Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Ki Maung Murka
Pertarungan pun semakin memanas karena keduanya saling jual-beli serangan gaib. Di balik pohon waru, Kiano yang menyaksikan duel epik tersebut justru menyeringai lebar.
"Dhar, ini kesempatan emas buat kita!" bisik Kiano penuh semangat.
"Kesempatan bagaimana?! Jelas-jelas Ki Saron sedang kewalahan bertarung sendirian gara-gara ulahmu!" sahut Dharma ketus.
"Eh, lo mah kagak bisa diajak kerja sama banget, sih! Justru karena situasi lagi ruwet begini, Dharma! Tuh, lihat! Apa otak lo kagak mikir kalau si penunggu pohonnya lagi sibuk baku hantam sama Ki Saron?"
Dharma tertegun sesaat. "Maksudmu... kamu mau mencuri buah itu selagi mereka berdua sibuk bertarung?"
"Nah, pinter juga lo! Buat apa lagi coba kita berdua ada di sini? Lo, kan, bisa terbang. Tugas lo sekarang adalah melesat naik dan ambil tuh buah Malaka Hitam. Sementara gue bakal jaga-jaga dan mantau situasi di sekitar akar pohonnya."
Dharma menatap Kiano sangsi. "Kamu tidak takut terkena cipratan serangan mereka berdua?"
"Halah, itu mah gampang! Tinggal pakai jurus langkah seribu aja alias ngibrit! Yang penting sekarang kita harus secepatnya ambil buah itu, Dharma, sebelum tuh aki-aki janggut jemuran sadar kalau buahnya kita tilep!"
"Baiklah. Namun, ingat, ya! Kau jangan menyusahkanku lagi. Begitu aku berhasil mendapatkan buahnya, kita harus langsung lari dari sini. Aku tidak mau repot-repot terkena murka harimau purba itu, apalagi sampai harus bertarung melawannya," ucap Dharma ketus sebelum akhirnya keluar dari balik pohon bersama Kiano.
"Sip deh! Gue nungguin di bawah pohonnya, ya. Lo lempar aja buahnya ke bawah, gue siap nangkep pake gaya kiper andalan. Ayo, Men, kita capcus!"
Kiano langsung berlari terbirit-birit mendekati pohon Malaka Hitam. Sepanjang langkahnya, sepasang mata Kiano bergerak waspada ke kanan dan ke kiri, takut-takut jika ia mendadak terkena cipratan serangan nyasar dari dua makhluk kuat yang sedang asyik bertarung itu.
Sementara itu, Dharma pun bergerak tak kalah cepat. Ia langsung melesat terbang menuju ke pucuk pohon untuk memetik buah Malaka Hitam yang diincar. Sebelum tangannya menyentuh ranting, Dharma celingukan menatap ke arah medan pertempuran Ki Maung. Jantungnya berdegup kencang karena takut aksi pencuriannya ini ketahuan oleh makhluk buas tersebut.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Dharma berhasil memetik satu buah Malaka Hitam, lalu segera mengarahkannya ke bawah.
"Tangkap ini, Kiano!" seru Dharma setengah berbisik.
Pluk!
Dharma menjatuhkan buah misterius itu tepat ke arah majikannya. Namun, dasar Kiano yang kurang gerak cepat alias kurang gercep, kedua telapak tangannya meleset. Buah tersebut lolos, jatuh menghantam tanah, dan...
Duarrr...!
Ledakan dahsyat seketika tercipta. Tubuh Kiano langsung terlempar jauh ke udara akibat hempasan angin yang luar biasa kuat.
Buah yang semula mereka kira buah penyembuh biasa itu ternyata meledak hebat begitu menyentuh tanah, hingga meninggalkan sebuah kawah besar yang dalam, persis seperti bekas jatuhnya meteor.
Sialnya, akibat dentuman keras yang menggetarkan seluruh isi hutan tersebut, atensi kedua petarung di udara langsung teralihkan total. Ki Maung menghentikan serangannya pada Ki Saron. Sepasang mata merah menyala milik harimau purba itu melotot murka menatap ke arah kawah ledakan di bawah pohon keramatnya.
"Buah berhargaku...! Beraninya kalian mencurinya!" raung Ki Maung murka. Harimau purba raksasa itu langsung berbalik arah dan menerjang buas ke arah Dharma, mengabaikan total keberadaan Ki Saron yang berdiri di hadapannya.
Sementara itu, nasib apes justru menimpa Kiano. Hempasan angin ledakan tadi sukses membuat pemuda itu melayang jauh dan berakhir nyangkut secara mengenaskan di atas sebuah pohon beringin tua yang letaknya cukup jauh dari tempat kejadian.
Uhukk...! Uhukk...!
Lagi-lagi Kiano memuntahkan darah segar dari tenggorokannya. Efek hantaman keras ditambah mood-nya yang semakin kacau membuat badai energi di dalam dadanya bergejolak hebat.
"Arghhh... Sialan lo, Dharma!" umpat Kiano sembari menyeka sisa darah di sudut mulutnya yang terus-terusan mengucur.
Seluruh tulang di tubuhnya serasa remuk redam. Di tengah rasa sakit yang mendera, rasanya ia ingin menyerah saja dan pulang ke rumahnya yang nyaman di daerah Jakarta Barat. Ia mendadak rindu berat dengan kamar mewahnya, kasur empuknya, masakan mami, pelukan papi, serta celoteh lucu adik bayi perempuannya.
"Nasib, nasib! Gini amat sih hidup gue, ya Gusti...!" ratap Kiano nelangsa sembari memeluk dahi beringin. "Padahal niat hati cuma mau mengambil golok keramat di rumah Opa, eh... malah berakhir terdampar jadi pangeran KW kayak begini! Hwaaa... Papi, Mami... Kiano mau pulang ke Jakarta!"
"Berisik sekali kau! Mengganggu tidurku saja!"
Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar, memotong rentetan ratapan nelangsa Kiano.
Kiano sontak mengerjapkan mata karena kaget. Rasa sakit di dadanya mendadak teralihkan. Ia langsung celingukan, menatap ke sana kemari di antara rimbunnya dedaunan beringin tua yang gelap.
"Siapa yang ngomong barusan, ya? Setan, ya, lo?!" tanya Kiano setengah berteriak, matanya menyipit waspada.
"Sembarangan! Aku bukan setan. Aku makhluk bunian, dasar kau gila!" balas suara itu lagi, terdengar ketus dan dingin dari arah ranting yang lebih tinggi.
Kiano pun mendongak, menatap ke arah puncak pohon beringin. Di atas sana, tampak seseorang tengah duduk bersandar dengan kaki berselonjor santai di dahan pohon yang lebih besar.
Kiano menyipitkan mata, berusaha memperjelas pandangannya ke arah sosok yang terlihat seperti seorang pemuda jelata itu. "Eh, Mas! Woy, tolongin gue, dong! Kebetulan banget nih gue mau turun, tapi kagak bisa. Lo bisa bantu turunin gue kagak?" seru Kiano tanpa tahu malu.
Pemuda di atas sana—yang tak lain adalah Putri Arum Rengganis dalam balutan penyamaran kumis palsunya—langsung berdecak kesal. "Ck! Mengganggu saja. Turun saja sendiri! Jangan menyusahkan orang asing yang baru kau temui," sahut Arum dingin.
Sebenarnya, di balik sikap ketusnya, Arum juga merasa sangat kaget melihat kehadiran pemuda gesrek ini di atas pohon yang sama.
Pikiran Arum langsung melayang ke kejadian beberapa waktu lalu. Mereka berdua sebenarnya sempat berpapasan secara tidak sengaja di Pasar Gaib Mandala Hyang saat Arum sedang sibuk melarikan diri dari kejaran pengawal ayahnya.
Kocaknya, Kiano yang saat itu juga sedang kabur dari acara kencan buta maraton kerajaan, mendadak mengacau. Pemuda salah server itu sempat salah paham dan nekat mengejar Arum karena mengira sang putri adalah Arummi—teman sekelas SMAnya di Jakarta—akibat wajah keduanya yang kembar identik.
"Judes amat sih, Mas. Lagian Mas ngapain nangkring di pohon malem-malem begini? Kayak enggak ada kerjaan aja," gerutu Kiano sembari memegangi pinggangnya yang encok.
"Bukan urusanmu!" ketus Arum, membuang muka.
Sebenarnya, Arum sengaja melarikan diri jauh-jauh ke Negeri Bunian Mandala Hyang ini karena situasi di negerinya sudah tidak aman.
Sebagai putri dari Kerajaan Gunung Kidul, ruang geraknya makin sempit karena pasukan sang ayah terus mencarinya. Jika ia tetap bertahan di sana, penyamarannya pasti akan terbongkar. Di atas pohon beringin tua inilah ia menyendiri, merenung, dan memikirkan cara agar bisa menyeberang ke dunia manusia demi mencari ibu kandungnya.
"Ck, padahal gue cuma minta tolong turunin aja. Sombong amat!" cibir Kiano pelan.
Dengan sangat terpaksa, Kiano mulai menggeser bokongnya, bersiap merosot turun dari dahan pohon secara mandiri. Namun, dewi fortuna tampaknya sedang enggan tersenyum padanya.
Di kejauhan, pertempuran antara Dharma, Ki Saron, dan Ki Maung ternyata semakin menggila. Amukan jin harimau purba yang kehilangan buah keramatnya itu memicu gelombang energi dahsyat. Akibatnya, tanah bergetar hebat dan pohon beringin tempat Kiano bernaung ikut bergoyang luar biasa kencang.
"Eh-eh-eh! Copot, copot!"