NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Di Belakangku

Arkana berdiri di ambang balkon dengan tatapan dingin yang langsung mengarah pada Ratih. “Ibu sedang membuatnya takut lagi?” Suara pria itu rendah tetapi penuh tekanan sampai udara malam terasa menegang. Dan Kemuning langsung panik melihat suasana di antara ibu dan anak tersebut.

Tatapan Arkana begitu tajam sekarang. Tidak ada lagi ketenangan dingin biasa yang sering ia tunjukkan di depan keluarganya. Kemuning bahkan belum pernah melihat Arkana menatap seseorang seperti itu sebelumnya. Termasuk pada ibunya sendiri.

Ratih tetap berdiri tegak dengan wajah elegan tanpa banyak perubahan ekspresi. Namun untuk pertama kalinya malam itu, ketidaksukaan wanita tersebut pada Kemuning terlihat jelas. Tatapan Ratih terasa dingin dan penuh penilaian. Membuat Kemuning refleks menundukkan kepala.

“Aku hanya mengingatkan dia agar tahu diri.” Ratih berkata tenang sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Dia terlalu polos untuk dunia kita. Aku tidak ingin kau menghancurkan hidupmu hanya karena rasa kasihan sesaat.”

Kalimat itu langsung membuat dada Kemuning terasa sesak lagi. Kepalanya semakin tertunduk malu mendengar kata “kasihan” disebut begitu jelas. Karena jauh di dalam hatinya, Kemuning memang takut itu kenyataannya. Takut Arkana hanya iba padanya.

Namun sebelum Kemuning tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, Arkana langsung memotong dingin. “Aku tidak pernah merasa kasihan padanya.” Kalimat itu jatuh begitu tegas tanpa sedikit pun keraguan. Dan suasana balkon langsung membeku.

Ratih terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya, wanita itu terlihat benar-benar terkejut oleh ucapan putranya sendiri. Sedangkan Kemuning langsung membeku dengan napas tertahan.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai terasa sakit.

Kemuning perlahan mengangkat kepala menatap Arkana tidak percaya. Tatapan pria itu masih dingin, tetapi kali ini ada sesuatu yang jauh lebih dalam di matanya. Dan untuk pertama kalinya, Kemuning mulai sadar perhatian Arkana mungkin bukan sekadar belas kasihan. Kesadaran itu membuat tubuhnya gemetar halus.

Namun Ratih belum menyerah. Wanita itu menatap Kemuning beberapa detik sebelum kembali bicara dengan nada tenang menusuk. “Lalu apa? Kau pikir perempuan seperti dia bisa bertahan di dunia Mahendra?”

Kemuning langsung kembali merasa kecil. Ratih mulai menyinggung semua hal yang selama ini menjadi luka terdalamnya. Tentang dirinya yang miskin, tidak berpendidikan tinggi, dan tidak memiliki status apa pun. Setiap kata terasa seperti tamparan pelan di wajahnya.

“Dia gadis desa tanpa pendidikan.” Ratih melanjutkan sambil menatap Kemuning lurus. “Media akan menghancurkannya dalam hitungan hari. Dan keluarga besar kita tidak akan pernah menerimanya.”

Kemuning menggigit bibir kuat-kuat menahan rasa malu yang kembali menghantamnya. Ia tidak bisa membantah satu pun ucapan Ratih. Karena semua itu memang kenyataan. Dan kenyataan tersebut terasa terlalu menyakitkan malam ini.

Namun sebelum Ratih melanjutkan, Arkana bergerak pelan berdiri tepat di depan Kemuning. Tubuh tinggi pria itu otomatis menjadi penghalang di antara mereka. Gerakan sederhana tersebut langsung membuat napas Kemuning tercekat pelan. Karena tanpa sadar, Arkana sedang melindunginya lagi.

Di balik tubuh Arkana, jemari pria itu perlahan menyentuh tangan Kemuning. Sentuhan kecil tersebut nyaris tidak terlihat siapa pun. Namun cukup untuk membuat mata Kemuning langsung memanas. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia ingin menangis.

Arkana selalu seperti ini. Selalu berdiri di depannya setiap kali seseorang membuatnya merasa kecil. Selalu menariknya keluar dari rasa takut yang menghancurkan dirinya sendiri. Dan Kemuning mulai sadar dirinya tidak akan sanggup menjauh lagi.

Ratih melihat semuanya dengan dada yang perlahan menegang. Ia belum pernah melihat Arkana membela perempuan sejauh ini sebelumnya. Putranya yang dingin dan selalu menjaga jarak kini justru berdiri melindungi seseorang tanpa ragu. Dan itu membuat Ratih mulai merasa takut.

Karena Arkana terlihat serius. Terlalu serius. Lebih serius dibanding apa pun yang pernah Ratih lihat selama ini. Dan Kemuning perlahan menjadi pusat perhatian putranya.

“Publik tidak akan menerima hubungan seperti ini.” Ratih akhirnya berkata lebih tegas. “Media akan memburu kalian. Dan keluarga Mahendra akan menolaknya.”

Namun Arkana justru menjawab tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. “Aku tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi mereka.” Nada suaranya rendah tetapi sangat dingin dan tegas. Kalimat itu langsung membuat Ratih semakin frustrasi.

Kemuning langsung merasa dadanya semakin sesak. Ia tidak tahan melihat hubungan ibu dan anak itu memburuk karena dirinya. Semua ketegangan ini terjadi karena kehadirannya di antara mereka. Dan rasa bersalah mulai menghancurkannya perlahan.

“Jangan bertengkar karena saya...” Kemuning akhirnya memberanikan diri bicara pelan sambil menunduk. Suaranya terdengar kecil dan penuh rasa bersalah. Namun justru membuat Arkana langsung menoleh tajam.

“Berhenti menyalahkan dirimu untuk semua hal.” Suara Arkana terdengar rendah dan emosional kali ini. Tidak marah, tetapi penuh tekanan yang membuat Kemuning langsung terdiam. Dan jantung gadis itu kembali bergetar hebat.

Kemuning membeku menatap Arkana. Belum pernah ada seseorang yang membelanya seperti ini sebelumnya. Bahkan saat dirinya sendiri terus menyalahkan diri, Arkana tetap menariknya kembali berdiri. Dan itu terasa terlalu hangat bagi hati Kemuning.

Ratih perlahan mengembuskan napas panjang. Tatapan wanita itu kini bergantian antara Arkana dan Kemuning. Ia bisa melihat semuanya semakin jelas sekarang. Putranya sudah terlalu jauh jatuh pada gadis itu.

Akhirnya Ratih melangkah mundur perlahan dengan wajah dingin. Namun di balik ketenangannya, ada luka dan kemarahan yang mulai tumbuh. Sebelum pergi, wanita itu kembali menatap Kemuning lurus. Dan kalimat berikutnya langsung menghantam dada gadis itu.

“Kalau kau benar peduli pada Arkana...” Ratih berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Jangan jadi kelemahannya.” Lalu wanita itu pergi meninggalkan balkon.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Kemuning setelah Ratih menghilang. Jangan jadi kelemahannya. Dadanya terasa sakit mendengar itu. Karena untuk pertama kalinya, Kemuning mulai takut dirinya benar-benar akan menyakiti Arkana.

Suasana balkon mendadak berubah sangat sunyi. Hanya suara angin malam yang terdengar pelan di sekitar mereka. Kemuning terus menunduk sambil menahan air mata yang hampir jatuh. Sedangkan Arkana berdiri memperhatikannya diam-diam.

Kemuning merasa dirinya benar-benar membawa masalah ke hidup pria itu. Masuk ke rumah Mahendra. Mengubah hubungan Arkana dan Ratih. Dan membuat semuanya menjadi rumit.

Namun perlahan, Arkana kembali mendekatinya. Langkah pria itu tenang tetapi membuat jantung Kemuning kembali tidak stabil. Sampai akhirnya Arkana berhenti tepat di depannya.

Dan jemari hangat pria itu perlahan mengangkat dagunya.

Kemuning langsung menahan napas saat dipaksa menatap Arkana lagi. Tatapan pria itu jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Masih gelap dan intens, tetapi kini dipenuhi sesuatu yang membuat dada Kemuning terasa hangat. Dan tubuh gadis itu mulai gemetar karena terlalu emosional.

“Kau bukan masalah.” Arkana akhirnya berkata jujur untuk pertama kalinya. Kalimat itu terdengar sederhana tetapi menghancurkan seluruh pertahanan Kemuning seketika. Karena belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.

Mata Kemuning langsung berkaca-kaca penuh. Selama hidupnya, ia selalu dianggap beban.

Pembawa sial. Masalah yang merepotkan semua orang.

Namun Arkana justru berkata sebaliknya. Dan hal itu terasa terlalu indah untuk dipercaya. Air mata kecil akhirnya jatuh di pipi Kemuning tanpa bisa ditahan lagi. Sedangkan Arkana langsung berubah diam melihatnya.

Kemuning buru-buru menunduk malu sambil memegang jas Arkana erat. Tubuhnya bergetar kecil menahan tangis yang selama ini selalu ia sembunyikan. Dan tanpa sadar, dirinya bergerak sedikit lebih dekat pada Arkana. Mencari rasa aman yang hanya pria itu bisa berikan sekarang.

Melihat itu, Arkana perlahan menarik Kemuning ke dalam pelukannya. Gerakannya sangat pelan seolah takut membuat gadis itu menjauh. Namun begitu tubuh Kemuning bersandar di dadanya, sesuatu dalam diri Arkana langsung melembut. Dan pria itu tidak ingin melepaskannya lagi.

Tangan Arkana bergerak naik mengusap punggung Kemuning perlahan. Sedangkan kepala Kemuning kini bersandar di dada bidang pria tersebut. Suara detak jantung Arkana terdengar jelas di telinganya. Hangat, tenang, dan membuat Kemuning perlahan merasa aman.

Pelukan itu terasa terlalu nyaman. Terlalu menenangkan untuk sesuatu yang seharusnya salah. Kemuning bahkan mulai lupa pada dinginnya angin malam di balkon hotel. Karena berada di pelukan Arkana terasa seperti pulang.

Arkana menunduk sedikit memperhatikan gadis kecil di dadanya sekarang. Rambut panjang Kemuning menyentuh dagunya lembut. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arkana benar-benar takut kehilangan seseorang. Kesadaran itu terasa sangat berbahaya.

Karena sekarang Arkana tahu satu hal pasti. Dirinya tidak akan sanggup melepaskan Kemuning lagi. Tidak setelah gadis itu perlahan masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya. Dan tidak setelah dirinya mulai merasa membutuhkan Kemuning di sisinya.

Kemuning masih diam dalam pelukan Arkana saat pria itu perlahan menunduk ke dekat rambutnya. Suara rendah Arkana akhirnya terdengar pelan di tengah sunyi malam.

“Mulai sekarang...”

Tangan pria itu mengerat sedikit di punggung Kemuning. Dan kalimat berikutnya langsung membuat jantung gadis itu bergetar hebat.

“Berdirilah di belakangku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!