NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Besok harinya, sekolah masih berjalan normal seperti biasa. Guru-guru masuk. Bel berbunyi. Anak-anak pura-pura belajar. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Setidaknya di permukaan.

Jam pertama berlalu aman, IPS 4 bahkan sangat tenang. Satu murid mengeluh sakit lalu diantar ke UKS oleh temannya. Dua orang izin ke toilet, tapi tidak kembali ke kelas. Sangat normal terjadi, setidaknya di kelas ini.

Meski begitu, hari itu tidak ada yang ribut sama sekali. Seolah mereka semua mendadak cosplay jadi kelas paling fokus satu sekolah.

Begitu bel pergantian jam berbunyi, suasana yang tadinya tenang langsung pecah. Guru ekonomi baru saja keluar sambil membawa buku saat Narisa berdiri dari kursinya.

"Pasukan kriminal, siap-siap."

"Weeeee!"

Satu kelas langsung heboh.

"Eh, serius jadi hari ini?"

"Ya iyalah, goblok. Masa briefing kemarin buat seru- seruan doang."

"Empat orang udah lolos duluan,"

Putri buru-buru memasukkan tempat pensil ke tas.

"Yang takut dihukum mending mundur sekarang."

"Gak ada rasa takut dalam kamus IPS 4!"

"Itu mah karena banyak yang gak punya kamus."

"DIEM L0!"

Narisa menunjuk ke arah belakang kelas.

"Yang udah ngajak anak kelas lain, kabarin sekarang. Jangan ada yang nyangkut di kelas." Matanya menyipit. "Yang gak ikut juga jangan sampe salah ngomong."

"Siap, jenderal!"

"Jangan panggil gw jenderal. Jijik"

Fahri sudah menyampirkan tas ke pundak.

"Keluar lewat mana?"

"Nyebar aja," sahut salah satu anak.

Putra langsung terkekeh.

"Gak perlu diajarin. Kita semua udah punya jalan ninja masing-masing."

Satu kelas masih ribut sendiri sampai Putri tiba-tiba melongok keluar pintu.

"Udah, cabut sekarang. keburu guru masuk."

Dan seolah aba-aba perang baru dibunyikan, satu kelas langsung mencar.

Narisa menarik Putri duluan. Fahri dan Putra menyusul di belakang mereka bersama beberapa anak lain. Saat keluar kelas, mereka sempat melihat murid- murid kelas lain mengacungkan jempol sebelum lari ke sembarang arah, mencari jalur kabur paling efisien menurut versi masing-masing.

Beberapa menit kemudian, guru geografi masuk sambil membawa map biru. Langkahnya langsung berhenti di depan pintu.

Kelasnya... bolong.

Bangku belakang kosong. Bangku tengah kosong. Lebih dari separuh isi IPS 4 menghilang. Yang tersisa cuma beberapa anak dan Lesti yang masih duduk santai sambil makan ciki.

Guru itu berkedip pelan.

"Anak-anak yang lain mana?"

Lesti mendongak. "Bolos kayaknya, pak."

"KOK BISA RAME GINI?!"

Lesti mengangkat bahu santai.

"Kayaknya ada yang ngajak deh, pak. Kompak banget soalnya."

Guru geografı itu langsung meletakkan map di meja lalu mengusap wajah kasar.

"Kamu tahu siapa yang mulai?"

"Kurang tau, pak." Lesti mengunyah lagi. "Saya kan gak ikutan,"

Hening

Si guru menatap kelas setengah kosong di depannya. Lalu menarik napas panjang seperti orang yang baru sadar gajinya tidak cukup buat menghadapi IPS 4.

~

Sementara itu, empat biang kerok utama sudah kabur lewat pagar langganan sambil ngakak setengah mati.

Karena beresiko kalau jalan-jalan pakai seragam sekolah, mereka memilih berkumpul di rumah Fahri. Selain karena rumahnya paling dekat, orang tua Fahri keduanya bekerja. Jadi rumah itu kosong.

Mereka duduk santai di teras belakang rumah. Ada kolam ikan kecil di sana, isinya ikan nila kesukaan bapak Fahri.

"Menurut lo aman gak nih?" tanya Narisa sambil nyemil kacang goreng punya ibu Fahri.

"Aman lah," sahut Putra santai. "Anak-anak kelas gak mungkin jebak lo. Kita udah terlalu solid,"

"Anjir, bahasanya kayak orang bener aja." timpal Putri.

"Eh, Put. "

Dua orang langsung noleh.

"Putri. Putri," Narisa mempertegas sambil nunjuk temannya. "Ngemil bakso enak kayaknya ya."

Putri langsung mengangguk semangat. "Di depan tadi gw liat ada yang jual."

Fahri yang lagi selonjoran langsung mendelik. "Buset. Cewek ngemilnya aneh ya. Bakso dikata cemilan."

Putri dan Narisa kompak menoleh tajam. "Daripada ngebacot, mending belin sana," usir Narisa sambil mengibaskan tangan.

Fahri menghela napas panjang. Dia bangkit malas-malasan lalu masuk buat ambil mangkok. Tapi baru beberapa. langkah, dia menoleh lagi.

"Duitnya. mana?"

Putri langsung jutek. "Timbang ceban aja itungan lo. Gw gak ada."

"Gw lagi ngirit," timpal Narisa santai.

Fahri melongo.

"Anjir. Cewek-cewek biadab."

"Bacot, Fahri!"

~

Di sisi lain, Kara yang terpaksa bolos malah nongkrong santai di tukang bakso yang ketemu selewatnya. Murah, enak, dan micinnya bikin tenggorokan bergetar penuh kebahagiaan.

"Anjir, pedesnya tengil banget," gumam Harum sambil mendesis kepanasan. Keringat mulai mengucur di dahinya.

"Abis ini kemana lagi?" tanya Kara sebelum memasukkan satu pentol bakso ke mulutnya.

"Gak tau." Harum nyeruput es jeruk dulu. "Bini lo ada aja idenya. Bagus sih, tapi gara-gara itu gw jadi repot nyamperin anggota."

Kara mengernyit. "Lo ngomong ke berapa orang?"

Harum berhitung di kepala.

"Lima belas kayaknya. Adek kelas semua. Kebanyakan anak basket." Dia nyengir bangga. "Hehe."

"Kok anak basket?"

"Biar makin meyakinkan kalau emang si Cakra yang nyuruh,"

Kara mengangguk pelan. "Pinter juga lo."

Saat mereka lagi santai, satu orang muncul sambil bawa dua mangkok kosong di tangan. Begitu melihat Kara dan Harum, langkahnya langsung berhenti.

"Lah, kalian di sini?" kata Fahri heran.

Dua orang itu menoleh bersamaan.

"Eh, kacungnya Narisa," sapa Harum sok sopan.

"Anjir, kacung." Fahri mendengus lalu menyerahkan mangkok ke abang bakso. "Campur aja, bang."

"Oke, siap."

Sambil menunggu pesanan, Fahri duduk di dekat mereka.

"Kalian ikut ulah si Nanar?" tanyanya penasaran.

"Gak mungkin banget."

"Ulah si Nanar apaan dah," kata Harum sambil nyedot es jeruk lagi. "Kita kan disuruh bolos sama Cakra."

Fahri langsung ketawa keras. Paham kode operasi hari ini.

"Ke rumah gw aja ngumpul. Ada si Nanar sama yang lain, "

"Rumah lo deket sini?" tanya Kara.

Fahri langsung menunjuk dua rumah dari tukang bakso. " Tuh."

Kara langsung melongo. "Lah, deket amat."

"Lo gelindingan juga nyampe sekolah," tambah Harum.

"Ya gak gitu juga, njir. Naik motor tetep lima menit."

"Mas, ini baksonya."

Fahri langsung berdiri sambil merogoh kantong celana.

"Jadi dua puluh kan?"

"Iya."

Sebelum pergi, Fahri sempat menoleh lagi.

"Kalau mau mampir, ke sana aja ya. Gw udah ditunggu demit bakso."

"Kalem," sahut Harum sambil melambai.

Begitu Fahri pergi, Harum langsung menoleh ke Kara yang lagi nyendok kuah terakhir.

"Ke sana kita?"

"Ngapain?"

"Ketemu bini lo lah."

Kara menghela napas malas.

"Gw ketemu dia tiap hari. Cukup deh."

"Eh, gak boleh gitu." Harum langsung berdiri sambil bayar makanan mereka. "Daripada kita bingung mau kemana."

~

Beberapa menit kemudian keduanya sudah berdiri di depan pintu rumah Fahri. Dari sana, suara tawa sudah terdengar.

"Kayaknya dari belakang," kata Harum curiga.

Kara langsung berjalan lewat samping, memutar ke arah belakang. Harum mengikuti tanpa protes.

Sampai di sana, benar saja. Empat biji remaja sedang asyik ngemil dan makan bakso.

"Lah, udah dateng," sapa Fahri santai. " Duduk dulu. Banyak stok cemilan gw mah."

"Nyokap lo pulang, abis lo kena cincang." Putra tergelak.

Narisa yang sedang mengunyah menunjuk mangkuknya.

"Mau bakso gak?"

"Kita barusan udah makan di depan," kata Harum.

"Kan tadi gw udah bilang ketemu mereka di sana," celetuk Fahri.

Narisa memutar mata. "Lo paham basa basi gak?"

"Sok ramah lo," timpal Kara sambil selonjoran santai.

"Santen, bacot," sahut Narisa datar. "Lo ajak berapa orang?"

Kara menunjuk Harum, Narisa langsung mendelik.

"Dia seekor doang?"

"Gak seekor, peak. Dikira gw laler?" Harum mendecih. "Gw ajak lima belas orang. Seneng gak lo?"

"Wuaah..." Narisa menatap takjub. "Mereka nurut pasti karena kasian liat muka ampas lo itu."

"Anjir." Harum geleng-geleng sambil menoleh ke Kara. "Bini lo mulutnya kadang suka gak diayak."

Putri yang lagi makan langsung berhenti mengunyah.

Fahri ikut diam.

"Itu karena gw sayang sama lo," jawab Narisa tengil.

"Eh, bentar." Putri langsung menaruh garpunya. "Bini?"

Narisa yang baru sadar langsung tersedak.

"Uhuk! Uhuk!"

"Woi!" Fahri buru-buru nyodorin minum, " Jangan mati dulu, Jelasin dulu,"

"Lah, keselek dia," Putri membelalak. "Berarti ini serius? Kirian gw ngasal doang."

Harum dan Kara malah bingung.

"Emang kenapa sih?" tanya Harum polos.

Fahri menunjuk Narisa dan Kara bergantian.

"Ya aneh lah, peak. Maksud lo... ini berdua jadian?"

"Impostor," kata Putri sambil geleng-geleng kepala.

"Impossible, goblok," Putra otomatis mengoreksi.

"Ya itu maksud gw."

"Eh?" Harum langsung menutup mulut. "Ini rahasia ya?"

"YA IYALAH RAHASIA!" sembur Narisa.. "Masa gw masuk kelas terus bilang, 'woi semua, gw nikah sama si santen, !"

"Kirain gw.. teman-teman lo udah pada tau," kata Harum pelan.

Hening sebentar.

Fahri yang pertama bersuara dengan nada setengah tak percaya.

"Nikah? Kara sama Nanar nikah?"

Narisa hampir nonjok mulutnya sendiri. Bukannya menenangkan, dia malah memperkeruh. Kara cuma duduk santai sambil nyandar ke kursi, memilih diam. Ini teman-teman Narisa, jadi dia malas ikut campur.

Putri masih melongo. "Gak masuk akal dah. Ini anak berdua tiap ketemu kayak anjing rabies."

"Ceritain aja," kata Putra ringan.

"Buruan," timpal Fahri. "Gw gak mau mati penasaran,"

Karena merasa percuma ditutup lagi, akhirnya Narisa menceritakan semuanya. Selama cerita berlangsung, Putri dan Fahri lebih banyak melongo daripada menyela.

Begitu selesai, Putri langsung menunjuk Putra.

" Jadi ini bocah udah tau duluan?"

Putra angkat tangan cepat.

"Gara-gara Tante Nuri, bukan Nanar yang tiba-tiba curhat."

"Put," panggil Narisa lemas.

"Apa?" Dua orang nyahut bareng.

Narisa langsung memijat pelipis.

"Gw cuma takut kalian jadi gak mau temenan lagi."

Fahri malah bingung. "Lah, kenapa gak mau?"

"Iya," timpal Putri. "Paling kita cuma kaget doang."

"Eh, tunggu bentar," Fahri masih belum selesai mikir. "Jadi kalian sekarang serumah?"

Narisa mengangguk. "Iya."

"Satu kamar?"

"Kagak lah."

Putri langsung lega. "Oke, aman,. Lo gak bakal hamil."

"Mata lo siwer?" Kara langsung protes. "Gak punya terong gw."

"Anjir, iya lagi," Fahri ngakak.

"Tetep aja." Putri menyipit ke arah kara. "Lo kan belok."

"Masalahnya di mana?" Kara melipat tangan santai. "Dia bini gw."

"Lah goblok!" Narisa langsung mendelik, sementara Kara malah ketawa kecil.

"Coba liat positifnya deh," Harum tiba-tiba nyelonong. "Rumah dapet. Mobil dapet. Biaya sekolah aman."

"Anjir, bener juga," Fahri langsung manggut- manggut. "Iya. sih,"

Putri ikut nimbrung. "Jujur aja, kalau gw jadi lo, pasti gw terima."

"Lah?"

"Mau sama musuh kek, sama tuyul kek, bodo amat," lanjut Putri santai. "Yang penting masa depan aman."

"Nar," Fahri ikut nyaut, "coba tanya bos bokap lo."

"Tanya apaan?"

"Dia mau eksperimen cowok nikah sama cowok gak?"

Semua langsung bengong.

"Bukan belok ya," Fahri buru-buru ngangkat tangan.

"Gw cuma pengen fasilitasnya doang."

"Gw juga mau kalau ada eksperimen jilid dua," timpal Putri tanpa dosa.

Narisa cuma menatap dua temannya datar, kurang lebih sama seperti Kara. Sementara Harum sudah ngakak sendiri sambil menepuk meja.

Kadang Narisa bingung. Selama ini dia merasa hidupnya sudah paling absurd. Tapi di mata teman-temannya, pernikahan aneh itu malah terdengar seperti promo masa depan cerah.

~

~

Di sekolah, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa, meski banyak kelas yang nyaris tinggal setengah.

Guru piket, tim keamanan, dan beberapa anggota 0SIS sibuk memburu murid ke sekitar sekolah. Sayangnya anak-anak yang bolos sudah lebih dulu kabur ke tempat- tempat aman versi mereka masing-masing. Ada yang nongkrong di warnet, sembunyi di rumah teman, sampai nekat ganti baju di minimarket setelah sebelumnya diberi arahan oleh senior.

Menjelang pulang sekolah, ruang guru mulai ramai. Daftar nama murid yang bolos hari itu sudah berpindah tangan ke mana-mana. Bukan lagi kasus satu dua anak kabur jam pelajaran. Yang hilang puluhan.

Beberapa guru mulai menduga ada yang sengaja menggerakkan semuanya.

Sementara itu, Cakra yang sejak tadi ditahan anak-anak basket malah sedang menikmati waktu mereka sendiri di tempat karaoke milik pamannya salah satu murid.

Ruangan itu penuh suara nyanyian sumbang, tawa dan bau gorengan.

Sampai akhirnya sore hari, Cakra baru sempat memeriksa ponselnya. Belasan panggilan dari ayahnya langsung membuat dadanya tidak nyaman.

"Bentar ya, gw nelepon dulu," katanya sambil berdiri dari sofa.

"Oke. Jangan lama-lama!" teriak salah satu anak basket IPS 4. Biang kerok yang menyeret Cakra ke tempat ini.

Cakra keluar ruangan sambil membawa ponselnya. Baru beberapa menit menelepon, wajahnya sudah berubah tegang. Begitu masuk lagi, dia langsung buru-buru pamit.

"Bro, gw cabut dulu."

Temannya mengernyit. "Lah, latihan jadi libur kan hari ini?"

"Bukan soal latihan," jawab Cakra singkat. "Gw ada urusan."

Dia pergi begitu saja.

Karena motor masih tertinggal di sekolah, Cakra terpaksa pulang memakai ojek online. Sepanjang jalan, isi kepalanya mulai tidak karuan.

Sampai di rumah, orang pertama yang ditemuinya adalah ibunya.

"Papa nungguin di atas," kata sang ibu pelan, wajahnya ikut cemas. "Emang ada apa sih? Dari pulang tadi muka papa kamu kusut terus."

Cakra menggeleng cepat.

"Gak tau, ma. Mungkin soal sekolah."

Ibunya mengangguk kecil, meski tetap tidak tenang.

Saat pintu ruang kerja dibuka, langkah Cakra langsung melambat. Ranselnya sudah tergeletak di atas meja kerja ayahnya.

"Duduk."

Nada suara itu datar. Justru karena terlalu datar, Cakra jadi makin gugup.

Dia duduk perlahan sambil mencoba terlihat tenang. Ini pasti soal bolos, batinnya.

"Sejak kapan kamu kepikiran buat bolos?" tanya ayahnya.

Lalu ponsel di tangannya diputar ke arah Cakra. Foto dirinya sedang karaoke bersama teman-temannya terpampang jelas di layar.

Cakra membelalak.

"Aku diajak, pa." jawabnya cepat. "Katanya ini kenakalan terakhir sebelum lulus."

"Kamu diajak?" ulang ayahnya pelan, "Tapi kenapa satu sekolah bilang kamu yang ngajak mereka bolos?"

Cakra langsung mengangkat kepala.

"Hah?"

"Mereka nyebut nama kamu."

Cakra mengernyit bingung.

"Pa, aku aja baru pertama bolos."

Sang ayah menghela napas panjang sambil melepas kacamatanya.

"Papa tau akhir-akhir ini kamu keliatan banyak pikiran. Tapi jangan sampai dilampiasin begini. Nama kamu jelek sekarang."

"Aku gak mungkin ngajak satu sekolah bolos, pa."

"Kalau begitu siapa?"

Pertanyaan itu langsung membuat Cakra diam. Otaknya berputar cepat. Satu nama tiba-tiba. muncul begitu saja di kepalanya. Seseorang yang kemungkinan besar masih sangat marah.

Narisa.

Tapi bahkan dia sendiri tidak yakin.

"Papa tanya siapa, Cakra."

Cakra menelan ludah. "Narisa... mungkin."

Ayahnya langsung mengernyit. "Risa?"

"Iya."

"Tapi dia pacar kamu."

Cakra menunduk. "Kita udah putus, pa."

Ruangan itu langsung mendadak sunyi.

"Putus?"

"Iya, pa, Risa yang mutusin,"

Ayahnya terdiam beberapa saat. Semua amarah yang sejak tadi ditahan perlahan turun sendiri. Selama ini Cakra tidak pernah bikin masalah besar. Nilainya bagus, aktif basket, dan hampir tidak pernah melanggar aturan sekolah.

Membayangkan anaknya jadi dalang bolos massal terasa aneh. Tapi membayangkan Narisa mampu menggerakkan puluhan murid sekaligus... juga tidak masuk akal.

Sang kepala sekolah akhirnya bersandar pelan sambil memijat pelipis.

Kalau memang ada seseorang yang sengaja mendorong semua kekacauan ini... siapa sebenarnya?

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!