"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: RATU KELAB MALAM
Malam itu, New Ardent tidak pernah tidur, begitu juga dengan media sosial yang sedang gempar. Sebuah video amatir dengan kualitas buram namun cukup jelas untuk memperlihatkan wajah "Alzena" sedang meracau di sebuah kelab malam, tampak dipapah oleh seorang pria asing yang tangannya bergerilya di pinggangnya. Judul beritanya bombastis: *“Trauma Koma atau Gila? Nyonya Winchester Kehilangan Kendali di Kelab Malam!”*
Di mansion, Keano membanting tabletnya ke atas meja kopi hingga layarnya retak. Napasnya memburu. Dia tahu itu video *settingan*, tapi harga diri Winchester bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.
"Di mana dia?" geram Keano pada Evan.
"Nyonya... Nyonya sedang di kamarnya, Tuan. Tapi dia meminta saya menyiapkan mobil sport tercepat sepuluh menit yang lalu," jawab Evan dengan keringat dingin.
Keano tidak menunggu penjelasan lagi. Dia langsung naik ke lantai atas, mendobrak pintu kamar istrinya tanpa ketukan. Di sana, Arcelia sedang santai mengenakan jaket kulit merah menyala dan celana ketat hitam. Dia sedang memasukkan sebuah perangkat kecil ke dalam sakunya.
"Kau lihat berita itu?" suara Keano rendah, menahan ledakan emosi.
Arcelia menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan wajah tanpa dosa. "Video gue lagi 'mabuk'? Akting cowoknya jelek banget, Keano. Harusnya Shania bayar figuran yang lebih mahal."
"Dan kau mau ke mana dengan baju seperti itu?" Keano melangkah mendekat, mengurung Arcelia di antara tubuhnya dan meja rias. "Kau tidak akan keluar dari rumah ini sampai aku membereskan berita sampah itu."
Arcelia mendorong dada Keano dengan kuat, tatapannya menantang. "Lo pikir lo siapa, hah? Gue nggak butuh lo buat beresin sampah gue sendiri. Shania lagi ngerayain 'kemenangannya' di *Lustra Club* malam ini. Gue mau dateng ke sana buat ngasih kado perpisahan."
"Jangan gila, Alzena!"
"Nama gue bukan Alzena, gue—" Arcelia hampir saja keceplosan, dia berdehem kasar. "Maksud gue, berhenti panggil gue Alzena yang lemah itu. Lo diem aja di sini, jaga reputasi lo yang berharga itu. Gue punya cara sendiri."
Tanpa mempedulikan teriakan Keano, Arcelia menyelinap lewat balkon dan melompat ke pohon besar di samping kamar—sebuah gerakan yang mustahil dilakukan Alzena yang lama. Dalam hitungan detik, mesin mobil sport meraung dan melesat keluar gerbang.
**Lustra Club, 23:30 WIB**
Musik *techno* menghentak keras, lampu neon warna-warni menyambar setiap sudut ruangan yang penuh sesak. Di sofa VIP paling atas, Shania sedang tertawa lepas sambil menyesap sampanye mahalnya. Di sampingnya ada Virel, yang tampak sangat gusar.
"Shania! Gue tau ini kerjaan lo!" bentak Virel, suaranya kalah oleh dentum musik. "Video itu palsu! Alzena nggak mungkin ada di kelab malam jam segitu kemarin, dia lagi sakit!"
Shania memutar matanya malas. "Aduh, Kak Virel. Kakak terlalu baik. Alzena itu emang udah nggak waras sejak bangun koma. Mungkin otaknya keguncang. Aku cuma mau bantu Kak Keano biar sadar kalau istrinya itu gila."
"Lo bener-benar ular, Shania!" Virel berdiri, hendak pergi mencari Keano, tapi langkahnya terhenti saat pintu masuk VIP terbuka dengan kasar.
Seorang wanita dengan jaket kulit merah masuk dengan langkah angkuh. Rambutnya yang panjang diikat tinggi, matanya berkilat tajam di bawah lampu disko. Arcelia.
"Nah, ini dia bintang utamanya," Shania tersenyum licik, menyangka Arcelia datang untuk memohon. "Mau minta maaf, Kak? Sayangnya videonya udah ditonton sejuta orang."
Arcelia tidak bicara. Dia berjalan menuju meja bartender di area VIP, memesan satu gelas wiski murni, lalu meminumnya sekali teguk. Semua mata tertuju padanya. Virel mencoba mendekat, "Zen, pulang yuk. Ini bukan tempat kamu."
"Minggir, Kak. Gue ada urusan sama si benalu ini," kata Arcelia dingin.
Arcelia berjalan perlahan menuju Shania. Shania berdiri, bersiap untuk dihina. "Apa? Mau nyiram aku pakai air? Itu kuno banget, Alz—"
*PLAK!*
Satu tamparan keras mendarat di pipi Shania hingga gadis itu tersungkur ke sofa. Kelab yang tadinya bising mendadak hening karena bartender mematikan musik atas perintah seseorang dari balik layar.
"Itu buat tangan kotor lo yang udah nyentuh privasi gue," kata Arcelia tenang.
Shania memegang pipinya yang panas, matanya merah karena marah. "Lo berani pukul gue?! Pengawal! Usir dia!"
Para pengawal Shania maju, tapi Arcelia hanya mengeluarkan ponselnya dan menekan satu tombol. Tiba-tiba, layar LED raksasa di belakang panggung kelab yang biasanya memutar visual abstrak, berubah total.
Di sana, muncul rekaman CCTV yang sangat jernih. Bukan video Alzena mabuk, melainkan video Shania di sebuah kamar hotel sedang memberikan tumpukan uang pada seorang pria—pria yang sama di video fitnah itu. Suaranya terdengar jelas karena Arcelia sudah menjernihkan audionya.
*"Buat Alzena seolah-olah gila dan murahan. Lo bebas pegang-pegang dia, yang penting wajahnya kelihatan jelas di kamera. Ini DP-nya,"* suara Shania menggema di seluruh kelab.
Wajah Shania berubah menjadi pucat pasi. Orang-orang di kelab mulai berbisik-bisik, beberapa mulai merekam layar tersebut.
"Gimana? Kualitas videonya lebih bagus kan daripada punya lo?" Arcelia berjalan mendekati Shania yang gemetar. Dia mencengkeram rambut Shania, memaksa gadis itu menatap layar. "Lo mau main-main sama hacker? Lo salah milih lawan, Shania."
"Lepasin! Kak Virel, tolong!" jerit Shania.
Virel hanya diam, menatap Shania dengan rasa jijik yang luar biasa. Dia tidak menyangka adik angkat yang dia lindungi selama ini sejahat itu.
"Gue belum selesai," Arcelia menyambar botol sampanye terbuka dan menyiramkannya tepat ke atas kepala Shania. "Ini biar otak lo sedikit dingin. Jangan pernah coba-coba sebar gosip kalau gue gila, karena kalau gue beneran gila, lo orang pertama yang bakal gue kirim ke liang lahat."
Tepat saat Arcelia hendak memberikan satu serangan lagi, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang. Aroma parfum yang sangat familiar menyeruak—parfum kayu cendana yang mahal dan dingin.
Keano.
Pria itu berdiri di sana dengan aura yang begitu menakutkan hingga orang-orang di sekitarnya mundur teratur. Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan kemarahan yang tertuju pada Arcelia.
"Puas main-mainnya?" suara Keano terdengar seperti petir di siang bolong.
Arcelia mencoba melepaskan tangannya. "Lepasin! Gue belum selesai sama dia!"
"Aku bilang cukup," Keano menatap Shania sekilas dengan tatapan merendahkan. "Evan, pastikan wanita ini (Shania) tidak pernah masuk ke kelab mana pun di kota ini lagi. Dan kirim video asli itu ke semua stasiun berita. Besok, Halim Group harus menjelaskan kenapa anak angkat mereka adalah seorang kriminal fitnah."
Virel maju, "Keano, biar gue yang urus Shania—"
"Gue nggak butuh bantuan lo, Virel. Urus aja bokap lo yang sama busuknya," potong Keano tajam.
Keano kembali menatap Arcelia yang masih mencoba berontak. Tanpa peringatan, Keano membungkuk dan menyampirkan Arcelia di bahunya seperti memanggul karung beras.
"Keano! Turunin gue, sialan! Gue bisa jalan sendiri!" Arcelia memukul-mukul punggung Keano dengan brutal.
Keano sama sekali tidak bergeming. Dia berjalan keluar kelab dengan langkah panjang, melewati kerumunan orang yang menatap mereka dengan mulut ternganga.
"Diam atau aku akan menciummu di depan semua orang ini," bisik Keano dingin.
Arcelia seketika diam, meskipun wajahnya merah padam karena kesal dan malu.
Sesampainya di parkiran, Keano menghempaskan Arcelia ke kursi penumpang mobilnya dan mengunci pintunya secara otomatis. Dia masuk ke kursi pengemudi dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
"Lo gila ya?! Gue bawa mobil sendiri tadi!" teriak Arcelia di dalam mobil.
"Mobilmu akan dibawa Evan. Sekarang, tutup mulutmu sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran," Keano mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. "Kau pergi ke tempat seperti itu, melakukan aksi berbahaya seperti itu, tanpa pengawalan? Kau pikir kau siapa? Pahlawan?"
"Gue bisa jaga diri! Gue bukan Alzena yang lo pikir pingsan cuma gara-gara kena angin!"
Keano mengerem mendadak di pinggir jalan yang sepi. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Arcelia dengan jarak yang sangat dekat. Matanya berkilat penuh obsesi dan kemarahan yang tertahan.
"Aku tahu kau bukan Alzena yang dulu," bisik Keano, suaranya parau. "Tapi itu tidak memberimu hak untuk mempertaruhkan nyawamu. Kau itu milikku, Arcelia—atau siapa pun namamu. Dan apa yang milikku, tidak boleh disentuh atau dilihat oleh mata-mata kotor di kelab itu."
Arcelia tertegun. Jantungnya berpacu cepat. Ini bukan romantis, ini terasa seperti perang wilayah. "Gue bukan properti lo, Keano Winchester."
"Kita lihat saja nanti," Keano kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan gila. "Malam ini, kau akan tidur di kamarku. Dan aku tidak menerima bantahan."
Arcelia hanya bisa mendesis kesal, memalingkan wajah ke jendela. Dia menang malam ini melawan Shania, tapi dia merasa dia mulai kalah dalam peperangan melawan suaminya sendiri yang semakin tidak masuk akal ini.
Sementara itu, di kelab, Virel duduk sendirian di sofa yang sudah basah oleh sampanye. Dia mengambil ponselnya, menatap foto masa kecilnya bersama Alzena dan seorang bayi lain yang wajahnya sengaja dicoret.
"Pita merah itu... Arcelia..." gumam Virel pelan. "Jadi bener... kamu kembali?"
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘