Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : UNDANGAN ULANG TAHUN YANG SOBEK
...BAB 4...
...UNDANGAN ULANG TAHUN YANG SOBEK...
Seminggu setelah laptop Papa rusak, suasana rumah jadi dingin.
Papa hampir tidak bicara padaku. Setiap kali lewat depan kamarku, langkahnya selalu diperlambat, tapi ujungnya ia tetap pergi tanpa mengetuk pintu.
Bu Kirana... masih sama. Tetap masak. Tetap senyum. Tetap melipat bajuku yang berserakan di kursi.
Yang berbeda hanya Dimas. Anak itu jadi sering menunduk kalau papasan denganku di tangga. Mungkin dia sudah dengar dari para bibi kalau "Kak Alina yang siram laptop Papa".
Aku pura-pura tidak peduli. Aku Alina Mahendra. Aku tidak pernah salah.
Sampai hari itu.
Pagi-pagi, meja makan dipenuhi tumpukan amplop warna pastel. Ada pita, ada stiker bintang, ada tulisan tangan Papa: "Untuk teman-teman Alina".
Ulang tahunku.
Tanggal 17 Mei. Aku genap 15 tahun.
Sejak Mama meninggal, Papa selalu buat pesta besar. Tahun lalu 300 tamu. Tahun ini katanya 500 tamu. Hotel bintang lima. Kue 7 tingkat. DJ dari Jakarta.
Aku mengambil satu amplop. Di dalamnya kartu tebal warna cream, tulisan emas:
"Dengan hormat, kami mengundang Ananda... untuk hadir di Pesta Ulang Tahun Alina Mahendra..."
Aku tersenyum. Ini baru pantas. Ini baru Alina Mahendra.
"Lin, itu undangan pesta kamu," kata Papa sambil menuang kopi. "Papa sudah suruh event organizer urus semua. Kamu tinggal pilih gaun saja."
Aku mengangguk puas. Lalu mataku melirik ke ujung meja.
Bu Kirana sedang duduk di kursi paling pojok. Di depannya ada tumpukan kertas HVS putih. Gunting. Lem. Spidol warna.
Ia sedang membuat sesuatu. Tangannya hati-hati memotong kertas. Mulutnya komat-kamit, seperti menghafal.
Dimas duduk di sebelahnya, membantu melipat. Wajahnya serius.
"Kalian ngapain?" tanyaku tanpa basa-basi.
Bu Kirana kaget. Ia buru-buru menutup kertas itu dengan kedua tangan. "Eh... tidak, Nak. Ini... kerajinan tangan Dimas untuk tugas sekolah."
Bohong. Jelas bohong.
Aku berjalan mendekat. Dimas langsung menunduk, menyembunyikan kertas di pangkuannya.
"Berani sekali kalian duduk di meja makan utama," kataku pelan. "Itu meja untuk keluarga Mahendra. Bukan untuk guru honorer dan anak jalanan."
"Alina," Papa menegur pelan.
Aku tidak peduli. Tanganku meraih kertas yang disembunyikan Dimas.
Dan mataku membelalak.
Itu undangan. Tapi bukan undangan mewah seperti punyaku. Kertas HVS, dilipat dua. Depannya ada gambar kue gambar tangan, diwarnai spidol biru. Tulisannya belepotan.
"Undangan Ulang Tahun Dimas. 20 Mei. Di rumah. Ada nasi goreng dan es teh. Tolong datang ya ..."
Tanganku gemetar. Bukan karena sedih. Karena marah.
"Jadi kalian berani bikin pesta juga?" suaraku naik. "Di rumah ini? Pakai uang siapa? Uang Papa?"
"Bukan, Kak," Dimas cepat menggeleng. Matanya mulai berkaca. "Ini... Ibu yang nabung dari gaji ngajar. Dua bulan. Cuma mau ngundang 5 teman Dimas dari sekolah. Makan seadanya saja..."
"DIAM!" bentakku.
Tanpa pikir panjang, tanganku merobek undangan itu jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Kertas HVS murah itu hancur di tanganku.
Aku lemparkan sobekan itu ke wajah Dimas. "Kamu pikir kamu siapa? Berani bikin pesta di rumahku? Kamu pikir kamu anak Mahendra juga?"
Dimas diam. Air matanya jatuh. Tapi ia tidak melawan. Ia hanya memunguti sobekan kertas itu satu per satu, seperti memunguti harga dirinya yang hancur.
Bu Kirana langsung memeluk Dimas. Tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak berteriak. Tidak memakiku balik.
Ia hanya berbisik di telinga Dimas, cukup pelan hingga aku dengar: "Sudah, Nak. Tidak apa-apa. Yang penting Kak Alina senang."
Kalimat itu... lebih sakit dari tamparan.
Papa berdiri. Wajahnya merah padam. "Alina! Cukup!"
"Memang salah aku apa, Pa?" aku menantang. "Ini rumah kita. Kenapa anak miskin boleh bikin pesta? Besok-besok dia minta kamar aku juga?"
Tamparan keras melayang.
Pipiku panas. Untuk pertama kali sejak Mama meninggal, Papa menamparku.
Seluruh ruangan hening. Hanya terdengar suara jam dinding.
Bu Kirana langsung berdiri. Ia menutup tubuh Dimas dengan badannya, seolah melindunginya dariku.
"Mas Aditya, sudah," katanya pelan. Suaranya bergetar, tapi tetap lembut. "Alina masih anak-anak. Dia kaget. Wajar kalau dia marah."
"Anak-anak?" Papa menatapku kecewa. "Umur 15 tahun, Bu. Alina sudah cukup besar untuk tahu mana yang benar dan salah."
Aku menutup mulut. Air mata mulai menggenang, tapi aku tahan. Alina Mahendra tidak menangis di depan orang.
Aku berlari ke atas. Mengunci pintu kamar. Membanting semuanya yang ada di meja rias.
Tapi yang paling sakit bukan tamparan Papa. Bukan tatapan kecewa itu.
Yang paling sakit adalah suara dari bawah, samar-samar terdengar lewat ventilasi:
Suara Bu Kirana menenangkan Dimas. "Iya, Nak, nanti Ibu belikan nasi goreng lagi. Yang banyak. Kita makan berdua saja ya... Tidak usah undang siapa-siapa. Ibu dan Dimas sudah cukup..."
Kalimat "Ibu dan Dimas sudah cukup" itu menusuk telingaku.
Cukup? Mereka cukup berdua? Lalu aku?
Malamnya aku tidak turun makan. Piringku tetap utuh di meja.
Jam 11 malam, ada ketukan pelan di pintu.
"Lin... Boleh Ibu masuk?" suara Bu Kirana.
Aku tidak jawab.
Pintu dibuka pelan. Ia masuk membawa nampan. Di atasnya semangkuk nasi goreng, telur mata sapi, dan es teh.
"Maaf ya Nak kalau Ibu lancang," katanya sambil meletakkan nampan di meja. "Ibu tahu kamu belum makan. Makan dulu ya..."
Aku memalingkan wajah ke jendela. "Singkirkan. Aku tidak lapar."
Bu Kirana diam sebentar. Lalu ia duduk di lantai, agak jauh dariku.
"Lin," katanya pelan. "Ibu tahu kamu benci Ibu. Ibu tahu Ibu tidak pantas ada di rumah ini. Ibu juga tahu undangan Dimas itu tidak pantas."
Aku tetap diam.
"Tapi Ibu janji," lanjutnya. Suaranya parau. "Ibu tidak akan pernah minta Papa membelikan apa-apa untuk Dimas. Ibu tidak akan pernah minta kamar baru. Ibu cuma mau_ Ibu cuma mau Dimas punya teman. Sekali saja. Seperti kamu punya 500 tamu nanti..."
Air matanya jatuh ke lantai.
"Maaf ya Nak. Maaf karena Ibu ada. Maaf karena Ibu bikin rumah ini jadi tidak nyaman untuk kamu."
Ia bangkit. Menunduk. Lalu keluar pelan-pelan, menutup pintu tanpa suara.
Aku menatap semangkuk nasi goreng itu. Uapnya masih mengepul. Telur mata sapinya masih setengah matang, seperti yang selalu Mama buat dulu.
Tanganku gemetar meraih sendok.
Tapi aku jatuhkan lagi.
"Maaf Bu," bisikku ke udara kosong. "Aku bukan anakmu."
Seperti pertama bertemu, aku tidak sudi memanggilnya "Ibuku".
Tapi malam ini... rasanya berbeda.
Malam ini kata itu tidak membuatku lega. Malah membuat dadaku sesak.
Di bawah, aku dengar suara Dimas menangis pelan. Dan suara Bu Kirana yang menidurkannya dengan lantunan ayat suci Al-Quran.
Aku memeluk bantal erat-erat.
Untuk pertama kali, aku bertanya dalam hati:
Kenapa perempuan itu tidak pernah marah padaku?
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄