NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:195
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu Yang Bukan Siapa-siapa

"Terimakasih atas waktu dan kesediaan rekan-rekan untuk hari ini." ucap Asido menandakan rapat itu sudah hampir selesai. Setelah seluruh pertanyaan dijawab dan pembahasan selesai, suasana yang semula formal mulai sedikit mencair.

"Terimakasih juga, Dok. Penjelasannya sangat jelas." ucap salah seorang dari mereka tersenyum.

"Kami senang bisa berdiskusi secara langsung." Asido membalas senyum itu.

Setelah beberapa percakapan singkat, manager operasional akhirnya menyampaikan kesimpulan rapat.

"Berdasarkan hasil pembahasan hari ini, proses kerja sama akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Dalam beberapa hari ke depan, tim kami akan menghubungi masing-masing dokter terkait dokumen administrasi dan jadwal penandatanganan kontrak."

Kabar itu disambut dengan cukup positif. Dari raut wajah mereka, terlihat bahwa sebagian besar memang tertarik untuk bergabung.

"Sampai jumpa lagi, Dok."

Beberapa dokter menghampiri langsung untuk berjabat tangan dengan Asido.

"Terimakasih atas kesempatannya." Asido melayani semuanya dengan sangat ramah.

Satu persatu peserta mulai meninggalkan ruang rapat. Hingga akhirnya ruangan yang tadi penuh perlahan menjadi sepi.

Asido menghembuskan napas panjang sambil melonggarkan sedikit kerah kemejanya. Rasa tegang yang sejak pagi menempel di pundaknya mulai berkurang.

"Terimakasih" Asido berjalan menghampiri manager keuangannya yang masih sibuk mengumpulkan berkas laporan.

Perempuan itu menoleh.

"Iya, Dok?"

"Selamat, kerjamu bagus." Asido mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Dia tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas jabat tangan itu.

"Terimakasih, Dok."

"Penyampaian datanya jelas. Semua angka yang ditampilkan juga rapi."

"Syukurlah kalau sesuai harapan, Dok....." balas perempuan itu tersenyum tulus.

"Lagian ini semua juga......"

Percakapan itu belum sempat selesai, seseorang tiba-tiba muncul dari samping dan langsung menyenggol sedikit badan perempuan itu. Dengan cepat, dia langsung menyelip di antara mereka berdua.

"Dok!"

Asido menoleh pada Yani, manager operasional itu yang sedang tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.

"Saya juga mau mengucapkan terimakasih, Dok."

Asido heran akan sikap Yani dan tak membalas jabat tangan itu.

"Karna presentasi saya tadi juga berjalan lancar, Kan?" Liriknya pada Kiki dengan sinis.

Kiki tak mengerti dengan tatapan sekilas Yani tadi. Tapi yang jelas, dia mengerti bahwa ada lirikan tak suka disana.

"Dok, kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu." Kiki pergi meninggalkan ruang rapat itu dengan langkah tenang.

Kini tinggal Asido dan Yani di ruangan itu.

"Yani.....Kalau begitu kamu juga boleh kembali ke ruang kerja." Asido melangkah menuju pintu keluar terlebih dahulu.

"Hah? Gitu aja?" gerutu Yani.

Baru beberapa langkah Asido keluar dari pintu, suara Yani memanggil sambil berlari kecil.

"Dok??"

Asido berhenti dan menoleh ke belakang.

"Ada apa? Ada lagi yang mau dibahas?" tanya Asido kembali profesional.

"Bukan....." Yani menjawab dengan nada santai. Ada sedikit jeda sebelum ia kembali berbicara.

"Emm...... Dokter kapan pulang dari kampung? Sebenarnya acaranya apa sih, Dok? Dokter nggak ada bawa oleh-oleh gitu?" tanya Yani dengan satu tarikan napas membuat Asido benar-benar bingung meresponnya. Ia hanya bisa terdiam, tak memberi jawaban apapun.

"Dok? Dengar nggak sih? Kenapa diam aja?" rengek Yani.

"Ehem....!" Asido berdeham kecil dan menatap Yani yang berdiri di depannya.

"Ini masih jam kerja." Asido melirik jam tangannya lalu kembali menatap Yani. Sebenarnya itu sudah cukup mengatakan bahwa pertanyaan Yani tadi tak pantas dibahas saat itu.

"Tapi, saya cuma......"

"Saya sibuk!!" potong Asido cepat dengan ekspresi datarnya.

Mendengar itu, Yani langsung mengatupkan mulutnya.

"Silahkan kembali bekerja, " Asido kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.

"Ih....!! Kesal bangat sih....." gerutu Yani hanya bisa menatap Asido dari belakang.

Sampai di ruang kerjanya, Asido langsung duduk.

"Akhirnya......" gumamnya pelan dengan napas panjang. Rapat berjalan lancar. Para calon dokter itu juga memberikan respon yang baik.

Asido memejamkan mata sejenak. Berniat menikmati ketenangan beberapa menit sebelum kembali bekerja.

Belum ada sampai satu menit.......

Brrtt....

Hpnya bergetar di atas meja. Asido hanya menghela napas panjang tanpa membuka mata.

Brrt..... getaran kedua menyusul.

"Iya, iya....."

Dengar sedikit rasa malas ia meraih ponselnya. Tapi, begitu melihat nama yang tertera di layarnya, ekspresinya langsung berubah.

'Omak'

Asido segera duduk lebih tegak.

"Horas, Mak."

Suara ibunya langsung menyambut dengan ceria.

"Horas, Amang..... " jawab ibu ya dengan nada khasnya sebagai mamak Batak. "Boha do kabar?" lanjutnya dengan pertanyaan seperti biasa. Sebelum berbicara ke intinya harus diawali dengan kalimat tanya itu.

"Sehat, Mak...... Orang Omak gimana?"Asido bertanya balik soal kabar orangtua dan keluarganya di kampung. Padahal sebenarnya dia juga baru dua hari ini pulangnya. Tapi kalau menanyakan kabar itu wajib setiap kali saling menelpon.

" Sehat Amang....."

"Syukurlah, Mak."

"Kau lagi kerja ini, Mang?" lanjut tanya ibunya memastikan.

"Ido, Mak. ini lagi di klinik...."

"Oh..... Omak cuman mau kasih tau, Mang kalau pesta adat abangmu itu hari Senin ya....."

"Senin, Mak?" ulang Asido memastikan tak salah dengar.

"Olo..... Kau pasti datang kan?"

"Oh..... Pasti, Mak. Tenang aja...... Anakmu ini pasti datang." jawab Asido dengan nada santai.

"Olo Amang...... Ya udah lanjut lah kerjamu ya..... Tuhan mangaramoti." Ibu Asido mengakhiri pembicaraan mereka dengan doa yang singkat yang mengingatkan putranya itu untuk tetap mengandalkan yang maha kuasa.

Saat telepon itu sudah berakhir, Asido tersenyum bangga. Akhirnya apa yang orangtuanya cita citakan akan tercapai. Putra sulungnya akan menikah.

...****************...

"Arghh......!!" Yani melemparkan berkas di mejanya begitu saja.

"Kenapa sih, dia cuek bangat sama ku.....? Kenapa dia selalu berusaha ingin menjauh? Kenapa dia sok dingin?" gerutu Yani sendiri.

"Akh!! Sial.....! KENAPA?" teriak Yani sambil memukul mejanya.

Temannya, Feni yang ingin ke ruangannya langsung berhenti tepat di depan pintunya.

"Ada apa? Sepertinya dia sedang ngamuk....." gumam Feni sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk berbalik pergi saja sebelum ia menjadi sasarannya nanti.

Krik-krik.... Krik-krik.... Krik-krik Baru selangkah ia maju dengan langkah yang sengaja sangat pelan, hpnya berbunyi.

"Astaga...." serunya kaget. "Ihh....! siapa sih? "

Ia membuka HPnya yang memang sedang ia genggam dari tadi.

"Mampus aku......." ucapnya spontan saat melihat nama Yani yang menelponnya. Feni balik badan dan melihat ke arah ruangan itu.

"Aduh..... Gimana ini?"

Memang sudah kebiasaan buruk Yani, jika moodnya pada seseorang sedang tak baik ia pasti melampiaskannya juga pada orang lain. Yang bahkan tak mengerti sama sekali apa alasannya.

"I..... ya.....?" Feni mengangkat telpon itu dengan sangat berat hati.

"Ke ruangan ku SEKARANG!! " tegas Yani. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mematikan telepon itu.

"Dari nada suaranya saja sudah jelas bahwa ia memang sedang tak baik-baik saja." gumam Feni pelan. Ia membuka pintu ruangan itu, melangkah dengan rasa pasrah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!