Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Serana tidak suka menunggu terlalu lama, apalagi hampir tiga jam lamanya ia menunggu Jemian yang katanya sedang sibuk.
Kalau bukan karena kartu hitam Jemian yang tiba-tiba tidak bisa digunakan untuk bertransaksi, Serana tidak akan menunggu selama ini.
“Apa kalian mempermainkanku?” Serana kembali menodong Lucas yang baru turun untuk menjemputnya.
Lucas hanya tersenyum formal. “Tuan Jemian menyuruh saya untuk menjemput Anda, mari ikuti saya!” Pria itu mempersilakan Serana memasuki lift karyawan.
“Kenapa aku harus naik ke lift ini? Aku ini calon istrinya Jemian dan seharusnya memakai lift khusus!” Protes Serana yang membuat beberapa karyawan yang baru saja kembali beristirahat menoleh.
“Hanya keluarga Adhitama yang boleh menaiki lift khusus, jika Nona Serana tidak mau menggunakan lift karyawan… Nona Serana bisa memakai tangga,” jelas Lucas yang masih bisa tersenyum formal.
Serana mendengus kesal, sebelum masuk ke dalam lift yang hampir dipenuhi oleh karyawan. Wanita itu merasa terhina dengan perlakuan Jemian yang tiba-tiba berbeda dan ia tidak akan memaafkan Jemian yang sudah membuatnya malu.
Tidak seperti lift khusus, lift karyawan lebih lama… karena harus berhenti di beberapa lantai. Padahal Serana sudah lama menunggu Jemian menyelesaikan pekerjaan, tetapi wanita itu masih disuruh menaiki lift karyawan.
“Belikan aku makan siang, aku belum makan siang!” Titah Serana kepada Lucas.
“Maaf, tetapi jam makan siang sudah selesai dan saya harus menyelesaikan tugas dari Tuan Jemian. Nona Serana bisa memanggil OB untuk membelikan makan siang,” jelas Lucas saat mereka sampai di lantai di mana ruangan Jemian berada.
Lucas memang sudah diperintahkan Jemian untuk menolak keinginan Serana, karena biasanya Serana bertingkah seenaknya dan menyuruh-nyuruh Lucas. Jika sebelumnya Jemian akan membiarkan Serana menyusahkan Lucas, tetapi sekarang sudah tidak.
“Apa pekerjaanmu lebih penting dari perintahku?” Marah Serana.
Lucas menganggukkan kepalanya. “Karena saya digaji oleh perusahaan, bukan Nona Serana.”
Setelah mengatakan itu, Lucas pamit menuju ruangannya dan membiarkan Serana memakinya di depan ruangan Jemian.
“Dasar miskin! Kalau bukan karena Jemian, kau tidak mungkin bisa bekerja di sini!” Teriaknya, tetapi Lucas sudah berada di dalam ruangannya dan tidak bisa mendengar luapan emosi Serana.
Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam, ia harus tenang agar Jemian tidak curiga. Meskipun dalam hatinya, ia merasa sangat panas dan ingin memaki-maki Jemian yang sudah membuatnya menunggu selama tiga jam… bahkan pria itu tidak berinisiatif untuk membelikannya makan siang.
Tanpa mengetuk pintu, Serana langsung membuka pintu ruangan Jemian dan masuk ke dalam. Namun pria itu masih sibuk dengan dokumen di tangannya.
“Duduk dulu, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan!” Kata Jemian tanpa menoleh ke arah Serana yang wajahnya sudah merah padam.
Wanita itu sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Ia menggebrak meja kerja Jemian, napasnya memburu dan tatapannya begitu tajam.
“Kamu sengaja mempermainkanku!” Teriaknya di depan wajah Jemian yang masih begitu tenang.
Pria tu menaruh dokumen yang masih belum selesai, lalu menatap sepenuhnya ke arah sang tunangan yang sebentar lagi akan menjadi mantan tunangan.
“Apa maksudmu? Apa kamu tidak melihat ada banyak dokumen yang harus aku kerjakan? Jadi tunggulah sebentar!”
Bahkan suara Jemian juga begitu tenang, seakan tidak merasa bersalah sama sekali.
“Kalau kamu memang sibuk, aku tidak mau berlama-lama di sini! Aku cuma mau minta kamu buka blokiran kartu yang kamu berikan kepadaku!” Desak Serana yang sudah tidak peduli lagi dengan rencananya tadi.
“Bukan aku yang memblokirnya, tapi Papa dan aku tidak bisa membuka blokirannya,” bohong Jemian.
Sebenarnya pria itu sendiri yang memblokir kartu miliknya yang saat ini masih berada di tangan Serana, karena Jemian tidak ingin uangnya semakin banyak dipakai untuk menghidupi selingkuhan Serana.
“APA? KAMU BERCANDA ‘KAN?” Suara Serana kian meninggi, membuat Jemian memejamkan matanya.
“Tidak Serana, untuk apa aku bercanda dengan keadaan seperti ini?” Pria itu mendorong sedikit kursi kerjanya dan menunjuk salah satu kakinya yang masih belum bisa digunakan untuk berjalan.
Serana memejamkan matanya, sia-sia ia menunggu selama tiga jam sampai tidak makan siang. Dengan perasaan kesal, ia mengeluarkan kartu Jemian di dalam dompetnya dan melempar kartu tersebut ke dada bidang pria itu.
“Ambil kembali kartu tidak bergunamu itu!” Marah Serana, sebelum berbalik dan keluar dari ruangan Jemian.
Wanita itu memilih untuk pulang saja, daripada semakin tidak terkendali dan tanpa sadar membongkar rahasianya di hadapan Jemian.
Bahkan tanpa meminta izin Jemian, Serana menggunakan lift khusus untuk turun. Kepalanya terasa panas dan ia perlu mendinginkan kepalanya, sebelum nanti memikirkan cara untuk mendapatkan kartu Jemian yang lain.
Sedangkan diposisi Jemian, pria itu tersenyum puas saat melihat kartunya sudah kembali kepadanya.
“Saran Karina memang tidak buruk, buktinya kartu ini kembali tanpa perlu aku minta,” kekehnya yang kembali mengingat rencana yang diberikan oleh adik perempuannya itu.
“Aku akan memberi Karina uang jajan tambahan.”
Jemian langsung mengaktifkan kartu yang sudah kembali, lalu setelah itu ia mengirimkan uang jajan tambahan untuk Karina yang saat ini masih berada di sekolah.
“Nanti aku juga akan membelikan Karina banyak makanan, semoga dia menyukainya hadiah dariku,” Jemian benar-benar beruntung memiliki adik pintar seperti Karina.
...***...
Jevan menatap ponsel yang baru saja menyala, ia melihat ada uang masuk ke rekening Karina dan itu berasal dari Jemian.
“Untuk apa Jemian memberi Karina uang sebanyak ini?” Heran Jevan yang memang sedang bertukar ponsel dengan gadisnya, jadi sekarang ponsel Karina berada di tangannya dan begitupun sebaliknya.
Tidak lama kemudian, ada pesan masuk dari Jemian dan Jevan baru tahu alasan sang kakak memberi Karina uang sebanyak lima puluh juta.
“Jadi Karina sudah membantu Jemian dan ini hadiah dari Jemian?” Jevan menatap lekat layar ponsel gadisnya.
“Ck, aku bisa memberikan lebih banyak dari ini!” Pria itu menahan geramannya.
Jevan tidak mau kalah, jadi ia mengeluarkan ponselnya yang lain dan langsung mentransfer uang sebesar seratus juta ke rekening gadisnya.
“Kalau begini, Karina akan tetap menyayangiku,” pria itu tidak ingin uang dari Jemian membuat rasa sayang Karina untuknya jadi berkurang.
Jevan memang tidak mau kalah, bahkan dari kecil ia selalu ingin mendaptkan posisi pertama. Kebiasaan itu masih belum hilang sampai sekarang.
“Aku belum tahu makanan kesukaan Karina, dan masih ada banyak yang belum aku ketahui tentangnya,” pria itu ingin lebih dalam mengenal Karina.
Jadi, Jevan akan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan semua hal yang disukai oleh gadisnya. Sehingga Karina bisa mendapatkan semua itu darinya, bukan orang lain.
“Baru beberapa jam berpisah, aku sudah merindukannya,” Jevan mengerang frustasi, karena tiba-tiba merindukan gadisnya.
Bersambung!
semangat thor 💪💪