Mencintai sahabat Hazel adalah tantangan terbesar dalam hidup Andrea. Sejak kecil, Luq selalu ada di sana, begitu dekat namun terasa sulit digapai. Kini, saat masa SMA menuntut mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing, rintangan mulai bermunculan satu per satu.
Antara janji yang belum terucap dan cita-cita yang harus diraih, Andrea harus belajar bahwa cinta terkadang berarti harus berani melepaskan... atau justru berjuang lebih keras. Sanggupkah mereka mempertahankan ikatan itu saat jarak dan waktu mulai menguji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Hening yang Paling Panjang
Sore itu di bengkel, udara terasa berat. Kami sedang melakukan simulasi input data kerusakan mesin untuk sistem AI yang sedang kami bangun. Luq tampak sangat fokus, jemarinya lincah mengetik di keyboard laptopku. Dia terlihat begitu hidup, begitu penuh dengan rencana masa depan.
"Rea, variabel ini harusnya dipisah jadi dua fungsi," ucap Luq tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar. "Kalau digabung, sistemnya bakal crash pas beban data terlalu berat. Kita harus bikin dia lebih efisien."
"Oke, aku ngerti. Refactoring ya?" sahutku sambil menyiapkan catatan.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Luq bergetar keras. Dia berhenti mengetik. Wajahnya yang tadi tegang karena konsentrasi, perlahan berubah. Dia menerima panggilan itu dengan tangan yang gemetar.
"Halo? Iya, Bu... eh, maksud saya, Suster?" suaranya pecah.
Aku terdiam, menghentikan ketikanku. Aku melihat punggung Luq yang tegap itu perlahan merosot. Wajahnya yang semula fokus, kini pucat pasi, kehilangan semua warna kehidupan. Dia tidak bicara banyak, hanya mengangguk pelan, lalu ponsel itu terjatuh ke lantai bengkel. Tuk.
"Kak... Luq?" panggilku pelan.
Luq tidak menjawab. Dia hanya berbalik, mengambil jaketnya dengan gerakan patah-patah, lalu berlari keluar dari bengkel tanpa mempedulikan Pak Edi yang memanggilnya.
Instingku mengatakan ada sesuatu yang sangat buruk terjadi. Tanpa pikir panjang, aku menyambar tas ranselku dan lari mengejarnya. Aku berhasil mengejarnya di dekat parkiran.
"Kak! Apa yang terjadi?"
Luq berhenti. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang luar biasa. "Ibu, Rea. Suster bilang... kondisi Ibu kritis. Jantungnya..."
Kata-katanya tidak selesai. Kami langsung menaiki motor Ninja Hadiah Lomba Yang Luq Menangkan, menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, aku hanya bisa memegang pinggang Luq, merasakan tubuhnya yang gemetar hebat. Biasanya, punggung ini adalah tempatku merasa aman, tapi sekarang punggung ini terasa begitu rapuh.
Di ruang ICU, suasana begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor detak jantung yang terdengar konstan, mengisi kekosongan. Bip... bip... bip...
Luq masuk ke dalam ruangan itu lebih dulu. Aku menunggu di luar, menatap melalui kaca. Aku melihat Luq berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terlihat begitu kurus. Ibu Luq tampak tenang, tapi napasnya terdengar sangat berat, dibantu oleh selang oksigen.
Aku melihat Luq membisikkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan, tapi dari gerak bibirnya, aku tahu dia sedang berjanji. Janji yang dia buat kemarin—bahwa dia akan sukses, bahwa dia akan kuliah, bahwa dia akan membawa ibunya keluar dari kesulitan.
Lalu, di depan mataku, suara bip itu berubah menjadi satu garis panjang yang melengking.
Biiiiiiiiiiiiiiipppppppp.
Ruangan itu mendadak menjadi sangat bising di telingaku, meski sebenarnya tidak ada suara lain. Suster masuk dengan terburu-buru, menutup tirai, dan meminta Luq keluar.
Luq keluar dengan langkah gontai. Dia tidak menangis meraung-raung. Dia justru diam, benar-benar hancur. Dia jatuh terduduk di lantai koridor rumah sakit yang dingin. Dia menatap tangannya sendiri, tangan yang kemarin baru saja kupakai untuk menautkan jari kelingking sebagai janji.
Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya. Aku tidak tahu harus bicara apa. Semua rumus, semua kode, semua ambisi tentang beasiswa dan kuliah, mendadak terasa tidak berarti. Kematian adalah bug terbesar dalam hidup yang tidak bisa diperbaiki dengan baris kode apa pun.
Aku menarik kepalanya ke bahuku. Luq akhirnya pecah. Dia menangis sesenggukan, suara tangis yang tertahan selama bertahun-tahun, suara tangis dari anak yang harus dewasa terlalu cepat karena kemiskinan dan beban hidup.
"Kenapa, Rea?" bisiknya di sela isak tangisnya. "Kenapa dia harus pergi sekarang? Gue... gue baru aja mau mulai."
Aku hanya bisa mengusap punggungnya, membiarkannya tumpah. "Ibu sudah tenang, Kak. Ibu sudah nggak sakit lagi."
"Tapi gue belum kasih apa-apa buat dia," lirih Luq.
"Kakak sudah kasih seluruh hidup Kakak buat dia. Kakak sudah berjuang. Ibu pasti tahu itu."
Malam itu, di koridor rumah sakit yang berbau antiseptik, kami menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam. Aku tidak membahas soal kompetisi, tidak membahas soal roadmap masa depan. Aku hanya ada di sana, menemaninya menyeberangi lembah kesedihan yang paling dalam.
Aku sadar, hidup tidak selalu berjalan sesuai algoritma yang kita buat. Kadang ada variabel tak terduga yang mengubah segalanya. Dan malam ini, variabel itu adalah kehilangan.