NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 keheningan lembah kapur dan palu penempa kerangka baja

​Embusan angin malam dari pegunungan utara menyapu pelataran tua distrik barat, membawa serta serpihan daun persik mati yang berputar di atas lantai batu vulkanik hitam. Di dalam keremangan teras, Yan Xinghe duduk bersila tanpa pergerakan. Di hadapannya, gulungan kulit domba usang berisi peta rute Lembah Kapur Hitam terbentang, diterangi oleh pendaran redup dari sisa energi petir yang sesekali memercik dari ujung jemarinya.

​Pertemuan singkat di Paviliun Berburu Naga Perak siang tadi telah menyalakan sumbu ketegangan baru di Kota Batu Hitam. Tindakannya meremukkan tangan Lei Kan, Wakil Komandan Korps Serigala Hitam, adalah pesan politik yang jelas bagi faksi-faksi lokal; keluarga Yan tidak datang sebagai pengungsi lemah yang siap diinjak.

​Di dalam rongga dadanya, sembilan meridian petir berlapis emas-biru berdenyut dalam ritme yang lambat dan stabil. Pencapaian Tubuh Fana Tanpa Cacat memberikan kapasitas regenerasi jaringan yang luar biasa. Keretakan internal akibat benturan dengan master Tanah Suci beberapa hari lalu telah sepenuhnya menutup, meninggalkan struktur tulang yang kini memiliki kepadatan menyerupai formasi batuan purba di dasar samudra.

​"Fisik ini telah mencapai batas mutlak dari ranah fana," batin Xinghe, menyentuh dadanya yang bidang. "Untuk melangkah masuk ke dalam Alam Pembukaan Meridian, aku tidak bisa mengandalkan penyerapan energi spiritual alam yang tipis ini. Aku membutuhkan inti monster berelemen logam padat untuk bertindak sebagai pasak spiritual, membuka paksa sembilan pintu gerbang aliran energi di tubuhku secara serempak."

​Suara langkah kaki yang berat membuyarkan keheningan malam. Yan Qingshan berjalan mendekat dari arah bangunan utama, kapak baja barunya tersampir di pundak kekarnya. Semburat rona kecokelatan dari Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi samar-samar memancar dari permukaan kulitnya, menandakan sang kakak baru saja menyelesaikan sesi meditasi yang disiplin.

​"Xinghe," Qingshan bersuara, nadanya berat dipenuhi kecemasan yang tulus. "Ye Ling’er baru saja kembali dari distrik komersial bawah tanah. Ia memberi tahu bahwa Korps Serigala Hitam telah memobilisasi seluruh elit tempur mereka malam ini. Komandan utama mereka, Lang Feng, dikabarkan telah kembali dari garis depan medan perang Naga Perak. Pria itu berada di Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kedelapan."

​Xinghe tidak membuka matanya. "Tingkat Kedelapan... tingkat kekuatan yang lumayan untuk ukuran seorang tentara bayaran di perbatasan sempit ini."

​"Aku akan ikut bersamamu besok pagi," Qingshan mengepalkan tinjunya, langkah kakinya menapak kokoh di atas batu hitam. "Kultivasi elemen tanahku telah stabil di Tingkat Ketiga. Aku mungkin belum bisa menebas master meridian, kekuatan pertahananku cukup untuk menahan beberapa pengawal rendahan agar tidak mengganggu fokus perburuanmu."

​Xinghe perlahan membuka sepasang manik mata gelapnya yang tak berdasar, menatap wajah kakaknya yang dipenuhi gurat ketegasan. Rasa bangga tebersit di hatinya melihat transformasi Qingshan. Mantan penebang kayu itu kini telah memiliki mentalitas pendekar sejati yang siap bertarung melindungi ruang hidupnya.

​"Tugasmu jauh lebih krusial di sini, Kakak," Xinghe menggeleng pelan, suaranya tenang namun membawa otoritas yang tidak menerima bantahan. "Kematian Mu Yunfei dan hancurnya Tetua Sekte Pedang di selatan pasti telah memicu pergerakan dari mata-mata Tanah Suci di sekitar wilayah ini. Kota Batu Hitam tampaknya aman di permukaan, konspirasi militer di dalam kota ini jauh lebih licik. Kau harus tetap berada di pekarangan ini, bertindak sebagai perisai mutlak bagi Ibu dan Xiaoxiao. Jika ada pihak asing yang mencoba melompati tembok pagar ini, gunakan Tinju Harimau-mu untuk meremukkan tengkorak mereka tanpa perlu banyak bertanya."

​Qingshan terdiam sejenak, merenungi kebenaran logis dari kata-kata adiknya. Keselamatan ibu dan adik perempuan mereka adalah prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan. Sambil menarik napas panjang sesuai ritme pernapasan harimau, ia menganggukkan kepala dengan berat. "Baiklah. Aku akan memastikan tidak ada sehelai rambut pun dari Ibu dan Xiaoxiao yang terluka selama kau berada di lembah."

​Sesosok bayangan hijau lumut meluncur turun dari dahan pohon persik mati di sudut pekarangan, mendarat dengan kelenturan tanpa suara. Ye Ling’er menyingkap caping bambunya, wajah mungilnya yang cerdas dipenuhi oleh kerutan keseriusan yang jarang terlihat.

​"Rute menuju Lembah Kapur Hitam telah ditutup secara sepihak oleh barikade Faksi Serigala Hitam sejak dua jam lalu," Ye Ling’er melaporkan, berjalan menghampiri meja batu Xinghe. "Lang Feng tidak berniat membiarkanmu mendekati Badak Besi Pemakan Jiwa tersebut. Rencananya sangat licik; ia akan membiarkan binatang buas itu melemahkan tenagamu terlebih dahulu, sebelum ia dan seluruh pasukannya mengepungmu di dasar lembah untuk merebut inti monster sekaligus kepalamu untuk disetorkan ke Tanah Suci."

​Xinghe bangkit berdiri perlahan. Jari-jarinya meraih tali kulit yang menyilang di dadanya, mempererat kaitan Pedang Berat Tanpa Bilah di punggungnya. Massa seberat lima ribu kati itu kembali menekan pundaknya, memberikan stimulasi penderitaan fisik pasif yang justru menstabilkan aliran energinya.

​"Membiarkan serigala berpikir mereka adalah pemburu adalah kesalahan taktik yang menghibur," seutas senyum tirani sedingin es terukir di bibir pucat Xinghe. "Ling’er, siapkan rute tercepat. Fajar akan segera tiba, dan aku tidak suka membuat mangsaku menunggu terlalu lama di dalam kegelapan lembah."

​Fajar menyingsing dengan rona kelabu yang pucat, tertutup oleh lapisan kabut asap belerang yang pekat dari distrik penempaan Kota Batu Hitam. Yan Xinghe berjalan sendirian membelah dataran tinggi berbatu kapur yang membentang sejauh belasan mil ke arah utara. Di daerah Tanah Tak Bertuan ini, vegetasi alam telah sepenuhnya musnah, menyisakan hamparan bebatuan hitam yang bentuknya meruncing menyerupai taring-taring naga yang menonjol dari dalam bumi.

​Setiap langkah kaki Xinghe meninggalkan jejak parit dangkal di atas tanah kapur yang keras. Siksaan fisik murni dari berjalan kaki memikul beban lima ribu kati tanpa bantuan energi spiritual adalah metode disiplin ekstrem yang sengaja ia terapkan. Otot-otot paha, betis, dan poros tulang belakangnya dipaksa bekerja di tingkat efisiensi maksimal, menciptakan siklus pembongkaran dan penempaan seluler yang membuat Tubuh Fana Tanpa Cacat miliknya semakin padat menyerupai struktur baja kosmik.

​Dua jam perjalanan melintasi medan gersang membawa langkahnya tiba di bibir Ngarai Lembah Kapur Hitam. Tempat ini berupa sebuah retakan geografis raksasa yang menjorok sedalam dua ratus meter ke dalam inti bumi, diapit oleh dua tebing batu vulkanik tegak lurus yang permukaannya tertutup oleh lapisan kristal kapur berwarna putih keperakan. Konsentrasi energi elemen besi di tempat ini sangat pekat, membuat udara yang dihirup terasa tajam dan meninggalkan rasa karat di tenggorokan.

​Xinghe menghentikan langkahnya di jalur turunan sempit yang menuju dasar lembah. Pandangan gelapnya menangkap keberadaan belasan tombak besi yang ditancapkan di sepanjang jalan setapak, dihiasi oleh bangkai monster serigala kecil yang telah mengering. Sebuah pesan peringatan teritorial dari Korps Serigala Hitam.

​"Keheningan yang terlalu dipaksakan," gumam Xinghe santai.

​Ia melangkah menuruni jalan setapak tanpa mencoba menyembunyikan kehadirannya. Indra spiritualnya yang tajam menangkap fluktuasi energi yang sangat gelisah dan buas dari arah dasar lembah terdalam. Bau anyir darah segar dan esensi logam yang terbakar mulai tercium dari balik rimbunnya pilar-pilar batu hitam di depan.

​Begitu kakinya menapak di tanah dasar lembah yang berlapis kerikil besi, sebuah suara dentuman keras yang menggetarkan seluruh tebing batu kapur bergema memekakkan telinga.

​BUMMMM!

​Sebuah pilar batu vulkanik setinggi sepuluh meter di depan Xinghe hancur berantakan menjadi serpihan kerikil tajam. Dari balik kepulan debu kelabu yang membubung tinggi, sesosok makhluk raksasa melangkah keluar dengan kebrutalan yang luar biasa menekan.

​Badak Besi Pemakan Jiwa.

​Makhluk purba berumur tiga ratus tahun itu memiliki ukuran tubuh sebesar rumah fana, panjangnya tidak kurang dari delapan meter. Seluruh permukaan kulitnya tidak ditutupi oleh bulu atau daging biasa, melainkan dilapisi oleh lempengan zirah zink-besi alami berwarna hitam keperakan yang tebalnya mencapai setengah jengkal. Di atas hidungnya, sebuah cula raksasa berbentuk mata kapak perang sepanjang dua meter berdiri kokoh, memancarkan pendar cahaya ungu pasif yang dialiri energi spiritual elemen logam murni.

​Sepasang mata monster itu berwarna merah padam tanpa pupil, memancarkan gelombang kebencian primitif terhadap setiap makhluk hidup yang memasuki wilayah berburunya. Energi kekuatannya berada di Alam Pembukaan Meridian Tingkat Keenam, namun berkat ketebalan zirah pelindung alaminya, daya rusak makhluk ini sanggup menyamai praktisi Tingkat Kedelapan.

​Monster raksasa itu mengendus udara, sepasang matanya langsung mengunci siluet kurus Yan Xinghe yang berdiri tenang sepuluh langkah di depannya. Merasa wilayah kekuasaannya ditantang oleh sepotong daging kecil fana, Badak Besi itu melepaskan raungan panjang yang getaran suaranya meretakkan lapisan kristal kapur di dinding tebing.

​KRAAAAK!

​Tanpa memberikan jeda sekecil debu, monster itu menghentakkan keempat kaki raksasanya yang menyerupai pilar besi. Tanah kerikil di bawahnya amblas sedalam setengah meter seketika ia melesat maju bagai kereta baja militer yang kehilangan kendali rem. Cula kapak raksasanya diturunkan, membelah udara ngarai dengan kecepatan ledakan yang memicu suara siulan tajam yang memekakkan telinga.

​Jarak lima puluh meter tertutup dalam waktu kurang dari sepertiga kedipan mata fana.

​Bagi seniman bela diri biasa, menghadapi hantaman trajektori lurus dari monster seberat puluhan ribu kati ini adalah bunuh diri absolut; zirah besi terkuat sekalipun akan remuk menjadi lumpur daging dalam sekali seruduk.

​Xinghe tidak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun di wajah pucatnya. Di dalam poros persepsinya yang luas, trajektori pergerakan makhluk raksasa itu tampak melambat drastis, menyisakan ratusan celah perpindahan berat yang goyah di setiap langkah kaki besarnya.

​Ia tidak melompat menghindar ke samping. Kuda-kuda kakinya merendah, mencengkeram lapisan kerikil besi di bawahnya menembus fondasi batuan dalam. Tangan kanannya bergerak secepat kilat ke belakang, mencengkeram gagang kulit Pedang Berat Tanpa Bilah.

​Dengan satu hentakan otot bahu yang berputar sinkron dengan poros pinggangnya, Xinghe mencabut balok logam hitam raksasa itu dari punggungnya, mengayunkannya dalam lintasan diagonal pendek dari bawah ke atas menyambut kedatangan cula kapak sang badak.

​Pertarungan benturan kekuatan fisik mentah yang melampaui batasan nalar manusia.

​DUUUUAAAAARRRR!

​Dua kekuatan destruktif raksasa berbenturan di tengah dasar lembah. Gelombang kejut mekanis yang dihasilkan dari benturan tersebut melesat menyapu ke segala arah layaknya ledakan meriam energi berskala besar. Seluruh lapisan kerikil besi di radius tiga puluh meter terlempar terbang ke udara, menciptakan kawah bersih sedalam satu meter seketika.

​Suara dentingan logam yang luar biasa nyaring beresonansi membelah tebing, membuat beberapa kelelawar spiritual di celah batu mati seketika akibat pecahnya saraf pendengaran mereka.

​Di pusat benturan, waktu seolah membeku.

​Mata merah Badak Besi Pemakan Jiwa membelalak lebar, menampilkan riak keterkejutan primitif yang tak terbatas. Serudukan mautnya yang didukung oleh massa puluhan ribu kati dan energi meridian Tingkat Keenam mendadak tertahan kaku di udara. Cula kapak raksasanya membentur permukaan datar Meteorit Bintang Kegelapan milik Xinghe yang kepadatannya seratus kali lipat lebih keras daripada besi fana.

​Xinghe merasakan gelombang tenaga balasan yang luar biasa berat merambat naik menghantam seluruh persendian lengan kanannya. Semburan darah segar sempat merembes dari sela-sela giginya, menodai jubah hitamnya. Tubuh Fana Tanpa Cacat miliknya bergetar hebat, melepaskan hantaran tegangan maut tersebut menembus kedua kaki dan dialirkan langsung ke dalam fondasi bumi di bawahnya, menyebabkan tanah di sekeliling sepatunya retak hancur membentuk parit melingkar.

​Fisiknya berhasil menahan hantaman horizontal monster purba tersebut tanpa bergeser mundur satu inci pun.

​"Kepadatan zirahmu lumayan, struktur tenagamu terlalu menyebar kaku," bisik Xinghe sedingin es abadi.

​Memanfaatkan momen di mana momentum serudukan badak terhenti total, Xinghe menarik kembali pedang beratnya setengah langkah dengan putaran siku yang fleksibel. Sembilan Meridian Petir di dalam tubuhnya meledakkan seutas energi petir ungu bercampur sisa api emas Gagak Emas ke dalam gagang senjatanya.

​Guratan emas-merah di bilah pedang hitam itu menyala terang, melepaskan dengungan energi guntur berfrekuensi tinggi yang memicu distorsi ruang skala kecil di sekeliling bilah tumpulnya.

​"Seni Pedang Berat Penakluk Semesta: Hantaman Getaran Penghancur Inti!"

​Xinghe tidak menebas; ia memukulkan sisi datar pedang berat hitamnya tepat ke arah sambungan zirah leher bagian kiri Badak Besi, tempat di mana lempengan besi alami monster itu saling bertumpang tindih.

​Pukulan ini tidak membawa ketajaman pisau bedah, melainkan membawa gelombang kejutan akustik dan getaran frekuensi mikro tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk melewati pertahanan zirah luar, menyerang langsung struktur molekul daging dan sumsum tulang di bagian dalam.

​BUMMMMM!

​Suara hantaman itu terdengar teredam, namun efek destruktifnya sangat mengerikan. Lempengan zirah zink-besi di leher Badak Besi tidak pecah di luar, getaran energi petir ungu Xinghe merembes masuk menghancurkan seluruh jaringan saraf utama dan memutus aliran pembuluh darah spiritual di setengah tubuh bagian kirinya secara instan.

​Monster raksasa itu melolong kesakitan, suara lenguhannya terdengar serak dipenuhi penderitaan yang luar biasa. Tubuh besarnya terhuyung keras ke samping kiri, kaki-kaki besarnya kehilangan keseimbangan titik pijak akibat lumpuhnya saraf motorik leher.

​Xinghe tidak memberikan kesempatan bagi mangsanya untuk memulihkan diri. Langkah kakinya bergerak menggunakan teknik Langkah Bayangan Hantu, tubuh kurusnya seolah-olah berubah menjadi tiga bayangan kabur yang meliuk lincah di sela-sela kaki raksasa sang badak.

​Ia memutar tubuhnya di udara, mengangkat pedang berat hitamnya tinggi-tinggi di atas kepala menggunakan kedua tangan yang ototnya menegang rapat menyerupai rajutan kabel baja.

​"Seni Pedang Berat: Palu Godam Pemutus Langit!"

​Ayunan vertikal penuh dijatuhkan tanpa ampun, menargetkan tepat di pangkal tengkorak kepala Badak Besi Pemakan Jiwa.

​DUAAAAAARRR!

​Hantaman berat lima ribu kati yang didukung daya ledak Tingkat Sempurna Penyempurnaan Tubuh meremukkan lempengan zirah kepala badak tersebut hingga pecah berhamburan menjadi serpihan tajam hitam keperakan. Tengkorak monster itu amblas ke dalam sedalam lima jengkal, meledakkan seluruh jaringan otak dalamnya menjadi pasta darah kotor yang menyembur keluar dari sela-sela matanya.

​Makhluk purba penguasa Lembah Kapur Hitam itu menegang kaku sesaat di udara, sebelum akhirnya tubuh raksasanya ambruk berdebum dengan keras ke atas tanah kerikil besi, menimbulkan getaran gempa kecil yang meruntuhkan beberapa bongkahan batu tebing ngarai. Badak Besi Pemakan Jiwa telah mati total dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas penuh.

​Xinghe menurunkan pedang beratnya, napasnya memburu sedikit kasar. Semburan uap panas membawa sisa api emas keluar dari mulutnya, membersihkan sisa darah kotor yang sempat menyumbat dadanya akibat tegangan benturan awal tadi. Pertarungan singkat ini telah menguras hampir separuh dari kapasitas staminanya, sisa energinya justru terasa semakin murni dan padat berkat stimulasi tekanan maut tersebut.

​Ia berjalan mendekati bangkai kepala badak yang hancur. Menggunakan ujung tumpul pedang beratnya yang dialiri seutas Niat Pedang tajam, Xinghe membelah sisa rongga otak monster tersebut dengan sayatan yang bersih.

​Tangan kirinya merasuk masuk ke dalam pasta darah berdarah hangat, menarik keluar sebuah kristal berbentuk oktagon seukuran kepalan tangan remaja yang memancarkan pendar cahaya abu-abu metalik yang sangat pekat dan padat.

​Inti Monster Elemen Besi Tingkat Keenam. Harta karun utama yang ia butuhkan untuk mendaki kembali ranah keabadian. Hanya dengan memegangnya, Xinghe bisa merasakan esensi logam murni di dalam kristal tersebut beresonansi kuat dengan sembilan meridian petirnya.

​"Sempurna. Dengan benda ini, proses pembukaan meridianku malam ini akan memiliki fondasi pertahanan yang paling kokoh di benua ini," gumam Xinghe tulus, menyimpan kristal logam tersebut ke dalam kantong penyimpanan sutra birunya.

​Tepat saat ia berniat menyarungkan kembali senjatanya untuk memutar langkah meninggalkan dasar lembah, sebuah suara tepuk tangan yang lambat, berirama, dan dipenuhi oleh keangkuhan militer murni menggema dari arah celah-celah pilar batu hitam di ujung utara ngarai.

​"Pertunjukan pembantaian yang sangat brilian. Benar-benar sebuah kebrutalan fisik yang luar biasa mengagumkan, Yan Xinghe."

​Dari balik tabir kabut asap belerang yang menipis, sesosok pria paruh baya mengenakan jubah zirah tempur berwarna perak dengan sulaman kepala naga di dada kiri melangkah keluar dengan keangkuhan mutlak. Pria itu memiliki tubuh yang tegap, rambutnya dipotong pendek menyisakan uban di pelipisnya, dan sepasang matanya setajam mata burung rajawali yang mengunci mangsa lemah. Dialah Komandan Lang Feng, penguasa tertinggi Korps Serigala Hitam.

​Aura kekuatannya meledak tanpa ditutup-tutup, menyelimuti seluruh dasar lembah dengan tekanan yang luar biasa menyesakkan paru-paru—Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kedelapan. Aliran energi spiritual di sekeliling tubuhnya membentuk pusaran angin abu-abu tajam yang memotong kerikil besi di bawah kakinya menjadi dua bagian hanya melalui kontak aura.

​Di belakang Lang Feng, lebih dari seratus orang prajurit bayaran bersenjata lengkap mengenakan zirah hitam Faksi Serigala Hitam bermunculan, menyebar dengan disiplin militer yang ketat menutup seluruh rute pelarian dari Ngarai Lembah Kapur Hitam. Sepuluh orang di antaranya memegang busur panah mekanik berskala besar yang anak panahnya dialiri energi peledak tingkat menengah.

​Xinghe memutar tubuhnya perlahan, membiarkan Pedang Berat Tanpa Bilah miliknya tetap bertumpu di tanah lumpur berdarah di sampingnya. Pandangan gelapnya menatap wajah Lang Feng dengan ketenangan yang menakutkan, tidak ada sedikit pun riak kejutan atau ketakutan tergambar di wajah pucatnya.

​"Kau telah menunggu di balik pilar batu itu sejak aku melayangkan pukulan pertama, Komandan Lang Feng," suara Xinghe mengalun tenang, sedingin angin malam pegunungan. "Mengapa baru membuka gonggongan mulutmu sekarang?"

​Lang Feng menghentikan tepuk tangannya, senyum dingin terukir di wajahnya yang penuh gurat pertempuran. "Tentu saja untuk membiarkan Badak Besi itu menguras habis separuh dari sisa energi fana di tubuhmu, Tuan Penatua. Aku telah membaca laporan dari selatan tentang caramu membunuh Gongsun Tian dan mempermalukan Tetua Jian Wu. Kau mengandalkan wawasan presisi teknik dan kekuatan fisik yang tidak masuk akal untuk melompati batasan alam kultivasi."

​Lang Feng menarik sebilah pedang besar bermata lebar—Pedang Serigala Perak—dari punggungnya, bilah senjatanya memancarkan cahaya keperakan yang dipenuhi oleh energi angin yang sangat tajam.

​"Teknik presisimu tidak akan berguna saat kapasitas energimu berada di titik terendah setelah bertarung melawan binatang buas Tingkat Keenam," lanjut Lang Feng penuh percaya diri, melangkah maju tiga langkah memangkas jarak. "Serahkan inti monster badak itu padaku, bersujudlah sembilan kali di hadapan panji Korps Serigala Hitam, dan ikutlah bersamaku menuju kediaman Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci dalam keadaan terikat. Lakukan itu, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan kepala ibu dan kakakmu tetap melekat di leher mereka hari ini."

​Ancaman yang kembali membawa nama keluarganya membuat suhu udara di kedalaman Lembah Kapur Hitam anjlok seketika hingga ke titik beku.

​Xinghe menarik napas panjang, membiarkan aliran darah di tangan kanannya mengalir membasahi gagang pedang berat hitamnya. Sembilan Meridian Petir di dalam dadanya bergetar hebat, melepaskan sisa-sisa esensi api Gagak Emas yang tersimpan di kedalaman sumsum tulangnya. Sebuah pencerahan pembantaian baru bersinar di relung jiwanya.

​"Kalian para praktisi fana selalu membuat kesalahan perhitungan yang sama di hadapanku," suara Xinghe mengalun halus, namun tekanan aura di balik nada bicaranya membuat seratus prajurit di sekeliling tebing tanpa sadar menelan ludah ketakutan. "Kalian mengira kelelahan fisikku adalah celah kemenangan. Kalian tidak menyadari bahwa di hadapan seorang kaisar... jumlah serigala pengganggu hanya berarti tumpukan mayat baru yang akan memperkaya kesuburan tanah kapur ini."

​Xinghe mengangkat kembali Pedang Berat Tanpa Bilah seberat lima ribu kati itu menggunakan satu tangan kanan, memutar bilah tumpul hitamnya membelah udara ngarai dengan suara dengungan yang sangat menakutkan. Badai pembantaian berskala besar di Kekaisaran Naga Langit secara resmi dilepaskan sore ini di bawah naungan kabut belerang yang kelabu.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!