NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Terlalu Jauh untuk Disembunyikan

Bab 32 — Terlalu Jauh untuk Disembunyikan

Ballroom hotel masih terasa sunyi setelah ucapan terakhir Wira. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan musik yang sejak tadi mengalun pelan terasa seperti menghilang dari ruangan.

Kevin Wijaya berdiri kaku di depan Wira. Senyum miringnya sudah lenyap.

Sementara Wira masih menatapnya dengan dingin. Aura pria itu benar-benar berubah sekarang. Bukan lagi CEO tenang yang biasa dilihat orang-orang. Tapi seseorang yang siap menghancurkan siapa pun yang menyentuh hal penting baginya.

Dan malam ini… semua orang akhirnya tahu siapa “hal penting” itu.

“Minta maaf.” Suara Wira rendah.

Namun cukup membuat suasana semakin tegang.

Kevin tertawa kecil paksa.

“Bukankah Bapak terlalu serius?”

“Aku tidak mengulang dua kali.”

Tatapan Wira tidak bergeser sedikit pun. Kevin akhirnya melirik sekeliling. Semua tamu diam memperhatikan mereka dan untuk pertama kalinya sejak tadi, pria itu terlihat benar-benar terpojok.

“Oke,” katanya akhirnya sambil menatap Mona. “Maaf kalau ucapan saya menyinggung.”

Mona langsung merasa tidak nyaman mendapat perhatian semua orang. Namun sebelum ia sempat menjawab—

“Bukan ke dia.”

Kevin mengernyit.

Wira melangkah sedikit lebih dekat.

“Kamu menghina seseorang di acara perusahaanku.” Nada suaranya dingin. “Minta maaf dengan benar.”

Hening lagi!

Kevin mengepalkan rahangnya sebentar sebelum akhirnya berkata lebih serius,

“Maaf, Mona.”

Mona mengangguk kecil canggung. Dan setelah itu, Kevin langsung pergi dengan wajah gelap. Suasana ballroom perlahan kembali bergerak.

Orang-orang mulai berpura-pura melanjutkan percakapan mereka. Namun jelas— semua mata masih diam-diam tertuju pada Mona dan Wira.

 “Pak…”

Mona menarik pelan lengan jas Wira.

Pria itu akhirnya menoleh. Tatapan dinginnya sedikit melembut saat melihat Mona.

“Kita pulang aja yuk…”

Wira memperhatikan wajah Mona beberapa detik. Dan ia langsung tahu— gadis itu tidak nyaman. Tanpa banyak bicara, Wira mengangguk kecil.

“Ayo.”

***

 Perjalanan pulang terasa sunyi. Lampu kota melewati jendela mobil satu per satu. Sementara Mona duduk diam sambil menunduk.

Kepalanya penuh. Ucapan Kevin tadi masih terngiang.

"Kalau salah satunya naik terlalu cepat."

Meskipun menyakitkan… Mona tahu kenapa orang-orang berpikir seperti itu. Ia memang hanya sekretaris biasa. Lalu tiba-tiba menjadi sangat dekat dengan CEO besar seperti Wira.

Dan sekarang… hubungan mereka bahkan hampir tidak bisa disembunyikan lagi.

“Jangan dipikirkan.” Suara Wira memecah keheningan.

Mona tersenyum kecil.

“Susah.”

“Apa yang dia bilang tidak penting.”

“Tapi orang lain mungkin berpikir sama.”

Wira langsung mengernyit.

“Aku tidak peduli.”

Mona menoleh pelan.

“Tapi saya peduli.”

Hening beberapa detik.

Lalu Mona kembali berkata lirih, “Saya nggak mau orang menganggap saya memanfaatkan Bapak.”

Kalimat itu membuat rahang Wira sedikit mengeras.

“Aku yang mendekatimu dulu.”

“Saya tahu…”

“Lalu kenapa kamu terus menyalahkan diri sendiri?” Nada suara Wira mulai terdengar frustrasi.

Mona menunduk lagi. Karena ia sendiri juga tidak tahu jawabannya. Mungkin karena terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Mungkin karena semua terasa terlalu indah untuk dipercaya. Atau mungkin… karena Mona takut suatu hari semuanya hancur dan hanya dirinya yang terluka.

 Mobil berhenti di depan rumah Mona. Namun seperti sebelumnya, tidak ada yang langsung turun. Mona masih diam sambil memainkan jemarinya sendiri. Sementara Wira menatap lurus ke depan.

“Apa aku membuatmu menyesal?” Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.

Mona langsung menoleh cepat.

“Hah?”

Wira akhirnya menatapnya. Tatapannya lebih serius dibanding biasanya.

“Karena masuk ke hidupku.”

Deg

Dada Mona langsung terasa sesak.

“Pak…”

“Aku tahu semuanya jadi lebih sulit sekarang.” Suara Wira rendah.

“Aku tahu orang mulai bicara macam-macam.”

Ia menghela napas pelan.

“Dan aku tahu kamu tidak suka jadi pusat perhatian.”

Mona menggigit bibir kecil. Karena semua itu benar. Namun sebelum ia sempat menjawab—

“Tapi kalau kamu mau pergi…” lanjut Wira lirih, “aku tidak yakin bisa membiarkanmu begitu saja.”

Jantung Mona langsung berdebar kacau. Tatapan pria itu terlalu jujur malam ini. Tidak ada dinding. Tidak ada topeng dingin. Hanya seseorang yang benar-benar takut kehilangan.

Dan Mona mulai sadar— Wira mencintainya jauh lebih dalam daripada yang ia kira.

 “Pak Wira.”

“Hm?”

“Saya capek.”

Ekspresi Wira langsung berubah.

“Kepalaku penuh,” lanjut Mona pelan. “Tapi bukan karena Bapak.”

Wira tetap diam mendengarkan.

“Saya cuma takut suatu hari saya nggak cukup kuat.”

Untuk pertama kalinya malam itu… Mona mengakuinya dengan jujur. Ia takut. Takut dengan dunia Wira. Takut dengan tekanan orang-orang. Takut menjadi bahan pembicaraan.

Dan yang paling menakutkan— takut kehilangan dirinya sendiri.

Wira memperhatikannya lama. Lalu perlahan mengulurkan tangan. Menggenggam jemari Mona dengan lembut.

“Lihat aku.”

Mona mengangkat wajah perlahan. Tatapan mereka bertemu di dalam mobil yang remang.

“Aku tidak pernah minta kamu jadi kuat sendirian.”

Deg

Mata Mona langsung terasa panas. Karena kalimat itu… terdengar seperti tempat pulang.

Wira mengusap pelan jemari Mona dengan ibu jarinya.

“Kalau kamu capek…” ujarnya lirih, “bersandar saja.”

Dan entah kenapa… pertahanan Mona runtuh malam itu.

Air matanya jatuh begitu saja. Bukan tangisan keras. Hanya air mata lelah yang sejak tadi ia tahan.

“Mona…”

“Saya benci jadi lemah begini.”

“Kamu tidak lemah.”

“Tapi saya nangis terus.”

Wira menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Di depanku tidak apa-apa.” Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Mona semakin jatuh.

Karena selama ini… ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan Wira adalah orang pertama yang mengatakan bahwa dirinya boleh lelah.

Tanpa banyak bicara lagi, Wira menarik Mona perlahan ke arahnya. Gerakannya hati-hati. Seolah takut membuat Mona menjauh. Namun Mona tidak menolak.

Kepalanya perlahan bersandar di dada pria itu. Dan untuk beberapa saat… dunia terasa sunyi.

Mona bisa mendengar detak jantung Wira. Tenang. Hangat. Menenangkan. Sementara tangan pria itu mengusap lembut rambutnya.

“Aku tidak suka melihatmu menangis.” Suara rendah itu terdengar dekat di telinganya.

Mona tersenyum kecil di sela tangisnya.

“Bapak yang bikin.”

“Aku akan pukul Kevin besok.”

Mona langsung tertawa kecil meski matanya masih basah.

“Jangan…”

“Aku serius.”

“Nanti saham perusahaan turun.”

Wira akhirnya tertawa kecil dan suara itu membuat dada Mona terasa jauh lebih ringan. Beberapa menit kemudian, Mona perlahan menjauh. Wajahnya masih sedikit merah karena menangis. Sementara Wira mengambil tisu dari dashboard lalu memberikannya.

“Berantakan.”

Mona langsung mendelik malu.

“Jangan lihat.”

“Aku sudah lihat.”

“Pak Wira…”

Wira tersenyum tipis. Dan Mona kembali sadar— pria ini sekarang semakin sering tersenyum di dekatnya. Hal yang dulu hampir mustahil dibayangkan.

“Sudah lebih tenang?” tanya Wira pelan.

Mona mengangguk kecil.

“Sedikit.”

“Bagus.”

Hening nyaman muncul di antara mereka. Tidak canggung. Tidak berat. Hanya tenang. Lalu beberapa detik kemudian, Wira berkata pelan,

“Mona.”

“Iya?”

“Aku mau tanya sesuatu.”

Entah kenapa, jantung Mona langsung kembali gugup.

“Apa?”

Wira menatapnya lurus. Sangat serius dan itu langsung membuat napas Mona tertahan.

“Aku capek pura-pura hubungan kita biasa saja.”

Deg

“Pak…”

“Aku tidak mau lagi menyebutmu hanya sekretarisku.”

Jantung Mona benar-benar tidak aman sekarang. Karena tatapan Wira malam ini terlalu dalam. Terlalu nyata dan sebelum Mona sempat menenangkan dirinya—

“Apa kamu mau jadi pacarku?”

Hening. Dunia seperti berhenti beberapa detik. Mona hanya bisa menatap Wira tanpa suara. Karena setelah semua yang terjadi…setelah semua perhatian, perlindungan, dan perasaan yang tumbuh perlahan— akhirnya pria itu mengatakannya secara langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!