“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
“Luna tunggu di mobil dulu sama Pak Roni ya, Sayang?” ucap Ningsih dengan lembut, bertolak belakang dengan gemuruh amarah yang sedang mengoyak dadanya.
Luna yang wajahnya masih sembap dan menyembunyikan kepalanya di dada Ningsih pun mendongak.
“Mama mau kemana?” tanya bocah sembari meremas daster ibunya.
“Mama mau ketemu Papa dulu sebentar, Sayang.”
“Apa boleh Luna ikut? Luna mau ketemu Papa. Luna mau tanya kenapa Papa nggak datang,” pinta Luna dengan pandangan mata yang begitu polos sekaligus menyayat hati.
Ningsih menggeleng pelan. Ia menoleh ke arah gedung hotel berbintang lima yang berdiri megah di seberang jalan.
Di dalam sanalah Hendra sedang bersenang-senang. Salah satu anak buah Pak Roni baru saja mengonfirmasi keberadaan suaminya yang sedang berpesta pora di dalam ruangan VIP hotel tersebut.
“Di dalam banyak tamu penting, Nak. Kalau Luna ikut, nanti malah repot. Luna di sini saja ya, ditemani Pak Roni,” bujuk Ningsih.
“Iya Mama.”
Akhirnya Luna menurut, meskipun dengan berat hati.
Ningsih memindahkan Luna ke kursi belakang mobil, lalu menatap Pak Roni.
“Pak Roni, jaga anak saya dengan nyawa anda. Jangan biarkan siapapun mendekati mobil ini.”
“Baik, Ibu Ningsih. Anda bisa pegang janji saya,” sahut Pak Roni tegas, langsung mengunci seluruh pintu mobil dari dalam begitu Ningsih melangkah keluar.
Ningsih berjalan membelah halaman parkir menuju lobi utama hotel bintang lima itu.
*
*
Musik jazz mengalun elegan, berpadu dengan denting gelas-gelas kaca berisi minuman mahal. Hendra berdiri di tengah ruangan, tertawa lebar sembari menerima ucapan selamat dari para kolega bisnis atas kemenangan tender besarnya.
Di sampingnya, Arumi bergelayut manja di lengan Herman, tersenyum bangga seolah dialah sang nyonya besar.
Namun, keriuhan itu mendadak hening seketika saat pintu aula VIP dibuka dengan kasar dari luar.
Semua orang di dalam ruangan, termasuk Hendra dan Arumi, spontan menoleh ke arah pintu. Mata Hendra seketika membelalak sempurna, dan gelas di genggamannya nyaris terlepas.
Ningsih berdiri di sana.
Ia datang ke acara resmi perusahaan suaminya sebagai seorang istri direktur. Namun, kedatangannya yang mendadak ini benar-benar tanpa undangan. Bahkan, Ningsih sama sekali tidak mengganti pakaiannya. Ia masih mengenakan daster batik sehari-harinya yang longgar, rambutnya hanya dicepol asal-asalan dengan jepitan plastik dan wajahnya polos tanpa riasan sama sekali. Berbeda dengan para wanita sosialita di dalam ruangan yang memakai gaun malam mewah.
Hendra dan semua orang kaget setengah mati melihat penampilan Ningsih. Bisik-bisik miring langsung berdengung di antara para tamu, membuat telinga Hendra mendadak merah padam karena menahan malu yang luar biasa.
“Mas Hendra itu istrimu?” bisik Arumi dengan nada mengejek yang sengaja dikeraskan agar didengar orang sekitar. “Kok penampilannya seperti pembantu begitu sih?”
Hendra yang sudah diselimuti rasa kesal luar biasa langsung melangkah menghampiri Ningsih. Tanpa memedulikan pandangan orang-orang, ia mencengkeram kasar pergelangan tangan Ningsih dan menariknya paksa ke sudut ruangan yang agak sepi.
“Kamu apa-apaan, Ningsih?!Kenapa kamu datang kemari, hah?! Dan lihat pakaianmu itu! Kamu sengaja mau membuatku malu di depan rekan bisnisku?! Kamu tahu tidak, ini acara kelas atas, bukan pasar tradisional! Otakmu di mana?!” maki Hendra.
Ningsih sama sekali tidak gentar dengan bentakan suaminya. Ia mengempaskan tangan Herman dengan satu sentakan kuat.
“Aku nggak peduli dengan rasa malumu, Mas! Aku ke sini untuk menuntut penjelasan dari pria yang mengaku sebagai seorang ayah!” seru Ningsih lantang hingga beberapa kolega Hendra masih bisa mendengarnya.
“Penjelasan apa lagi?! Aku kan sudah bilang kalau aku sedang sibuk mengurus proyek puluhan miliar!” bentak Hendra dengan wajah mengeras. “Pulang sekarang, Ningsih! Jangan jadi perempuan aneh yang merusak hariku!”
“Perempuan aneh katamu Mas?” Ningsih terkekeh sinis, air matanya hampir menetes namun langsung ia seka dengan kasar. “Kamu tahu di mana anakmu satu jam yang lalu, Mas? Saat kamu sedang tertawa dan minum-minum dengan mereka, Luna menangis ketakutan karena tersesat! Dia hampir diculik oleh preman jalanan! Dia hampir mati karena menunggu janji palsumu tadi pagi!”
Mendengar kata ‘diculik’, Hendra sempat tertegun selama satu detik. Tapi, ego dan rasa malunya yang telanjur memuncak membuat pria itu langsung menepis kenyataan tersebut.
Hendra mendengus meremehkan dan mengibaskan tangannya di udara.
“Halah! Jangan mengada-ada kamu, Ningsih! Mana mungkin ada penculik zaman sekarang di sekitar sekolah elite itu! Kamu itu cuma mengada-ada cerita biar aku merasa bersalah dan pulang, kan?” sahut Hendra dengan nada angkuh. “Paling Luna cuma main di rumah temannya, lalu kamu yang panik berlebihan. Dasar kampungan!”
Arumi ikut mendekat sembari melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.
“Iya, Mbak. Jangan lebay deh. Mas Hendra ini sedang mengurus masa depan perusahaan. Tolong jangan bawa drama rumah tangga kalian ke sini. Kasihan mas Hendra, namanya bisa jelek.”
Ningsih menatap Herman dan Arumi bergantian. Di titik ini, rasa cintanya pada Hendra benar-benar telah mati, menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa benci yang teramat pekat.
“Oh, jadi kamu mengira aku berbohong, Mas? Kamu lebih percaya pada kata-kata selingkuhanmu daripada keselamatan darah dagingmu sendiri?”
“Cukup, Ningsih! Jaga bicaramu!” bentak Hendra, menunjuk wajah Ningsih dengan telunjuknya. “Sekarang, keluar dari hotel ini sebelum aku menyuruh security menyeretmu secara paksa!”
“Baik. Aku akan keluar sekarang, Mas. Silakan lanjutkan pestamu. Puaskan dirimu malam ini dengan uang hasil tendermu itu. Tapi ingat kata-kataku, Mas Hendra yang terhormat. Suatu saat nanti aku yang akan memastikan bahwa kamu tidak akan punya apa-apa lagi untuk dirayakan!”
“Apa maksud ucapanmu, Ningsih?! Jangan berlagak teka-teki denganku!” bentak Hendra, melangkah maju dan menahan pergelangan tangan Ningsih dengan kasar.
Ningsih menatap tajam tangan Hendra yang menempel di kulitnya. Dengan satu sentakan kuat, ia menepisnya tanpa ragu.
“Lepas! Kamu tidak berhak menyentuhku lagi, Mas,” ucap Ningsih pergi tanpa menoleh lagi.
Arumi yang sejak tadi menonton, bergelayut manja di lengan Herman untuk meredakan kemarahan pria itu.
“Udahlah, Mas. Ngapain sih kamu pikirin ucapan istri kamu yang ngaco itu? Merusak suasana aja.”
Hendra mengepalkan tangannya, matanya masih menatap pintu keluar. “Tapi, Arumi, tatapannya tadi—”
“Memangnya dia siapa, Mas? Cuma ibu rumah tangga biasa yang tidak punya kuasa apa-apa. Mana bisa dia menghancurkanmu?” potong Arumi meremehkan. “Yuk, masuk lagi. Para investor sudah menunggumu untuk bersulang.”
Hendra menarik napas, mencoba membuang rasa gelisahnya.
“Kamu benar. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa uangku. Perempuan kampung yang sok!”
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut