Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Berlindung yang Baru
Beberapa mobil polisi kini terparkir dengan lampu rotator biru yang terus berputar, membiaskan cahaya di dinding marmer rumah mewah keluarga Baskoro. Beberapa petugas kepolisian mulai masuk untuk meminta keterangan dari para pengawal yang tersisa, sementara Rendra sibuk berargumen dengan kepala penyidik, menunjukkan foto-foto memar pada tubuh Kirana serta dokumen medis terkait Lisa Amelia sebagai bukti pendukung.
Di sudut halaman, Adrian masih mendekap Kirana yang perlahan mulai tenang. Isak tangis wanita itu berganti menjadi helapan napas panjang yang lelah. Tubuhnya terasa begitu ringkih di dalam pelukan Adrian, seolah seluruh energi hidupnya telah terkuras habis selama empat bulan terakhir.
"Kita harus pergi dari sini sekarang, Kirana," bisik Adrian lembut, mengurai pelukan mereka sedikit agar ia bisa menatap wajah pucat mantan istrinya. "Polisi akan mengamankan tempat ini, dan Rendra yang akan mengurus semua prosedur hukum awal. Aku akan membawamu ke tempat yang aman."
Kirana mendongak dengan mata yang sembap. Ketakutan di wajahnya belum sepenuhnya sirna. "Tapi... ke mana, Mas? Rendy memiliki jaringan yang luas. Dia bisa melacakku di hotel mana pun di kota ini. Dia pasti akan mencariku."
Adrian memberikan senyuman tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan keyakinan penuh. "Dia tidak akan bisa menyentuhmu jika kamu berada di tempatku. Kita ke apartemen pribadiku di Jakarta Pusat. Tempat itu memiliki keamanan tingkat tinggi dan tidak ada satu pun media atau orang luar yang tahu kepemilikannya atas namaku."
Kirana sempat ragu. Kembali ke kehidupan Adrian setelah perceraian mereka yang menyakitkan terasa sangat canggung. Namun, melihat ke sekeliling rumah besar yang kini terasa seperti pemakaman bagi jiwanya, Kirana tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia membutuhkan perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh Rendy. Akhirnya, Kirana mengangguk pelan.
Adrian menuntun Kirana masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya yang terparkir di luar gerbang. Setelah memastikan Kirana duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan, Adrian menutup pintu dengan rapat, seolah menutup babak kelam kehidupan Kirana di rumah itu. Ia memberikan instruksi singkat pada Rendra lewat tatapan mata, yang langsung diangguki paham oleh asistennya, sebelum akhirnya melesatkan mobil membelah jalanan Jakarta.
---
Satu jam kemudian, mobil Adrian memasuki area parkir bawah tanah sebuah gedung aparatur eksklusif di kawasan Menteng. Gedung ini hanya memiliki satu unit di setiap lantainya, menjamin privasi mutlak bagi para penghuninya. Lift pribadi membawa mereka langsung menuju lantai teratas.
Saat pintu lift terbuka, mereka langsung disambut oleh ruang tamu apartemen yang luas dengan desain minimalis modern yang elegan namun terasa hangat. Berbeda dengan rumah Rendy yang bernuansa Eropa klasik yang intimidatif, tempat ini didominasi warna-warna bumi yang menenangkan—krem, kayu putih, dan abu-abu muda.
"Masuklah," ucap Adrian, meletakkan kunci mobilnya di atas meja konsol.
Kirana melangkah ragu, memeluk tubuhnya sendiri karena hawa pendingin ruangan yang mulai menyentuh kulitnya. Ia berdiri di tengah ruangan, merasa asing sekaligus aman di saat yang bersamaan.
Adrian berjalan ke arah dapur bersih, membuatkan secangkir teh kamomil hangat, lalu membawanya ke hadapan Kirana. "Minum ini dulu. Ini akan membantu menenangkan sarafmu yang tegang."
"Terima kasih, Mas," lirih Kirana, menerima cangkir porselen itu dengan kedua tangan yang masih sedikit bergetar. Ia menyesap teh hangat itu perlahan, merasakan kehangatan yang menjalar di tenggorokan dan dadanya.
Adrian memperhatikan Kirana dalam diam. Matanya tertuju pada sudut bibir Kirana yang sedikit bengkak dan pergelangan tangannya yang tertutup lengan baju panjang. Amarah yang tadi sempat mereda di hadapan polisi kini kembali bergolak di dalam dadanya. Namun, ia menahannya kuat-kuat. Saat ini, Kirana tidak butuh kemarahannya; Kirana butuh ketenangannya.
"Kamarmu ada di sebelah kanan," ujar Adrian, menunjuk ke sebuah pintu kayu ek besar di ujung lorong. "Di sana sudah ada beberapa pakaian baru yang aku minta stafku siapkan tadi. Mandilah dengan air hangat, lalu istirahatlah. Kamu aman di sini, Kirana. Tidak ada yang bisa masuk ke sini tanpa izin dariku."
Kirana menatap Adrian dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah. "Mas Adrian... maafkan aku. Aku sudah mengacaukan hidupmu lagi. Aku yang memilih pergi dulu, tapi sekarang aku malah merepotkanmu seperti ini..."
"Jangan pernah katakan itu lagi, Kirana," potong Adrian cepat, nadanya berubah menjadi sangat dalam dan serius. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik mata Kirana. "Dulu, aku melepasmu karena aku mengira kamu akan menemukan kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan. Aku bodoh karena terlambat menyadari bahwa aku mencintaimu. Melihatmu menderita seperti ini... membuatku sadar bahwa kesalahan terbesarku adalah tidak menahanmu malam itu. Jadi, biarkan aku menebusnya sekarang. Ini bukan repot, ini adalah tanggung jawabku yang tertunda."
Kata-kata Adrian mendarat di hati Kirana dengan getaran yang dahsyat. Air mata kembali menggenang di sudut mata Kirana, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa haru yang tak terbendung. Ia mengangguk pelan, lalu berjalan perlahan menuju kamar yang ditunjukkan oleh Adrian.
---
Sementara itu, di sebuah ruang VIP rumah sakit swasta di Jakarta Barat, Rendy Baskoro duduk di tepi ranjang dengan tangan yang diperban akibat hantaman saat ia meluapkan amarahnya pada sekretarisnya tadi. Di depannya, layar televisi menampilkan berita sela (*breaking news*) tentang dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan namanya. Namun, yang membuat wajah Rendy berubah menjadi sangat mengerikan adalah laporan dari kepala pengawalnya bahwa Kirana telah dibawa pergi oleh Adrian Dirgantara.
Rendy meremas ponsel di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Senyuman ramah yang biasa ia pamerkan pada dunia kini lenyap sepenuhnya, digantikan oleh seringai dingin penuh kebencian seorang predator yang kehilangan mangsanya.
"Adrian Dirgantara..." desis Rendy, suaranya terdengar seperti bisikan iblis dari dasar neraka. "Kamu pikir kamu bisa mengambil apa yang sudah menjadi milikku? Kamu tidak tahu dengan siapa kamu sedang bermain api."
Rendy menekan sebuah nomor di ponselnya, menghubungi seseorang di lingkaran hitam yang selama ini membantu menyembunyikan semua catatan kriminal dan aksi kotornya.
"Cari tahu di mana apartemen rahasia Adrian Dirgantara sekarang juga," perintah Rendy tanpa basa-basi saat panggilan tersambung. "Dan siapkan rencana kedua. Jika wanita itu tidak bisa kembali menjadi milikku dalam keadaan hidup... maka tidak boleh ada satu orang pun di dunia ini yang boleh memilikinya. Termasuk Adrian."
Rendy menutup panggilan sepihak, menatap tajam ke arah jendela luar yang mulai diguyur hujan deras. Perang terbuka telah dimulai, dan ia siap menggunakan segala cara yang paling kotor sekalipun untuk menghancurkan Adrian dan menyeret Kirana kembali ke dalam cengkeramannya.
---
Bersambung ke Episode 7