BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.
Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.
Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.
Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.
Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Lorong rumah sakit sudah sepi dan terasa dingin. Bau obat menusuk hidung Lavanya. Dia melihat ibunya sudah lemas tak berdaya.
Bu Dewi menangis sambil memukul dadanya sendiri. “Lavanya, ayah kamu sudah enggak ada.”
Kalimat itu seperti menghantam kepala Lavanya keras sekali. Tubuhnya langsung limbung. “Ayah ....” Suara tangisnya pecah.
Lavanya berlari masuk ke dalam ruangan dengan langkah sempoyongan Di dalam sana Pak Bagus sudah terbujur diam. Tubuh pria itu tertutup kain putih sampai dada. Wajahnya terlihat pucat dan tenang.
“Ayah ...!” Suara tangis Lavanya semakin kencang.
Wanita itu jatuh berlutut di samping ranjang sambil mengguncang tubuh ayahnya. “Ayah bangun …!” tangisnya meraung keras. “Ayah jangan tinggalin aku.”
Namun tidak ada jawaban. Tidak ada lagi senyum lembut Pak Bagus. Tidak ada lagi suara pelan yang selalu memanggil namanya. Yang tersisa hanya tubuh dingin yang tidak akan pernah membuka mata lagi.
Lavanya menangis histeris sampai tubuhnya gemetar hebat. Tangannya mencengkeram seprai rumah sakit sambil terus memanggil ayahnya berulang kali.
“Ayah … maafin aku.” Semuanya sudah terlambat.
Karena keluarga mereka tidak punya cukup uang, Pak RT yang menyewa ambulans menggunakan dan kas ke-RT-an. Selain itu pihak keluarga juga tidak ingin menunda terlalu lama, pemakaman akhirnya tetap dilakukan malam itu juga.
Lavanya duduk di dekat kuburan ayahnya sambil memeluk lututnya sendiri. Matanya bengkak dan tubuhnya terasa lemas.
Hal yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan ayahnya. Melainkan bisik-bisik orang di sekelilingnya.
“Itu anaknya, ya?”
“Iya.”
“Kasihan Pak Bagus.”
“Gara-gara anaknya bikin malu, dia jadi stroke.”
“Dulu jadi pelakor, sekarang kerjaannya di kota juga enggak jelas.”
“Kayaknya hidup mereka kena karma.”
Lavanya langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Napasnya mulai memburu.
“Kasihan bapaknya sampai stres kena banyak penyakit begitu.”
“Istrinya juga menderita.”
“Makanya jangan suka ganggu rumah tangga orang. Akan banyak orang mendoakan keburukan padanya.”
Lavanya menunduk dalam. Air matanya jatuh lagi. Akan tetapi, kali ini bukan hanya karena sedih..Ada rasa panas yang perlahan tumbuh di dalam dadanya, rasa sakit, rasa malu, dan perlahan rasa benci.
Lavanya menggigit bibirnya keras sampai hampir berdarah. Pikirannya mulai kacau. Semua kejadian buruk dan penderitaan yang menimpa keluarganya, dimulai sejak Kemuning melaporkannya ke polisi.
Sejak dirinya dipenjara, hidup keluarganya hancur perlahan. Ayahnya mulai jatuh sakit stroke setelah itu. Ibunya berubah murung karena jadi bahan gunjingan, bukan hanya para tetangga, tetapi juga kerabat-kerabatnya. Lavanya sampai harus menjual harga diri demi biaya rumah sakit.
Kalau saja waktu itu Kemuning tidak melaporkannya ke polisi. Maka, dia tidak akan masuk penjara. Nama baiknya dan keluarganya, tidak akan hancur. Dan ayahnya tidak akan seperti ini.
Tangisan Lavanya perlahan berubah menjadi kebencian yang membara. Ia mengangkat wajahnya pelan menatap tanah makam yang masih basah.
“Ayah ....” bisiknya lirih sambil mengepalkan tangan kuat-kuat. Air matanya terus jatuh. Namun, tatapannya perlahan berubah keras.
“Aku enggak akan diem aja.”
Kebencian Lavanya kepada Kemuning benar-benar muncul ke permukaan.
***
Hari pernikahan Seruni tiba. Sebagai teman sekaligus orang yang pernah menjadi tetangganya, Kemuning menghadiri acara itu.
Ballroom hotel itu terlihat megah sejak pintu utama dibuka. Lampu kristal besar menggantung indah di langit-langit ruangan. Dekorasi bunga putih dan emas memenuhi hampir setiap sudut. Musik lembut mengalun pelan menemani para tamu undangan yang datang dengan pakaian terbaik mereka.
Pesta pernikahan Seruni benar-benar menjadi pembicaraan banyak orang di kampung. Apalagi calon suaminya berasal dari keluarga jaksa ternama di kota mereka.
“Gila, pestanya mewah banget,” gumam salah seorang tamu sambil melihat dekorasi pelaminan yang berkilauan.
“Katanya biaya dekor aja ratusan juta.”
“Pantesan ramai banget yang datang.”
Di tengah keramaian itu, Kemuning baru saja turun dari mobil bersama Arkatama. Wanita itu mengenakan dress panjang warna emerald yang membentuk tubuhnya dengan elegan tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya ditata sederhana menjuntai lembut di punggungnya, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat semakin segar dan cantik.
Beberapa orang langsung menoleh begitu melihatnya masuk.
“Eh itu Kemuning, ya?”
“Iya, makin cantik sekarang.”
“Pantes aja katanya banyak yang suka.”
Arkatama yang berjalan di samping Kemuning langsung tersenyum tipis penuh bangga. Tangannya bergerak pelan menyentuh punggung wanita itu saat mereka memasuki ballroom.
“Santai aja,” bisiknya pelan. “Jangan tegang.”
Kemuning melirik Arkatama kecil sambil tersenyum. “Aku enggak tegang.”
“Bohong. Tanganmu dingin.”
Kemuning langsung salah tingkah sendiri. Sementara Arkatama justru makin gemas melihat reaksinya.
Hubungan mereka memang semakin dekat beberapa bulan terakhir. Tatapan mata kecil saja kadang sudah cukup membuat suasana berubah hangat di antara mereka.
Malam itu, Kemuning terlihat terlalu cantik untuk diabaikan Arkatama.
Di sudut lain ballroom, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan Kemuning dengan tatapan penuh kebencian, Lavanya. Wanita itu berdiri di area pantry hotel dengan seragam pelayan berwarna hitam putih lengkap dengan masker tipis dan rambut yang disanggul rapi. Tidak ada yang mengenalinya ataupun yang curiga kepadanya.
Mata Lavanya terus mengikuti ke mana Kemuning berjalan. Tatapannya dingin penuh dendam.
Sejak kematian Pak Bagus, kebencian Lavanya kepada Kemuning semakin besar. Dalam pikirannya yang sudah dipenuhi emosi, semua kehancuran keluarganya berawal dari wanita itu.
Dan malam ini Lavanya merasa akhirnya mendapat kesempatan. Tangannya perlahan menggenggam botol kecil di balik apron seragamnya. Cairan bening di dalamnya bergerak pelan. Sudut bibir Lavanya terangkat tipis.
“Sekarang waktunya pembalasan,” bisik Lavanya lirih.
Tak lama kemudian, salah seorang pelayan lain meminta bantuan membawa minuman ke area tamu VIP. Lavanya langsung mengambil nampan berisi beberapa gelas minuman dingin. Matanya bergerak cepat mencari Kemuning. Begitu melihat wanita itu sedang berdiri berbincang dengan Seruni dan beberapa tamu lain, Lavanya langsung berjalan mendekat.
Jantung Lavanya berdetak cepat. Namun, wajahnya tetap terlihat tenang. Ia berhenti di dekat meja sambil menundukkan kepala sopan seperti pelayan hotel pada umumnya.
“Silakan minumannya, Kak.”
Seruni tersenyum ramah. “Terima kasih.”
Saat semua perhatian tamu lain teralih beberapa detik, tangan Lavanya bergerak cepat di balik nampan. Cairan dari botol kecil itu dituangkan ke salah satu gelas dengan sangat cepat, hampir tidak terlihat.
Gelas itu tepat berada di depan Kemuning. Wanita itu pun mengambilnya tanpa rasa curiga.
Lavanya menahan napas sesaat. Tatapannya penuh antisipasi.
Sementara Kemuning sama sekali tidak menyadari apa pun. Wanita itu masih tertawa kecil mendengar cerita Seruni tentang gugupnya menjelang akad tadi pagi.
“Aku sampai enggak bisa makan dari pagi,” keluh Seruni.
Kemuning tertawa lembut. “Namanya juga pengantin.”
“Makanya nanti kamu nyusul cepet-cepet biar ngerasain lagi deg-degannya seorang pengantin.”
Kalimat itu langsung membuat pipi Kemuning sedikit merah.
Di sisi lain ruangan, Arkatama yang sedang berbincang dengan beberapa kenalannya, sempat melirik ke arah Kemuning sambil tersenyum kecil. Tatapan pria itu begitu hangat.
Lavanya mengepalkan tangannya melihat pemandangan tersebut.
Kemuning meminum minuman di tangannya perlahan sampai habis. Gelas kosong itu kembali diletakkan di nampan.
Sudut bibir Lavanya perlahan terangkat penuh kepuasan. Dia menyeringai kecil di balik maskernya. Perasaan puas langsung memenuhi dadanya. Akhirnya ia berhasil membuat langkah pertama dari rencananya malam ini.
“Selanjutnya akan menjadi bagian yang tak akan kamu lupakan, Kemuning!” batin Lavanya.
***
Jangan lupa baca karya terbaru aku ini