Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Tamparan Keras
"Kenapa Sus? Aku mohon biarkan aku memeluknya lebih lama. Ini untuk terakhir kali," pinta Razna belum puas memeluk bayinya.
"Maaf Bu, tidak bisa. Bayi Ibu harus disimpan di ruangan khusus," ujar perawat itu tidak tega sebenarnya.
Perawat itu mengulurkan tangan dengan ragu, seolah ikut merasakan beratnya perpisahan yang akan terjadi.
Raznalira belum bisa memberikan bayinya pada perawat tersebut. Pelukannya justru semakin erat, seakan takut jika dilepas, bayinya akan benar-benar pergi selamanya.
“Sebentar lagi saja…,” lirih Razna, nyaris memohon, matanya berkaca-kaca.
Perawat itu menatapnya iba, lalu mengangguk pelan, memberinya sedikit waktu lagi untuk memeluk bayi tersebut.
Hujan di luar masih turun tanpa jeda. Suaranya kini terdengar seperti isak tangis panjang yang tak kunjung reda. Seolah tahu betapa sulitnya melepas kepergian buah hati yang baru saja lahir.
Raznalira menunduk, mencium kening bayinya yang dingin. Lama. Sangat lama. Ia menghirup dalam-dalam, seakan ingin menyimpan aroma terakhir itu di dalam dadanya, agar tidak pernah hilang.
“Sayang...Ibu belum sempat memberimu nama, kau pergi meninggalkan ibu sendirian di sini,” bisiknya pelan. “Tapi Ibu ingin memanggilmu… Alira. Bagian nama Ibu kuberikan untukmu agar kita selalu bersama walaupun kita berpisah selamanya."
Air matanya jatuh mengenai wajah kecil itu. Tidak ada pergerakan dari tubuh mungil yang dinantikan tangisnya secara tiba-tiba. Bahkan ASI nya yang sudah dipersiapkan masih utuh belum diberikan pada bayi tercintanya. Sungguh ini menyesakkan dadanya.
“Alira… maafkan Ibu karena belum bisa jadi Ibu yang baik. Maafkan Ibu kehadiranmu di dunia ini belum siap menyambutmu dengan kebahagiaan. Justru kau yang pergi meninggalkan Ibu sendirian di sini. Sayang... tidur yang tenang di sana," Razna mencium kembali kening bayinya yang lelap dalam tidur panjangnya, tangannya mengusap lembut rambut halus bayinya.
“Ibu janji akan kuat menghadapi ujian ini. Walaupun saat ini rasanya begitu hancur, Ibu akan tetap hidup untuk mengenangmu, Sayang. Ibu menyayangimu, Nak!" Razna tergugu.
Perawat yang sejak tadi berdiri akhirnya kembali mendekat. Kali ini lebih pasti. Seraya tidak mau melihat luka yang dialami Raznalira terlalu lama. Sebagai seorang ibu, perawat itu sangat mengerti perasaan yang dirasakan Razna saat ini.
“Bu, maaf...bayi ibu dibawa dulu ya!" panggilnya lembut dengan tatapan iba
Raznalira menutup mata sejenak. Lalu dengan sangat perlahan, ia mengendurkan pelukannya. Tangannya gemetar saat menyerahkan kembali tubuh kecil itu. Seolah sebagian jiwanya ikut terlepas.
Perawat itu menerima bayi tersebut dengan hati-hati, lalu membawanya pergi tanpa suara. Tirai kembali disibakkan. Pintu tertutup perlahan. Dan… sunyi kembali menguasai ruangan itu. Membuat hati Razna terasa hampa.
Raznalira menatap kosong ke arah pintu yang kini tertutup rapat. Tidak ada lagi tangisan bayi. Tidak ada lagi suara langkah menuju ruangannya. Tak ada suara hujan yang tadi bersahutan. Sepi merayap hati.
Suaminya benar-benar tidak datang, dia lelah untuk berharap. Orang tuanya pun tidak ada disisinya, mungkin mereka masih terlalu kecewa dengan keputusan yang diambil demi suaminya saat itu dan sekarang bayinya pun telah pergi untuk selamanya.
Namun di balik kehampaan itu, terselip sesuatu yang baru. Bukan kebahagiaan. Bukan pula kelegaan. Tapi sebuah tekad untuk menguatkan hatinya agar tidak sedih berkepanjangan. Raznalira mengusap wajahnya pelan.
“Aku tidak boleh hancur lebih jauh lagi. Aku harus kuat, harus tegar, harus ikhlas,” bisiknya yakin pada diri sendiri walaupun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya kesedihan itu tidak bisa disembunyikan.
Siang merangkak datang dengan cahaya terik menembus jendela bangsal. Hujan sudah cukup lelah menemani kesedihan dan kehilangan seseorang yang dialami Razna.
Pintu bangsal kembali berderit pelan. Seorang petugas administrasi datang membawa map cokelat. Suaranya datar, nyaris tanpa empati. Menangis sesuatu yang harus dibayarkan dengan segera.
“Bu Raznalira ini rincian biaya persalinan dan perawatan yang belum dibayar oleh suami ibu. Totalnya sepuluh juta tujuh ratus ribu lagi. Itu belum termasuk biaya pemulasaraan jenazah bayi.”
Kata jenazah membuat dada Raznalira berdenyut nyeri. Pelukan terakhir terhadap bayi itu masih ia rasakan dengan hati yang rapuh.
Raznalira menelan ludah. Angka itu terdengar bahasa asing. Ia bahkan tidak punya sepersepuluhnya. Dulu waktu masih bersama orang tuanya, uang itu tersimpan aman di rekeningnya. Tapi sekarang habis tak bersisa. Pemberian orang tuanya seketika dicabut semenjak dirinya lebih memilih Ragil.
Razna terpaku menatap rincian biaya yang disodorkan petugas administrasi. Belum juga hilang kesedihannya ditinggal anaknya, kini ia harus berhadapan dengan petugas administrasi yang tanpa ampun menagih sisa pembayaran yang belum dilunasi oleh suaminya.
“Saya… saya tidak punya uang sebanyak itu, Sus,” katanya lirih.
Petugas itu menghela napas. “Maaf, Bu. Selama administrasi belum diselesaikan, jenazah bayi belum bisa kami serahkan untuk dimakamkan. Seharusnya Ibu tahu diri sebelum melahirkan di sini. Ini rumah sakit orang-orang elit. Pembayaran pun lumayan gede. Jadi kalau Ibu engga punya uang, ya seharusnya jangan melahirkan di sini." jelasnya jutek.
Deg!
Kalimat itu bagaikan tamparan keras yang begitu menyakitkan daripada luka fisik mana pun. Ternyata menjadi orang susah itu selalu dipandang sebelah mata, mau tidak mau harus mau menerima penghinaan yang keluar dari mulut orang yang sok berkuasa.
Raznalira hanya bisa terdiam. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar. Rasanya dia ingin meluapkan rasa marah yang membuncah. Dia ingin berteriak, namun suaranya seperti tertelan oleh sesak di dalam dadanya sendiri. Air matanya kembali jatuh, kali ini bukan hanya karena kehilangan bayinya, namun karena penghinaan yang menghantam dirinya tanpa melihat situasi dan kondisi. Jelas sekali petugas administrasi tersebut tidak memiliki empati terhadap dirinya.
“Maaf saya benar-benar tidak punya uang. Saya tidak tahu harus bagaimana mengatasi masalah ini," ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
Petugas itu hanya mengangkat bahu, menatap Razna dengan tajam.
“Saya hanya menjalankan tugas, Bu. Kalau Ibu tidak bisa bayar, ya silakan hubungi keluarga atau suami Ibu! Ibu masih punya suami kan? Jadi tolong hubungi suami ibu karena kami tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi,” ujar petugas tersebut tidak mau tahu.
Deg!
Suami. Keluarga.
Dua kata itu seperti pisau yang mencabik ulu hatinya, putaran peristiwa masa lalunya berputar kembali seperti sebuah kaset yang menunjukkan peristiwa yang penuh luka dan penyesalan.
Razna menunduk dalam, matanya terpejam. Bayangan wajah kedua orang tuanya melintas di benaknya. Wajah yang dulu penuh kasih sayang tak terhingga kini dirasakan masih menyimpan rasa kekecewaan yang mendalam.Seraya menggigit bibirnya, ragu.
Apa dia masih punya tempat untuk bisa kembali bersama keluarga tercintanya?
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...