melingkar.
Wajah-wajah mereka yang hitam legam kepanasan, dengan mata yang bolong menyisakan belatung yang menggeliat-geliat di rongganya, menatap Arash dengan pandangan lapar.
Salah satu pocong yang tubuhnya paling tinggi perlahan mendekatkan wajah busuknya ke telinga kanan Arash.
Embusan napas ghaibnya yang sedingin es menyapu pipi cowok itu, membawa bau tanah kuburan yang pekat.
“Ikut kami… ikut kami ke bawah tanah… di sini dingin… di bawah lebih hangat…” bisikan itu bergaung berulang-ulang, tumpang tindih dengan suara rintihan ghaib dari sudut-sudut hutan.
Arash merasakan cengkeraman ketakutan yang luar biasa sedang mencoba meruntuhkan benteng pertahanannya.
Lidahnya mendadak terasa kelu, dan fokus zikirnya sempat terpecah. Tepat saat pertahanannya goyah, air pancuran yang mengguyur punggungnya mendadak berubah tekstur.
Rasa cair yang segar berganti menjadi kental dan hangat.
Arash memberanikan diri membuka matanya sedikit. Jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Air yang mengalir dari pancuran batu itu telah berubah menjadi aliran darah segar yang merah pekat! Darah itu mengalir membasahi wajahnya, masuk ke sela-sela bibirnya membawa rasa besi yang anyir, dan melumuri seluruh tubuh telanjang dadanya hingga berlumuran merah.
“Hihihihihi… Hahahahaha!”
Suara tawa melengking khas kuntilanak memecah keheningan malam secara gila-gilaan.
Dari arah kegelapan atas, sesosok kuntilanak dengan gaun putih yang compang-camping dan dipenuhi lumuran darah di bagian perutnya melesat turun.
Rambut hitamnya yang panjang dan gimbal terurai ke depan, menyapu permukaan air darah yang menggenangi batu tempat Arash duduk. Makhluk itu melayang tepat di depan wajah Arash, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter.
Wajahnya yang pucat pasi dengan rahang yang turun seolah patah, menatap Arash dengan seringai mengerikan yang memperlihatkan deretan gigi hitamnya yang tajam.
Kuntilanak itu menjulurkan tangannya yang berkuku hitam panjang, bersiap untuk mencengkeram leher Arash yang terekspos.
Pada titik nadir itu, ketakutan Arash mendadak bergeser menjadi sebuah gelombang amarah spiritual yang luar biasa besar.
Dia teringat kata-kata Mami Kayla di padang rumput: 'Kamu itu kuat kalau kamu mau!' Dia juga mengingat wejangan Eyang Umar untuk selalu melibatkan Allah.
Arash menarik napas dalam-dalam, mengabaikan bau busuk dan anyir darah yang mengepungnya.
Dia menyatukan fokus batinnya pada satu titik di dalam hatinya.
Energi putih keperakan yang sempat tertidur di dalam jiwanya mendadak bergejolak, bangkit dengan kecepatan penuh seiring dengan lantunan zikir yang ia teriakkan di dalam hati secara bertenaga.
‘ALLAHUAKBAR!! ALLAHU LA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM!!!’
Arash merapalkan bait pertama Ayat Kursi dengan seluruh sisa energi kehidupan dan spiritual yang ia miliki.
WUSSHHH!!!
Duaarrrrrr!
Tepat saat kalimat suci itu selesai dirapalkan di dalam batinnya, sebuah ledakan gelombang energi suci berwarna putih terang melesat keluar dari tubuh Arash.
Gelombang itu menghantam ke segala arah seperti bom spiritual mini.
Pocong-pocong yang mengelilinginya langsung menjerit histeris saat tubuh ghaib mereka seperti terbakar oleh pendaran cahaya suci tersebut; mereka melompat mundur berhamburan ke dalam kegelapan hutan.
Kuntilanak di depan wajahnya memekik memilukan, tubuh melayangnya terpental keras menghantam pohon bambu hingga tumbang sebelum akhirnya menghilang menjadi asap hitam.
Genderuwo di atas pohon pun meraung kesakitan, terpaksa memanjat lebih tinggi ke dalam kegelapan malam demi menghindari radiasi energi suci dari tubuh Arash.
Setelah ledakan energi suci yang mementalkan kawanan makhluk halus berwujud mengerikan tadi, Arash berusaha keras mengatur kembali ritme napasnya yang sempat kacau.
Kulitnya yang basah oleh sisa guyuran air pegunungan kini mulai beradaptasi dengan hawa dingin yang ekstrem.
Detak jantungnya yang semula berpacu liar, perlahan-lahan mulai melambat seiring dengan ketenangan yang coba ia bangun kembali dari dalam ruhaninya.
Baru saja Arash menghela napas lega, mengira bahwa badai teror terbesar malam itu telah berlalu, dia mulai memantapkan konsentrasinya lagi. Keheningan hutan bambu kembali merayap, menyelimuti batu besar tempatnya bersila.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.
Secara tidak terduga, atmosfer di sekitar pancuran air mendadak berubah.
Bukan lagi hawa busuk anyir atau tekanan udara yang pekat seperti saat genderuwo dan kuntilanak tadi datang, melainkan sebuah sensasi yang jauh lebih halus, namun justru berkali-kali lipat lebih berbahaya.
Sreeettt…
Arash merasakan sebuah sentuhan yang sangat, sangat dingin tiba-tiba mendarat di kulit lengan kanannya.
Sentuhan itu terasa seperti sepasang jemari lentik, namun suhunya menyerupai es batu yang baru saja dikeluarkan dari pembeku.
Sentuhan itu bergerak lambat, merayap dari pergelangan tangannya, naik menuju bahu, lalu berakhir di tengkuknya yang basah.
"Arashh..."
‘Astagfirullah, apalagi ini?’’
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅