Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Nama yang Memanggil
Wira tidak bergerak.
Suara itu masih menggantung di udara ruangan bawah tanah, rapuh tetapi jelas: namanya sendiri, diucapkan oleh lelaki yang berdiri di ambang pintu besi dengan tubuh nyaris tak bertenaga. Wajahnya kurus, pucat, dan dipenuhi bayangan usia serta penderitaan. Namun yang paling membuat Wira terpaku adalah mata lelaki itu. Mata itu tidak asing.
Ada sesuatu di sana yang langsung menusuk ingatan, seperti bekas luka lama yang baru disentuh.
Ki Rangga tetap mengangkat senjatanya, tapi tidak menyerang. Jaya menyipitkan mata, waspada pada setiap gerak kecil lelaki itu. Raden Seta berdiri lebih dekat ke Wira, seolah tanpa sadar ingin menjadi penghalang kalau orang asing itu tiba-tiba maju. Panca justru terlihat kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. Arya menatap lelaki itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran tegang dan penegasan.
Watu, yang tadi berdiri di belakang, menghela napas pelan. “Jadi kau masih hidup.”
Lelaki di ambang pintu itu tersenyum sangat tipis, hampir tidak terlihat. Senyum yang lebih mirip rasa sakit daripada lega. “Masih.”
Wira menatapnya lama. Tenggorokannya serasa tertutup. “Siapa kau?”
Lelaki itu menatap Wira seolah pertanyaan itu sudah ditunggunya bertahun-tahun. “Namaku Danar.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Panca yang paling dulu bereaksi menoleh cepat ke Wira, lalu ke lelaki itu. “Jadi benar…”
Raden Seta menahan napas. Jaya menatap Danar tanpa berkedip. Ki Rangga perlahan menurunkan senjatanya, tapi matanya tetap tajam. Arya tidak terlihat terkejut. Hanya semakin tegang, seperti seseorang yang akhirnya melihat bagian yang selama ini ia sudah perkirakan.
Wira merasakan dada dan kepalanya berputar bersamaan. Danar.. nama itu.. nama yang selama ini hadir di daftar, di papan, di catatan, di liontin kecil, kini berdiri di depannya dalam wujud manusia yang rapuh dan nyaris tidak utuh. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kaku.
Danar menatap Wira dengan sorot yang tidak berubah. “Kau mirip ibumu.”
Wira tersentak kecil. Itu cukup untuk membuat matanya panas, tetapi ia menahan diri. “Kau... ayahku?”
Kalimat itu terdengar ganjil di ruangan yang terlalu dingin.
Danar tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk sejenak, lalu mengangkat pandangannya lagi. “Kalau yang kau maksud adalah lelaki yang meninggalkan jejak untukmu, ya.”
Wira mengepalkan tangan. “Jawab saja.”
Danar menghela napas. “Ya.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Panca menggaruk leher sendiri, gelisah. “Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa.”
Jaya melirik pintu besi yang masih terbuka sebagian. “Kita tidak punya waktu untuk ini.”
Seolah menjawab, dari lorong di luar terdengar suara keras. Bukan langkah, melainkan benturan logam. Seseorang atau sesuatu sedang memaksa jalur masuk di atas. Wira menoleh sekilas, tapi matanya kembali tertarik pada Danar. Ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa orang ini memang ayahnya, namun tubuhnya seperti sudah tahu lebih dulu sebelum pikirannya bisa menyusul.
Ki Rangga melangkah maju setengah langkah. “Kalau kau Danar, kenapa kau ada di sini?”
Danar memandang Ki Rangga sebentar. “Karena pintu ini bukan tempat keluar. Ini tempat simpan.”
Wira mengernyit. “Watu bilang kau disimpan.”
Danar menatap Watu dengan tatapan yang lama. “Dia tidak salah.”
Watu mengangguk pelan. “Aku hanya menulis apa yang masih bisa kutulis.”
Danar lalu kembali menatap Wira. “Ibumu menyuruhmu datang?”
Wira mengangguk sekali. “Dia meninggalkan semua petunjuk itu.”
Danar memejamkan mata sejenak, seperti menahan sesuatu yang terlalu berat. “Berarti dia masih ingat jalurnya.”
Raden Seta maju satu langkah. “Kami menemukan catatan bahwa ibumu masuk ke pintu ketiga. Apa yang terjadi di sana?”
Danar membuka mata, lalu menatap lantai batu di tengah ruangan. “Yang terjadi adalah kami gagal menghentikan orang-orang yang ingin menghapus nama.”
Panca langsung menyahut, “Siapa mereka?”
Danar mengangkat pandangannya. “Orang-orang yang duduk di meja kuasa. Orang-orang yang takut pada garis lama.”
Wira menahan napas. “Jadi semua ini memang penghapusan?”
Danar mengangguk. “Bukan cuma penghapusan. Pemisahan. Pemindahan. Penyembunyian. Mereka tidak ingin nama keluarga kami tetap hidup dalam catatan. Mereka ingin semua yang terhubung padanya putus.”
Wira menatap Danar tanpa berkedip. Kalimat itu terdengar seperti penjelasan, tapi juga seperti luka yang lama disimpan. Ia ingin bertanya mengapa, ingin menuntut kenapa ayahnya membiarkan semua ini terjadi, tapi suara Danar yang serak dan wajahnya yang seperti habis dari tempat gelap terlalu penuh penderitaan untuk langsung disalahkan.
Arya akhirnya bicara. “Kau berhasil keluar dari ruang simpan.”
Danar memandang Arya. “Bukan keluar. Hanya dipindahkan ke sini.”
Arya menatapnya tajam. “Laras di mana?”
Nama itu membuat Danar terdiam. Raden Seta langsung menegakkan badan, Wira mengalihkan pandangan cepat ke arah ayahnya. Danar tampak memandang jauh ke belakang mereka, seolah nama itu membuka bagian yang sangat berat.
“Laras,” ulang Watu pelan.
Danar mengangguk tipis. “Dia masih hidup terakhir kali aku melihatnya.”
Panca langsung menoleh. “Terakhir kali? Jadi dia masih bisa dicari?”
Danar menggeleng. “Kalau ia belum dibawa lebih jauh.”
Ki Rangga mengerutkan dahi. “Dibawa ke mana?”
Danar menutup mata sebentar. “Tempat yang mereka sebut ruang sisa.”
Wira menahan napas. “Ruang sisa?”
“Bagian terdalam,” jawab Danar. “Tempat yang tidak ada di peta biasa. Tempat di mana yang dihapus tidak lagi disebut, tapi belum juga dimusnahkan.”
Ruangan itu terasa semakin sempit.
Jaya memeriksa suara dari luar lagi. “Mereka makin dekat.”
Watu mengambil langkah ke tengah ruangan, lalu menunjuk lembar catatan yang masih dipegang Raden Seta. “Kau harus tunjukkan bagian terakhir.”
Raden Seta langsung membuka catatan itu. Danar menatapnya lalu mengangguk kecil. “Benar. Kalau mereka sudah masuk lorong atas, kita harus cepat.”
Wira menatap ayahnya. “Bagian terakhir apa?”
Danar menatap Wira lama. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat Wira merasakan perih halus di dada. Bukan karena sedih saja, tapi juga karena kesadaran bahwa lelaki ini mungkin selama ini benar-benar berjuang, hanya saja dalam ruang yang tak pernah ia lihat.
“Nama ibumu,” kata Danar.
Wira membeku.
“Bukan nama keluargamu,” lanjut Danar, “tapi nama yang ia pakai saat memasuki pintu ketiga.”
Panca menatap mereka bingung. “Nama lain?”
Watu mengangguk pelan. “Banyak orang lama memakai nama yang berbeda saat masuk ke ruang pengucapan.”
Danar menatap Wira. “Kalau kau ingin pintu terakhir benar-benar terbuka, kau harus menyebut nama itu.”
Wira menelan ludah. “Aku tidak tahu.”
Danar mengangguk seolah memang sudah menduga. “Aku tahu.”
Semua langsung menoleh.
Ki Rangga menyipit. “Kau tahu?”
Danar mengangguk. “Karena aku yang memberikannya.”
Wira terpaku.
Ayahnya menatap lurus ke depan, lalu berkata pelan, “Nama itu adalah Larisa.”
Wira mengulang dalam hati. Larisa. Nama itu seperti menggema di kepala, terasa asing dan dekat sekaligus. Ia menatap Danar dengan mata membesar. “Ibu memakai nama itu?”
Danar mengangguk. “Saat dia memilih masuk ke pintu ketiga, dia tidak ingin nama aslinya ikut diseret.”
Raden Seta menatap Wira. “Itu sebabnya semua catatan tadi hanya menyebut ibu secara samar.”
Wira masih diam, mencoba menyatukan semua potongan. Jadi ibunya punya nama lain. Nama yang dipakai di ruang pengucapan. Nama yang harus disebut untuk membuka sisa pintu. Nama yang mungkin juga membuat ayahnya tetap bertahan di tempat ini.
Jaya memotong hening. “Kalau begitu sebut sekarang.”
“Tidak bisa sembarang,” kata Watu cepat. “Harus di ruang utama.”
Danar menatap pintu besi di belakang mereka. “Dan kalau kalian menunggu terlalu lama, orang-orang di atas akan menemukan jalur ini.”
Panca mengumpat pelan. “Aku sudah tidak kaget lagi, tapi tetap saja menyebalkan.”
Wira menatap Danar. “Kalau aku sebut nama itu, apa yang terjadi?”
Danar menjawab jujur. “Pintu terakhir akan terbuka. Dan apa pun yang masih disembunyikan ibumu akan keluar.”
Wira menahan napas.
Ki Rangga menatapnya. “Kau harus memilih.”
Belum sempat Wira menjawab, pintu besi di ujung ruangan bergetar hebat.
Semua langsung menegang.
“Sudah sampai,” kata Jaya.
Watu mundur setengah langkah, lalu menunjuk lorong kecil di sisi ruangan. “Kalau begitu, sekarang atau tidak sama sekali.”
Danar menatap Wira dengan pandangan yang dalam. “Kalau kau masih ingin tahu kenapa ibumu pergi, sebut namanya.”
Wira merasa kepala dan dadanya saling bertabrakan. Di satu sisi ada laki-laki yang baru saja mengaku sebagai ayahnya, di sisi lain ada ibu yang menghilang sambil membawa rahasia. Di depan mereka, pintu besi terus bergetar oleh tekanan dari luar.
Ia memejamkan mata sejenak.
Larisa.
Nama itu terbit di dalam pikirannya seperti cahaya kecil di ruang gelap. Ia membuka mata lagi, lalu menatap Watu, Ki Rangga, Danar, dan yang lain satu per satu.
“Aku akan sebut,” katanya pelan.
Ki Rangga mengangguk. “Baik.”
Wira menatap pintu utama di tengah ruangan catatan terakhir itu. Napasnya dalam, tapi suara di luar semakin keras. Batu-batu di dinding mulai bergetar.
Dan saat ia membuka mulut untuk mengucapkan nama itu, semua yang selama ini tersembunyi di bawah tanah terasa seperti menahan napas bersama dirinya.
bukin pusing aja