NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: LANGKAH PERTAMA DI SAN LORENZO

Jika pusat kota Roma adalah etalase kaca yang berkilauan dengan aroma parfum mahal, maka distrik San Lorenzo adalah jiwanya yang berdebu, penuh coretan grafiti, dan berbau kopi yang dipanggang terlalu lama.

Di sinilah Matteo menempatkan "butik" rahasia untuk Alesha.

Bukan di Via del Corso yang megah seperti bayangan awal, melainkan di sebuah gang sempit yang diapit oleh bengkel tua dan toko buku bekas.

Alesha turun dari mobil limosin hitam yang terasa sangat asing di lingkungan kumuh ini.

Marcello, yang mendampinginya, menatap sekitar dengan pandangan seolah-olah ia takut sepatunya akan tertular penyakit hanya dengan menginjak aspal di sana.

"Ini tempatnya, Nyonya," ucap Marcello sambil menunjuk sebuah bangunan dua lantai dengan kayu yang sudah lapuk.

Papan namanya bahkan sudah miring, menyisakan tulisan samar, L’Atelier.

Alesha melangkah masuk. Begitu pintu terbuka, suara derit kayu yang menyedihkan menyambutnya. Aroma debu yang tebal menyengat hidungnya, bercampur dengan bau apak dari kain-kain tua yang sudah digerogoti ngengat di pojok ruangan.

Rak-rak pajangannya sudah retak, dan cermin besar di tengah ruangan tertutup lapisan kotoran hingga tidak bisa lagi memantulkan bayangan.

Ini bukan butik. Ini adalah reruntuhan bisnis yang hampir bangkrut.

"Tuan Matteo menyampaikan permohonan maaf," Marcello berdehem, mencoba tetap formal di tengah kekacauan itu.

"Beliau mengatakan, jika Anda benar-benar seorang desainer, Anda harus bisa membangun sesuatu dari nol. Beliau juga sudah menyiapkan empat orang asisten profesional dari kantor pusat untuk membantu Anda melakukan renovasi dan inventarisasi."

Empat pria muda dengan setelan jas rapi dan sarung tangan putih melangkah masuk.

Mereka membawa buku catatan digital dan terlihat sangat ragu untuk menyentuh apa pun di ruangan itu.

"Selamat pagi, Nyonya," salah satu dari mereka membungkuk kaku.

"Kami akan mulai mendata kerusakan dan memanggil kontraktor. Estimasi pengerjaan mungkin tiga minggu—"

"Tiga minggu?" Alesha memotong, suaranya naik satu oktav.

Ia berbalik dan menatap asisten-asisten itu dengan pandangan yang membuat mereka menciut.

"Kalian menyebut diri kalian profesional, tapi kalian takut debu? Lihat tangan kalian, halus sekali seperti pantat bayi."

Alesha tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang membuat Marcello hampir terkena serangan jantung, Alesha menarik resleting belakang gaun sutra mahalnya.

"Nyonya! Apa yang Anda lakukan?!" pekik Marcello sambil berbalik badan dengan cepat.

Srekk!

Alesha melepaskan gaun itu begitu saja, membiarkannya jatuh ke lantai yang kotor. Di balik gaun itu, ia ternyata sudah mengenakan tank top hitam ketat dan celana pendek berbahan katun yang ia siapkan sejak dari Villa.

Ia mengikat rambut hitamnya menjadi sanggul tinggi yang berantakan, lalu menyambar sepasang sepatu bot kulit dari kopernya.

"Kalian," Alesha menunjuk ke arah empat asisten itu dengan jarinya yang kini sudah memegang kuas besar yang ia temukan di pojok ruangan.

"Kalian terlalu lembek. Pergi dari sini. Beritahu Matteo, aku tidak butuh manekin hidup yang hanya bisa mencatat. Aku butuh orang yang berani kotor, dan karena kalian tidak punya nyali, aku akan melakukannya sendiri."

"Tapi Nyonya, Tuan Matteo memerintahkan—"

"Keluar!" bentak Alesha, suaranya menggelegar di ruangan kosong itu.

"Atau aku akan menyiram jas mahal kalian dengan cat kaleng ini sekarang juga!"

Melihat Alesha yang sudah membuka kaleng cat berwarna biru navy dengan obeng, keempat asisten itu lari tunggang langgang keluar dari butik, diikuti oleh Marcello yang terus menggumamkan doa-doa dalam bahasa Latin.

Alesha menarik napas dalam. Ia menatap dinding yang kusam dan penuh noda itu.

"Mari kita buat keajaiban, Alesha," bisiknya pada diri sendiri.

Ia mulai bekerja. Tidak ada musik, hanya suara kuas yang menggores dinding dan napasnya yang memburu.

Alesha memanjat tangga kayu yang goyah, mengecat sudut-sudut tinggi dengan penuh semangat. Ia tidak peduli saat percikan cat mengenai wajahnya atau ketika telapak tangannya mulai lecet karena menggosok lantai.

Baginya, ini adalah surga. Di sini, tidak ada aturan kaku keluarga Al-Ricci.

Di sini, ia bukan "pengganti" Kiara. Di sini, ia adalah Alesha sang pencipta. Setiap goresan warna di dinding itu adalah bentuk pemberontakannya terhadap takdir yang mencoba mengurungnya.

Tiga jam berlalu. Butik itu mulai berubah. Warna biru gelap yang ia pilih memberikan kesan misterius dan elegan, menutupi semua luka pada dinding lama tersebut.

Alesha sedang berjongkok di lantai, mencoba membersihkan sisa-sisa lem lama, ketika suara motor kursi roda elektrik terdengar dari arah pintu.

Alesha menoleh. Matteo berdiri atau lebih tepatnya duduk di ambang pintu. Pria itu mengenakan jas hitamnya yang sempurna, sangat kontras dengan lingkungan San Lorenzo yang berantakan.

Matteo terdiam sejenak melihat pemandangan di depannya. Istrinya, Nyonya Al-Ricci yang seharusnya duduk manis memimpin rapat renovasi, kini berlumuran cat. Ada noda biru di hidungnya, tank topnya basah oleh keringat, dan rambutnya dipenuhi debu kayu.

"Marcello bilang kau mengusir timku dan mencoba menghancurkan bangunan ini sendirian," ucap Matteo datar, namun matanya menyapu seluruh ruangan.

Ia menyadari perubahan warna dindingnya. "Biru navy? Pilihan yang berani untuk gang gelap seperti ini."

Alesha berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, yang justru menambah noda cat di wajahnya.

Ia berdiri dengan angkuh, memegang pisau palet seolah-olah itu adalah pedang.

"Asistenmu itu sampah, Matteo. Mereka lebih peduli pada kebersihan kuku mereka daripada visi desainku," sahut Alesha tanpa rasa takut.

"Dan tempat ini... ini bukan bangunan hancur. Ini adalah kanvasku. Kau memberiku reruntuhan karena kau pikir aku akan menyerah dan kembali ke Villa untuk menjadi pajanganmu, kan?"

Matteo mendorong kursi rodanya masuk lebih dalam, mengabaikan debu yang menempel di bannya. Ia berhenti tepat di depan Alesha.

Ia mendongak, menatap mata istrinya.

Dan untuk sesaat, Matteo terpana.

Ia telah melihat banyak wanita cantik di Roma. Ia telah melihat Kiara dengan segala riasan dan perhiasan mahalnya.

Namun, ia belum pernah melihat mata yang bersinar secerah ini. Mata Alesha tidak memancarkan kemarahan seperti biasanya, mata itu memancarkan gairah, kehidupan, dan kebanggaan yang murni.

Di tengah kekacauan butik yang berdebu ini, Alesha tampak jauh lebih "hidup" dan berkuasa daripada saat ia berdiri di altar gereja dengan cadar mahalnya.

"Aku tidak menyangka kau benar-benar akan mengotori tanganmu," gumam Matteo pelan.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, Matteo Al-Ricci," Alesha menantangnya, meskipun napasnya masih terengah-engah.

"Aku membangun hidupku dari tumpukan kain perca. Membersihkan debu di San Lorenzo adalah hal paling mudah yang pernah kulakukan."

Matteo mengulurkan tangannya. Alesha refleks mundur, namun Matteo hanya meraih sehelai serat kayu yang tersangkut di rambut Alesha.

"Kau terlihat seperti bencana, Alesha," ucap Matteo.

Suaranya tidak sedingin biasanya. Ada nada pengakuan di sana, sebuah rasa hormat yang muncul di balik topeng datarnya.

"Tapi setidaknya, bencana ini punya warna."

Matteo memutar kursi rodanya untuk pergi. "Besok, aku akan mengirimkan peralatan jahit terbaik ke sini. Bukan asisten, tapi barang. Jika kau ingin melakukannya sendiri, maka lakukanlah dengan alat yang layak."

Alesha terpaku menatap punggung Matteo yang menjauh. Ia menyentuh rambutnya tempat Matteo baru saja menyentuhnya.

"Hei, Matteo!" panggil Alesha sebelum pria itu mencapai mobilnya.

Matteo berhenti.

"Terima kasih untuk tempat ini. Ini lebih baik daripada penjara emasmu!" teriak Alesha dengan cengiran bar-bar-nya.

Matteo tidak menoleh, tapi ia mengangkat satu tangannya sedikit sebelum masuk ke dalam limosin.

Di dalam mobil, Matteo menyandarkan kepalanya, menatap noda debu kecil yang menempel di jasnya.

Ia tidak marah. Ia justru merasa bahwa untuk pertama kalinya, ia baru saja melihat sisi lain dari dunia, sisi yang penuh warna. Berantakan, namun sangat jujur.

Dan di dalam butik tua di San Lorenzo, Alesha kembali memegang kuasnya dengan semangat baru. Perang belum berakhir, tapi langkah pertama di San Lorenzo telah ia menangkan dengan gemilang.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!