Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pasar malam Desa Tidar bukan tempat romantis.
Ini adalah medan perang kuliner yang berbau minyak goreng bekas, keringat, dan asap arang. Lampu neon kuning berkedip-kedip seolah-olah sedang mengalami serangan jantung massal. Suara pedagang berteriak bercampur dengungan generator tua yang siap meledak kapan saja.
Raka berjalan di tengah keramaian itu seperti orang yang baru keluar dari kuburan. Bajunya hitam. Wajahnya datar. Di sabuknya, tersembunyi di balik kain lusuh, tergantung benda kecil berbentuk segitiga logam pudar. Simbol △404. Benda pemberian Guru yang sekarang terasa lebih berat daripada pedang. Bukan karena bobot fisiknya, tapi karena getaran halus yang terus-menerus menusuk pinggulnya.
Di sampingnya, Laras berjalan dengan langkah ringan. Mata gadis itu tajam, menghitung setiap wajah yang lewat.
"Kau kelihatan seperti mau merampok warung bakso," bisik Laras tanpa menoleh.
"Aku cuma waspada. Tempat ramai \= banyak mata."
"Risiko apa? Risiko ketahuan kau nggak punya uang?"
Raka terdiam sejenak. "...Itu juga risiko."
Laras menghela napas pendek. Hampir terdengar seperti tawa. "Tenang. Aku bawa uang. Kau cuma perlu berfungsi sebagai tameng manusia kalau ada preman iseng."
"Misi utama kita apa?"
"Beli beras lima kilo. Garam. Minyak. Dan..." Laras berhenti di depan gerobak sate kambing. Matanya berkilat sesaat sebelum kembali datar. "...satu tusuk sate ayam buat aku. Yang kulitnya garing."
Raka menatapnya. "Beras, garam, minyak... dan sate ayam?"
"Nutrisi itu penting, Raka. Perut kosong bikin otak lemot. Otak lemot bikin kau mati konyol."
Raka mengangguk paham. Logika Laras selalu brutal, tapi benar.
Mereka mulai bergerak. Proses belanja ini bukan sekadar transaksi. Bagi Raka, ini adalah siksaan pasif.
Setiap kali dia melangkah, benda △404 di sabuknya bergetar lebih kencang. Getaran itu bukan suara. Itu adalah tarikan. Sebuah rasa haus yang menjalar dari sabuk ke tulang belakangnya.
Raka meringis tipis. Dia mencoba menekan rasa itu dengan fokus pada tawar-menawar harga beras di warung Bu Siti.
"Lima ribu kurang," kata Bu Siti saat menerima uang.
Raka membeku. Rasa lapar energi di pinggulnya makin menjadi-jadi, membuatnya sulit berkonsentrasi. "Tadi deal tujuh ribu, Bu."
"Inflasi malam minggu, Nak. Harga naik seribu karena lampu neon-ku kedip-kedip bikin pusing."
Raka menatap Laras. Tatapan "kau dengar ini?"
Laras hanya mengangkat alis. Lalu, dengan gerakan halus yang hampir tak terlihat, dia menyelipkan koin tambahan ke tangan Bu Siti sambil tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali muncul. "Sudah, Bu. Anggap saja sedekah buat ganti rugi telinga kami."
Bu Siti langsung ceria. "Wah, gadis manis! Nih, bonus cabe rawit!"
Raka menerima cabe rawit itu dengan ekspresi bingung. "Aku nggak minta cabe."
"Tapi kau butuh rasa pedas buat ngerasain kalau kau masih hidup," jawab Laras datar, mengambil tusuk sate ayam yang baru saja diangkat dari arang. Kulitnya memang garing sempurna. Dia menggigitnya. Krenyes. Matanya setengah terpejam sesaat. Kepuasan murni.
Raka menonton. Untuk pertama kalinya malam ini, dia merasa misinya berhasil. Bukan karena beras atau garam. Tapi karena Laras tersenyum. Meskipun senyum itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum hilang ditelan kegelapan pasar.
Namun, kepuasan itu runtuh seketika.
Getaran di sabuknya berubah. Dari tarikan pasif menjadi desakan aktif. Panas menjalar dari pinggul ke seluruh tubuh. Rasanya seperti memegang logam yang terlalu lama dijemur matahari.
Tanpa peringatan verbal, lingkungan bereaksi.
Lampu neon tepat di atas kepala mereka berkedip liar, lalu meredup drastis. Generator di sudut pasar mendengung lebih keras, suaranya naik satu oktaf sebelum tiba-tiba mati sejenak. Api di gerobak sate menyala lebih terang sesaat, lalu mengecil lagi.
Artefak itu sedang memakan. Dan Raka adalah konduktornya.
"Ada apa?" Laras menyentuh lengannya. Sentuhan itu dingin. Tenang. Mengembalikan Raka ke realita.
Raka menatap titik kosong di antara kerumunan. Napasnya sedikit memburu. "Ada orang... yang tahu."
Laras mengikuti arah pandang Raka. Matanya menyipit. Menghitung. Menganalisis.
"Orang yang tahu apa?"
"Bukan 'apa'," koreksi Raka pelan. Tangannya masih menekan sabuknya, merasakan panas yang perlahan mereda seiring artefak selesai 'makan'. "Tapi 'siapa'."
Di antara pembeli mie ayam dan penonton wayang kulit, tadi ada seorang wanita. Dia berdiri sendirian di bawah lampu neon yang baru saja meredup—tepat di zona ekstraksi energi artefak. Pakaiannya biasa saja. Tapi posturnya tegak. Matanya tidak melihat dagangan. Tidak melihat pertunjukan.
Saat anomali terjadi, wanita itu tidak kaget. Tidak mencari sumber gangguan. Dia justru menoleh. Tepat ke arah Raka. Ke arah sabuknya.
Matanya terkunci pada tonjolan kecil di balik kain lusuh itu. Simbol △404.
Dia mengamati selama beberapa detik. Tidak terkejut. Tidak penasaran. Tatapannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru melihat kejadian aneh.
Detik berikutnya, dia berbalik. Menyatu dengan kerumunan. Hilang begitu saja.
Raka berdiri mematung. Jantungnya berdetak kencang. Bukan karena takut. Tapi karena insting purba yang berteriak: BAHAYA BEDA LEVEL.
Laras tidak bertanya lagi. Dia hanya mengencangkan pegangannya pada tas belanja. Matanya tetap tajam. Sinis. Tapi kali ini, ada sesuatu yang lain di sana.
Ketertarikan.
"Yah," gumam Laras pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara gamelan wayang. "Sepertinya sate ayamku belum cukup bayar tagihan malam ini."
Raka menoleh padanya. "Tagihan apa?"
Laras tersenyum tipis. Senyum yang kali ini tidak mencapai matanya.
"Tagihan nyawa, Raka. Dan sepertinya... harganya naik lagi."
Mereka berjalan meninggalkan pasar malam. Membawa beras, garam, minyak, cabe rawit, dan sebuah rahasia yang tiba-tiba menjadi sangat panas di sabuk Raka.
Raka menekan sabuknya lebih kuat. Entah kenapa, benda itu terasa jauh lebih berat daripada saat mereka berangkat ke pasar.
Di belakang mereka, lampu neon terus berkedip.
Bersambung.