NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Rumah yang Tidak Lagi Sama

Bab 32 — Rumah yang Tidak Lagi Sama

Pagi itu mansion Moretti jauh lebih ramai dari biasanya.

Bukan karena ada masalah.

Justru karena ada satu orang yang terlalu cepat berbaur.

Dan orang itu sekarang sedang membuat para pelayan bingung.

“Kenapa sarapannya cuma segini?”

Matteo berdiri di dapur dengan ekspresi sangat kecewa.

Salah satu koki terlihat gugup.

“T-Tuan… itu menu yang biasa disiapkan…”

Matteo menunjuk meja.

“Tidak ada yang manis?”

Koki diam.

Matteo menghela napas panjang.

Lalu berbalik.

Dan tepat di depan pintu—

Lorenzo berdiri.

Sunyi.

Matteo langsung tersenyum.

“Oh. Kau ternyata masih makan makanan manusia.”

Lorenzo menatap datar.

“Kapan pulang.”

Matteo berpikir.

“Belum tahu.”

Lorenzo diam.

Matteo mengambil kopi.

“Jangan begitu. Aku baru sehari.”

Lorenzo berjalan pergi.

Namun sebelum keluar—

dia berkata singkat.

“Jangan buat masalah.”

Matteo tertawa.

“Janji tidak terlalu banyak.”

Sementara itu—

Amelia sedang di perpustakaan.

Dia mulai terbiasa datang ke sana.

Ruangan itu tenang.

Dan entah kenapa…

dia merasa tempat itu lebih nyaman dibanding kamarnya sendiri.

Dia sedang membaca ketika suara kursi ditarik terdengar.

Matteo duduk di depannya.

Amelia berkedip.

“Oh.”

Matteo bersandar.

“Kau ternyata suka baca.”

Amelia mengangguk kecil.

Matteo melihat rak buku.

Lalu berkata,

“Aku dulu sering sembunyi di sini.”

Amelia penasaran.

“Dari siapa?”

Matteo tersenyum.

“Dari Lorenzo.”

Amelia langsung tertawa kecil.

Matteo ikut tertawa.

Lalu mulai cerita.

Ternyata waktu kecil dia sering datang ke mansion.

Tapi berbeda dengan sekarang.

Dulu mansion ini jauh lebih dingin.

Jauh lebih sunyi.

Dan Lorenzo kecil…

bahkan lebih pendiam dari sekarang.

Amelia mendengarkan cukup lama.

Lalu pelan bertanya,

“Dia memang selalu begitu?”

Matteo diam sebentar.

Lalu menjawab—

“Tidak.”

Amelia sedikit terkejut.

Matteo melihat ke luar jendela.

“Dulu dia masih bisa marah.”

Amelia bingung.

“Sekarang juga marah.”

Matteo tertawa kecil.

“Beda.”

Dia diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“Sekarang dia cuma menahan semuanya.”

Amelia diam.

Tidak tahu kenapa…

jawaban itu membuat dadanya terasa aneh.

Di sisi lain kota.

Sebuah rumah tua berdiri di pinggir jalan kecil.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Tapi sangat rapi.

Seorang wanita tua sedang menyapu halaman.

Gerakannya lambat.

Namun tetap dilakukan sendiri.

Tetangga lewat.

“Nek, masih belum ada kabar?”

Wanita tua itu berhenti.

Lalu tersenyum kecil.

“Belum.”

Tetangga diam.

Lalu berkata hati-hati,

“Kalau mau lapor lagi…”

Wanita tua itu menggeleng.

“Nanti.”

Tetangga mengangguk lalu pergi.

Wanita tua itu kembali menyapu.

Namun beberapa detik kemudian—

dia berhenti.

Tatapannya jatuh ke kursi kosong di teras.

Biasanya…

ada seseorang duduk di sana.

Bercerita.

Membantu.

Tertawa.

Wanita itu duduk pelan.

Lalu membuka laci kecil.

Di dalam ada foto.

Foto lama.

Seorang gadis tersenyum cerah.

Amelia.

Wanita tua itu memegang foto itu pelan.

Lalu berkata lirih—

“Kamu di mana…”

Angin bergerak pelan.

Dan rumah itu kembali sunyi.

Di mansion.

Amelia sedang berjalan kembali ke kamar.

Saat melewati salah satu lorong—

dia berhenti.

Sebuah ruangan terbuka sedikit.

Di dalam—

Lorenzo sedang bicara dengan seseorang.

Nada suaranya dingin.

Amelia tidak sengaja mendengar.

“Jangan dekati rumah itu.”

Rumah?

Suara Marco terdengar.

“Tapi kalau mereka bergerak lebih dulu—”

Lorenzo memotong.

“Tidak.”

Sunyi.

Lalu Lorenzo berkata pelan.

“Selama belum perlu… jangan sentuh kehidupan lamanya.”

Amelia membeku.

Kehidupan lama?

Rumah?

Jantungnya langsung tidak nyaman.

Dan tiba-tiba—

dia sadar.

Apa mereka bicara tentang…

rumah neneknya?

Amelia langsung pergi sebelum ketahuan.

Sore.

Dia duduk sendiri di taman.

Pikirannya kacau.

Sudah lama dia tidak memikirkan rumah.

Tidak karena lupa.

Tapi karena takut.

Takut kalau ternyata…

tidak ada yang mencarinya.

Takut kalau semuanya sudah berubah.

Dan saat itu—

Matteo datang.

Dia melihat Amelia beberapa detik.

Lalu duduk di sebelahnya.

Tidak bertanya.

Tidak bercanda.

Hanya duduk.

Beberapa saat.

Lalu berkata—

“Kau kangen rumah?”

Amelia menoleh.

Diam.

Lalu mengangguk.

Matteo melihat langit.

Lalu tersenyum kecil.

“Aku juga.”

Amelia sedikit bingung.

“Kau?”

Matteo tertawa kecil.

“Semua orang punya tempat yang dirindukan.”

Sunyi.

Lalu dia berkata lagi.

“Bedanya…”

Tatapannya lurus.

“…kadang kita pulang dan sadar tempat itu sudah berubah.”

Amelia diam.

Matteo menoleh.

Lalu tersenyum santai lagi.

“Tapi tidak semua perubahan buruk.”

Amelia menatap taman.

Lalu bertanya pelan.

“…kalau rumahnya sudah tidak sama?”

Matteo berpikir cukup lama.

Lalu menjawab—

“Bikin rumah baru.”

Amelia diam.

Jawaban sederhana.

Tapi entah kenapa…

membekas.

Malam.

Lorenzo pulang lebih awal.

Dia melewati ruang tamu.

Lalu berhenti.

Karena dia melihat—

Amelia dan Matteo sedang main catur.

Dan…

Amelia sedang tertawa.

Lorenzo diam.

Matteo melihat lalu tersenyum kecil.

Dia tidak bilang apa-apa.

Tapi dalam hati dia berpikir—

jadi begini ya.

Begini rasanya mansion ini kalau tidak terlalu sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

dia mulai mengerti kenapa Lorenzo tidak membiarkan Amelia pergi.

Sementara Lorenzo hanya berdiri beberapa detik.

Lalu berjalan masuk.

Namun sebelum pergi—

dia berkata singkat.

“Amelia.”

Amelia menoleh.

Lorenzo menatap papan catur.

Lalu berkata datar—

“Jangan percaya kalau dia bilang dia jago.”

Matteo langsung protes.

“Hei!”

Amelia tertawa.

Dan malam itu—

untuk sesaat—

mereka seperti keluarga biasa.

Matteo masih duduk di taman setelah Amelia masuk ke dalam.

Papan catur di meja belum dibereskan.

Dia memperhatikan bidak putih yang tadi dipakai Amelia.

Lalu tertawa kecil sendiri.

Langkah pelan terdengar dari belakang.

Lorenzo.

Matteo tidak menoleh.

“Aku menang.”

Lorenzo berdiri di samping meja.

Tatapannya turun ke papan.

Lalu datar menjawab,

“Dia sengaja mengalah.”

Matteo langsung menoleh.

“Wah. Kejam sekali.”

Lorenzo tidak menjawab.

Matteo bersandar.

Lalu berkata santai,

“Dia lebih santai sekarang.”

Sunyi.

Lorenzo tetap diam.

Matteo melanjutkan.

“Awalnya aku pikir dia bakal takut tinggal di sini.”

Tatapannya kembali ke arah koridor tempat Amelia tadi pergi.

“Tapi dia lumayan kuat.”

Lorenzo akhirnya bicara.

“Dia menyesuaikan diri.”

Matteo diam sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

“Dan kau?”

Lorenzo melirik.

Matteo tertawa kecil.

“Jangan lihat aku begitu.”

Dia berdiri.

Lalu berkata pelan.

“Kau juga berubah.”

Lorenzo tidak menjawab.

Matteo mengangkat bahu.

“Tenang. Aku nggak bilang itu buruk.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Matteo berjalan pergi.

Namun sebelum masuk ke dalam—

dia berhenti.

Tanpa menoleh dia berkata,

“Jangan terlalu terlambat sadar.”

Lorenzo menatapnya.

Matteo tersenyum kecil.

“Kadang saat kita sadar sesuatu penting…”

Dia diam sebentar.

“…kita sudah keburu kehilangan.”

Lalu dia pergi.

Lorenzo tetap berdiri di taman.

Tatapannya tidak berubah.

Tapi entah kenapa—

kalimat itu tidak langsung hilang.

Di dalam mansion.

Amelia berjalan ke kamarnya.

Namun saat melewati ruang kecil di sisi lorong—

dia melihat pintu terbuka.

Di dalam ada rak-rak lama.

Seperti gudang barang.

Amelia berhenti.

Awalnya dia mau lewat.

Tapi matanya menangkap sesuatu.

Bingkai foto.

Dia masuk pelan.

Ruangan itu tidak terlalu besar.

Lebih seperti tempat menyimpan barang lama.

Dan di salah satu rak—

ada foto lama keluarga.

Amelia mendekat.

Matanya memperhatikan satu per satu.

Lalu berhenti.

Foto anak-anak.

Dua anak laki-laki.

Yang satu berdiri sangat rapi dan kaku.

Yang satu lagi senyumnya lebar.

Amelia berkedip.

Lalu mendekat.

Dan beberapa detik kemudian—

dia sadar.

Yang serius itu…

Lorenzo.

Yang senyum lebar…

Matteo.

Usianya mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun.

Amelia menatap lama.

Aneh.

Dia tidak pernah membayangkan Lorenzo pernah sekecil itu.

Dan—

dia sedang tersenyum tipis di foto.

Tidak lebar.

Tapi jelas bukan wajah dingin sekarang.

Suara terdengar dari belakang.

“Ketemu ya.”

Amelia kaget.

Matteo berdiri di pintu.

Tangannya di saku.

Amelia langsung mundur sedikit.

“Maaf aku cuma…”

Matteo masuk.

Dia mengambil foto itu.

Lalu tertawa kecil.

“Lucu ya.”

Amelia melihat foto.

“Dulu kalian dekat?”

Matteo diam sebentar.

Lalu mengangguk.

“Lumayan.”

Dia melihat foto beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“Dulu dia masih sering keluar.”

Amelia diam mendengarkan.

Matteo lanjut.

“Terus makin besar…”

Dia tersenyum kecil.

“…makin sepi.”

Amelia menunduk sedikit.

Tidak tahu kenapa—

dia mulai bisa membayangkan.

Rumah sebesar ini.

Orang sebanyak ini.

Tapi tetap kesepian.

Matteo mengembalikan foto.

Lalu berkata santai lagi.

“Jangan bilang dia aku tunjukkan ini.”

Amelia tertawa kecil.

“Oke.”

Matteo tersenyum.

Lalu berjalan keluar.

Namun saat sampai pintu—

dia berhenti.

Dan tanpa melihat Amelia—

dia berkata pelan.

“Kalau suatu hari dia bilang dia tidak apa-apa…”

Dia diam sebentar.

“…jangan langsung percaya.”

Amelia sedikit bingung.

Matteo menoleh.

Senyumnya masih santai.

Tapi matanya tidak.

“Dia dari kecil memang begitu.”

Lalu dia pergi.

Amelia berdiri sendiri.

Tatapannya kembali ke foto.

Dan untuk pertama kalinya—

dia mulai penasaran.

Seperti apa sebenarnya Lorenzo sebelum menjadi orang seperti sekarang.

Dan jauh di sudut mansion—

seseorang sedang memperhatikan layar monitor.

Tampilan kamera menunjukkan taman.

Koridor.

Dan ruang keluarga.

Sebuah suara pelan terdengar—

“Terus lihat.”

Lalu layar mati.

Tanpa seorang pun sadar—

ada seseorang yang mulai mengamati rumah itu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!