Dunia Doni runtuh saat istri tercintanya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putri mereka, Maudi. Di masa rentan itu, masuklah Seina, seorang wanita licik yang ambisius. Demi menguasai harta Doni, Seina melakukan aksi nekat,ia menukar Maudi dengan putri kandungnya sendiri, Eliza.
Sejak saat itu, nasib kedua bocah tersebut berubah 180 derajat. Eliza tumbuh sebagai gadis yang sangat dimanja dan bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Maudi yang merupakan anak kandung Doni, justru dianggap sebagai pembawa sial oleh Seina. Selama tujuh tahun, Maudi kecil hidup dalam penderitaan, disiksa secara fisik dan mental oleh Seina tanpa sepengetahuan Doni.
Penderitaan Maudi berakhir ketika sebuah insiden membuatnya terbuang dan akhirnya tumbuh di lingkungan pesantren. Di sinilah mutiara yang terpendam itu mulai bersinar. Maudi ternyata adalah seorang anak yang sangat jenius.
Assalamualaikum...
yuk, ikuti kelanjutan kisahnya ....
semoga suka.... jangan lupa dukungannya ya🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di dalam mansion, suasana kacau balau. Bram sudah dibawa oleh pihak kepolisian atas laporan percobaan pembunuhan yang diajukan oleh Doni, karena di dalam saku Bram terdapat bukti sebuah ponsel, dan di sana ada chat yang memerintahkan Bram pada anak buahnya untuk menukar obat yang di bawa kakek Harison dengan obat jantung dosis tinggi, Maudi sudah menyabotase ponsel Bram agar tidak ada chat atau sambungan langsung ke Seina .
Seina duduk di tepi ranjang kamarnya dengan tubuh yang terus bergetar. Ia merasa seolah-olah ada ribuan mata yang menatapnya dari kegelapan.
Sementara itu, Maudi masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di paviliun sederhana, kamar yang sengaja diberikan Seina di paviliun paling belakang dekat gudang agar Maudi merasa terhina. Namun, begitu pintu dikunci, Maudi melepaskan cadarnya.
Wajah aslinya yang cantik luar biasa, yang selama ini ia sembunyikan dengan teknologi pengacak biometrik, terpantul di cermin. Ia menyalakan laptop ultra-tipis miliknya yang memiliki logo Sektor 7.
"Nona, seseorang mencoba menembus firewall mansion dari server luar," lapor suara digital dari laptopnya.
"Aku tahu. Itu si Tuan Steril," gumam Maudi sambil menyesap air putih. "Dia sangat gigih untuk ukuran orang yang takut pada debu."
Maudi mengetikkan serangkaian kode. Ia tidak hanya mengunci CCTV, tapi ia juga mengirimkan umpan balik ke server Rasya. Sebuah virus pengintai yang tidak akan merusak sistem Rasya, namun akan memberikan Maudi akses untuk melihat apa pun yang sedang dilihat oleh Rasya.
"Jika kau ingin mengintaiku, Tuan Rasya yang higienis... maka aku akan balik mengintaimu," batin Maudi dengan senyum tipis.
"apa yang sebenarnya anda inginkan, sehingga ikut campur dalam keluarga ku"gumamnya pelan.
Maudi keluar dari kamarnya, kembali mengenakan cadar dan jubah lusuhnya. Ia masuk ke rumah utama , sebenarnya kakek Harison menyuruh Maudi untuk tinggal di dalam mansion, tapi Maudi tidak mau karena ia sudah nyaman berada di paviliun seorang diri. Agar privasi nya tidak terganggu. Tetapi kakek horison serta Doni membuka akses pintu mansion untuk Maudi agar bisa masuk kapan saja saat ia membutuhkan sesuatu.
Maudi berjalan melewati kamar Eliza yang sedang menangis sesenggukan karena syok melihat Bram yang babak belur.
Maudi sengaja menjatuhkan sebuah foto lama di depan pintu kamar Eliza. Foto itu adalah foto bayi yang baru lahir di sebuah rumah sakit tua, dengan dua gelang identitas yang tampak sengaja diletakkan bersisihan sebelum tertukar.
"Aduh, barangku jatuh," ucap Maudi dengan suara yang cukup keras agar Eliza mendengarnya.
Eliza membuka pintu dengan kasar. "Heh, monster! Jangan berisik di depan kamarku!"
Mata Eliza tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Ia memungutnya dengan dahi berkerut. "Apa ini? Foto bayi siapa? Kenapa tanggal lahirnya sama denganku?" disana ada dua bayi dalam satu inkubator.
Maudi segera menyambar foto itu dengan gerakan canggung yang dibuat-buat. "Maaf, Kak Eliza. Itu... itu hanya sampah dari pesantren. Maudi buang dulu ya."
Maudi berlari pergi, meninggalkan Eliza yang terpaku. Benih keraguan pertama telah ditanam. Eliza, yang sangat menyayangi Kakek Harison, mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sejarah kelahirannya sendiri.
"sebenarnya apa yang terjadi,di foto tadi ada dua bayi, dan di ambil dari tanggal dan tahun yang sama" gumamnya lirih.
____
Rasya masih berdiri di luar mansion, di bawah bayang-bayang pohon besar. Ia menggunakan teropong militer yang dilengkapi sensor panas. Ia melihat sosok berwarna biru dingin bergerak di dalam mansion.
"Dia bergerak menuju kamar Doni Daneswara," gumam Rasya.
Tiba-tiba, sensor panasnya menangkap sesuatu yang aneh. Sosok biru di dalam mansion itu berhenti, lalu berbalik arah dan menghadap tepat ke arah posisi Rasya bersembunyi, seolah-olah ia bisa melihat Rasya menembus tembok beton.
Melalui earpiece Kevin, terdengar suara gangguan sinyal. Dan tiba-tiba, sebuah suara wanita yang jernih namun penuh wibawa masuk ke saluran komunikasi rahasia Rasya.
"Tuan Rasya yang super higienis... udaranya sangat kotor di luar sana. Bukankah lebih baik Anda pulang dan mandi desinfektan daripada mengurusi urusan keluarga orang lain...atau saya perlu menyiram anda dengan air got yang ada di samping anda itu ?"
Rasya tersentak. Ia segera mematikan sensornya. Gadis itu baru saja meretas frekuensi komunikasinya yang terenkripsi tingkat tinggi.
Rasya bergidik setelah melihat ke bawah, ternyata ia berdiri di samping got yang tertutup oleh jembatan besi , seandainya ia tidak memakai masker mungkin akan muntah-muntah karena baunya
Rasya mundur beberapa langkah agar tidak terlalu dekat dengan got.
"Tuan! Dia masuk ke sistem audio kita!" seru Kevin ketakutan.
Rasya menarik napas panjang, menghirup aroma malam yang ia benci apalagi ada aroma-aroma got . Namun kali ini, ada kilat kegembiraan di matanya. "Dia baru saja mengajakku berdansa, Kevin. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku tahu warna asli dari bidadari bersyal pink itu."
Kevin menghela nafasnya kasar, ia rasa bosnya itu sudah agak gila, CEO yang anti kuman mau berdiri di bawah pohon di samping got dengan wajah berseri-seri padahal mendapat ancaman dari seorang gadis misterius.
___
Rasya dan Kevin kembali lagi masuk kedalam mobilnya, bukan untuk pulang, tapi untuk merencanakan sebuah jebakan agar Maudi bisa menampakkan dirinya secara langsung., kalau menunggu waktu esok, sepertinya tidak mungkin, Rasya tipe laki-laki yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan tujuannya.
Malam itu, di dalam van pusat kendali yang beraroma seperti ruang operasi rumah sakit, Kevin menatap bosnya dengan mata berbinar-binar. Ia baru saja mendapatkan ide brilian setelah melihat kegagalan beruntun sistem mereka menembus pertahanan Maudi.
"Tuan Rasya, saya punya ide gila !" seru Kevin sambil membetulkan masker medisnya yang miring. "Gadis itu adalah aset! Kalau kita bisa membawa dia ke laboratorium kita, Tuan tidak perlu lagi pusing mencari formula pembasmi bakteri super. Dia itu penawar racun berjalan!"
Rasya melirik Kevin dengan tatapan dingin. "Lalu?"
"Kita culik dia, Tuan! Tapi dengan cara yang elegan. Kita gunakan jaring khusus berlapis cairan antiseptik agar saat dia tertangkap, dia langsung tersterilisasi dari debu jalanan!" Kevin memperagakan gerakan menangkap kupu-kupu dengan tangan gemetar.
Rasya terdiam sejenak. Pikirannya yang perfeksionis mulai menimbang-nimbang. Menjadikan Maudi aset perusahaan farmasinya adalah langkah strategis. Tapi menculik? Itu sangat... berantakan.
"apa kau siap untuk di tembak?" tanya Rasya dengan alis terangkat.
"saya bisa menebak tuan..., kalau Nona seperti itu tidak akan tega menembak seseorang...." jawab Kevin dengan mantap.
"Baiklah... Pastikan dia tidak menyentuh jok mobilku tanpa dilapisi plastik pelindung..., pakaian nya sangat kumuh dan dekil...pasti banyak kumannya," sahut Rasya akhirnya, yang artinya dia setuju.
___
Tengah malam, Maudi menyelinap keluar lewat jendela gudang belakang karena ada urusan sebentar.... Ia memakai gamis hitam yang bagian bawahnya ia lilitkan di perut, menyisakan celana panjang agar bisa memanjat pagar dengan mudah, ia bergerak tanpa suara seperti bayangan. Namun, baru beberapa langkah dari pagar, sebuah jaring besar berwarna putih salju mendadak jatuh dari atas pohon. di belakang mansion yang jauh dari kamera Cctv.
"Astaghfirullah....Apa ini" ucapnya dengan geram .
Dasar kau nenek tua yg buta mata dan hati
pilih kerikil daripada berlian murni, jgn² Ambar juga bukan anak kandungmu ya mkany kmu buta mata dan hati tak bisa membedakan segala sesuat ttg maudi 🤔🤔🤔
kau bilang Ambar adalah putrimu satu²nya, kau bilang sangat mencintai putrimu dan mengasihinya tapi kenapa mata hatimu butaa saat melihat cucu dari putrimu sendiri, dan bisa²nya kau tak melihatnya dengan kasih sayang, kau sungguh² buta mata dan hati.
kakek Harison yg benar² tulus dan sangat jeli melihat cucu dari putrinya 🫠
aduhhhh nenek Salamah ini dikerjain sm Maudi 🤣🤣🤣 tapiiii.... jika memang dia memiliki insting yg baik maka dia akan membawa garis mata yg dimiliki oleh cucu kandungnya yg sama persis seperti anak perempuannya yaitu Ambar. seburuk apapun rupa jika hatinya bersih maka akan terlihat berbeda dimata orang yg baik pula hatinya.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏