NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi itu ia turun ke ruang makan lebih awal dari biasanya. Meja sudah tertata rapi, kopi masih mengepul. Laura berdiri membelakanginya, menata vas bunga kecil bukan bunga mahal, hanya bunga liar yang entah dari mana asalnya.

“Kamu bangun pagi sekali,” kata Haikal.

Laura menoleh, tersenyum singkat. “Bapak juga.”

Biasanya Laura akan berkata, ‘Seperti biasa, Pak?’

Hari ini tidak.

Haikal duduk. Menunggu. Beberapa detik berlalu.

“Kopinya… sudah sesuai?” tanyanya akhirnya.

Laura sedikit mengangkat alis, lalu tersenyum kecil. “Saya buat seperti yang Bapak suka. Tapi kalau mau diubah, bilang saja.”

Nada suaranya netral, tidak defensif, tidak berusaha menyenangkan, dan biasanya terdengar menggoda namun sekarang berbeda.

Haikal mengaduk kopi perlahan. “Kamu kelihatannya sedang banyak pikiran.”

“Tidak kok pak,” jawab Laura ringan. “Saya hanya belajar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Bapak.”

Kalimat itu membuat Haikal berhenti mengaduk.

"Kenapa?."

"Kemaren mertua bapak datang dan dari sikapnya saya bisa menilai jika dia berfikir kalau saya akan menggoda menantu nya." Ucap Laura memulai drama nya.

"Mama Amara?." Tanya Haikal memastikan.

"Saya nggak tahu siapa nama mertua bapak, yang jelas ibu itu mengatakan kalau dia adalah ibunya nyonya Gita." Ucap Laura jujur.

“Mama bilang apa aja sama kamu?” ulangnya.

Laura duduk berhadapan dengannya untuk pertama kalinya tanpa diminta.

“Beliau gak banyak bicara, hanya saja saya bisa melihat dari sikapnya jika mertua bapak gak suka saya ada disini.”

"Biarkan saja. Lagian ini semua akibat dari perbuatan putrinya."

"Maksud bapak?."

"Gita tidak pernah mengurusi saya selama kami menikah,dia terlalu sibuk dengan dunianya sehingga melupakan kodrat nya sebagai seorang istri." ucap Haikal tanpa sadar sudah membuka aib rumah tangganya kepada Laura.

"Mungkin itu cuma perasaan bapak saja,lagipula sepertinya itu sudah resiko bapak karena memiliki istri seorang wanita karir." Ucap Laura berusaha menjadi pendengar yang baik.

Haikal menatapnya lama. “Kamu sering bicara seperti orang yang sudah melewati banyak hal saja.”

Laura tersenyum samar. “Saya belajar dari pengalaman hidup pak.”

Ia berdiri lagi, membereskan meja, meninggalkan Haikal dengan pikiran yang mulai berputar.

Tanpa disadari Haikal, Laura telah melakukan satu hal penting, ia membuat Haikal merasa dilihat tanpa diadili.

Saat-saat seperti inilah yang Haikal rindukan dalam rumah tangganya,ada yang menemaninya saat sarapan, dan ada yang menemaninya mengobrol sebelum berangkat ke kantor. Ia merasa hidupnya penuh warna tapi sayangnya ia mendapatkan itu semua dari pembantu nya bukan Laura.

***

Malam hari. Haikal pulang lebih larut dari biasanya. Rumah sepi, namun lampu teras menyala.

Laura sedang duduk di ruang belakang, membaca novel di ponselnya. Ia tidak langsung berdiri saat melihat Haikal.

“Kamu belum tidur?” tanya Haikal.

“Belum pak,” jawab Laura. “Saya lagi kecanduan baca novel. Sayang aja rasanya kalau baca nya ngegantung. Nanti kebawa mimpi, hehe.”

“Novel apa?” Haikal mengernyit.

Laura menghentikan fokusnya pada ponselnya. “ Novel romansa pak.”

Haikal duduk tanpa sadar. “Kamu tinggal di mana sebelum bekerja di sini?”

“Beberapa tempat,” jawab Laura singkat.

Haikal menoleh. “Beberapa tempat?”

Laura mengangguk. “Saya terbiasa berpindah-pindah kalau gak betah.”

“Kenapa? Apa majikan kamu galak?”

Laura menatapnya langsung, tenang. “Karena tidak semua tempat aman untuk menjadi diri sendiri pak. Dan kalau untuk profesi ini, ini pertama kalinya bagi saya.”

"Maksud kamu?."

"Saya sebelumnya gak pernah jadi ART pak."

"Lalu?."

"Semua kerajaan udah saya coba. Mulai dari kerja di cafe, restoran, bahkan klub malam."

Hening.

“Kamu… tidak pernah bercerita banyak tentang dirimu,” kata Haikal pelan.

“Karena Bapak tidak pernah bertanya,” jawab Laura. “Dan itu… membuat saya nyaman.”

Kata nyaman menggantung di udara.

Haikal menelan ludah. “Aku juga… merasa begitu akhir-akhir ini.” batinya.

Laura tersenyum, seolah tau apa yang Haikal ucapkan dalam hati lalu berdiri. “Itu hal yang baik, Pak. Tapi jangan bergantung pada saya.”

Kalimat itu seperti pisau bermata dua.

“Kenapa?” tanya Haikal refleks.

Laura menoleh. “Karena ketergantungan membuat orang takut kehilangan. Dan saya tidak ingin Bapak merasakan itu.”

Ia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Haikal sendirian dengan satu kesadaran yang membuat dadanya terasa berat.

Ia sudah bergantung dan baru sekarang ia menyadarinya.

Di sisi lain kota, Amara duduk di ruang kerja pribadinya. Beberapa berkas terbuka di meja. Foto Laura tercetak di atas kertas.

“Ini tidak masuk akal,” gumamnya.

Seorang pria paruh baya penyelidik pribadi berdiri di hadapannya.

“Tidak ada jejak media sosial lama, Bu,” lapor pria itu.

“Seperti seseorang yang sengaja membersihkan semuanya.”

“Latar belakang nya berasal dari desa mana?” tanya Amara dingin.

“Tidak Ada bu, saya hanya menemukan jika sebelum ini dia perah bekerja di sebuah klub malam yang sangat populer di kalangan penjabat dan petinggi perusahaan, tapi…semua nya tampak terlalu rapi. Tidak ada cerita dari rekan kerja. Tidak ada konflik. Tidak ada hutang. Tidak ada masalah apapun. Tidak ada gosip yang menjurus.”

Amara tersenyum sinis. “Perempuan tanpa gosip itu berbahaya.”

“IBu mencurigainya?” tanya sang penyelidik.

Amara menyandarkan punggung. “Saya curiga pada perempuan yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara.”

Ia menunjuk foto Laura. “Tatapan mata itu bukan milik orang yang pasrah pada nasib.”

“Perlu saya selidi langsung bu?”

“Belum saatnya,” jawab Amara cepat. “Perempuan seperti itu tidak akan runtuh dengan tekanan. Dia justru akan semakin tumbuh kuat dan liar.”

Ia mengetuk meja pelan. “Carikan saya seorang pembantu yang profesional, yang bisa bekerja sekaligus memata-matai gadis ini dan mengirimkan info yang akurat pada saya. Entah kenapa saya merasa jika dia berbahaya dan akan merusak rumah tangga putri saya. Apalagi dia memiliki tubuh yang berisi. Laki-laki mana yang gak akan tergoda lambat laun.”

"Baik nyonya. Akan segera saya temukan."

"Bagus."

Keesokan hari nya, Amara kembali ke rumah Haikal, kali ini tanpa banyak suara.

Laura yang membukakan pintu.

“Oh,” kata Amara, tersenyum tipis. “Kita bertemu lagi.”

“Selamat siang, Bu,” jawab Laura tenang. “Silakan masuk.”

Amara menatapnya tajam. “Kamu tidak kaget melihat saya.”

Laura tersenyum. “Tamu datang untuk alasan. Saya hanya memastikan rumah ini siap menerima setiap tamu yang datang.”

Amara duduk. “Kamu tahu siapa saya.”

“Tentu.”

“Kamu tahu posisi saya.”

“Tentu Juga.”

Amara menyilangkan kaki. “Dan kamu tetap di sini.”

Laura menuangkan teh. “Selama saya dibutuhkan pak Haikal, saya akan tetap disini bu.”

“Dibutuhkan oleh siapa?” tanya Amara cepat.

Laura meletakkan cangkir dengan gerakan halus. “Oleh rumah ini dan pak Haikal Bu.”

Jawaban itu membuat Amara tertawa kecil. “Kamu pintar menghindar rupanya.”

“Saya hanya memilih kata dengan hati-hati,” balas Laura.

Amara mencondongkan tubuh. “Dengar baik-baik. Perempuan seperti kamu biasanya datang membawa tujuan terselubung.”

Laura menatapnya tanpa berkedip. “Semua orang punya tujuan, Bu. Termasuk Ibu.”

Sunyi.

Amara berdiri. “Saya tidak suka kejutan.”

Laura menunduk sopan. “Saya juga tidak, Bu.”

Tatapan mereka bertaut dua perempuan dengan kecerdasan yang berbeda, namun sama-sama berbahaya.

***

Malam itu, Haikal berdiri di depan kamar Laura. Ia mengetuk pelan. Entah kenapa sih dari tadi pikirannya selalu tertuju kepada Laura.

“Laura?”

“Iya, Pak?”

“Apa kamu… sudah tidur?”

Laura membuka pintu sedikit. Laura sengaja memakai lingerie berwarna merah tanpa dalaman dan lingerie itu cukup transparan.

“Maaf, apa saya menganggu kamu,” kata Haikal.

Laura tersenyum lembut. Dan sengaja membuka pintu kamar nya cukup lebar. Seolah meminta Haikal untuk masuk. Ia berjalan kemeja rias dengan gerakan yang mengundang Has rat.

Glek...

Tanpa sadar Haikal melangkah masuk dan memeluk Laura dari belakang membuat gadis cantik itu tersenyum smirk.

"Pak, apa yang bapak lakukan."

"Kamu wangi sekali Laura."

"Pak, lepaskan saya. Nanti Ny.Gita liat." Ucap Laura berpura-pura panik. Padahal dalam hati ia tersenyum puas akhirnya Haikal tergoda.

Haikal yang mendengar nama Gita tiba-tiba tersadar,dan refleks melepaskan pelukannya pada laura.

"Maafkan saya Laura,saya tidak bermaksud kurang ajar sama kamu."

"Gak apa-apa pak. Saya tau bapak hanya terbawa suasana." Ucap Laura tidak ingin membuat haikal merasa bersalah.

“Dan kalau aku tidak?” tanya Haikal lirih.

Laura menatapnya lama. “Maka Bapak akan kehilangan lebih banyak daripada yang Bapak kira.”

"Kalau saya siap untuk kehilangan banyak hal itu, apakah kamu akan mau menerima saya?"  Ucap Haikal mendekat karena ketika Laura berbalik dengan jelas Haikal melihat gundukan Laura dan Boba nya yang terlihat jelas membuat Haikal kewalahan menahan has rat nya.

"Apa maksud Bapak?"

"Saya tau kamu sengaja manggoda saya dengan pakaian seperti ini." Bisik Haikal menarik Laura dalam pelukan nya. Hingga gundukan itu menempel di dada bidang Haikal. Saat Haikal akan menelusuri leher jenjang nya, Laura berbalik.

"Pak, ini salah. Jangan seperti ini "

"Benarkah?." Ucap Haikal meremas gundukan itu dengan gemasnya.

"Aaah...."

"Kenapa kamu mend esah, Hem?."

"S-saya....Ahhh pak j-jangan mainin itu saya.." ucap Laura saat Haikal memelintir duo Boba milih Laura.

"Suka, Hem?."

"S-sa....."

Tiba-tiba ...

"Mas....kamu dimana??"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!