Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
axel van elion
Sesampainya di rumah, Anna langsung berlari masuk dengan wajah yang berseri-seri. "Mama! Papa!" teriaknya mencari keberadaan orang tuanya.
"Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak?" tanya Sang Mama sambil menghampiri putrinya yang tampak sangat bersemangat.
"Mama, Papa, aku boleh kan menginap di rumah Jolina? Dia teman baru aku, Ma! Kami mau nonton film bareng," ucap Anna dengan mata berbinar-binar.
Sang Mama dan Papa saling berpandangan lalu tersenyum lega melihat perkembangan sosial Anna yang begitu pesat di sekolah baru. "Boleh, Sayang. Tapi ingat, jangan begadang terlalu larut ya? Jaga kesehatanmu," pesan Sang Mama lembut.
"Yeyyy! Makasih, Ma, Pa!" seru Anna kegirangan. Ia langsung melesat ke kamarnya di lantai atas untuk bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian, Anna turun dengan penampilan yang sangat memukau. Ia mengenakan rok mini di atas paha dipadukan dengan kardigan rajut yang manis. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah, memberikan kesan cantik yang luar biasa—sangat mirip dengan estetika manhwa yang ia sukai. Setelah diantar oleh sopir pribadi, Anna sampai di depan sebuah rumah yang sangat megah.
"Wah... rumah Jolina besar sekali ya," gumam Anna takjub menatap halaman rumah yang luas dan asri.
Di dalam kamar, suasana sangat meriah. Anna, Emma, dan Jolina asyik bercerita, tertawa, dan menonton film sambil sesekali memakan camilan. Namun, di luar sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam baru saja memasuki halaman.
Seorang pria berusia sekitar 25 tahun turun dari mobil tersebut. Pria itu memiliki bahu yang lebar, tubuh tinggi atletis, dan wajah tampan yang sangat tegas dalam balutan jas formal yang elegan. Aura kepemimpinan dan pengaruhnya terasa sangat kuat bahkan dari kejauhan.
Dia adalah Axel Van Elion.
Jika keluarga De Luca dianggap sebagai kekuatan nomor satu, maka keluarga Elion adalah raja di atas segalanya. Dalam dunia bisnis dan pengaruh, De Luca hanyalah "remahan" bagi keluarga Elion; tanpa dukungan finansial dan koneksi dari Elion, De Luca bukanlah siapa-siapa.
Asisten pribadinya segera membukakan pintu mobil dengan sikap hormat yang dalam. Axel melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat dingin dan datar. Ia adalah paman dari Jolina, sosok yang paling disegani sekaligus pemilik kekuasaan absolut di keluarga besar tersebut. Kehadirannya di rumah itu seketika mengubah atmosfer menjadi lebih berat dan penuh wibawa.
Tengah malam yang sunyi menyelimuti rumah megah keluarga Elion. Anna terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Ia melirik Emma dan Jolina yang sudah tertidur pulas dengan baju tidur couple mereka. Dengan langkah pelan, Anna keluar dari kamar dan menuruni tangga yang luas.
"Dapur di mana ya? Rumah ini besar sekali, seperti labirin," gumam Anna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Setelah beberapa saat mencari, ia akhirnya menemukan area dapur yang sangat modern. Di sana, ia melihat punggung seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya. Pria itu baru saja menuangkan air ke dalam gelas. Merasa tidak enak, Anna tetap melangkah maju. Saat pria itu membalikkan badan, tatapan mereka langsung bertemu. Mata tajam Axel yang sedingin es menusuk tepat ke manik mata Anna.
"Halo Om... kenalin, aku Anna, temannya Jolina. Izin minta air ya, Om," ucap Anna dengan sangat sopan dan suara lembut.
Axel tidak menjawab. Pria itu sebenarnya sedang berjuang mati-matian menahan gejolak dalam tubuhnya akibat pengaruh obat yang diberikan kliennya secara licik tadi siang. Selama ini, Axel tidak pernah merasa bergairah pada perempuan mana pun, namun melihat Anna yang berdiri di hadapannya dengan baju tidur pendek dan wajah polos yang menggemaskan, pertahanannya runtuh.
Tanpa aba-aba, Axel menarik tangan Anna dengan kuat hingga gadis itu terkesiap. "Om?" Anna melotot kaget. Saat kulit mereka bersentuhan, Anna merasakan suhu tubuh Axel yang sangat panas. "Om... badannya panas banget. Om demam ya? Lepas, Om," ucap Anna mulai panik.
Bukannya melepas, Axel justru menarik pinggang Anna dan langsung membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang menuntut. Anna melotot, jantungnya berdegup kencang saat merasakan lumatan kasar namun memabukkan dari Axel. Dengan satu gerakan kuat, Axel mengangkat tubuh mungil Anna dan mendudukkannya di atas meja dapur.
"Om? Ngapain cium-cium aku?" tanya Anna dengan wajah polos yang sangat kentara.
Axel tertegun sejenak menatap wajah itu. Gadis ini benar-benar belum tersentuh. "Om demam ya? Mau dikompres?" tanya Anna lagi dengan nada khawatir yang tulus.
"Bukan..." bisik Axel dengan suara serak yang berat. "Bantu saya."
"Bantu apa?"
Axel kembali mencium bibir Anna yang terasa sangat manis baginya, jauh lebih candu dari apa pun yang pernah ia rasakan. "Balas ciuman saya," perintah Axel dengan penekanan yang dalam, seolah tidak menerima penolakan.
Axel kembali melumat bibir Anna dengan lebih dalam dan penuh gairah. Tangannya yang besar mulai mengelus punggung Anna dengan lembut namun posesif, menciptakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Anna. Anna yang awalnya bingung, perlahan mulai terhanyut oleh suasana. Matanya tertutup rapat saat ia mulai merasakan debaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Napas Anna memburu, dadanya naik turun dengan tidak beraturan saat ia secara refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Axel. Sensasi panas dari tubuh pria itu seolah berpindah ke dirinya. Ketika Axel mulai mencium ceruk lehernya dengan intens, Anna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara lirih.
"Ahh... Ommh..." desah Anna pelan, yang justru menjadi pemicu meningkatnya gairah Axel berkali-kali lipat.
Axel semakin kehilangan kendali; tangannya yang besar meremas pinggang ramping Anna dengan posesif, membuat Anna kembali memekik kecil. Axel kemudian kembali melumat bibir Anna dengan sangat dalam dan menuntut, seolah ingin menyesap seluruh oksigen yang ada. Anna mulai merasa pusing dan dunianya berputar karena kehabisan napas. Dengan sisa tenaganya, ia memukul-mukul dada bidang Axel untuk meminta dilepaskan.
Seketika, Axel tersentak. Ia melepaskan ciumannya dan menatap Anna yang tampak berantakan dengan bibir kemerahan dan mata yang sayu. Kesadaran Axel mulai kembali, ia tertegun menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada teman keponakannya sendiri.
Anna segera turun dari meja dapur dengan langkah yang sedikit goyah. Sambil mencoba mengatur napasnya yang masih tersenggal, ia menatap Axel dengan tatapan polosnya yang masih tersisa.
"Aku... aku sudah bantu Om, kan?" tanya Anna lirih sambil merapikan baju tidurnya yang sedikit berantakan. "Kalau begitu, aku pamit ke atas ya, Om."
Tanpa menunggu jawaban dari Axel yang masih mematung di dapur, Anna segera berbalik dan berlari kecil menaiki tangga.