Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Basah Kuyup Deh!
Tidak terasa hari mulai petang, bersih-bersih kolam renang memang sangat melelahkan. Jadi sebelum pulang Devina dan Adit duduk di pinggir kolam sambil mencelupkan kedua kaki mereka ke dalam air yang terasa dingin menyentuh kulit kaki mereka.
"Ternyata melakukan pekerjaan seperti ini sangat melelahkan juga yah? Gue baru tahu, " ucap Devina sambil mengayunkan kedua kakinya di dalam air.
"Yah, namanya juga anak sultan, memangnya tahu apa soal beginian. Tapi, pekerjaan loh cukup hebat untuk seorang pemula, " balas Aditya.
Devina tersenyum kecil. Namun ia tidak menggubris perkataan Aditya lagi dan hanya terdiam sambil menarik nafas singkat. Aditya meliriknya sejenak lalu terlintas dalam benaknya ingin menjahili Devina. Sehingga tangannya refleks mencipratkan air kolam ke wajah Devina. Sontak Devina kaget dan menyembunyikan wajahnya.
"Hei!" Tidak mau kalah Devina membalas kelakuan Aditya itu dengan hal yang serupa. Dan terjadilah momen perang-perangan air antara mereka berdua.
"Udah ah! Basah semua baju gue! " seru Devina sambil berdiri bangkit dari duduknya, namun karena tergesa-gesa ia pun terpeleset hingga tercebur ke kolam.
Byur!
"DEVINA! " Aditya terkejut dan berteriak memanggil nama Devina dengan sangat lantang. Tapi untungnya Devina ternyata sangat pandai berenang sehingga dengan santai ia berenang ke sisi kolam dan naik ke atas dibantu oleh Adit.
"Loh gak papah? " tanya Adit khawatir.
"Gue gak papah. Tapi baju gue basah kuyup deh, " keluh Devina menjawab dengan santai, karena yang ia khawatirkan saat ini adalah pakaiannya yang basah.
"Ah, loh bikin gue panik aja. Buka aja baju loh, takutnya nanti masuk angin, " tegur Adit.
Devina refleks menutupi bagian dadanya yang terlihat karena bajunya yang basah. Lantas, ia juga menatap Adit dengan penuh waspada serta curiga. Mendapatkan reaksi Devina yang seperti itu, membuat Adit tertawa tidak percaya.
"Apa? Loh lagi mikir apaan? Jangan salah paham. Gue gak ada pikiran sampai ke sana. Tidak perlu khawatir! " serunya merasa ter fitnah dan terhina atas kecurigaan yang ditunjukkan sama Devina.
"Kalau gue buka, terus nanti gue pake apaan? Gimana gue gak mikir ke sana coba! Udah situasinya kayak gini, ngasih solusi yang bikin gue mikir yang nggak nggak, " balas Devina ikut nyolot karena tidak terima.
"Maksud gue, loh buka baju loh ganti sama baju yang gue pakai, " sahut Adit melanjutkan tujuan dari perkataan ia sebelumnya.
"Terus? Loh nanti pake apaan? " tanya Devina lagi.
"Gampang! Gue kan pake celana boxer. Lagian gue juga pake kaos dalam lagi. Jadi gak papah, " balas Adit.
"Oh begitu yah. Kalau begitu, cepat lepasin baju sama celana loh. Gue mau ganti di toilet, " pinta Devina memerintah sambil mengulurkan tangan meminta pakaian yang masih belum di lepaskan oleh Adit.
"Dasar loh ini.. Terkadang sangat menyebalkan juga, " cerutu Adit sambil membuka satu persatu kancing bajunya lalu melepaskan celananya. Lantas, ia pun memberikan pakaiannya kepada Devina untuk ganti.
Devina hanya tersenyum lebar sambil menerima baju tersebut dengan senang hati. Lalu ia bergegas pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Sementara Adit menunggunya di sana. Namun, saat Devina hendak memakai baju gantinya. Ia melihat ada nama Aksa yang tertulis di baju seragam tersebut.
"Ini apa? Bukankah baju ini milik Adit? Kenapa ada tulisan nama Aksa? " ia berbicara sendiri dengan pertanyaannya.
Devina tidak ingin terlalu memikirkannya dan segera memakai baju itu walaupun terasa sangat longgar di tubuh kecilnya. Lantas, Devina sedikit menyesuaikan baju yang kebesaran itu dengan sedikit melipat kedua lengannya menjadi lebih pendek. Sementara untuk celananya ia melakukan hal yang sama, karena terlalu panjang jadi ia lipat saja kedua bawahnya sampai lutut. Setelah selesai berganti pakaian Devina keluar dan menemui Adit di tempat yang sama.
"Udah beres? " tanya Adit setelah melihat Devina datang menghampiri nya.
"Udah. Ayo, kita pulang sekarang. Bawain dong baju basa gue!" pinta Devina sambil menyerahkan baju seragamnya yang basa kepada Aditya.
"Enak banget loh nyuruh-nyuruh gue! "
Walau merasa kesal karena disuruh-suruh oleh Devina, tetapi Adit tetap menurut dan mengambil baju basahnya yang kemudian ia masukkan ke dalam kantong yang ia temukan diatas lemari loker seseorang. Lantas Devina hanya menyungging senyum lebar.
"Makasih yah! " ucapnya kemudian sambil melengos pergi lebih dahulu.
Adit hanya bisa tersenyum dengan kelakuan Devina yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Lalu menyusul langkahnya keluar untuk pulang bersama.
"Tapi, seragam ini beneran punya loh? " tanya Devina karena masih penasaran.
"Kenapa memang? " Adit malah balik bertanya mengapa Devina menanyakan hal yang tidak penting itu.
"Yah, mau tahu aja. Karena kalau ini beneran seragam punya loh kenapa ada nama Aksa yang tertulis di kerah bajunya? " balas Devina memberitahu alasan dari pertanyaannya tadi.
Adit pun tersenyum lebar. "Oh yah? Kenapa gue gak sadar yah? Tapi seragam itu memang punya si Aksa. Gue cuma pinjam. " Adit menjawab sambil cengengesan.
"Apa? Tapi, kok bisa? Gimana ceritanya? Cepat kasih tahu geu? " sahut Devina melontarkan banyak pertanyaan dengan antusias.
"Rahasia, " balas Adit begitu singkat padat dan jelas. Devina tidak bisa mempercayainya dan dengan emosi ia memukul lengan Adit yang berotot.
"Hei, cepat beritahu gue. Rahasia apaan sih?" seru Devina dengan ketus juga kesal dipermainkan oleh Aditya. Padahal ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Karena mereka tidak cukup dekat untuk bisa meminjamkan baju satu sama lain.
"Namanya juga rahasia. Yah gak bakalan gue kasih tahu dong! " Adit terkekeh pada rahasianya sambil kabur berlari menghindari pukulan Devina.
"Oi? " Devina pun mengejarnya hingga ke pintu keluar gedung sekolah. Tapi mendadak langkah mereka berhenti saat Adit melihat Ayahnya yang baru saja pergi dengan mobil mewahnya bersama wanita yang ada di ruangannya tadi. Ia menatap kepergiaan mobil itu dengan tatapan sedih namun juga amarah yang tidak bisa ia keluarkan. Devina merasa sedikit heran ketika mendapati kesedihan dan kemarahan di wajah Aksa melototi mobil Direktur.
"Ada apa? " tanya Devina membuyarkan semua pikiran Aditya saat ini. Sadar Aditya segera mengubah ekspresi wajahnya dan melontarkan senyum kecil yang tidak nampak tulus kepada Devina.
"Tidak papah. Loh pulang naik apa? Ada yang jemput? " Aditya bertanya untuk mengalihkan pembicaraan dan perhatian Devina.
"Yah, kayaknya gue dijemput sama sopir pribadi gue," jawab Devina seadanya.
"Ah, begitu yah. Kalau begitu, nih ambil pakaian basah loh. Dari sini kita masing-masing kan? Gue pergi duluan! " ujar Aditya kemudian seraya menyerahkan kantong yang berisi pakaian basah Devina ke pemiliknya. Lalu kemudian ia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Dia itu kenapa sih? Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan. Gue gak suka orang yang penuh teka-teki seperti dia, " gumam Devina yang akhirnya beranjak pergi ke luar gerbang sekolah dan disana ia melihat mobil jemputan nya sudah menunggu cukup lama.
Sementara itu, Adit yang tanpa sadar malah melangkah pulang ke rumah Aksa alih-alih pulang ke rumah nya sendiri. Karena Adit tahu dirumahnya hanya ada kesedihan yang sangat sunyi. Namun, setelah ia tiba di depan rumah Aksa, ia malah tertegun diam menatap rumah yang terasa hangat itu untuk waktu yang sangat lama dari depan. Ia sempat berpikir andaikan saja ini adalah rumahnya. Ketika ia pulang akan ada orang yang menyambut kepulangannya. Aditya berniat untuk pergi setelahnya, namun kebetulan Santi keluar karena menyadari kedatangan Adit yang mematung di depan rumah dengan pakaian yang kurang pantas.
"Aditya? " panggil Santi.
Adit yang telah melangkah beberapa langkah untuk pergi terhenti lalu berbalik menghadap Santi. Dengan senyuman palsu ia lontarkan kepada Santi. Bibirnya tersenyum namun Santi melihat sorot matanya yang lelah dan sedih.
"Kenapa kamu tidak masuk dan malah ? Ayo masuk, Nak !" Santi menyambutnya dengan begitu hangat dan senang hati. Namun entah kenapa Aditya malah menjadi sangat emosional. Sempat sejenak ia berpikir andaikan saja orang yang menyambutnya itu adalah ibunya sendiri. Lantas, tanpa tahu kenapa Aditya menangis sesenggukan di hadapan Santi.
"Ada apa? Apa yang terjadi? " tanya Santi lagi. Namun melihat Aditya yang menangis semakin kencang dan tidak menjawab membuat Santi ikut merasakan kesedihannya. Santi akhirnya memeluk Aditya dan menepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya.
"Tidak papah. Keluar saja semua kesedihan mu. Jangan menahannya. Jika itu terlalu menyakitkan keluarkan saja semuanya. " Mendengar perkataan Santi Aditya tidak lagi menahan tangisnya. Ia tanpa ragu meluapkan semuanya di dalam pelukan Santi. Orang asing yang baru ia kenal yang menjadi sandaran kesedihannya. "Iyah seperti itu. Kamu hebat, " tambahnya lagi dengan penuh kasih.
Kebetulan, kejadian yang mengharukan itu terlihat dan didengar jelas oleh Aksa yang akan berangkat bekerja. Mendengar tangisan yang begitu menyakitkan pecah dari sosok yang selalu terlihat tegar dan ceria itu membuat Aksa sadar, bahwa yang dia lihat dari luar tidak selalu yang menjadi benar. Ia sering mengeluh dengan hidupnya yang terasa rumit dan berat. Namun sepertinya ada kehidupan orang lain diluar sana yang lebih rumit dan berat dari dirinya. Dari suara tangisan Adit yang menyayat hati, Aksa bisa merasakan kesedihan dalam dirinya. Tangannya tiba-tiba meraba dadanya yang ikut merasakan sesaknya. Meski tidak diceritakan, tapi lewat tangisannya itu Aksa bisa merasakan rasa sakitnya yang ia sembunyikan begitu lama.
Aksa tidak mau merusak haru yang terjadi dan membuat Aditya merasa malu karena kepergok saat dirinya dalam keadaan yang begitu lemah seperti ini. Lantas, ia pergi diam-diam dan berangkat bekerja. Ia hanya mengirim pesan kepadanya Ibunya kalau ia sudah pergi bekerja.