NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Teratai Di Atas Abu

Bab 22 — Pedang Melawan Kesombongan

Pertarungan demi pertarungan berlangsung di panggung batu itu. Peserta-peserta unggulan satu per satu tampil memukau, memamerkan teknik silat indah, aliran tenaga dalam yang kuat, dan senjata tajam yang berkilauan. Sorak sorai penonton bergema setiap kali ada serangan dahsyat atau gerakan luwes yang berhasil dilakukan. Di antara hiruk-pikuk itu, nama Lian Hua masih menjadi bahan tertawaan. Ia selalu tampil belakangan, naik ke panggung dengan tenang, hanya membawa sebilah pedang kayu tua yang kasar, dan bertarung dengan gerakan yang tampak sederhana sekali — hanya tusukan, ayunan, dan elakan dasar yang pernah diajarkan di awal.

Namun seiring berjalannya waktu, tawa penonton perlahan berkurang, digantikan oleh kebingungan dan kekaguman yang bercampur rasa tak percaya.

Lawan pertamanya adalah murid yang terkenal kecepatannya, yang bergerak bagai bayangan dan menyerang dari segala arah. Semua orang yakin Lian Hua akan kalah karena sulit menangkap gerakan lawan. Namun pemuda itu hanya berdiri diam, matanya tenang mengamati, dan begitu lawan melesat mendekat, ia hanya mengayunkan pedang kayunya satu kali — pelan namun tepat sasaran. Ujung kayu itu menghantam dada lawan tepat di tengah aliran tenaga, membuatnya tersentak hebat dan terjatuh mundur hingga terhuyung keluar batas panggung.

Pertandingan kedua, lawannya menggunakan senjata rantai besi yang berbahaya, berputar kencang bagai perisai dan cambukan mematikan. Lian Hua tak berusaha menangkis atau melawan kekuatan. Ia menggunakan Langkah Bayangan Teratai, tubuhnya melebur dengan udara, bergerak di sela-sela putaran rantai itu tanpa tersentuh sedikit pun. Di mata penonton, ia seolah berpindah tempat sekejap saja, dan sebelum lawan sadar, ujung pedang kayunya sudah menempel di leher lawan, menandakan kemenangan tanpa darah setetes pun.

Setiap kali bertarung, Lian Hua tak pernah menggunakan teknik rumit atau gerakan memukau. Ia hanya mengandalkan pemahaman mendalam tentang kekuatan, ketahanan raga yang tak tertandingi, dan akurasi yang nyaris sempurna. Setiap gerakannya sederhana, namun setiap kali ia menyerang, ia selalu menuju ke titik paling lemah, ke celah terkecil yang tak dilihat orang lain. Tenaganya berat, padat, dan tak tergoyahkan, seolah ada gunung kecil yang bergerak di atas panggung itu.

Para penonton yang tadinya mengejek kini mulai diam. Mereka melihat pemuda yang dianggap sampah itu mengalahkan satu demi satu peserta yang dianggap jauh lebih kuat, lebih berbakat, dan lebih berilmu. Kini, di babak puncak, tinggal tersisa dua orang: Lian Hua, dan Wang Chen — murid unggulan nomor satu angkatan itu, orang yang memiliki bakat luar biasa, murid kesayangan pengurus utama, dan orang yang diprediksi akan menjadi juara sejak awal turnamen.

Wang Chen berdiri di seberang panggung, mengenakan jubah halus berwarna biru muda, di tangannya berkilau sebilah pedang baja berlekuk indah yang bernilai tinggi. Wajahnya angkuh dan dingin, menatap Lian Hua dengan pandangan jijik dan meremehkan, persis seperti orang-orang lain dulu.

"Kau cukup beruntung bisa sampai ke sini," ucap Wang Chen dengan suara keras agar terdengar semua orang. "Tapi keberuntunganmu habis sampai di sini. Aku adalah puncak dari murid luar, orang yang ditakdirkan masuk ke jajaran elit. Kau, anak kampung, murid sampah yang hanya bisa mengandalkan kekuatan kasar... hari ini aku akan mengajari kau perbedaan nyata antara langit dan bumi."

Ia mengayunkan pedang bajanya sekali, hawa tajam menyambar udara hingga terdengar suara siulan nyaring.

"Lihat senjataku ini, pedang buatan pandai besi terbaik, tajam mampu membelah besi. Dan lihatlah senjatamu... sebilah kayu rongsokan yang tak berharga. Kau pikir kau bisa melawanku dengan benda itu? Saat aku mengayunkan pedangku sekali saja, kayumu itu akan patah jadi debu, dan nyawamu pun akan ikut hancur."

Di pinggir panggung, Gu Qing Cheng menggenggam tangannya erat. Ia tahu Lian Hua kuat, tapi Wang Chen berada di tingkat yang jauh berbeda. Tenaga dalamnya murni, tekniknya sempurna, dan senjatanya mematikan.

Lian Hua tetap diam, memegang gagang kayu itu dengan erat, wajahnya sama tenangnya seperti biasanya. Ia tak marah, tak terpancing emosi. Ia hanya menatap lawannya dengan pandangan datar.

"Pedang bukanlah besi di tangan," jawab Lian Hua pelan namun jelas. "Tapi kehendak di hati. Kau mengandalkan tajamnya besi, tapi kau lupa bahwa yang menentukan pertarungan bukanlah senjata, melainkan orang yang memegangnya."

Wang Chen tertawa keras, penuh penghinaan. "Omong kosong! Lihat saja nanti. Aku akan membuat kau menyesal pernah lahir ke dunia ini!"

Tanpa menunggu aba-aba, Wang Chen melesat maju. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke bilah pedang, membuatnya berkilau terang bagai cahaya perak. Ia menggunakan teknik andalan sekte — Aliran Awan Berkilau — serangan bertubi-tubi, cepat, indah, dan mematikan, di mana serangan pertama belum selesai, serangan kedua sudah datang, membuat lawan terjepit dan tak punya jalan keluar.

Di tribun penonton, terdengar seruan kagum. Teknik ini sulit dikuasai, dan Wang Chen melakukannya dengan sangat sempurna.

Namun di hadapan hujan serangan pedang itu, Lian Hua tak mundur selangkah pun. Ia bergerak dengan Langkah Bayangan Teratai, tubuhnya bergerak ringan dan luwes, berputar di sela-sela celah serangan itu. Bilah pedang tajam itu menyambar bahunya, membelah jubahnya, namun tak mampu menggores kulitnya sedikit pun — raga yang ditempa ribuan kali ternyata lebih keras daripada besi biasa.

Wang Chen makin terkejut dan marah. Ia mengerahkan tenaga lebih kuat lagi, serangannya makin ganas. "Berdirilah dan bertarunglah dengan sungguh-sungguh! Jangan cuma lari seperti tikus!"

"Aku tidak lari," jawab Lian Hua tenang. "Aku hanya menunggu kau menghabiskan kekuatanmu... dan menunggu kesempatan yang tepat."

Tepat saat Wang Chen mengayunkan serangan terkuatnya, mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk satu tebasan membelah langit dan bumi, itulah saat yang ditunggu Lian Hua.

Ia tak lagi menghindar. Ia berdiri tegak, memegang pedang kayunya dengan dua tangan, mengerahkan seluruh kekuatan raga dan tenaga dalam yang padat di dalamnya, pola teratai di dadanya bersinar terang menembus bajunya. Ia menggunakan gerakan paling dasar, paling sederhana yang pernah diajarkan: Tusukan Lurus.

Bagi orang lain, gerakan ini tak berarti apa-apa, sangat mudah dielakkan atau dipatahkan. Tapi di tangan Lian Hua, gerakan sederhana itu berubah menjadi senjata paling dahsyat.

Bukh!

Benturan terdengar nyaring ke seluruh penjuru.

Pedang baja yang dianggap tak terkalahkan itu, yang tajam dan keras, bertemu dengan bilah kayu tua itu. Wang Chen yakin kayunya akan hancur seketika. Namun yang terjadi sebaliknya.

Tenaga Lian Hua yang berat bagai gunung dan padat bagai inti besi menghantam bilah baja itu tepat di tengah. Guncangan dahsyat merambat dari ujung pedang ke gagang, lalu ke tangan Wang Chen, hingga ke seluruh tubuhnya. Tangannya terasa kebas seketika, tulang-tulangnya bergetar hebat, dan pedang tajam itu terlepas dari genggamannya, terlempar tinggi ke udara, berputar beberapa kali, lalu jatuh berdentang keras di tanah jauh di bawah.

Dan ujung pedang kayu itu berhenti tepat di dada Wang Chen, menekan keras hingga napasnya tersendat, membuatnya terpaku diam di tempat, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Suasana hening seketika. Ribuan orang terdiam kaku, tak mampu bersuara. Mereka melihat pemuda yang mereka sebut sampah, yang mereka tertawakan berbulan-bulan lamanya, baru saja melumpuhkan murid terkuat, senjata terbaik, dan teknik paling indah... hanya dengan sebilah kayu tua dan satu gerakan paling dasar.

Lian Hua menarik kembali pedang kayunya perlahan, lalu menatap lawannya yang masih berdiri kaku dengan wajah pucat pasi.

"Kau bangga dengan besimu, kau bangga dengan teknikmu, kau bangga dengan bakatmu..." ucap Lian Hua tenang, suaranya terdengar jelas ke segenap penjuru. "Tapi kau lupa satu hal: kekuatan sejati bukanlah sesuatu yang diberikan orang lain atau bawaan lahir. Kekuatan sejati adalah sesuatu yang kau tempa sendiri, tetes demi tetes keringat dan darah, di saat orang lain sedang tidur atau bersenang-senang."

Ia berhenti sejenak, memandang seluruh penonton, para tetua, dan semua peserta yang dulu menghinanya.

"Kalian menertawakan pedang kayuku, menertawakan gerakanku, menertawakan diriku. Tapi ingatlah ini: kayu ini takkan pernah patah selama kehendakku masih kuat. Dan gerakan sederhana ini... cukup untuk menjatuhkan siapa saja yang sombong dan meremehkan orang lain."

Wang Chen jatuh berlutut ke tanah, gemetar hebat, rasa malu dan takut bercampur jadi satu. Ia sadar, jurang pemisah di antara mereka bukanlah bakat atau status, melainkan ketekunan dan kedalaman hati yang tak akan pernah bisa ia raih.

Di tribun kehormatan, para tetua berdiri tegak serentak, mata mereka terbelalak tak percaya namun penuh kekaguman. Tetua Bai tersenyum lebar, air mata haru hampir menetes. Ia tahu, hari ini, Sekte Gunung Awan Putih baru saja mendapatkan permata paling berharga dalam sejarahnya.

Dan di pinggir lapangan, Gu Qing Cheng tersenyum bahagia, hatinya penuh rasa bangga dan kekaguman. Ia tahu benar, hari ini hanyalah awal. Di depan sana, pemuda bernama Lian Hua ini akan menempuh jalan yang jauh lebih panjang, jauh lebih sulit, namun juga jauh lebih agung daripada siapa pun yang bisa dibayangkan orang lain.

Lian Hua memutar balikkan badannya, berjalan perlahan keluar dari panggung pertarungan, meninggalkan ribuan orang yang masih diam terpaku, membawa pedang kayunya yang kini bukan lagi benda rongsokan, melainkan simbol kekuatan yang tak tergoyahkan.

Nama Lian Hua... mulai hari ini, tak ada satu pun orang di Sekte Gunung Awan Putih yang berani mengucapkan namanya dengan nada hinaan lagi.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!