NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Valerius tersenyum sangat lebar, sebuah seringai asimetris yang memancarkan eforia kegelapan dari kedalaman neraka tanpa dasar. Ia sangat menikmati melodi jeritan keputusasaan yang dinyanyikan oleh kakaknya ini sebagai hiburan paginya yang paling sempurna.

Layar merah sistem holografik langsung menyala terang berkedip-kedip di sudut pandangan mata batin Valerius.

[Target (Aldrich van Draken) mengalami Penderitaan Mental Ekstrem yang Berkelanjutan.]

[Penyerapan Pasif: +50 Poin Dosa berhasil dikumpulkan dari residu keputusasaan target.]

"Sistem yang sangat efisien," gumam Valerius di dalam pikirannya dengan kepuasan yang luar biasa memabukkan. "Selama babi gila ini masih bernapas, ia akan menjadi ladang panen poin dosa tak terbatas bagiku setiap harinya."

Valerius mendekat ke arah jeruji besi, mencengkeram batangan logam dingin itu dengan kedua tangan pucatnya. "Aku tidak akan membunuhmu, Aldrich, karena kematian adalah sebuah hadiah kebebasan yang terlalu mahal untuk pendosa sepertimu."

Aldrich hanya membalas ucapan itu dengan raungan binatang yang tak berakal, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut kurusnya. Kaelos yang berdiri jauh di belakang Valerius menelan ludah dengan susah payah, merasa sangat mual melihat kekejaman psikologis tersebut.

Sang Baron sangat bersyukur bahwa ia memilih untuk berlutut patuh daripada menantang monster yang kini berdiri di depannya. Ia menyadari bahwa nasib Aldrich yang menjadi gila jauh lebih mengerikan dibandingkan ribuan sayatan pedang di medan pertempuran.

"Pastikan ia diberikan makan dan minum secukupnya agar nyawa kotornya tidak melayang," perintah Valerius seraya melepaskan cengkeramannya dari jeruji besi. "Aku ingin dia terus hidup di dalam penjara halusinasi ini sampai sisa dagingnya membusuk secara perlahan dimakan waktu."

Valerius membalikkan badannya dengan elegan, tidak sudi lagi menatap tumpukan daging gila yang dulu sangat berkuasa di istana ini. Ia melangkah kembali menaiki anak tangga batu, meninggalkan kegelapan dan jeritan pilu yang menggema di ruang bawah tanah.

Setibanya kembali di lorong istana yang terang, Valerius merapikan jubah sutranya yang sedikit berdebu dengan gerakan teliti. Hawa dingin dari penjara bawah tanah masih menempel di kulitnya, namun itu justru membuatnya merasa semakin hidup.

"Sekarang, antarkan aku menuju Ruang Harta Rahasia milik keluarga ini," ucap Valerius memecah keheningan saat berjalan kembali. "Aku yakin kakakku menyimpan banyak mainan menarik yang bisa kita gunakan untuk menyambut kedatangan para tamu tak diundang."

Nyonya Karat yang sedari tadi diam seketika melangkah maju, posturnya sangat sigap menanggapi perintah sang tiran. "Ruang harta itu berada di balik pintu rahasia di perpustakaan barat, namun ruangan itu dikunci menggunakan segel darah kuno," jelasnya.

Valerius hanya tersenyum tipis, matanya memancarkan kilatan ketertarikan yang sangat kuat terhadap sihir darah kuno tersebut. Di dunia lamanya, brankas baja hanya membutuhkan kode kombinasi angka, namun di Aethelgard, keamanan diukur dengan nyawa.

Mereka berjalan cepat melintasi lorong-lorong istana hingga tiba di sebuah perpustakaan megah yang dipenuhi rak-rak buku menjulang tinggi. Bau kertas usang dan debu sihir menyengat tajam, menandakan ruangan ini jarang dikunjungi oleh bangsawan yang lebih menyukai pesta.

Nyonya Karat memandu Valerius menuju sudut tergelap perpustakaan, menggeser sebuah rak buku kayu raksasa yang tampak sangat berat. Di balik rak itu, sebuah pintu perak bermotif naga melingkar tertanam kokoh pada dinding batu yang keras.

Di tengah pintu perak itu, terdapat sebuah cekungan kecil berlubang tajam yang dirancang khusus untuk mengiris kulit. "Hanya tetesan darah murni keturunan langsung Duke Draken yang bisa membuka segel ini tanpa memicu ledakan sihir," bisik Nyonya Karat.

Valerius menatap cekungan tajam itu tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya yang tenang bak pahatan marmer. Ia mengangkat tangan kanannya, menekan telapak tangannya dengan keras tepat pada tonjolan logam tajam di tengah pintu.

Darah segar seketika mengalir keluar dari luka sayatan di telapak tangannya, menetes pelan memenuhi cekungan sihir tersebut. Valerius sama sekali tidak meringis kesakitan, ia justru memejamkan mata merasakan aliran energi kuno yang merespons darahnya.

Pintu perak itu mendadak bersinar terang dengan pendaran cahaya merah darah yang sangat menyilaukan mata siapapun di sana. Terdengar suara dengungan magis yang memekakkan telinga sebelum akhirnya pintu raksasa itu bergeser membuka dengan sendirinya.

Hawa dingin purba berhembus keluar dari dalam ruang harta, membawa debu-debu bercahaya yang menari liar di udara. Valerius menarik tangannya yang berdarah, membiarkan lukanya menutup perlahan berkat kemampuan pemulihan dari sistem yang ia miliki.

Ia melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi oleh gunungan koin emas, batu permata, dan gulungan mantra langka. Namun matanya yang tajam sama sekali tidak tertarik pada tumpukan kekayaan fana yang menyilaukan di sudut-sudut ruangan tersebut.

Valerius merasakan tarikan energi gelap yang sangat kuat beresonansi dari sebuah altar batu kecil di tengah ruangan. Di atas altar itu, tergeletak sebuah mahkota besi yang sudah berkarat dan dipenuhi aura hitam kelam yang memuakkan.

Mahkota itu seolah memanggil-manggil jiwanya, berbisik dengan suara ribuan roh yang mati dalam peperangan panjang masa lalu. Valerius mendekati altar tersebut, mengabaikan kilauan berlian dan emas murni yang berserakan di bawah ujung sepatu botnya.

Layar merah sistem langsung berkedip liar secara tiba-tiba di dalam pandangannya, disertai bunyi peringatan mekanis yang sangat melengking tajam.

[Peringatan: Mendeteksi Benda Terkutuk Tingkat Tinggi. 'Mahkota Tiran Berdarah' merespons aura dosa Host.]

[Menyentuh artefak ini akan membuka jalan menuju konflik militer skala besar dengan faksi Gereja Cahaya Suci.]

Valerius menyeringai sangat lebar, sebuah ekspresi kegembiraan murni dari seorang psikopat yang menemukan mainan penghancur baru. Peringatan bahaya dari sistem itu sama sekali bukan ancaman baginya, melainkan sebuah undangan resmi untuk memulai pertumpahan darah massal.

"Dewa-dewa bodoh dari Gereja Cahaya itu pasti akan sangat marah jika tahu aku mencuri mainan favorit mereka," gumam Valerius pelan. Ia mengangkat tangan kirinya dan menyentuh mahkota besi berkarat itu tanpa keraguan sedikit pun di hatinya.

Gelombang energi kegelapan yang luar biasa masif seketika meledak dari mahkota itu, menyambar tubuh Valerius bagaikan sambaran petir hitam. Angin topan sihir berputar ganas di dalam ruangan harta, menerbangkan koin-koin emas hingga menghantam keras dinding batu.

Nyonya Karat dan Kaelos terhempas kuat ke belakang, jatuh bergulingan di atas lantai pualam perpustakaan dengan wajah ketakutan luar biasa. Mereka menatap pusaran energi hitam yang kini sepenuhnya menelan sosok Valerius dari pandangan mata mereka yang ngeri.

Di dalam badai kegelapan itu, Valerius tidak merasakan sakit, melainkan sebuah euforia kekuatan yang sangat brutal dan primitif. Ribuan keping ingatan tentang pembantaian massal dan tirani raja-raja masa lalu membanjiri otaknya, memperluas wawasan kejamnya hingga batas maksimal.

Mahkota besi berkarat itu kini melayang pelan, turun menyentuh kepala perak Valerius dengan sangat presisi dan kokoh. Seketika itu juga, badai sihir gelap mereda secara tiba-tiba, menyisakan kesunyian mutlak yang terasa sangat menindas dan mematikan.

Valerius berdiri tegak di tengah reruntuhan koin emas, matanya kini menyala dengan pendaran merah darah yang sangat mengerikan. Mahkota tiran itu bertengger angkuh di kepalanya, menobatkan dirinya sebagai ancaman terbesar bagi seluruh peradaban manusia dan dewa di Aethelgard.

Sistem di dalam otaknya kembali memberikan notifikasi yang ditulis seolah menggunakan tinta darah segar yang masih menetes pelan.

[Sinkronisasi Artefak Terkutuk Berhasil. Atribut Pengendalian Pasukan meningkat drastis. Arc 3: 'Perang Suci yang Ternoda' perlahan terpicu.]

Valerius memutar tubuhnya perlahan, melangkah keluar dari ruang harta rahasia dengan wibawa seorang kaisar kematian yang baru saja bangkit. Baron Kaelos dan Nyonya Karat buru-buru bersujud menempelkan wajah mereka ke lantai, tubuh mereka bergetar hebat merespons aura raja kegelapan tersebut.

"Kumpulkan seluruh jenderal keluarga Draken yang tersisa di ruang pertemuan utama siang ini juga," titah Valerius dengan suara bergema dan berat. "Kita akan segera mengirimkan pesan berdarah kepada Gereja Cahaya Suci bahwa tuhan baru mereka telah lahir di istana ini."

Babak baru dari teater kehancuran ini telah siap digelar, dan panggung Aethelgard akan segera dibanjiri oleh lautan darah para ksatria suci yang munafik. Singgasana berdarah milik sang narapidana kejam kini benar-benar telah menemukan pijakannya yang absolut di dunia yang fana ini.

Valerius terus melangkah menelusuri lorong istana, membiarkan jubah hitam dan mahkota berkaratnya menebarkan teror pada setiap pasang mata pelayan yang mengintip takut. Ia mengusap Belati Penyedot Jiwa di pinggangnya, merasakan senjata iblis itu berdenyut gembira merespons lonjakan kekuatan baru dari sang majikan.

"Nyonya Karat, kirimkan tiga pembunuh bayaran terbaikmu menyusup ke dalam Katedral Agung ibu kota malam ini juga," perintah Valerius tiba-tiba. "Aku tidak ingin mereka membunuh siapa pun, aku hanya ingin mereka menaruh kepala babi busuk di atas altar suci para pemuka agama itu."

Wanita bertopeng itu mengangguk cepat, menyadari bahwa penghinaan simbolis itu adalah bentuk deklarasi perang yang paling merendahkan bagi kelompok agamis manapun. Ia merasa takjub sekaligus ngeri melihat strategi psikologis sang majikan yang secara terencana membakar sumbu kemarahan para raksasa politik di kerajaan ini.

"Penghinaan itu dipastikan akan memicu para Uskup Suci untuk segera memobilisasi Pasukan Inkuisisi mereka ke wilayah kita, Tuanku," Nyonya Karat memperingatkan dengan nada hati-hati.

Valerius tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar bagai gesekan logam berkarat yang menyayat saraf ketakutan setiap pendengarnya. "Itulah tepatnya yang aku inginkan, biarkan mereka membawa ribuan jiwa ksatria suci itu kemari untuk kupanen sebagai pupuk bagi singgasanaku."

Kaelos yang berjalan tertatih di belakang mereka hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, merasa bahwa dunia ini benar-benar telah gila seutuhnya. Ia telah mengikatkan nasibnya pada monster yang dengan sengaja menantang langit, dan kini tak ada lagi jalan untuk kembali selain menuju kehancuran absolut.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!