"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Pagi itu, penthouse mewah milik Arvin Dewangga masih diselimuti kegelapan fajar. Arvin terbangun bukan karena bunyi alarm, melainkan karena suara samar yang merambat melalui ventilasi udara kamarnya.
Suara itu rendah, berirama, dan memiliki getaran yang entah mengapa membuat tidurnya yang biasanya penuh dengan mimpi buruk soal proyek perusahaan menjadi jauh lebih tenang.
Ia bangkit dari ranjang king-size miliknya, mengenakan jubah satin hitam, lalu melangkah keluar kamar. Di koridor lantai atas yang menghadap langsung ke ruang tengah, ia berhenti.
Di bawah sana, di sudut ruangan yang paling terkena cahaya bulan yang memudar, Zoya sedang bersimpuh di atas sajadah. Ia masih mengenakan mukena berwarna putih bersih.
Zoya sedang mengaji. Suaranya tidak keras, namun pelafalan huruf demi hurufnya terdengar begitu jelas dan merdu di keheningan pagi.
Arvin menyandarkan lengannya di pagar pembatas lantai dua. Ia memperhatikan punggung Zoya yang tampak rapuh namun teguh.
Ia teringat kejadian di jamuan keluarga kemarin malam, bagaimana punggung itu tetap tegak meski dihina oleh Valerie dan disindir oleh keluarganya sendiri.
'Siapa sebenarnya wanita ini ?' batin Arvin.
Rasa penasaran yang selama ini ia tekan mulai menyeruak. Baginya, wanita biasanya mudah ditebak, mereka menginginkan hartanya, statusnya, atau setidaknya pengakuannya.
Namun Zoya? Wanita itu tidak pernah meminta uang belanja tambahan, tidak pernah mengeluh soal kamarnya yang kecil, dan tetap menjalankan tugasnya meski Arvin memperlakukannya seperti pajangan yang tak diinginkan.
Zoya menutup mushafnya tepat saat semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Ia berdiri, melipat sajadahnya dengan sangat rapi, sebuah kebiasaan kecil yang baru disadari Arvin sangat kontras dengan dirinya yang sering melempar jas sembarangan.
Zoya melangkah ke dapur, memulai ritual paginya. Arvin tetap di atas, mengamati dari kegelapan koridor. Ia melihat Zoya mulai meracik bahan sarapan. Tidak ada bunyi denting panci yang berisik, setiap gerakan Zoya sangat efisien dan tenang.
Ia melihat Zoya memotong sayuran dengan presisi, sesekali bibirnya bergerak, mungkin masih melantunkan zikir.
Ada kedamaian terpancar dari cara Zoya menyeduh kopi hitam, kopi kesukaan Arvin. Zoya bahkan memperhatikan suhu airnya, memastikan tidak terlalu mendidih agar rasa biji kopinya tidak hangus.
Arvin berdehem keras, sengaja memberi tahu keberadaannya sebelum menuruni tangga.
Zoya tersentak kecil, lalu menoleh. Ia sudah mengenakan cadar rumahannya yang lebih simpel. "Selamat pagi, Tuan Arvin. Anda bangun lebih awal hari ini."
"Hanya haus," jawab Arvin dingin, berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin, meski sebenarnya hatinya berdebar karena hampir ketahuan sedang mengintip.
"Kopinya sudah siap, Tuan. Dan hari ini saya membuatkan omelet bayam dan roti gandum panggang," ucap Zoya sambil menata piring.
Arvin duduk di kursi bar dapur, memperhatikan tangan Zoya yang terampil. "Zoya."
"Iya, Tuan?"
"Suaramu... tadi pagi. Kenapa kau harus mengaji selarut itu? Apa kau tidak lelah?"
Zoya tertegun sejenak, lalu meletakkan cangkir kopi di depan Arvin. "Itu adalah cara saya mencari kekuatan, Tuan. Hidup di rumah sebesar ini... terkadang terasa sangat sepi. Mengaji membuat saya merasa tidak sendirian."
Arvin terdiam. Kata sepi itu seperti gema yang memantul di dinding hatinya. Selama ini ia bangga dengan kesendiriannya di puncak kesuksesan, namun mendengar Zoya mengatakannya dengan nada setenang itu membuatnya merasa... tersindir.
"Makanlah, Tuan. Saya harus segera bersiap ke kampus," Zoya pamit dengan sopan.
~~
Sore harinya, Arvin pulang lebih cepat karena rapat mendadak dibatalkan. Ia memasuki apartemen dengan langkah pelan. Ia mengira Zoya sedang di kampus, namun ia mendengar suara tawa kecil dari arah ruang santai.
Arvin mengintip. Zoya sedang duduk di lantai bersama seorang wanita muda, mungkin teman kuliahnya dan di depan mereka ada beberapa tumpukan buku dan laptop.
"Zoya, serius deh, ini jawaban kamu jenius banget! Pak Hamzah pasti kasih nilai A plus," ucap teman Zoya yang ternyata adalah Kiara.
"Ini berkat kamu juga, Kiara. Kamu yang bantu cari referensinya," jawab Zoya rendah hati.
Arvin memperhatikan dari kejauhan. Zoya tampak sangat berbeda saat bersama temannya. Bahunya rileks, suaranya lebih ceria, meski cadar tetap menutupi wajahnya. Ia melihat Zoya sesekali membetulkan letak cadarnya yang sedikit miring karena tertawa.
Tiba-tiba, mata Kiara menangkap sosok Arvin. "Eh... itu... Kak Arvin ya?"
Zoya langsung menoleh dan berdiri dengan terburu-buru. "Tuan Arvin? Anda sudah pulang?"
Arvin melangkah masuk dengan wajah yang kembali dikeraskan. "Aku ada dokumen yang tertinggal. Lanjutkan saja kegiatan kalian. Jangan berisik, aku mau bekerja di ruang atas."
"Maaf, Tuan. Kami akan segera selesai," ucap Zoya dengan nada yang kembali formal, nada yang tiba-tiba membuat Arvin merasa kesal karena ia merindukan nada tawa Zoya yang ia dengar semenit lalu.
~~
Malam harinya, setelah teman Zoya pulang, Arvin turun ke lantai bawah untuk mengambil berkas. Ia melihat Zoya sedang duduk di meja makan, tampak serius menulis sesuatu di sebuah buku catatan kecil bersampul kulit tua.
Zoya begitu tenggelam dalam tulisannya hingga tidak menyadari Arvin berdiri di belakangnya. Arvin sempat melirik sekilas ke arah buku itu. Ia melihat tulisan tangan yang indah, namun yang menarik perhatiannya adalah sebuah sketsa kecil di pojok halaman.
Itu adalah sketsa mata seorang pria. Mata yang tampak tajam, dingin, namun menyimpan kesedihan.
'Itu mataku,' batin Arvin terkejut.
Zoya tiba-tiba menutup bukunya dengan cepat saat menyadari kehadiran Arvin. "Tuan! Maaf, saya tidak tahu Anda di sini."
"Apa itu? Kau sedang menulis diary seperti anak SMA?" ejek Arvin untuk menutupi keterkejutannya.
"Hanya... catatan harian, Tuan. Untuk menjaga ingatan saya," jawab Zoya, memeluk buku itu erat-erat ke dadanya.
Arvin menatap Zoya dalam-dalam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk merenggut buku itu dan membaca apa yang Zoya tulis tentangnya. Namun, harga dirinya menahan tangannya.
"Besok adalah hari Sabtu. Aku tidak ada jadwal kantor," ucap Arvin tiba-tiba, beralih topik. "Aku ingin kau menemaniku ke panti asuhan tempat Papa biasa menyumbang. Ini perintah Papa, jadi jangan membantah."
Zoya tampak terkejut, namun matanya berbinar bahagia. "Benarkah, Tuan? Saya sangat senang jika bisa ikut."
"Aku melakukan ini karena terpaksa, Zoya. Ingat itu," Arvin berbalik, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis yang muncul di bibirnya saat ia sudah membelakangi Zoya.
~~
Malam itu, Arvin tidak bisa tidur. Ia terus terbayang sketsa mata di buku catatan Zoya. Mengapa wanita yang selalu ia abaikan itu justru memperhatikannya begitu detail hingga bisa menggambar sorot matanya dengan begitu akurat?
Rasa penasaran itu kini bukan lagi sekadar gangguan. Itu mulai menjadi obsesi. Arvin ingin tahu apa yang ada di balik cadar itu, bukan hanya wajahnya, tapi seluruh isi kepala dan hati Zoya Alana Clarissa.
...----------------...
To Be Continue .....