NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Untuk Reno

Di sebuah warung nasi sederhana yang terletak di pinggiran jalan lintas Cirebon, suasana terasa begitu menyesakkan bagi Miranti dan Kirana. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di atas kepala mereka menyinari dua piring nasi campur yang masih mengepulkan asap. Namun, tidak ada selera makan yang tersisa di benak mereka. Keduanya tertunduk dalam, menatap butiran nasi dengan mata yang masih sembab oleh sisa air mata.

​Di seberang meja, Bang Jagur, pria paruh baya bertubuh gempal dengan guratan wajah yang keras khas pengemudi truk jarak jauh, menatap mereka berdua dengan sorot mata yang tajam dan mengintimidasi. Asap rokok miliknya mengepul tipis, menyatu dengan udara malam yang dingin.

​"Seharusnya, kalian berdua bilang kalau mau ikut... bukannya menyelinap di bak belakang, di antara tumpukan sayur," ucap Bang Jagur dengan nada berat yang menggetarkan meja kayu warung. "Kalian tahu berapa banyak risiko kalau aku tertangkap razia dengan penumpang gelap? Atau kalau tiba-tiba kalian jatuh di tengah jalan?"

​Miranti mengangkat kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap mata pria itu, namun nyalinya menciut kembali. Ia tertunduk lagi, jemarinya yang gemetar meremas ujung pakaiannya.

​"M-maaf, Bang... sungguh, kami tidak punya pilihan lain," suara Miranti tercekat. "Kami sedang dikejar-kejar. Ada orang-orang jahat yang ingin menculik keponakan saya... kakak saya pun—"

​Perkataan Miranti terpecah oleh isak tangis yang pecah tak terkendali. Bayangan terakhir saat ia melihat Darsih merintih disiksa oleh orang-orang yang juga mengejarnya. Bahunya terguncang hebat, sementara Kirana yang duduk di sampingnya hanya bisa mendekap erat tangan sang bibi, wajah kecilnya menyembunyikan rasa takut yang mendalam di balik sela-sela lengan baju Miranti.

​Bang Jagur terdiam sejenak. Ia mengamati isak tangis yang tulus dan keputusasaan yang nyata dari dua wanita di depannya. Tatapannya yang tadi tajam dan penuh curiga perlahan melunak, terutama saat ia melirik Kirana yang tampak begitu pucat dan ringkih. Pria yang keras di luar namun memiliki hati yang masih tersisa rasa kemanusiaan itu mendengus panjang.

​"Ya sudah, sudahlah," ucapnya akhirnya, suaranya kini tidak lagi mengintimidasi. "Sekarang kalian makan dulu. Setelah kejadian kemarin dan pelarian panjang ini, pasti kalian sudah tidak makan seharian. Nanti, setelah tenang, kita bicara lagi tentang ke mana kalian harus pergi."

​Bang Jagur menyodorkan dua piring nasi campur dengan lauk yang cukup berlimpah ke depan mereka. Tanpa banyak bicara, Miranti dan Kirana mulai menyuap nasi dengan gerakan yang pelan dan ragu. Sementara mereka makan, Bang Jagur menyalakan sebatang rokok baru, lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar warung. Ia menatap ke luar ke arah gelapnya jalan raya, matanya menyapu kegelapan seolah memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang membuntuti truknya.

​Di sisi lain, ribuan kilometer dari tempat persembunyian Miranti, suasana di markas besar kelompok 'Mata Malaikat' jauh dari kata tenang. Ruangan besar yang berdinding beton hitam itu mencekam, dipenuhi dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kegagalan besar yang terjadi di Desa Kragan telah menjadi bensin yang membakar amarah pimpinan tertinggi mereka.

​Mustika yang selama ini diburu telah menghilang tanpa jejak. Lebih parahnya lagi, Jalal yang seharusnya sudah mati, justru lenyap begitu saja dari lokasi pertarungan, meninggalkan sepuluh pengawal terbaik yang hanya bisa kembali dengan tangan kosong dan rasa malu yang mendalam.

​Di tengah aula besar itu, Satya berdiri tegak. Sosoknya tampak begitu angkuh dan misterius, dibalut jubah hitam panjang yang seolah menyerap sisa cahaya di dalam ruangan. Aura iblis yang sangat pekat menguar dari pori-pori tubuhnya, membuat udara di sekitar ruangan bergetar hebat. Di hadapannya, Reno dan Lisa berlutut di atas lantai marmer dingin. Tubuh keduanya bergetar hebat, keringat dingin bercucuran deras. Mereka tahu betul, di dalam hierarki Mata Malaikat, kegagalan bukan sekadar teguran, melainkan sebuah pertaruhan nyawa.

​"Berdiri, Reno!" perintah Satya dengan suara rendah yang menggelegar layaknya guntur di kejauhan.

​Reno, yang masih menahan rasa sakit luar biasa di sisa tubuhnya pasca-dihajar oleh Jalal, berusaha bangkit dengan kaki yang tertatih. Namun, belum sempat ia berdiri tegak, Satya melesat dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata.

​CRASH!

​Satu tebasan pedang tipis yang tiba-tiba muncul dari tangan Satya meluncur dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Lengan kiri Reno terputus tepat di bagian siku, menyemprotkan darah segar ke lantai ruangan. Reno menjerit hebat, jatuh kembali berlutut sambil mencengkeram sisa lengannya yang kini buntung.

​"Itu hukumannya karena kau berani mengambil keputusan sendiri untuk menyerang Jalal!" bentak Satya dingin. "Perintahku jelas! Kau hanya diperintahkan untuk menghambatnya dan fokus pada Mustika. Kesombonganmu hampir merusak rencana besarku!"

​Reno merintih kesakitan, namun ia tidak berani memprotes. Ketakutan akan kematian jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik yang ia alami.

​"Bawa dia ke ruang atas!" perintah Satya pada dua pengawal yang sigap muncul dari balik bayangan. "Biarkan ia bersemedi disana, akan kuajarkan 'Ajian Tangan Tunggal'. Ajian itu hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang memiliki sebelah tangan. Jika dalam tiga hari, ia mati, lemparkan mayatnya untuk makanan anjing."

​Reno diseret pergi dalam kondisi merintih, meninggalkan Lisa yang masih bersimpuh di tempatnya. Satya kemudian berbalik menatap Lisa dengan sorot mata yang penuh kalkulasi dingin.

​"Bagaimana dengan Bram?" tanya Satya singkat.

​Lisa mendongak, matanya yang basah penuh dengan tatapan memohon. "Tuan... dia sekarat. Jantungnya hancur. Mohon, Tuan, berikan kami kesempatan untuk menyelamatkannya."

​Satya berjalan memutari Lisa. Ia menatap gadis kembar itu dengan saksama. "Ada satu cara. Jantung Bram tidak bisa diganti dengan organ biasa. Kau harus membelah jantungmu sendiri, Lisa. Separuh untukmu, separuh untuknya. Kalian akan menjadi manusia yang hidup dengan bantuan mesin penggerak jantung di dalam rongga dada kalian."

​Lisa tertegun sejenak. Jika ia menyetujui itu, ia akan kehilangan kemanusiaannya secara permanen. Namun, melihat tubuh Bram yang dingin dan tak bernyawa di sampingnya, cinta kasih sebagai saudara kembar mengalahkan akal sehatnya.

​"Saya setuju, Tuan," bisik Lisa mantap.

​"Bawa dia ke laboratorium bawah tanah!" seru Satya. "Operasi itu harus dilakukan sekarang juga!"

​Setelah ruangan itu kembali sepi, Satya berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke cakrawala. Malam di luar tampak gelap gulita, namun di dalam mata batin Satya, ia bisa merasakan energi yang samar namun hangat. Ia menatap ke arah timur, ke arah di mana cahaya kehidupan itu bersembunyi.

​"Mustika itu masih berada di timur," gumam Satya dengan seringai tipis yang mengerikan. "Dan aku akan menemukannya, tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus kupersembahkan sebagai tumbal."

​Ia mengangkat tangannya, membiarkan energi hitam di sekitar jarinya menari-nari, menandakan bahwa perburuan baru saja dimulai dengan taruhan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Di kejauhan, truk tua yang membawa Miranti dan Kirana terus melaju, tak sadar bahwa badai maut sedang mengejar mereka di balik bayang-bayang malam.

1
Muqimuddin Al Hasani
makasih kak, baru nyoba nulis kak🙏
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!